Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB 5. Pindah Rumah


__ADS_3

Henny tidak habis pikir bukan hanya sahabatnya meninggal, ternyata istri dari sahabatnya sekarang sangat menderita


"Rehan kenapa kau bener-bener tega dengan keluarga yang telah membesarkan dirimu, apa kau bener-bener pria bodoh yang tidak tau balas budi." batin Henny


Marina yang melihat sahabat dari almarhum suaminya diam saja dirinya langsung bertanya


"Henny kau kenapa?"


"tidak apa-apa."


"mari masuk Henny."


"baik."


"nyonya saya mau pulang dulu. Sekarang kan sudah ada nyonya Henny jadi saya bisa sedikit lega."


"baiklah, Kiki terimakasih sudah mau membantu keluargaku."


"tidak apa-apa nyonya, ini sudah tugas saya. Saya pamit dulu."


"iya Ki."


Kiki pun langsung menaiki motornya, lalu dirinya langsung melajukukan motornya untuk pulang. Mereka semua langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya. Mereka semua duduk di ruang tamu


"sayang, kalian bereskan barang-barang kalian."


"mah kita mau kemana? tanya Rina


"kita pindah di rumah nenek."


"baik mah."


Rina dan Riana langsung menaiki tangga untuk ke kamar masing-masing, di ruang tamu tinggal ada Henny dan Marina


"Henny, saya tidak tau kapan bisa bayar hutang padamu."


Henny, langsung memegang tangan Marina


"Marina, mas Delon bisa sukses karena bantuan Rendra, jadi tidak perlu berbicara seperti itu dan masalah uang saya bukan meminjamkannya tapi saya hanya membantu. Marina kau yakin akan tinggal di rumah sederhana itu?, lebih baik aku bayar saja hutang yang di Bank itu, dan biaya sekolah dan kuliah anak-anak biar saya yang nanggung."


"Henny, kau sudah membantuku tadi, aku dan anak-anak akan tetap tinggal di rumah sederhana dan masalah biaya sanggup atau tidak. Aku akan berusaha semampuku sudah cukup banyak kau membantu."


" Marina, 7 meliyar tidak ada apa-apanya dan tidak perlu merasa tidak nyaman, karena suamimu bukan hanya 7 meliyar dulu membantu keluargaku. Rendra membantuku dari masih usiaku 15 tahun dulu aku hanya seorang pencuci piring, atau aku beliin rumah saja ya?"


"tidak perlu Henny, biarkan aku mencoba berjuang dari 0 lagi."


"ingat Marina jika perlu apa-apa bicara denganku."


"iya, bagaimana hubungan Hadi dengan Yulia apa ada rencana cepat menikah?"


"tidak tau, aku dari dulu tidak pernah menyukai sikap Yulia apa lagi mas Delon dan Rendra memiliki perjanjian akan menikahkan anak-anak kita, aku juga menyukai sikap Rina dan Riana, aku ingin yang jadi menantuku adalah anak-anakmu."

__ADS_1


"Henny, jangan pernah mengatakan itu, biarkan mereka memilih pasangan masing-masing, apa lagi Hadi dan Yulia sudah tunangan."


"aku sangat benci dengan orang yang mementingkan karirnya. Marina, Yulia tidak pernah berpikir akan menikah dengan usia yang sudah 27 tahun. Hadi seperti pria bodoh, kenapa menyukai Gadis yang selalu mementingkan karirnya."


"baiklah Henny, terserah kau saja, tapi aku berharap biarkan anak-anak menikahi orang yang mereka cintai."


"baiklah Marina, semoga anak-anak kita mendapatkan jodoh yang terbaik."


"aku berharap juga seperti itu Henny."


Rina, Riana dan Bi Katmi turun membawa koper masing-masing. Bi Minah membawa koper nyonya dan dirinya sedangkan Rina dan Riana membawa kopernya sendiri


"nyonya semuanya sudah rapih?"


"iya bi Katmi, terimakasih, apa tidak sebaiknya bibi cari kerjaan lain saja?, karena saya sekarang sudah benar-benar tidak sanggup untuk membayar bibi."


"nyonya, saya ikut kemanapun nyonya pergi, meskipun tidak di bayar saya sudah cukup melihat nyonya, nona mudu dan nona kecil baik-baik saja."


"terimakasih Bi."


"tidak perlu berterimakasih nyonya, dulu nyonya orang yang sangat berjasa dalam keluargaku saat mereka masih hidup."


" Baiklah bi."


Rina dan Riana meteskan air matanya. Rumah ini adalah satu-satunya kenangan bersama Ayahnya, tapi sekarang harus keluar dari rumah ini. keduanya masih berdiri sambil terus melihat sekeliling ruangan itu


"anak-anak mamah ko menangis sayang, kenapa?"


"mah apa kita berangkat sekarang?


"iya Rina."


"tante terimakasih karena sudah mau menolong kami."


" Rina, tidak perlu berterimakasih."


"aku berjanji, aku akan beli rumah ini lagi, mah, tunggu Riana dewasa. Riana pasti akan membeli rumah ini lagi dan kenangan bersama papah tidak akan pernah hilang." B


batin Riana


Marina melihat sekeliling ruangan itu lalu tidak terasa langsung meteskan air mata. Rumah yang di tempati selama 23 tahun bersama Rendra kini dirinya harus keluar dari rumah ini, bukan hanya kehilangan Rendra, tapi dirinya harus kehilangan rumah ini


"ayo Henny, ayo nak, ayo bi."


"iya Marina."


"iya mah." jawab Rina dan Riana berbarengan


" iya nyonya."


Mereka semua berjalan keluar rumah. Marina, Rina, Riana dan Bi Katmi keluar rumah itu sambil meneteskan air mata. Henny yang melihat itu dirinya sangat kasihan bukan hanya meninggalnya Rendra, tapi Marina juga harus keluar dari rumahnya sendiri. Mereka semua sudah masuk mobi lalu Henny langsung melajukan mobilnya ke rumah peninggalan ibu Marina. Bersyukur Marina tidak pernah menjual rumah peninggalan ibunya, setidaknya dirinya dan anak-anaknya mempunyai tempat tinggal. Henny meski sedang menyetir, tapi pikirannya tidak karuan, dirinya merasa tidak bisa apa-apa saat sahabatnya mengalami ke bangrutan, bahkan dirinya belum membalas kebaikan Rendra, tapi ternyata Rendra sudah pergi untuk selamanya

__ADS_1


"Rendra, istrimu benar-benar keras kepala, bagaimana dengan anak-anakmu nanti, apa mereka akan putus kuliah dan sekolah, aku sebagai sahabatmu aku tidak bisa apa-apa, semoga kau tidak pernah menyalahkan aku." batin Henny


"om Rehan, kenapa kau melakukan ini, kenapa kau tega sekali bukan hanya membuat papah meninggal, tapi hampir saja membuat mamah masuk penjara, apa salah keluargaku kenapa kau membuat menderita keluargaku, aku berjanji aku akan balas apapun yang kau perbuat." batin Riana


Setelah perjalanan 37 menit mereka sampai. Henny langsung memarkirkan mobilnya lalu Mereka semua langsung turun. Rina dan Riana menatap rumah yang akan sekarang di tempati


"Sayang kalian ko masih berdiri di situ?"


"iya mah." jawab Rina dan Riana berbarengan


"marina, aku pulang dulu, kau harus hati-hati jaga dirimu dan anak-anakmu baik-baik."


"iya Henny, terimakasih."


"iya sama-sama."


Henny dan Marina langsung berpelukan. Marina sangat beruntung almarhum suaminya memiliki sahabat seperti Henny orang yang sudah membantu dirinya. Marina sangat beruntung tidak jadi di penjara karena bagi dirinya selama dirinya bisa bersama anak-anaknya itu sudah lebih dari cukup buat Marina. Setelah beberapa menit Henny dan Marina melepaskan pelukannya


"aku pulang dulu."


"iya hati-hati."


"tante, terimakasih sudah membantu kami."


"tidak perlu berterimakasih Rina."


"tante, terimakasih banyak sudah meminjamkan uang."


"iya Riana, kau tidak perlu berterimakasih, yang penting kalian harus bisa menjaga diri kalian masing-masing."


" Iya Tante."


" Hati-hati Henny."


" Iya Marina."


" Hati-hati Tante."


" Iya Gadis cantik."


Henny langsung melangkahkan kakinya masuk mobilnya. Langsung melajukan mobilnya untuk pulang


" Sayang ayo masuk, Bi Katmi ayo masuk."


" Iya mah.


" Baik nyonya."


Riana diam saja dirinya melangkahkan kakinya mengikuti mamah dan Kakanya masuk ke dalam rumah


" Bi Katmi semoga nyaman."

__ADS_1


" Tidak apa-apa nyonya, selama saya dengan nyonya."


__ADS_2