Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB 63.


__ADS_3

Pagi hari Riana sudah bangun lebih dulu, biasanya ia bangun selalu telat, tapi hari ini, ia bangun pukul 05.00 WIB. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB, Riana sudah rapih memakai seragam sekolah, hari ini juga ia berdandan tidak seperti biasanya, ia memakai mekup tipis dan lipstik berwarna pink, ia ingin menghabiskan waktu yang tersisa dengan suaminya, ia sudah tidak peduli dengan pemulihan ingatanya, yang ia pedulikan adalah suaminya. Riana yang masih duduk di depan meja rias, matanya terus menatap kaca, ia menatap wajahnya dengan sesama, sambil berpikir tentang wajahnya


" Apa aku sudah cantik?, atau aku terlalu berlebihan?, sudah lama aku tidak berdandan seperti ini, semenjak papah meninggal, dan sekarang rasanya aneh, tapi tidak apa-apa, semua ini aku lakukan untuk suamiku, aku hanya ingin memiliki kenangan manis, sebelum kita berpisah." batin Riana


Riana langsung berdiri, lalu ia langsung berjalan mendekati arah ranjang suaminya yang masih terlelap, hingga Riana sampai di samping ranjang, ia langsung menatap wajah suaminya sambil berjongkok, ia melihat ada sisa air mata di pipi suaminya, lalu ia langsung berpikir tentang suaminya


" Apa kau mimpi buruk lagi om?"


Walaupun suara Riana lirih, tapi Hadi bisa mendengar suara itu, ia langsung membuka mata, lalu langsung melihat istrinya, yang sedang berjongkok sambil memandangi ia. Riana yang melihat suaminya bangun, ia langsung menyapa suaminya sambil tersenyum


" Pagi om."


Hadi tidak menjawab sapaan dari istrinya, ia menatap wajah istrinya tanpa berkedip, menurut ia hari ini istrinya berpenampilan berbeda, biasanya istrinya akan terlihat seperti anak-anak, tapi kali ini istrinya terlihat Gadis remaja, yang memakai mekup tipis dan lipstik berwarna pink, membuat jantung Hadi berdetak lebih cepat. Riana yang menatap suaminya hanya diam, ia memberanikan diri mendekati wajah suaminya yang masih rebahan, lalu ia langsung mencium bibir suaminya sekilas, setelah itu ia langsung berbicara lagi pada suaminya


" Moring kiss Om."


Hadi yang mendapat perlakuan itu, ia ingin sekali menarik istrinya untuk rebahan, lalu langsung membalas ciuman dari istrinya, tapi keinginan itu, ia buang jauh-jauh, mungkin istrinya melakukan itu karena sangat bahagia, karena sebentar lagi mereka akan bercerai. Hadi langsung duduk, lalu langsung menurunkan kakinya ke lantai, setelah itu ia langsung berbicara pada istrinya dengan suara dingin


" Jangan pernah menyentuhku! Kita sudah tidak memiliki perjanjian apapun, dan lakukan saja sesuai yang kau inginkan, tapi jangan pernah mencoba untuk mengganggu hidupku, kita sudah tidak memiliki ikatan apa-apa, kau juga tidak perlu merasa tidak enak, karena bagiku, uang yang ibumu pinjam tidak ada apa-apanya, jadi tidak perlu berterimakasih dengan kelakuan konyolmu!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Hadi langsung berdiri, lalu ia langsung berjalan ke arah kamar mandi, tanpa menengok pada istrinya yang hanya diam mematung hingga ia masuk ke dalam kamar mandi. Riana hanya menatap suaminya yang masuk ke dalam kamar mandi, sambil meneteskan air mata, hatinya sangat sakit, saat mendengar ucapan suaminya


" Om, apa kau benar-benar sudah membenciku?, aku harus melakukan apa?, agar kau tidak mengabaikan aku, aku sangat merindukanmu, rasanya sangat sakit saat kau mengabaikanku, tolong katakan, aku harus melakukan apa agar kau seperti kemarin-kemarin." batin Riana


Riana langsung duduk di ranjang suaminya, lalu ia langsung mengambil ponselnya di dalam saku, ia langsung mengirim pesan pada kakanya, untuk bertemu di restoran yang sama, ia ingin menceritakan semua yang ada di dalam pikirannya, untuk itu ia berniat tidak masuk sekolah lagi. Setelah mengirim pesan, Riana langsung berjalan ke arah sofa, hingga ia sampai, lalu langsung duduk untuk menunggu suaminya, ia langsung menghapus air matanya, setelah itu ia langsung menyadarkan kepalanya. Hadi selsai dengan ritual mandinya, ia langsung keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya yang masih setia menunggu ia di sofa, Hadi langsung memakai jas, lalu langsung menata rambutnya, setelah selesai, ia langsung mengambil tas kerjanya, setelah itu ia langsung berjalan ke luar kamar, tanpa mengajak istrinya yang sudah setia menunggu ia. Riana yang melihat suaminya berjalan ke luar kamar, ia langsung mengikuti suaminya dengan berlari kecil, karena langkah kaki suaminya itu sangat cepat, hingga mereka sampai di meja makan. Hadi langsung menyapa kedua orang tuanya


" Pagi mah, pagi pah."


" Pagi juga sayang."


" Pagi juga nak."


" Pagi mah, pagi pah."


" Pagi juga nak."


" Pagi juga sayang, duh menantu mamah semakin cantik saja."


" Mamah terlalu memuji."

__ADS_1


" Tidak memuji sayang, memang kenyataan, kau sangat cantik, hanya pria bodoh saja yang tidak menyukaimu."


Henny mengatakan kata bodoh, sambil matanya melihat ke arah putranya yang sama sekali tanpa ekspresi, bahkan ia melihat putranya lebih dingin dari biasanya. Riana langsung menggeser kursi di samping suaminya, ia mencoba tersenyum saat mendengar pujian dari ibu mertuanya, walaupun hatinya terasa sakit seperti tertusuk oleh ribuan pisau, tapi ia tidak bisa apa-apa, selain menahan perasaannya, ia sarapan sambil sesekali melihat ke arah suaminya yang sarapan tanpa ekspresi, dari tadi pagi ia hanya melihat suaminya lebih dingin, bahkan rasa dingin itu, bukan seperti es balok, tapi seperti dari istana es, yang tidak akan pernah mencair menjadi air. Hadi yang terus di pandangi istrinya, ia juga sadar akan hal itu, tapi ia tetap tampa ekspresi, ia tidak ingin menujukan sikap sedihnya pada istrinya, ia hanya ingin melihat istrinya bahagia dengan pilihannya, untuk itu ia sebisa mungkin untuk menjauhi istrinya. Henny dan Delon langsung menyudahi sarapannya, mereka berdua mengerti, kalau anak dan menantunya sedang bertengkar, untuk itu mereka berdua langsung berdiri. Henny langsung berbicara pada anak dan menantunya


" Sayang, kalian lanjutkan sarapan, mamah dan papah sudah kenyang."


" Iya mah." jawab Hadi dan Riana berbarengan


Henny dan Delon langsung berjalan ke arah ruang tamu. Setelah kedua orang tuanya pergi, Hadi memutuskan untuk menyudahi sarapannya, ia langsung berdiri. Riana yang melihat suaminya berdiri, ia langsung memegang tangan kiri suaminya, lalu langsung melihat ke arah suaminya masih sambil dengan posisi duduk, setelah itu langsung berbicara pada suaminya


" Om, biarkan aku menjadi istrimu yang baik sebelum kita bercerai, biarkan aku melakukan kewajabanku layaknya seorang istri, pernikahan kita sah atas nama Tuhan, dan sah di mata negara, jadi tolong, biarkan aku melakukan kewajibanku."


Hadi yang mendengar ucapan dari istrinya, ia hanya tersenyum sinis, ia berpikir mungkin istrinya hanya tidak enak hati padanya, ia tidak berpikir kalau istrinya memiliki perasaan padanya, karena mengingat kemesraan istrinya bersama sahabatnya, itu sudah membuat ia jelas, apa lagi istrinya tidak menjelaskan apa-apa padanya, lalu ia langsung menjawab ucapan dari istrinya


" Tidak perlu, sudah aku bilang, kau jangan pernah menyentuhku, dan lakukan saja sesuai keinginanmu."


Setelah mengatakan itu, Hadi langsung melepaskan tangan istrinya yang masih menegang tangannya, lalu ia langsung berjalan ke arah ruang tamu. Riana hanya menatap kepergian suaminya


" Om, kenapa kau menjadi lebih dingin." batin Riana

__ADS_1


__ADS_2