
Hadi langsung mencabut casan telpon rumah, lalu ia langsung membanting telpon rumah itu
Bruk....
" Jangan harap kau bisa menghubungi pria brengsek itu, aku tidak akan pernah mengijinkanmu bertemu dengan pria brengsek itu!"
Riana yang melihat dan mendengar, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak menyangka kalau suaminya akan sangat marah. Hadi langsung memanggil pelayan yang ada di luar kamarnya
" Pelayan..!"
Suara Hadi langsung menggelegar di ruangan itu, membuat Riana langsung menutup telinganya sendiri dengan kedua tangannya. Kedua pelayan itu yang di panggil, ia langsung masuk kamar tuan mudanya tanpa mengetuk pintu, ia tau tuan mudanya sangat marah
" Iya tuan muda." jawab kedua pelayan itu
" Kalian berdua, cabut kartu telpon rumah, di seluruh ruangan, dan jangan ada satu pun yang tersisa!"
Kedua pelayan itu hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, mereka bingung kenapa tuan muda sangat marah. Hadi yang melihat kedua pelayan nya hanya diam, ia langsung berbicara lagi
" Apa kalian berdua mau saya pecat?"
" Tidak tuan muda, baik tuan muda." jawab dua pelayan itu berbarengan
__ADS_1
Kedua pelayan itu langsung lari keluar dari kamar tuan muda, mereka tidak ingin membuat tuan mudanya semakin marah. Riana hanya bisa tersenyum saat melihat sikap cemburu suaminya, tapi ia juga tidak ingin mengatakan kalau ia hanya mengerjai suaminya, ia tidak ingin banyak larangan dari suaminya, ia juga bukan gadis yang selalu nurut dengan sikap kanak-kanakan suaminya itu, suaminya terlalu banyak ketakutan dan itu membuat Riana tidak bebas dalam hal apapun, anggap saja sekarang ia mencoba untuk merubah sikap suaminya yang selalu takut dan selalu egois. Setelah kedua pelayan itu pergi, Hadi langsung menatap ke arah istrinya, ia menatap mata istrinya dengan tatapan penuh dengan emosi, ia ingin sekali marah-marah pada istrinya, tapi ia takut istrinya akan membanding-bandingkan ia dengan pria kemarin sore itu. Riana langsung bertanya pada suaminya
" Sudah kenyang marah-marahnya?"
Hadi yang mendapat pertanyaan dari istrinya, ia hanya bisa menghela nafas berat, bisa-bisanya istrinya itu tidak membujuknya, melainkan isterinya bertanya seolah-olah tidak pernah membuat kesalahan. Riana langsung membalikkan badan lagi, ia langsung melanjutkan membereskan barang-barangnya yang belum selesai, ia sebenarnya tidak tega untuk melakukan hal yang membuat suaminya cemburu, tapi ia juga bukan Gadis kecil yang apa-apa selalu di larang, jadi untuk sementara biarkan saja, biarkan suaminya berpikir dewasa. Hadi langsung bertanya dengan suara rendah, setelah emosinya sudah meluap-luap dari tadi, tapi ia mencoba untuk sabar pada istrinya
" Apa yang sebenarnya kau inginkan Kristiani?"
Riana hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, tanpa melihat ke arah suaminya, tangannya terus saja membereskan barang-barang, toh bagi Riana, di jawab juga percuma. Hadi yang melihat jawaban dari istrinya, ia langsung berbicara pada istrinya
" Jangan pernah untuk mencoba lari dari pernikahan ini, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu, ingat itu, dulu aku sudah pernah kehilanganmu, dan sekarang aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
Riana masih tidak ingin membuka suara, karena itu bukan jawaban yang ia inginkan, yang ia inginkan bukan jawaban itu. Hadi yang tidak mendengar jawaban dari istrinya, ia mencoba untuk mengontrol emosinya, entah apa yang istrinya inginkan dari ia, ia juga tidak tau, lalu Hadi langsung berbicara lagi
Riana yang mendengar ancaman dari suaminya, ia mau tidak mau harus menjawab ancaman itu tanpa melihat ke arah suaminya, ia tau suaminya itu tidak pernah bermain-main dengan ucapan
" Lakukan saja yang ingin kau lakukan bi, tapi jangan sekali-kali menyentuh Andre, walaupun seujung kuku pun, aku tidak akan pernah membiarkan kau menyakiti Andre!"
" Apa pria itu sangat berarti untukmu?"
" Sudah aku katakan, Andre bisa memberikan aku kebebasan, apa masih kurang jelas?"
__ADS_1
" Kebebasan seperti apa yang kau inginkan Kristiani?, kebebasan kalau kau di sentuh oleh pria lain akan diam saja?"
Riana yang tidak sesuai dengan keinginannya, ia memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan dari suaminya, ia lelah dengan pembicaraan suaminya yang masih saja tidak paham maksudnya. Hadi yang melihat istrinya hanya diam, ia langsung mengambil kunci mobil
" Pikirkan baik-baik, jika seorang pria yang benar-benar mencintaimu, tidak akan pernah rela istrinya di sentuh oleh orang lain, kalau pria itu rela istrinya di sentuh oleh pria lain, itu artinya pria itu tidak sepenuhnya mencintaimu, dan pikirkan ucapanmu, apa ucapanmu benar?, kau membela pria lain dari pada suamimu sendiri, dan satu lagi, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa lari dari pernikahan ini!"
Setelah mengatakan itu, Hadi langsung keluar dari kamarnya, tanpa menunggu jawaban dari istrinya, ia langsung menutup pintu kamar itu dengan sangat keras
Brukk...
Riana yang mendengar suara gebrukan pintu, ia hanya bisa mengelus dadanya sendiri, entlah kenapa suaminya itu berbicara hingga melebar kemana-mana, yang ia inginkan bukan kebebasan itu, yang ia inginkan hanya ingin cepat memiliki anak, dan tidak ada larangan dalam apapun, sedangkan suaminya masalah malam pertama saja hingga ponselnya jadi korban, harus di situ oleh suaminya, jelas-jelas suaminya itu sudah membatasi ponselnya, yang bisa ia lihat hanya 17+ saja, tapi seolah-olah menurut suaminya, ia melakukan kesalah yang sangat besar, ia benar-benar kesal dengan hal itu semua. Setelah suaminya pergi, Riana langsung duduk di meja rias, ia langsung berbicara dengan dirinya sendiri melalui pantulan kaca
" Hei, apa kau sudah puas telah mengerjai suamimu sendiri, hingga suamimu marah-marah tidak jelas?. Tidak, dia sangat kanak-kanakan, apa-apa selalu di larang, membuat bosan."
Setelah mengatakan itu, Riana langsung mengusap wajahnya sangat kasar, ia merasa sangat bersalah pada suaminya, tapi ia juga tidak ingin rencananya gagal total. Hadi sampai di lantai satu, ia langsung mengajak asistennya untuk pergi ke kantor
" Repan, ayo ke kantor."
Repan yang di ajak oleh tuan mudanya, ia hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, ia belum pernah melihat tuan mudanya mengajak ke kantor hanya dengan baju kemeja putih kotak-kotak, lalu memakai celana jeans, itu belum pernah terjadi sebelumnya, terlebih lagi wajahnya seperti sedang menahan emosi. Hadi yang melihat asistennya hanya diam, ia langsung mengajak asistennya lagi dengan suara lebih keras
" Ayo cepat Repan! Apa mau saya pecat?"
__ADS_1
" Iya iya tuan muda."
Hadi langsung berjalan ke luar di ikuti oleh Repan yang masih sedikit bingung, tapi ia juga tidak berani bertanya pada tuan mudanya. Repan dan Hadi langsung masuk ke dalam mobil. Repan langsung melajukukan mobilnya ke arah kantor