
Hadi yang tidak mendapatkan jawaban dari sahabatnya, ia semakin bingung apa yang istrinya pikiran, apa lagi itu adalah pasien rawat jalan Xiyi, tentu yang di pikiran istrinya itu sangat banyak, dan pasti Xiyi juga mengetahui itu, tapi Xiyi sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang istrinya membuat ia semakin bingung dan kuatir. Hadi langsung menuruni tangga hingga ia sampai di depan kamar asistennya, ia langsung mengetuk pintu kamar asistennya
Tok-tok
Repan yang sedang duduk di sofa, ia mendengar ketukan pintu, lalu langsung berjalan mendekati pintu, setelah sampai ia langsung membuka pintu itu, lalu langsung menyapa tuan mudanya
"sore tuan muda."
Hadi tidak menjawab sapaan dari asistennya, melainkan ia langsung bertanya pada asistennya
"boleh saya masuk?"
"silahkan tuan muda."
Hadi langsung masuk ke dalam kamar asistennya, lalu ia langsung duduk di sofa. Repan langsung bertanya apa maksud tuan mudanya datang ke kamarnya
"tuan muda, ada apa?, kenapa sepertinya sangat kuatir?"
"Repan, apa kau sudah tau siapa nama sebelumnya Riana?, dan dia di adopsi dari mana?"
"saya tidak tau tuan muda, informasi nona muda sepertinya sengaja di tutup rapat oleh almarhum tuan Rendra, kemungkinan besar nona muda bukan gadis dari orang biasa, jika dia dari orang biasa, tidak mungkin tidak menemukan jejak sama sekali dari nona muda."
Hadi yang mendengar jawaban dari asistennya, ia semakin kuatir, ia ingin tau tentang istrinya, dan kenapa istrinya sering teriak-teriak kesakitan, lalu ia langsung menyuruh asistennya untuk mencari tau lagi tentang istrinya
"kau cari tau yang teliti, aku benar-benar sangat kuatir padanya."
Repan yang mendengar ucapan dari tuan mudanya ia penasaran, ia langsung bertanya apa yang terjadi pada istri kontrak tuan mudanya
"tuan muda, memangnya nona muda kenapa?"
__ADS_1
"Riana sering sekali teriak-teriak karena merasa sakit di kepalanya, tapi Xiyi sama sekali tidak menjelaskan tentang Riana, dia menutup rapat tentang penyakit yang di derita Riana, yang jelas Xiyi hanya bilang, Riana terlalu banyak pikiran."
Repan yang mendengar penjelasan tuan muda, ia tidak heran kalau tuan mudanya sangat kuatir pada istrinya kontraknya, tapi ia juga bingung harus mencari informasi dari mana, ia sudah mencari informasi dengan teliti, tapi tentang Riana sama sekali ia tidak bisa di temukan, bahkan ini adalah pertama kalinya ia mencari informasi seseorang, tapi tidak bisa di mendapatkannya, lalu ia langsung menjawab ucapan tuan mudanya
"saya akan mencoba mencari informasi tentang nona Riana."
"baik, saya akan keluar dulu."
"iya tuan muda."
Repan langsung berjalan ke pintu, ia langsung membukan pintu untuk tuan mudanya. Hadi langsung keluar dari kamar asistennya, lalu ia langsung menaiki tangga hingga ia sampai di kamar, ia langsung mendekat istrinya hingga ia sampai di samping ranjang, ia langsung duduk di atas ranjang istrinya, lalu langsung bertanya pada istrinya
"gadis kecil, penyakit apa yang sebenarnya kau derita?, kenapa kau menutup rapat tentang penyakitmu?"
Riana yang mendapat pertanyaan dari suaminya ia langsung duduk, ia tidak menjawab pertanyaan dari suaminya, tapi ia langsung bertanya tentang obat perangsang
"kenapa om memasukan obat perangsang dalam wine itu?, apa itu sudah kebiasaan om?, om, untuk apa ada perjanjian kontrak pernikahan kalau semua yang tertulis di kertas itu semua om langgar, aku tau om seorang tuan muda, seorang CEO dari Wijaya grup, tapi bukan berarti om selalu melakukan semena-mena, aku tau, aku di sini tidak berhak mengatakan itu, karena aku tidak memiliki apa-apa, tapi aku memiliki Persip. Aku tidak akan melanggar tentang apa pun itu."
"jujur masalah wine, itu bukan aku yang memasukkan obat perangsang padamu, jika aku menginginkan tubuhmu, aku tidak akan melakukan cara licik seperti itu."
"lalu siapa yang memasukkan obat perangsang dalam wine itu?, bukan'kah wine itu milikmu?, kau memang jahat, seumur hidupku yang paling aku benci adalah penghianatan dan melanggar janji."
Hadi yang mendengar ucapan dari istrinya, ia sedikit panik, lalu ia langsung menjawab seadanya kalau bukan ia yang memasukkan obat perangsang itu
"gadis kecil, aku sama sekali tidak memasukkan obat perangsang dalam wine itu, yang memasukkan obat perangsang dalam wine itu adalah mamah, aku juga tidak akan pernah melakukan hal yang tidak masuk akal, aku bukan pria yang mencintai seseorang gadis kecil sepertimu."
Riana yang mendengar jawaban dari suaminya, ia langsung menatap mata suaminya, ia mencari keberadaan di sana, tapi setelah menatap mata suaminya, ia melihat kalau ia dan suaminya berciuman di ranjang suaminya, dan penglihatan itu sangat jelas, seketika ia langsung teriak
" Tidak!"
__ADS_1
Hadi yang mendengar teriakkan istrinya, ia semakin panik pada istrinya, lalu langsung bertanya pada istrinya
"gadis kecil, kau kenapa?"
Riana yang melihat bayangan-bayang mereka berdua di dalam mata suaminya, lalu ia menjawab pertanyaan itu dengan berbohong, kalau ia mengingat semuanya dengan jelas
"bagaimana kau menjelaskan kalau wine itu adalah milik ibumu?, setelah apa yang terjadi semalam?, aku sudah mengingat semuanya."
"gadis kecil, wine itu benar-benar dari mamah."
Riana yang mendengar jawaban dari suaminya, ia langsung memeluk kedua lututnya sendiri, dengan badan yang mulai gemetar, ia sudah benar-benar tidak tau, haruskah ia percaya dengan suaminya, atau ia tidak perlu percaya dengan penjelasannya. Hadi yang melihat istrinya gemetar, ia sangat takut, ia takut istrinya kenapa-napa, apa lagi yang ia tau, istrinya selalu sakit kepala saat banyak pikiran membuat ia semakin kuatir, lalu ia langsung menjelaskan kejadian kemarin malam
"Gadis kecil, aku tidak melakukan lebih dari itu, aku hanya takut kau kenapa-napa untuk itu aku menciummu, aku juga sambil memutar otakku hingga aku menemukan cara agar kau tidak kepanasan, aku membawamu ke dalam kamar mandi, lalu aku meletakkanmu di bawah guyuran air, itu kenapa bajumu basah, setelah itu aku menyuruh BI Ida untuk menggantikan pakaianmu, tidak lebih dari itu."
Setelah mendengar penjelasan lagi dari suaminya, pikirannya mulai tenang, rasa gemetar itu mulai reda, karena penjelasan suaminya itu memang masuk akal, Kalau suaminya menginginkan ia, untuk apa suaminya memberikan obat perangsang, apa lagi status mereka resmi sebagai suami istri. Hadi langsung menyentuh tangan kanan istrinya yang masih sedikit gemetar, lalu ia langsung berbicara lagi
"Percayalah, aku tidak akan melakukan itu di dalam ketidak sadaranmu. Jika aku menginginkanmu, tanpa obat perangsang pun bisa, karena kita adalah resmi suami istri, tapi aku dan kau memiliki tujuan masing-masing, kau menikah karena untuk melunasi hutang, dan aku menikah karena untuk menutupi aib, jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kau istirahat, besok kau harus sekolah."
Riana yang mendengar ucapan suaminya yang menyuruhnya sekolah, ia membantah, karena itu bukan keinginannya, ia hanya ingin mencari uang untuk membalas dendam pada Om Rehan
"Om, aku tidak ingin sekolah, aku hanya ingin bekerja."
Hadi yang mendengar jawaban dari istrinya, ia hanya menghela nafas berat, ini adalah pertama kalinya ada orang yang membantah ucapannya, bahkan ibunya saja jarang sekali membantah ucapannya, tapi istrinya, begitu berani membantah ucapannya, andaikan saja ia tidak memiliki perasaan yang berbeda terhadap istrinya, mungkin ia juga tidak peduli mau sekolah atau tidak, itu bukan urusannya, lalu ia langsung memasang wajah datar sambil menjawab ucapan istrinya
"Kau tidak bisa membantah ucapanku, jika kau tidak ingat aku paksa untuk melayaniku."
Setelah mengatakan itu, Hadi langsung melepaskan tangan istrinya, lalu ia langsung berjalan ke ranjangnya. Riana yang mendengar ucapan suaminya, ia sangat bergidik ngeri, bahkan suaminya itu langsung memasang wajah datar padanya
"Benar-benar pria gila, semakin hari hidupku semakin tidak jelas." batin Riana
__ADS_1
Riana langsung membaringkan tubuhnya lagi, ia langsung menyelimuti tubuhnya sendiri, lalu langsung memejamkan mata, hingga ia tertidur