Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB 61. Sedih


__ADS_3

Hadi dan Riana masih diam, mereka masih dalam pikirannya masing-masing. Mila yang melihat nona mudanya dan tuan mudanya hanya diam, ia menjadi bingung, tapi ia hanya seorang asisten, untuk itu, ia hanya berdiri diam sambil menundukkan kepalanya. Setelah lama berpikir, Hadi masih belum bisa mengeluarkan kata-katanya, setelah mendengar ucapan dari istrinya, dan andai saja ia tidak memiliki perjanjian kontrak pernikahan selama 2 tahun dengan ibunya, ia ingin sekali melepaskan istrinya, ia tidak ingin membuat istrinya tersiksa, apa lagi setelah ia mendengar ucapan istrinya, yang mengatakan sampai kapan akan menyiksanya, membuat ia sangat sedih


" Ternyata yang aku lakukan selama ini, hanya membuatmu tersiksa, Riana, seandainya aku tidak memiliki perjanjian konyol dengan mamah, aku pasti akan menceraikanmu, aku tidak ingin membuat kau semakin tersiksa dengan kehidupanmu, maafkan aku, aku tidak bisa apa-apa, aku hanya bisa mengatakan maaf padamu, entah kenapa hatiku menjadi sakit saat kau mengatakan aku menyiksamu, aku sama sekali tidak pernah berpikir hidupmu menjadi tertekan, aku sudah berusaha sebisaku agar membuatmu semakin nyaman, tapi ternyata yang aku lakukan itu hanya sia-sia, di matamu tidak pernah ada artinya, sudahlah, kalau memang kau sudah sangat lelah dengan semua yang aku lakukan, maka aku akan memohon padanya, agar menghentikan perjanjian kontrak konyol itu." batin Hadi


Hadi memang sampai sekarang belum mengetahui maksud dari pernikahan ia, yang ia tau pernikahan itu hanya pernikahan kontrak hingga 2 tahun, ia masih belum tau kalau pernikahan itu adalah sebuah perjodohan, tapi setelah ia membawa istrinya ke pantai, ia ingin sekali membatalkan pernikahan kontrak itu, ia ingin menjadi suami istri yang sesungguhnya, ia ingin meminta pada ibunya agar membatalkan pernikahan kontraknya, dan Riana selalu jadi istrinya, tapi ia belum sempat mengatakan itu, istrinya sudah mengatakan ia menyiksanya, rasanya ia benar-benar kecewa, bukan kecewa pada istrinya, tapi kecewa pada hatinya yang begitu mudah mencintai istrinya dalam sekejap, ia juga tidak tau kenapa bisa seperti itu, jelas-jelas ia tidak bisa seperti itu pada Yulia, bahkan hingga 4 tahun ia masih tidak bisa mencintai tunangannya. Riana masih diam, ia masih tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi saat melihat suaminya menangis, bahkan tubuhnya sudah merasa lemas, ia ingin sekali duduk di lantai, tapi ia sekuat tenaga untuk menahan tubuhnya yang lemas, entah kenapa tangisan suaminya itu hingga membuat ia menjadi mendadak tubuhnya lemas, dan serasa tubuhnya itu remuk, karena ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya, entah perasaan apa itu, Riana juga masih belum tau, tapi yang jelas ia merasakan sakit. Hadi yang dari tadi terus berpikir, ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya, ia tidak ingin suasananya semakin canggung, lalu ia langsung mengeluarkan satu kata pada istrinya


" Maaf."


Setelah mengatakan itu, Hadi langsung mengambil laptopnya, lalu ia langsung menaikan tangga, tanpa menunggu jawaban dari istrinya lagi, ia tidak ingin mendengarkan ucapan istrinya lagi, ia takut hatinya semakin sakit, setelah mendengar jawaban dari istrinya, untuk itu ia pergi lebih dulu. Riana hanya menatap punggung suaminya yang menaiki tangga, ia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya saat mendengar kata maaf dari suaminya, tapi ia hanya diam mematung sambil terus meneteskan air mata. Setelah suaminya hilang dari pandanganya, Riana langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ia sudah benar-benar tidak bisa lagi menahan tubuhnya, setelah itu, ia langsung menangis tersedu-sedu


" Hiks...hiks...hiks..., maafin aku om, harusnya aku yang minta maaf, bukan kau, hiks...hiks.., tolong jangan pernah benci aku, aku tidak bisa lagi untuk melepaskanmu, hiks...hiks.."


Riana menangis sambil terus berbicara, ia tidak peduli masih ada asistennya yang mendengar ucapan lirihnya, yang jelas sekarang ia sudah mengeluarkan unek-unek yang dari tadi ia tahan, agar ia merasa lebih lega. Mila yang melihat dan mendengar ucapan dari nona mudanya, ia semakin bingung

__ADS_1


" Bagaimana ini, aku harus berbicara apa?, bahkan status mereka berdua saja aku tidak tau, aku hanya merasa kasihan saat melihat nona muda dan tuan muda menangis, dan aku juga tidak tau ada hubungan apa nona muda dengan tuan Kristian, hingga membuat tuan muda marah, lalu menangis." batin Mila


Mila langsung duduk, ia bingung harus bicara apa, yang jelas sekarang ia hanya mengikuti nona mudanya yang terduduk di lantai. Henny menuruni tangga, ia juga tadi berpapasan dengan putranya, ia juga melihat putranya yang menangis, membuat ia sangat bahagia, Henny memang sudah lama tidak melihat air mata putra pertamanya, semenjak gadis kecil itu hilang, Henny sudah tidak pernah lagi melihat putra pertamanya menangis, tapi sekarang ia sudah melihat putranya menangis lagi. Setelah menuruni tangga, Henny juga melihat menantunya yang menangis sambil duduk di lantai, lalu ia langsung mendekati menantunya hingga ia sampai di depan menantunya, ia langsung bertanya pada menantunya sambil memeluk menantunya


" Sayang, ada apa?, cerita sama mamah sayang, jangan memendamnya sendiri, walaupun tidak ada mamahmu, tapi anggap saja mamah sebagai mamahmu, jangan pernah menganggap mamah seperti mamah mertuamu."


Riana masih terus menangis tersedu-sedu, bahkan ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya, karena hanya dengan menangis, perasanya merasa lebih lega. Setelah lama Henny memeluk menantunya, ia langsung melepaskan pelukannya, lalu langsung menghapus air mata menantunya dengan kedua tangannya, sambil bertanya lagi


Riana yang mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya, ia langsung mengalihkan pembicaraan itu


" Mah, Riana ke kamar dulu."


Setelah mengatakan itu, Riana langsung berdiri, lalu langsung berjalan perlahan menaiki tangga, rasanya untuk naik tangga saja, ia tidak bisa, bahkan ia hingga berpegang di tralis tangga, masih dengan air mata yang terus mengalir, setelah sampai di depan pintu kamar, ia hampir saja terjatuh, tapi mantan kekasihnya dengan sigap menangkap pinggangnya, entah dari mana mantan kekasihnya itu datang, ia sama sekali tidak menyadarinya. Aldi langsung melepaskan pinggang mantan kekasihnya, lalu ia langsung bertanya pada mantan kekasihnya dengan perasaan kuatir

__ADS_1


" Riana, kau kenapa?"


Riana hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Aldi langsung menarik Riana dalam pelukannya, tapi Riana sebisa mungkin untuk melepaskan pelukan itu, karena hatinya merasa tidak nyaman saat ia di peluk oleh mantan kekasihnya, tapi mantan kekasihnya dengan erat memeluknya, membuat ia hanya bisa pasrah. Aldi langsung bertanya lagi pada mantan kekasihnya


" Riana, tolong katakan, kenpa kau menangis?, siapa yang menyakitimu?"


Riana yang mendengar pertanyaan dari mantan kekasihnya lagi, ia tidak menjawab pertanyaan dari mantan kekasihnya, ia langsung meminta untuk melepaskan pelukannya, karena ia merasakan tidak bisa bernafas, walaupun pelukan erat itu masih bisa untuk ia bernafas


" Koko, tolong lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa bernafas."


" Oh, maaf."


Aldi dengan berat hati, ia langsung melepaskan pelukannya. Setelah mantan kekasihnya melepaskan pelukannya, Riana langsung buru-buru masuk ke dalam kamar, lalu ia langsung menutup pintu kamar itu. Aldi hanya diam mematung sambil melihat pintu yang tertutup

__ADS_1


__ADS_2