Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB. 137


__ADS_3

Sudah dua hari dari mengetahui kalau Riana hamil, bahkan Riana dan Hadi juga sudah memeriksanya ke dokter kalau kandungan Riana baru saja menginjak usia dua minggu. Dokter yang mengatakan kalau kandungannya masih terlalu lemah, itu membuat Hadi selalu di samping Riana dan selalu melayani ke inginan Riana, walau pun Riana selalu ingin dirinya sendiri untuk mengambil sesuatu yang ia inginkan, tapi tetap saja Hadi tidak ingin kalau Riana kenapa-napa. Seperti sekarang ini, Hadi sedang menyuapi Riana memakan bubur, senyuman ke duanya tidak pernah pudar saat mengetahui Riana hamil


" Hubby, aku sudah kenyang."


" Tidak bisa sayang, kamu harus menghabiskan bubur ini, ingat kata dokter, kalau kandunganmu sangat lemah."


Riana hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia pasrah kalau harus menghabiskan bubur itu, ia tidak ingin membuat banyak beban untuk suaminya, terlebih lagi saat mengetahui kalau kandunganunya sangat lemah, maka suaminya akan tetap di sisinya, bahkan saat ia tertidur, suaminya akan menggunakan waktu tidurnya untuk menyelsaikan pekerjan, jadi Riana tidak bisa membantah di setiap ucapan suaminya, walau pun kadang hatinya kesal, tapi ia sebisa mungkin untuk tidak marah pada suaminya. Hadi menyuapi istrinya lagi setelah melihat jawaban dari istrinya, ia sangat bahagia karena istrinya tidak manja dan tidak pernah membantah dengan ucapanya, ia tau kalau istrinya tidak ingin menambah bebannya. Setelah selsai sarapan, Hadi langsung meletakan mangkuk itu di meja, karena tadi Riana makan di atas ranjang


" Sayang, apa ada sesuatu yang kau inginkan?"


Riana mennggelengkan kepalanya pelan, lalu ia langsung mencium kening suaminya sekilas sambil tersenyum


" Terima kasih papa, sudah suapin dede."


Riana berbicara sambil mengelus perut ratanya. Hadi tersenyum, lalu ia menundukan kepalanya di perut Riana


" Apa dede sangat menyukai makanan yang di berikan papa?"


" Tentu saja dede sangat menyukainya papa."


Riana menjawab pertanyaan dari suaminya sambil tersenyum. Hadi mencium perut Riana sangat lama


" Dede baik-baik iya di dalam."


Setelah mengatakan itu Hadi langsung duduk lagi, ia menatap istrinya sambil tersenyum

__ADS_1


" Sayang, lebih baik istirahat sekarang, sekarang sudah jam 1, sudah waktunya untuk tidur siang."


" Iya by."


Riana seperti biasa, ia akan menuruti ucapan suaminya, walau pun ia tidak ingin tidur siang, tapi hanya dengan tidurlah ia bisa membantu pekerjan suaminya agar lebih cepat selsai. Hadi langsung membantu istrinya untuk berbaring, setelah itu langsung menyelimuti tubuh istrinya, ia mengecup kening istrinya sekilas, lalu langsung menarik kursi untuk ia duduk. Hadi duduk sambil mengelus pucuk kepala istrinya agar segera tidur. Riana yang awalnya tidak ingin tidur, tapi lama kelamaan ia pun tertidur dengan sangat pulas. Setelah melihat istrinya tertidur pulas, Hadi langsung berdiri, ia mengecup kening istrinya sekilas, lalu langsung pergi ke arah sofa, ia duduk di sofa, dan langsung membuka laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya yang sudah semakin menumpuk. Setelah 30 menit Hadi sibuk dengan pekerjaannya, ia pun merasakan lapar, karena sudah 2 hari ia sibuk mengurusi istrinya dan pekerjaannya hingga melupakan kesehatannya sendiri. Hadi menutup laptopnya, lalu mendekati ranjang istrinya, ia mencium kening istrinya sekilas


" Aku tinggal bentar iya sayang, aku lapar."


Hadi langsung keluar dari kamar, ia menuruni tangga sambil tersenyum saat melihat ibunya yang duduk di ruang tv, sampai ia di depan ibunya


" Kristiani kemana sayang?"


" Dia sedang tidur ma, aku turun mau makan, aku lapar."


" Iya sudah sana makan, jangan tinggalkan Kristiani sendiri, kasihan dia."


Hadi langsung berlalu ke meja makan, sedangkan Henny menghela nafas sambil menatap punggung anaknya, semenjak di periksa dari dokter kandungan, menurut Henny anaknya menjadi tidak bisa mengurus diri sendiri, Henny tau kalau kandungan menantunya sangat lemah, dan ia juga merasakan seperti Riana saat kehamilan pertamanya, tapi suaminya tidak berlebihan seperti anaknya, yang selalu melayani istrinya 24 jam, hingga lupa dengan kesehatannya sendiri. Hadi duduk di meja makan sendiri dengan pikiran yang masih fokus pada istrinya. Setelah selsai makan Hadi memutuskan untuk ke kamar, ia masih melihat ibunya yang duduk di ruang tv, dan ia juga melihat ibunya seperti ingin menyampaikan sesuatu di hatinya


" Mama, kenapa?"


Hadi langsung duduk di samping ibunya sambil menatap ibunya


" Sayang, mama tau kalau kehamilan Kristiani sangat lemah, tapi kau jangan pernah lupa untuk makan, tubuhmu juga perlu tenaga untuk menjaga Kristiani, jangan terus di biarkan, jangan hanya mementingkan istri dan pekerjaan. Lebih baik pekrjaan itu kau serahkan pada Repan, walau pun kita nanti tidak dapat tender, tapi setidaknya posisi kantor masih tetap aman, kalau apa-apa kau urus sendiri, jelas akan membuatmu lelah "


" Aku tidak merasa lelah ma, aku tidak bisa menyerahkan pekerjaan itu pada Repan ma, aku merasa tidak enak, bagai mana pun juga Repan bagian dari keluarga kita, aku kasihan melihatnya kalau harus mebebani semuanya pada Repan, dan masalah Kristiani, aku harus benar-benar menjaganya ma, ini adalah anak pertamaku, aku tau mama pernah mengalami hal yang sama, tapi Kriatiani masih terlalu muda ma, aku takut kalau dia ceroboh."

__ADS_1


Hanny hanya menanggapi dengan anggukan kepala, kalau ia pikir juga tidak mungkin untuk menyerahkan tugasnya sepenuhnya pada Repan, dan ia juga tau anaknya harus lebih menjaga menantunya karena usia yang masih terlalu muda. Hadi langsung berdiri


" Ma, aku masuk kamar dulu."


" Iya sayang."


Henny menatap punggung anaknya dengan mata sendu. Hadi masuk kamar dengan senyuman manis di bibirnya karena melihat istrinya yang sedang duduk di atas ranjang sambil menyadarkan kepalanya. Hadi langsung duduk di samping ranjang


" Maaf, aku tinggal sebentar, aku lapar tadi sayang."


" Tidak apa-apa hubbby, kau jangan minta maaf, kenapa aku seolah-olah menjadi orang jahat."


Setelah itu tangisan Riana pecah sambil menitupi wajahnya, seharusnya saat ia sedang hamil, ia merasakan bahagia, tapi kini ia seperti sedang menyiksa suaminya. Hadi langsung menarik Riana dalam pelukanya, ia tau kalau ucapanya membuat istrinya sedih, tapi ia juga takut kalau istrinya marah, untuk itu ia minta maaf pada istrinya


" Sudah, jangan menangis, kasihan dedenya sayang, pasti dia juga ikut sedih kalau mama nya sedih."


Riana hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil memeluk suaminya sangat erat, dan tangisanya mulai mereda. Setelah itu mereka melepaskan pelukanya, Hadi menghapus sisa air mata istrinya dengan senyum yang di paksakan, bagai mana ia bisa tersenyum tanpa di paksakan kalau melihat istrinya menangis, jelas itu membuat ia juga ikut sedih


" Sekarang sayang mau apa?"


" Tidak mau apa-apa hubby. Kalau hubby ingin menyelesaikan pekerjaan, hubby selsaikan saja."


" Sayang serius?"


" Iya hubby aku sangat serius, agar cepat selsai."

__ADS_1


" Baiklah, aku akan melanjutkan pekerjaanku dulu."


Hadi langsung mencium kening istrinya. Entah sudah berapa kali ia mencium kening istrinya, yang jelas kening istrinya adalah candu, lalu pergi ke sofa untuk melanjutkan pekerjaannya, sambil bekerja, Hadi sesekali melihat ke arah istrinya yang duduk di atas ranjang dengan posisi menyandarkan kepalanya, dan sesekali juga ia tersenyum pada istrinya


__ADS_2