Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB. 136


__ADS_3

Riana langsung melepaskan pelukan dari suaminya, ia langsung menatap ke arah suaminya sambil tersenyum. Hadi yang melihat istrinya tersenyum, ia langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak merasa gatal, ia hanya merasa aneh dengan sikap istrinya akhir-akhir ini, biasanya istrinya akan manja padanya, tapi kini istrinya menangis dan setelah itu istrinya tersenyum, lalu ia mencoba bertanya, apa penyebab istrinya menangis


" Sayang, kamu kenapa menangis?"


"Ini tuh air mata bahagia hubby. Apa hubby tidak lihat senyuman manis di bibirku?"


Hadi hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia memang melihat istrinya menangis dan tersenyum, hanya saja ia tidak tau apa penyebab istrinya bahagia, membuat hati ia bertanya-tanya, dan berpikir negatif


" Apa ini karena Repan? Apa Repan yang membuat Kristiani bahagia?" batin Hadi


"Hubby, aku ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada hubby."


" Iya sayang, apa yang ingin kamu sampaikan?"


Hadi memasang wajah yang serius, ia ingin tau apa yang akan di sampaikan oleh istrinya. Riana yang melihat wajah serius suaminya, ia memutuskan menjelaskan kehamilanya dengan memperbanyak kata-kata


" Kita akan ke datangan orang ke tiga yang akan di tengah-tengah kita, pasti kita akan bahagia, iya'kan hubby?"


Hadi tidak mengerti apa yang di maksud oleh Riana, apa lagi tadi ia sudah berpikir kalau senyuman istrinya oleh Repan, karena yang ia tau tadi istrinya di temani oleh Repan saat di taman, tapi ia akan bertanya dengan perlahan-lahan, ia tidak ingin kalau istrinya marah


" Sayang, sebenarnya apa maksudmu?"


" Kenapa hubby tidak mengerti dengan ucapanku? Kenapa otak pintarmu tidak hubby gunakan untuk berpikir? Bukan'kah hubby sangat pintar? Selama ini hubby selalu mendapatkan tender, bahkan hubby belum pernah gagal."


" Iya, aku memang pintar dalam soal bisnis, tapi otak pintarku tidak bisa berpikir karena kau tersenyum bahagia, apa lagi tadi kau duduk di taman di temani Repan, bagai mana aku bisa berpikir." batin Hadi


Tapi sayang ucapan itu hanya Hadi ucapkan di dalam hatinya, ia tidak ingin kalau istrinya marah pada dirinya. Hadi menghela nafas berat, untuk menahan unek-uneknya yang ada di dalam pikirannya


" Iya sayang, tapi aku sedang tidak bisa berpikir sayang, pekerjanku saat ini sudah sangat banyak, tolong kau mengerti sedikit saja tentangku."

__ADS_1


Riana menghela nafas berat, tentu ia tau kalau suaminya sedang banyak pekerjaan, karena itu oleh ulah Riana sendiri, dan ia juga mengerti kalau suaminya tidak bisa mencerna ucapanya


" Hubby, kita sebentar lagi akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga."


Riana menghentikan ucapanya, sedangkan Hadi masih menatap Riana dengan wajah yang serius, tapi hatinya bertanya-tanya


" Apa jangan-jangan Kristiani hamil, tapi kalau Kristiani hamil dari mana Kristiani tau tentang kehamilanya? Atau jangan-jangan tadi Repan pergi ke indomaret untuk membeli test kehamilan, tapi tidak mungkin, Kristiani dari tadi tidak masuk ke dalam kamar mandi." batin Hadi


Karena pintu kamar mandi di kamar Hadi menggunakan pintu kaca, dan pintu kacanya di dorong ke samping, tentu saja ia akan mengetahui kalau Riana masuk ke dalam kamar mandi. Setelah beberapa saat Hadi sibuk dengan pikirannya, ia memutuskan untuk bertanya pada istrinya


" Sayang apa kau ha."


Hadi memotong pembicarannya, ia takut kalau capannya salah, dan membuat istrinya sedih, apa lagi mengingat saat istrinya bertanya bagai mana kalau aku tidak hamil?. Riana tersenyum berbinar, walau pun suaminya tidak melanjutkan ucapanya, ia mengerti tentang maksud dari ucapan suaminya


" Mungkin benar apa kata orang, kalau saling mencintai akan mengerti dan paham tentang pasanganya, iya seperti hubby. Hubby sekarang menebak kalau aku sedang hamil, walau pun ucapan hubby terpotong, aku tau kalau hubby tidak ingin menyakitiku dengan ucapanya." Batin Riana


Riana langsung meraih tangan suaminya seperti sedang bersalaman, dan ia seoalah-olah sedang menjadi seorang dokter


Seketika Hadi terdiam mendengar ucapan dari istrinya, lalu ia langsung tersenyum dengan mata yang berbinar


" Sayang, kau ham."


Hadi tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya, karena rasa bahagiannya, mulutnya seperti susah untuk berbicara. Riana mengangguk, lalu langsung merogoh saku baju tidurnya, ia mengambil test kehamilannya untuk di berikan pada suaminya. Hadi mengambil test kehamilan yang di berikan istrinya, ia melihat garis dua dengan satu garis yang masih samar-samar, ia langsung memeluk istrinya sangat erat sambil meneteskan air mata bahagia


" Terima kasih sayang, karena telah memberikan aku sesuatu yang berharga, sesuatu yang selalu aku harapkan dari dulu."


Iya Hadi memang menginginkan anak dari dulu, dan ia menginginkan anak itu dari wanita yang ia cintai dari kecil, akhirnya ke inginan itu tetwujud juga. Riana hanya menjawab dengan anggukan kepala, dan ia juga merasakan beberapa tetes air mata di punggungnya, ia yakin kalau suaminya sekarang sedang menangis, dan seperti ibu mertuanya tadi, tadi ibu mertuanya juga menangis. Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya. Hadi langsung bersujud ke lantai karena ia merasakan sangat bahagia, dan berterima kasih pada tuhan. Setelah itu Hadi duduk di samping istrinya lagi


" Sayang, besok kita periksa ke dokter kandungan iya."

__ADS_1


Riana hanya menjawab dengan anggukan kepala, dan tangannya terulur untuk menghapus air mata suaminya


" Jangan menangis hubby, nanti kalau ade bayinya ikut nangis gimana?"


" Iya maaf sayang, aku terlalu bahagia."


Hadi menundukan kepalanya, ia letakan di dekat perut istrinya sambil tersenyum. Riana yang melihat tingkah konyol suaminya juga ikut tersenyum


" Mana bisa denger hubby, bayi yang ada di dalam kandunganku masih terlalu kecil, dia belum bisa menendang."


" Jangan nendang-nendang dong, nanti sayang bisa kualahan, cukup aku saja yang kualahan dengan sikap manja sayang."


Hadi berbicara masih dengan kepala yang ada di perut Riana


" Dede kecil, kau jangan nakal iya di sana, kasihan mama, nanti mama capek, jadi kau baik-baik di sana, dan jangan buat mama capek."


Riana tersenyum mendengar ucapan dari suaminya, ia sangat lucu dengan ucapan suaminya. Hadi langsung mengangkat kepalanya lagi, ia menatap mata Riana dengan tatapan berbinar


" Sayang, apa ada sesuatu yang kau inginkan?"


Riana menggelengkan kepalanya pelan, ia memang tidak menginginkan apa-apa, bahkan ia juga tidak seperti orang hamil pada umumnya yang mual-mual dan lain-lain, yang ia alami sangat berbeda, ia hanya manja pada suaminya dan kelelahan yang berlebihan, walau pun ia tidak melakukan kegiatan yang melelahkan, dan itu membuat ia tidak peka kalau ia sedang hamil, tapi suaminya bisa mengetahui kalau ia sedang hamil, dengan mencari tau dari google


" Kalau ada sesuatu yang sayang inginkan, sayang katakan saja, biasanya orang hamil akan meminta yang aneh-aneh."


" Tapi tidak denganku hubby, aku tidak menginginkan apa-apa, aku hanya menginginkan kasih sayangmu, itu sudah lebih dari cukup."


Hadi hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia tau kalau istrinya memang berbeda dari wanita hamil pada umumnya. Hadi mengecup kening istinya sangat lama


" Aku tidak tau mau mengucapkan apa selain terima kasih."

__ADS_1



__ADS_2