
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, tapi suaminya masih saja belum pulang, membuat Riana sangat kuatir, walaupun ia tau suaminya pergi dengan asisten pribadinya, tapi tetap saja ia merasa sangat kuat. Riana terus saja mondar-mandir di depan ranjang, ia tidak tau, pekerjaan apa yang suaminya tangani, hingga sekarang suaminya masih saja belum pulang
" Hubby, kau itu pasti kebiasaan, kalau sudah bekerja, selalu lupa dengan waktu, sekarang sudah malam, tapi kau masih saja belum pulang." batin Riana
Tidak lama Hadi pulang dengan keadaan mabuk, memang setelah pulang dari kantor, ia memutuskan untuk pergi ke club malam, bahkan di club malam ia bersama Repan seperti orang bodoh, ia mengharapkan istrinya menelponnya, dan mengatakan kuatir, tapi ternyata hingga sekarang istrinya masih saja tidak menelponya, membuat Hadi berpikir kalau istrinya itu benar-benar sudah tidak mencintainya lagi. Hadi langsung membuka pintu kamarnya, ia langsung berjalan masuk ke dalam kamar. Riana yang melihat suaminya sudah pulang, ia langsung mendekati suaminya, hingga ia di depan suaminya, lalu ia langsung bertanya pada suaminya
" Hubby, Kenapa pulang selarut ini, apa sangat sibuk di kantor?"
" Jangan pura-pura menjadi istri yang baik, kau senangkan aku tidak pulang?, mungkin kau berharap aku tidak pulang, agar kau tidak tidur denganku."
" Apa yang kau katakan Bi, kenapa mulutmu bau alkohol, tunggu, jadi kau tidak pergi ke kantor, melainkan pergi ke club malam lagi, lalu tadi siang hubby pergi kemana sebelum ke club malam?"
Riana pikir suaminya itu tadi siang tidak pergi ke kantor, karena mulut suaminya bau alkohol, terlebih lagi suaminya menggunakan kemeja dan celana jeans, jadi tidak mungkin kalau suaminya itu pergi ke kantor. Hadi yang mendengar pertanyaan dari istrinya, ia langsung berdecik kesal
" Tidak perlu bertanya aku pergi kemana, itu bukan urusanmu!"
" Tentu itu menjadi urusanku, karena kau adalah suamiku bi."
" Apa kau kuatir padaku?"
" Tentu aku sangat kuatir bi."
" Bohong! Kau bilang kuatir, tapi kenapa kau tidak menelponku?, apa itu yang di namakan kuatir?, berhentilah berpura-pura bersikap manis Kristiani, aku benar-benar kecewa dengan sikapmu yang berpura-pura lugu!"
__ADS_1
" Apa hubby lupa?, bukan'kah hubby menyita ponselku, lalu bagaimana aku harus menghubungimu?"
" Kau bisa pakai telpon rumah!"
Riana yang mendengar jawaban dari suaminya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir dengan suaminya, jelas-jelas suaminya membanting telpon rumah yang ada di kamar, dan menyuruh melepaskan semua kartu telpon rumah yang ada di seluruh ruangan, bisa-bisanya suaminya membentak ia hanya karena tidak menelponya. Hadi yang melihat istrinya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia langsung bertanya pada istrinya
" Kenapa?, kau memang tidak peduli denganku, kau egois kristiani!"
" Bagaimana bisa aku di bilang egois, bukan'kah hubby yang egois?"
" Kenapa aku yang di bilang egois?"
" Bukan'kah tadi siang telpon rumah hubby banting, lalu hubby juga menyuruh pelayan untuk melepaskan semua kartu telpon rumah yang ada di rumah ini, bagaimana aku bisa menelpon hubby?"
Hadi akhirnya ingat, kalau ia tadi siang menyuruh pelayan untuk melepaskan kartu telpon rumah, lalu ia langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya
Riana hanya bisa menghela nafas berat, bisa-bisanya suaminya itu mabuk hanya karena hal yang sepele, hanya karena cemburu. Setelah memeluk istrinya, Hadi langsung menarik istrinya, lalu langsung mendorong istrinya hingga jatuh ke atas ranjang. Hadi langsung melepaskan kemejanya, kemeja itu ia lempar ke sembarang tempat, lalu langsung berjongkok di atas tubuh istrinya
" Ayo kita lakukan?, bukan'kah kau ingin punya anak denganku?"
" Hubby, bukan'kah kau melarang aku untuk memiliki anak?"
" Tidak, sekarang aku akan buat kau punya anak dariku, agar kau tidak pergi dengan pria lain."
__ADS_1
Hadi langsung mencium istrinya. Riana langsung mendorong dada suaminya sambil berbicara
" Hubby, mulutmu bau alkohol, kau boleh melakukan itu, tapi saat keadaanmu tidak mabuk, jangan hanya karena cemburu kau ingin melakukan itu."
" Tidak, aku ingin melakukannya sekarang."
Hadi langsung mencium bibir istrinya lagi, sambil melepaskan satu persatu kancing baju tidur istrinya. Riana hanya bisa menghela nafas berat, bau alkohol di mulut suaminya, membuat ia pusing, tapi ia juga tidak bisa menolak, karena ia sangat bahagia saat suaminya mengatakan ingin punya anak, itu memang keinginan ia dari awal bersandiwara, tidak sia-sia walaupun harus mendapatkan banyak perdebatan, dan hingga membuat suaminya mabuk, yang penting keinginannya tercapai. Hadi langsung mematikan lampunya, lalu ia langsung mencium bibir istrinya, setelah itu ia langsung mengabsen semua rongga mulut istrinya, lalu ia menghentikan aksinya untuk berbicara pada istrinya
" Aku tidak ingin berpisah denganmu, jadi aku akan melakukan hal yang sama seperti malam kemarin, kau tidak boleh mengatakan mulutku bau alkohol, bukan'kah kau tadi kuatir padaku?, jadi nikmati saja."
Riana tidak menjawab ucapan dari suaminya, ia hanya diam membisu. Hadi yang melihat istrinya hanya diam, ia langsung melanjutkan aksinya, hingga terjadi malam kedua mereka. Setelah sekitar 1 jam, Hadi mulai lelah, ia langsung membaringkan tubuhnya di samping istrinya, lalu langsung mencium kening istrinya sekilas
" Aku tidak ingin berpisah denganmu."
Setelah mengatakan itu, Hadi langsung memeluk istrinya sangat erat, hingga ia pun langsung tertidur pulas, karena pengaruh alkohol. Riana hanya tersenyum saat melihat suaminya sudah tidur pulas, lalu Riana langsung berbicara dengan suara lirih
" Hubby, aku juga tidak ingin berpisah denganmu, karena sampai kapanpun, aku akan selalu menjadi istrimu."
Setelah mengatakan itu, Riana langsung mencium kening suaminya sekilas, lalu langsung mengucapkan selamat tidur pada suaminya
" Selamat tidur, semoga mimpi indah bi."
Setelah mengatakan itu, Riana juga memutuskan untuk tidur. Walaupun pelukan suaminya itu sangat erat, tapi Riana masih merasa nyaman, bahkan lebih nyaman saat seperti ini. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB, Hadi bangun lebih dulu, ia langsung melihat ke arah istrinya yang masih tertidur pulas
__ADS_1
" Kristiani, aku akan berusaha menjadi yang kau inginkan, tapi jangan harap kau ingin bersama pria kemarin sore, aku tidak akan pernah rela melepaskanmu, mungkin satu-satunya cara agar kau tidak bersama dia, adalah membuat kau hamil. Kristiani, seandainya saja kemarin pagi aku mengijinkanmu untuk hamil, mungkin kau juga tidak akan pernah berpaling dengan pria itu, atau mungkin tetap saja, kau akan berpaling dengan pria itu." batin Hadi
Hadi terus saja memandangi wajah istrinya, ia memang tidak rela jika harus kehilangan istrinya lagi, sudah cukup dulu ia kehilangan istrinya, dan sekarang ia tidak ingin melepaskan istrinya, untuk itu ia akan membuat istrinya punya anak, agar istrinya tidak pergi dan memilih pria kemarin sore. Setelah sekitar hampir satu jam memandangi wajah istrinya, Hadi memutuskan untuk melanjutkan tidur lagi