Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB. 133


__ADS_3

Sudah 2 bulan dari kejadian tentang teranferan untuk Yulia, Hadi juga sekarang lebih terbuka pada istrinya, bahkan sekarang permasalahan tentang Yulia sudah selsai. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00WIB, tapi Riana masih saja tertidur pulas, sedangkan Hadi, ia sudah siap-siap dengan baju kantornya karena pagi ini ia akan mengadakan rapat. Hadi langsung mencium kening istrinya yang masih tertidur pulas, entah kenapa sudah 2 Minggu istrinya itu selalu malas-malasan dan selalu bangun siang, jelas-jelas Hadi juga sekarang mengurangi jatah bersama istrinya, ia tidak tega melihat istrinya seperti kecepean, tapi Hadi tau istrinya selama di rumah tidak melakukan apa-apa, ia hanya duduk-duduk dan nonton televisi, karena sudah 1 Minggu ini istrinya selalu melarang Hadi untuk pergi ke kantor


" Sayang, sebenarnya kau kenapa? Kalau aku ajak ke dokter pasti kamu bilang tidak apa-apa, aku tidak sakit, tapi wajahmu seperti kecepean dan sangat pucat."


Riana yang mendengar suara suaminya samar-samar, ia langsung membuka matanya dengan malas


" Kau sudah rapih hubby? Apa Hubby mau pergi ke kantor?"


" Iya sayang, aku ada rapat."


" Tapi hari ini aku ingin hubby di rumah."


" Sayang, bukan'kah aku sudah 1 Minggu di rumah? Tolong jangan seperti ini, aku harus pergi ke kantor, tidak mungkin selalu mengandalkan Repan dan sekertarisku terus."


Riana tetap tidak ingin suaminya pergi ke kantor, ia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya yang duduk di samping ranjang. Hadi hanya bisa menghela nafas berat saat melihat kelakukan istrinya, siapa yang tidak ingin selalu bermanja-manja bersama istri, tapi sekarang pekerjaan kantor semakin menumpuk, bahkan hanya sekedar bekerja di rumah saja istrinya tetap marah dan mendiamkan ia, membuat Hadi lagi-lagi mengandalkan Repan dan sekertarisnya


" Tolong jangan seperti ini sayang, ayo kita pergi ke dokter, aku juga kuatir dengan wajahmu selalu pucat akhir-akhir ini, dan selalu terlihat kelelahan."


Riana hanya menggeleng, ia masih membelakangi suaminya


" Iya sudah, kalau begitu aku suruh dokter Xiyi ke sini."


Riana masih tetap menggelengkan kepalanya, membuat Hadi langsung meremas rambutnya sendiri, entah dengan cara apa agar istrinya itu mau di cek oleh dokter, ia juga bukan tidak kuatir, ia sangat kuatir dengan keadaan istrinya akhir-akhir ini, tapi setiap malam, ia selalu melakukan layaknya suami istri, tapi istrinya tidak pernah menolaknya dan tidak pernah mengatakan capek. Namen Hadi bisa melihat kalau istrinya benar-benar kecepean


" Sayang, tolong jangan seperti anak-anak, aku tau usiamu masih terlalu muda, tapi jangan seperti anak kecil, sebelumnya kau tidak pernah manja seperti ini."


" Aku tidak mau hubby ke kantor, aku ingin hubby tetap di rumah dan tidak boleh melakukan pekerjaan apapun!"


Riana berbicara masih dengan membelakangi suaminya


" Tapi aku harus ke kantor, pekerjanku sudah menumpuk."


" Aku tidak peduli! Aku tidak mau hubby pergi ke kantor!"

__ADS_1


" Baiklah, aku tidak akan ke kantor."


Lagi-lagi Hadi hanya bisa mengalah setiap perdebatan seperti ini, ia juga tidak ingin istrinya kenapa-kenapa, apa lagi dengan kondisi istrinya yang tidak baik-baik saja. Riana langsung membalikkan badan, ia langsung memegang tangan kanan suaminya


" Bener iya hubby?"


" Iya sayang, tapi kau harus periksa ke dokter iya, aku takut kau kenapa-kenapa."


" Aku tidak sakit hubby."


Walaupun wajah Riana terlihat pucat dan seperti kecepean, tapi ia tidak merasakan sakit, hanya saja akhir-akhir ini ia tidak bisa jauh-jauh dari suaminya, dan ia ingin suaminya lebih perhatian padanya


" Aku tidak bisa menyimpulkan kau sakit atau tidak, yang jelas kau harus di periksa oleh dokter sayang."


Riana langsung menghempaskan tangan suaminya yang tadi ia pegang


" Aku tidak mau, hiks...hiks..."


Hadi langsung membungkukan badannya, ia langsung mengelus pucuk kepala istrinya. Riana hanya menggeleng sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia juga tidak tau kenapa sekarang menjadi cengeng, dan tidak ingin di tinggal suaminya pergi ke kantor, bahkan ia juga melarang suaminya bekerja di rumah, suaminya tidak boleh memainkan laptop. Hadi hanya bisa menghela nafas berat, saat melihat jawaban istrinya, ia berpikir kata-katanya tidak menyakiti istrinya sama sekali, tapi entah kenapa hingga membuat istrinya menangis


" Sebenarnya kau kenapa sayang, akhir-akhir ini selalu saja manja, bahkan kata-kataku juga tidak menyakiti hatimu, tapi kenapa kau menangis?"


" Kalau aku tidak mau, iya tidak mau hubby!"


Riana menjawab masih dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya


" Iya, aku tidak akan memaksamu, tapi tolong berhenti menangis, ini masih pagi, yang ada nanti mamah mengira kita bertengkar."


Lagi-lagi Hadi harus mengalah, walaupun sikap istrinya akhir-akhir ini sangat aneh, tapi ia menyadari kalau usia ia sudah dewasa, untuk itu ia hanya mengikuti apa kata istrinya. Riana langsung mengangguk, ia langsung menghapus air matanya, lalu langsung menatap wajah suaminya


" Hubby, cepat lepas jas nya, katanya hubby akan menemaniku di rumah?"


" Iya sayang."

__ADS_1


Hadi langsung berjalan ke arah ruang ganti, ia memutuskan untuk ganti baju. Sedangkan Riana langsung duduk sambil menyadarkan kepalanya di kepala ranjang, ia tersenyum puas saat suaminya tidak jadi ke kantor


" Aku bersyukur mendengar suara hubby samar-samar, jadi hubby tidak jadi ke kantor." batin Riana


Setelah mengganti baju, Hadi langsung duduk di samping di ranjang, di samping istrinya


" Apa mau sarapan?"


" Tidak mau hubby, aku belum ingin sarapan."


" Sayang, kenapa akhir-akhir ini selalu tidak ingin sarapan?"


" Perutku tidak enak kalau selesai sarapan."


Memang akhir-akhir ini Riana selalu tidak ingin sarapan, kalau ia sarapan, ia selalu merasa mual, tapi ia tidak merasa sakit


" Justru itu, sayang harus di periksa ke dokter."


Riana langsung menggelengkan kepalanya


" Aku tidak mau!"


" Iya sudah tidak apa-apa sayang."


Riana langsung membaringkan tubuhnya lagi, dengan kepala di pangkuan suaminya, itu adalah kebiasaan Riana akhir-akhir ini, banyak yang berubah semenjak 2 Minggu yang lalu, dan bahkan untuk sekedar mandi saja sangat susah, hingga sampai-sampai Riana meminta suaminya untuk memandikannya, sedangkan Hadi, ia hanya menuruti apa kata istrinya, kalau dulu ia paling benci yang namanya di suruh-suruh, tapi kali ini ia sudah seperti suami-suami takut istri, ia akan menuruti apapun itu, bahkan hatinya selalu menganggap tidak apa-apa walaupun istrinya sekarang lebih manja, yang terpenting ia tidak membuat istrinya kecewa


" Kalau begitu sayang tidur lagi sebentar, atau sayang mau aku siapkan air hangat untuk merendam tubuhmu?"


" Aku mau tidur saja hubby, jadi kau tidak boleh bergerak sendikitpun kalau aku belum bangun sendiri."


" Baiklah sayang, kalau begitu sayang tidur."


Hadi langsung mencium kening istrinya sekilas, lalu ia langsung mengelus pelan pucuk kepala istrinya, hingga istrinya tertidur pulas

__ADS_1


__ADS_2