Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB 33. Meminta Riana untuk di pecat


__ADS_3

Di mobil tidak ada pembicaraan sama sekali, Hadi yang terus saja memainkan ponselnya, sedangkan Riana hanya menatap keluar jendela mobil. Setelah sekitar 3 menit diam, Hadi yang sedang membalas chat dari tunangannya, ia tiba-tiba saja mementingkan kejadian tadi siang, ia sangat panik dan para pelayan yang di marahi habis-habisan, tapi ternyata istrinya baik-baik saja, membuat Hadi kesal, lalu ia melirik ke arah istrinya yang sedang menatap ke luar jendela, setelah itu ia langsung bertanya pada istrinya, karena ia sangat penasaran dengan istrinya


"gadis kecil, kau habis dari mana?"


Riana yang mendengar pertanyaan dari suaminya, ia langsung menjawab pertanyaan itu, tanpa melihat ke arah suaminya


"habis dari rumah mamah om."


Hadi yang melihat istrinya, lalu istrinya menjawab tanpa melihatnya, ia hanya menghela nafas berat, lalu ia langsung bertanya lagi, Kenapa istrinya tidak naik taksi


"kenapa kau tidak naik taksi?, menunggu angkutan umum itu sangat berbahaya untuk seorang wanita, apa lagi tadi tempatnya sangat sepi."


"naik taksi itu mahal om, itu 2 hari gajihku."


"lalu kenapa kau menolak uang pemberian kontrak pernikahanmu?"


Riana yang mendengar pertanyaan suaminya, tiba-tiba saja ia menjawab dengan emosi, ia mengingat suaminya, yang mengatakan tidak boleh menyentuh suaminya, selain suaminya yang menyentuhnya, walaupun perjanjian itu di batalkan, tapi tetap saja ia merasa harga dirinya di rendahkan


"aku tidak sudi menerima uang darimu!"


Hadi yang mendengar jawaban istrinya, seketika wajahnya langsung merah, ia sangat marah, lalu ia berpikir untuk menghentikan istrinya bekerja


"lihat saja, besok kau tidak akan bisa lagi bekerja, kita lihat apa kau bisa mendapatkan pekerjaan baru, atau tidak, kalau pun kau bisa mendapatkan pekerjaan yang baru aku akan melakukan hal yang sama, agar kau menerima pemberian uang dariku, dasar Gadis aneh, kau selalu saja membuat aku marah dan kuatir, aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam pikiranku, kenpa aku sulit sekali untuk bersikap dingin, lagi-lagi aku harus bertanya padanya."


Hadi terus saja berpikir. Riana yang menatap keluar jendela, ia terus saja mencoba mengingat aroma parfum suaminya, tapi lagi-lagi, ia tidak bisa mengingat apa-apa, entah sampai kapan rasa penasaran yang sudah pernah mencium aroma parfum itu sebelumnya, kapan akan terjawab ia juga tidak tau


..."sulit sekali untuk mengingat, aroma parfum pria dingin ini, dan aku juga merasa sangat nyaman, walaupun pria ini sangat dingin."...


Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mereka sampai di pekarangan rumah. Repan langsung turun, lalu langsung membukan pintu mobil untuk tuan mudanya, sedangkan Riana sudah turun lebih dulu sebelum Repan membukakan pintu mobil. Mereka langsung masuk ke dalam rumah itu, Henny yang sedang duduk di ruang tamu, ia melihat anak dan menantunya yang datang berbarengan, walaupun menantunya berjalan di belakang anaknya, tapi ia sangat bahagia. Hadi langsung menyapa Henny yang sedang duduk


"sore mah."


"sore juga sayang."


Riana pun ikut menyapa ibu mertuanya


"sore mah."


"sore juga menantuku sayang."


Repan pun langsung ikut menyapa nyonya Henny


"sore nyonya."


"sore juga Repan."


Hadi memutuskan untuk menyuruh istrinya pergi ke kamar lebih dulu


"Gadis kecil, kau lebih baik masuk ke kamar, lalu langsung bersihkan tubuhmu."


"baik om, mah Riana ke kamar dulu."


"iya sayang."


Riana langsung pergi menaiki tangga untuk ke kamar. Hadi langsung menyuruh asistennya untuk ke ruangan kerjanya


"Repan, kau ikut ke ruangan kerja saya."


"baik tuan muda."


Hadi langsung berjalan di ke ruang kerjanya, di ikuti oleh Repan. Henny yang melihat anaknya, hanya menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak mengerti dengan sikap Hadi yang masih saja mementingkan pekerjaan. Hadi sampai di ruang kerjanya, lalu ia langsung duduk di sofa. Repan yang melihat tuan mudanya duduk di sofa, ia sedikit bingung, biasa tuan mudanya langsung duduk di meja kerjanya. Hadi memutuskan untuk bertanya, pada asistenya di mana istrinya bekerja


"Repan, apa kau tau dimana gadis kecil itu bekerja?"


"saya tau tuan muda."

__ADS_1


"baiklah, antarkan saya kesana."


Hadi yang mendengar ucapan tuan mudanya, sangat terkejut, lalu ia langsung bertanya pada tuan muda


"apa sekarang tuan muda?"


"tentu saja sekarang."


"baik tuan muda."


Hadi langsung berdiri, lalu ia langsung berjalan keluar dari ruangan itu, di ikuti oleh asistennya hingga ia sampai di ruang tamu, lalu langsung berpamitan dengan ibunya


"mah, aku akan pergi, ada miteeng mendadak."


"baik sayang, hati-hati."


Hadi langsung berjalan keluar dari rumah itu. Henny hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat anaknya yang akan pergi bekerja lagi, ia tau, hanya bekerja yang bisa melupakan masa lalunya, untuk itu ia hanya bisa diam saat anaknya yang selalu di sibukkan dengan pekerjaannya. Hadi bersama asistennya sudah masuk ke dalam mobil, lalu ia langsung melajukukan mobil itu untuk pergi ke rumah makan tempat Riana bekerja. Setelah sampai menuju perjalanan 30 menit ia sampai. Hadi sebelum turun, berbicara dulu dengan asistennya


"Repan, pantas saja gadis kecil itu berkeringat, naik kendaraan saja 30 menit, apa lagi dia mungkin yang menggunakan kendaraan umum."


"iya tuan muda."


Repan langsung turun, lalu langsung membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya, walaupun ia masih tidak mengerti, kenpa tuan mudanya datang kemari. Hadi langsung berjalan masuk ke dalam tempat makan itu, dengan langkah kaki jenjangnya, hingga ia sampai di meja makan, ia hanya berdiri, melihat rumah makan itu sedikit kotor. Repan yang melihat tuan mudanya hanya berdiri, ia langsung mengambil tissue, lalu langsung mengelapi kursi itu, setelah itu langsung mengamparkan beberapa tissue di kursi itu, setelah itu ia langsung menyuruh tuan mudanya untuk duduk


"tuan muda, kursinya sudah bersih."


Hadi hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu langsung duduk. Banyak orang yang terpesona dengan ketampanan Hadi, ada beberapa orang juga yang mengambil fotonya secara diam-diam, siapa yang tidak tau dengan Hadi Wijaya, semua orang sangat mengenal nama tersebut, dia adalah seorang CEO di Wijaya Grup, hanya saja tidak banyak yang tau kalau ia sudah menikah. Hadi langsung menyuruh asistennya untuk memanggil pemilik rumah makan ini


"Repan, panggil pemilik rumah makan ini."


"baik tuan muda."


Repan langsung menundukkan kepala, lalu ia langsung ke arah bagian dapur, tapi pikirannya masih bingung


"apa yang akan tuan muda lakukan, kenpa tuan muda datang pada pekerjaan nona muda, setahuku tadi mereka berdua berbicara tidak begitu emosi, tapi kenapa tuan muda datang kemari, nona muda, sepertinya kau akan mendapatkan masalah lagi."


"sore pak?"


"sore tuan, apa ada yang bisa saya bantu?"


"bapak tolong ikut saya sebentar, karena tuan muda saya sedang menunggu anda."


"baik tuan."


Repan langsung berjalan lagi di ikuti oleh pak Rifki, hingga ia sampai di depan tuan mudanya


"tuan muda, pemilik rumah makan sudah ada di sini."


"iya."


Pak Rifki yang melihat pria berjas hitam itu, ia langsung terkejut, dan ia juga memiliki rasa takut, ia sudah sering mendengar kalau orang di depannya adalah seorang CEO di wilayah Grup, terlebih lagi pria itu sangat dingin, entah apa kesalanya, pak Rifki juga tidak tau, hingga harus berhadapan dengan seorang CEO. Hadi memutuskan untuk menyuruh pak Rifki duduk


"Anda duduk'lah terlebih dahulu, saya akan menjelaskan, tentang maksud kedatangan saya."


"baik tuan muda."


Setelah pak Rifki duduk, Hadi tanpa basa-basi ia langsung bilang pada tujuannya saja


"begini pak, saya minta anda pecat pekerja bapak yang bernama Riana."


Repan yang mendengar penjelasan tuan mudanya, ia sangat terkejut, tapi hanya bisa diam saja. Pak Rifki yang mendengar penjelasan dari seorang tuan muda, ia sangat terkejut, entah apa kaitannya ia juga tidak tau, lalu ia langsung meminta penjelasan pada tuan muda itu


"tuan muda, sebelumnya saya minta maaf karena saya lancang, tapi apa masalahnya hingga saya harus memecat Riana?"


"kau tidak perlu tau alasannya apa, yang jelas pecat saja!"

__ADS_1


Pak Rifki yang mendengar suara tuan mudanya, ia mulai gemetar, rasanya suara itu seperti es balok yang menusuk tulang, hingga rasanya menjadi mati rasa, tapi ia mencoba bersikap biasa saja, ia pun memutuskan untuk menjawab ucapan tuan muda itu


"tidak bisa tuan muda, saya tidak bisa memecat Riana, bagaimana pun juga, dia adalah pekerja yang paling rajin di sini. Jika saya memecatnya tanpa penjelasan, itu sangat tidak masuk akal."


Hadi langsung menyodorkan sebuah cek yang bernilai Rp 50 juta


"ambillah uang itu, seharusnya cukup untuk membuat alasan."


Pak Rifki melihat sebuah cek itu yang bernilai Rp 50 juta, ia langsung menghela nafas berat, walaupun penghasilannya selama 5 bulan itu tidak sampai 50 juta, tapi ia bukan orang yang serakah dengan uang, apa lagi ia melihat Riana adalah gadis pekerja keras, ia tidak bisa melakukan pemecatan itu, lalu ia langsung menolaknya


"saya minta maaf tuan muda, saya tidak bisa menerima cek ini, dan saya juga tidak bisa memecat Riana."


Hadi yang mendengar jawaban pak Rifki, ia langsung emosi


"baik! Jika kau menginginkan istri saya bekerja di sini, tapi kalau istri saya kenapa-napa, saya akan menghancurkan rumah makan ini!"


Detak jantung pak Rifki sangat kencang, setelah mendengar kata istri, ia tidak menyangka gadis yang terlihat biasa saja itu ternyata menikah dengan seorang CEO, lalu ia berpikir tentang Riana


"apa sebenarnya Riana adalah seorang nona muda, bagaimana mungkin Riana bisa menikah dengan seorang CEO."


Setelah lama berpikir, akhirnya pak Rifki meminta bukti yang jelas, jika tuan muda itu adalah suami dari Riana


"tuan muda, boleh saya minta bukti atas ucapan anda?"


"tentu saja boleh."


Hadi langsung menujukan cincin yang di pakainya


"ini adalah cincin pernikahan saya dengan Riana."


Pak Rifki memang kemarin melihat cincin itu di jari manis Riana, tapi baginya, itu bukan bukti yang kuat, bisa saja itu hanya buatan tiruan, lalu ia langsung memminta bukti lain


"tuan muda, bukti itu tidak cukup."


Hadi yang mendengar itu, ia langsung mengambil surat nikah di balik jas itu, lalu langsung meletakannya di depan pak Rifki, tanpa berbicara lagi. Pak Rifki mengambil surat nikah itu, lalu langsung membuka surat nikah itu, ia sangat terkejut, ternyata benar Riana menikah dengan seorang CEO, bahkan nama Riana juga adalah Riana Renata, itu adalah anak dari keluarga Renata, lalu ia langsung berpikir tentang Riana


"jadi Riana adalah seorang nona muda , walaupun keluarga Renata sudah bangkrut, tapi tetap saja Riana adalah seorang nona muda, tidak heran kalau Riana bisa menikah dengan seorang CEO, hanya saja, CEO ini terlihat sangat sombong, jika bersama Riana menurutku sangat tidak cocok."


Pak Rifki langsung menyodorkan buku nikah itu pada meja tuan muda itu, tapi ia tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat kebenaran itu. Hadi melihat pak Rifki sudah selesai memeriksa surat nikah itu, ia langsung berbicara


"saya minta kau pecat istri saya, saya tidak peduli dengan alasan apa pun. Jika kau masih tidak peduli dengan ucapan saya, saya aku membuat hancur tempat rumah makan ini."


Pak Rifki yang mendengar ancaman dari tuan muda itu, ia langsung menyetujui permintaan tuan muda, ia tidak ingin rumah makan yang sudah di bangun puluhan tahun itu, tiba-tiba hancur begitu saja


"baik tuan muda, besok saya akan memecat Riana."


"bagus kalau begitu, dan kau ambillah cek ini."


Pak Rifki yang mendengar ucapan tuan mudanya, ia langsung menolaknya, baginya rumah makan itu tidak di hancurkan saja sudah sangat bersyukur


"tidak perlu tuan muda, tuan muda tidak perlu kuatir, aku akan memecat Riana secepatnya."


Hadi yang mendengar jawaban pak Rifki, ia tetap menyuruh mengambil uang itu


"pak, ambil saja uang ini, ini anggap saja untuk mencari pekerja baru, karena Riana berhenti bekerja."


Pak Rifki yang mendengar ucapan tuan muda, ia sekarang mengerti, Kenapa Riana saat itu bilang akan menikah karena sama-sama cinta, tapi tadi ia tidak percaya karena bertolak belakang, Riana yang sangat lembut, sedangkan pria yang di depannya sangat sombong, tapi saat menyerahkan cek itu lagi, dan mengatakan untuk mencari pekerja baru, suaranya sangat lirih, ia tidak menyangka, di balik sikap dinginnya, ternyata memiliki hati nurani, lalu ia langsung menjawab ucapan tuan muda itu


"baik tuan muda, saya mengucapkan terimakasih."


"tidak masalah, selama kau tidak mencari urusan dengan saya, semuanya akan baik-baik saja."


"saya mengerti tuan muda."


"baiklah urusan kita selsai."

__ADS_1


Hadi langsung mengambil surat nikahnya, lalu langsung memasukkan kembali di balik jas hitamnya. Pak Rifki juga langsung berdiri. Hadi langsung berjalan keluar di ikuti oleh asistennya yang dari tadi hanya diam. Pak Rifki langsung menundukkan kepala saat tuan muda itu pergi. Hadi dan asistennya sudah masuk mobil. Repan langsung melajukukan mobil itu untuk pulang. Sepanjang perjalanan Hadi selalu saja tersenyum, ia sangat senang karena rencananya berhasil


"gadis kecil, ini balasan yang pantas untukmu."


__ADS_2