Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB 111. Menggigit telapak tangan


__ADS_3

Riana yang sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara, ia langsung meneteskan air mata, ia ingin sekali menjelaskan segalanya pada suaminya, tapi ternyata ia tidak mendapatkan kesempatan, lalu ia pun mulai pasrah dengan keadaan, ia sadar sekarang ia hanya Gadis asing di hadapan suaminya, ia juga sadar, ia tidak akan pernah sebanding dengan tunangan dari suaminya. Riana langsung turun dari ranjang suaminya, ia langsung berjalan ke arah ranjangnya, ia tidak ingin lagi berbicara dengan suaminya, baginya percuma, suaminya akan memotong ucapanya. Hadi masih berdiri, ia hanya menatap istrinya yang pindah ke ranjang miliknya sendiri, lalu ia langsung berbicara di dalam hatinya


" Kristiani, apa sudah benar-benar tidak ada kesempatan lagi untukku, apa yang harus aku rubah, agar kau mencintai aku seutuhnya, aku tidak ingin kau membagi cintamu, kau benar-benar egois, kau bilang mencintai aku, tapi tadi kau bilang juga mencintai Aldi, kenapa kau menjadi Gadis yang tidak memiliki pendirian, kenapa, aku tau adikku pergi hanya untuk kebahagiaanku denganmu Kristiani, tapi kalau kristiani masih memikirkan adikku, bagaimana bisa bahagia, aku tidak bisa menjadi pria pura-pura bodoh, aku hanya manusia biasa." batin Hadi


Setelah itu Hadi langsung naik ke atas ranjang, ia langsung duduk sambil menyadarkan kepalanya di kepala ranjang. Malam ini adalah malam yang paling lama bagi Riana dan Hadi, mereka berdua hanya duduk di ranjang masing-masing dengan pikiran masing-masing yang tidak bisa di ungkapkan oleh mereka berdua. Riana masih meneteskan air mata, ia hanya menatap ke arah balkon, hatinya begitu sakit, lagi-lagi dadanya seperti tertindih beban berat, ia pikir suaminya akan menerimanya, karena suaminya bilang mencintainya, saat ia masih belum sepenuhnya sadar, tapi setelah ia sadar, suaminya berubah menjadi pria egois lagi


" Mah, aku tidak bisa menunggu lama-lama di sini, aku ingin kau segera datang ke Indonesia, aku sudah tidak sanggup untuk menyimpan beban berat ini, aku lelah mah, mah, kenapa aku menjadi Gadis bodoh, kenapa aku mencintai dia lagi, dulu dia terpaksa menerimaku karena aku saat itu mencoba bunuh diri, dan sekarang dia juga menerimaku, mungkin karena ingin menebus hutang budi di masa lalu, karena aku telah menolong nyawanya, kenapa aku selalu menjadi Gadis bodoh di depannya, kenapa aku tidak bisa mencintai pria yang mencintai aku dengan tulus, kenapa takdir mempertemukan aku kembali, kalau pada akhirnya hanya menggoreskan luka lama, aku tidak tau, dulu dia berjanji padaku akan menikahiku, serius dari hati, atau itu hanya ingin membuat aku tidak mencoba untuk bunuh diri lagi, aku benar-benar tidak tau, aku terlalu lelah, dengan kehidupan yang begitu banyak drama." batin Riana


Riana terus saja berbicara di dalam hatinya, sambil meneteskan air mata, lagi-lagi ia terjatuh ke dalam jurang yang sama, karena ia sudah bisa mengingat semua masa lalunya, masa lalunya begitu menyedihkan, sampai ia tumbuh menjadi dewasa, bahkan ia hanya mencintai pria yang sama, pria yang tidak bisa melihat ketulusan hatinya, pria yang sangat egois. Hadi yang sedang duduk, ia sekali-kali melihat ke arah istrinya yang hanya menatap ke arah balkon, entah kenapa hatinya sangat sakit, saat istrinya hanya menatap ke arah balkon, Hadi pikir istrinya menatap ke balkon itu, ke arah kamar adiknya


" Kristiani, apa kau merindukan adikku, hingga kau terus saja menatap ke arah kamar adikku, seandainya kau jujur dari dulu, aku tidak akan mengijinkan adikku untuk pergi, dan seandainya kau jujur dari dulu, aku sudah mundur dari pernikahan kita." batin Hadi

__ADS_1


Mereka berdua terus saja berbicara di dalam hatinya, tidak ada suara sedikitpun, hanya ada suara detak jarum jam yang terdengar di kamar itu. Riana yang terus larut dalam pikirannya, tiba-tiba ia ingat kalau suaminya belum mengobati lukanya, ia langsung bertanya pada suaminya, masih tetap di atas ranjangnya


" Hubby, apa lukamu tidak apa-apa?"


Hadi hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil berbicara di dalam hatinya


" Luka di tanganku tidak akan membuat aku mati, tapi luka di hatiku, bisa membuat aku mati." batin Hadi


" Tolong jangan lukai tanganmu kristiani, jika kau mau menggigit, gigit saja tanganku, aku sudah pernah mengatakannya padamu, jika ingin menggigit, gigit saja tanganku, jangan pernah melukai tanganmu sendiri."


Riana tidak peduli ucapan dari suaminya, ia langsung membelakangi suaminya, lalu langsung menangis lagi sambil menggigit telapak tangannya. Hadi hanya bisa menghela nafas berat, lalu ia langsung mengelus punggung istrinya sambil berbicara

__ADS_1


" Tolong jangan lakukan itu Kristiani, aku sangat menyayangimu, aku tidak ingin melihatmu terluka, aku akan menelpon Aldi untuk segera pulang, aku akan menyuruh dia agar tidak kuliah di sana, aku tau kau tidak bisa menerima kenyataan karena Aldi pergi begitu saja, dan besok aku juga akan segera mengurus surat perceraian kita, jadi tolong jangan lakukan itu lagi."


Riana langsung melepaskan tangannya yang sudah sedikit berdarah, ia langsung duduk, sambil menghapus air matanya, lalu ia langsung bertanya pada suaminya


" Maksud hubby apa?, kenapa hubby mengatakan tentang Aldi?, ini tidak ada kaitannya dengan Aldi, dan aku menangis, karena beban di dadaku sangat berat, aku hanya ingin mengeluarkan unek-unek yang ada dalam pikiranku, aku lelah setiap berbicara selalu di potong, aku tau hubby tidak mencintaiku, tapi jangan pernah menyantumkan nama Aldi di rumah tangga kita, karena ini tidak ada kaitannya denganya."


Hadi yang mendengar penjelasan dari istrinya, ia hanya bisa menghela nafas berat, ia tidak tau lagi, kenapa istrinya begitu keras kepala, kenapa istrinya lagi-lagi menyangkal, jelas-jelas istrinya tadi sore matanya sembab karena Aldi, tapi istrinya masih saja menutup semua itu dari ia, entah dengan cara apa lagi agar istrinya mengakui kalau istrinya itu sangat mencintai adiknya, lalu ia langsung bertanya pada istrinya, ia juga lelah semalaman terus saja berdebat


" Apa yang kau inginkan?, kalau ini tidak ada kaitannya, kenapa kau menangis seperti itu?"


" Kenapa kau bertanya padaku?, kenapa kau tidak berpikir secara jernih, kesalahan apa yang kau buat padaku, hubby, aku ini hanya manusia biasa, aku juga bisa merasakan lelah, jika ucapanku terus saja kau potong, dan kau abaikan."

__ADS_1


__ADS_2