Istriku Ternyata Cinta Pertamaku

Istriku Ternyata Cinta Pertamaku
BAB 15. Pertemuan ke dua


__ADS_3

Setelah lama Hadi berpikir ia langsung berjalan ke sisi jembatan lalu melihat air yang mengalir sangat deras, kebetulan jalan sedang sepi. Repan pun mengikuti tuan mudanya masih sedikit jauh dari jarak tuan muda


"lebih baik aku mati saja. Aku tidak menyangka, kenapa hidupku mejadi seperti ini, kenapa semuanya terjadi padaku, sudahlah tidak perlu menyesali lagi, yang terpenting aku harus mati." Batin Hadi


Hadi memutuskan naik di atas sisi jembatan itu, lalu dirinya langsung naik, setelah naik di sisi jembatan, ia masih melihat dengan tatapan sendu. Repan sudah mulai gemetar dingin ia melangkah dengan mengendap-endap mendekati tuan muda. Hadi yang merasa Repan mendekati langsung berbicara


"Repan jangan mendekat."


Repan pun langsung memberhentikan langkah kakinya


"tuan muda, apa yang mau kau lakukan?"


"tentu saja mati."


"tuan muda, jangan mengatakan seperti itu, tolong turun dulu, kita bicara baik-baik, saya mohon tuan muda."


"apa yang harus di bicarakan Repan, kau bukan hanya asistenku, tapi juga temanku tentu kau tau bukan, hidupku seperti lelucon. Kristiani pergi entah kemana hingga aku lelah harus dengan cara apa untuk mencarinya, dan Yulia membatalkan pernikahan yang tinggal seminggu lagi, bukan'kah sangat lucu hidupku?"


"kenapa hidupku sangat rumit tiga minggu yang lalu Gadis kecil itu, sekarang tuan muda." batin Repan


Hadi masih melihat air dengan tatapan yang sendu, ia hanya berpikir satu-satunya hanya bunuh diri, agar tidak menanggung malu. Riana yang sedang berjalan akan ke tempat kerja ia melirik ke orang itu awalnya biasa saja ia terus saja melanjutkan jalannya karena Riana tidak ingin ikut campur urusan mereka terlebih lagi takut telat ke tempat kerja, tapi setelah melihat lagi ternyata orang yang pernah menolong dirinya, ia tidak berpikir lagi langsung lari mendekati Hadi hingga ia sampai di dekat Hadi hanya saja Riana di jalan sedangkan Hadi di atas sisi jembatan. Hadi sudah memejamkan matanya. Riana yang melihat Hadi memejamkan mata, ia ingat dirinya juga dulu seperti itu, lalu dirinya langsung menarik tangan Hadi dengan sekuat tenaga hingga Hadi terjatuh di tubuh Riana yang telentang karena hilang ke seimbangan. Bibir Riana dan bibir Hadi saling menempel, lalu Riana langsung mendorong Hadi hingga Hadi terjatuh di samping Riana. Riana dan Hadi saling bertatap mata


"apa kau gila?"


"kau yang gila kenapa kau menolong saya?, bukan'kah kita tidak ada urusan?"


"apa dia bener-bener gila, pria ini tidak ingat pernah menolong aku tiga minggu yang lalu." batin Riana


Repan langsung mendekati tuan mudanya hingga ia sampai di sampingnya. Repan langsung duduk di tanah


"tuan muda tidak apa-apa?"


Hadi tidak menjawab pertanyaan dari asistennya melainkan ia langsung bertanya lagi pada Riana


"kenapa kau menolong saya?"


Riana tidak menjawab pertanyaan dari Hadi ia menatap Hadi dengan tatapan sinis


"wah pria ini benar-benar gila, dia tidak ingin."

__ADS_1


Hadi yang belum mendengar jawaban, ia langsung menatap mata asistennya. Repan mengerti tatapan tuan mudanya itu adalah tatapan bertanya, lalu ia langsung menjawab


"tuan muda, dia Gadis yang pernah tuan muda tolong sekitar tiga minggu yang lalu."


Setelah mendengar jawaban dari asistennya, Hadi langsung melihat wajah Riana dengan seksama lalu ia ingat Gadis itu adalah Gadis kecil yang ia tolong. Hadi awalnya memasang muka sangat dingin entah kenapa berubah menjadi ceriah setelah tau Gadis di depannya adalah Gadis itu


"apa kau sudah ingat?, saya tidak ingin berhutang budi padamu, satu lagi karena menolongmu ciuman pertama saya hilang dasar pria brengsek."


Hadi hanya mengerutkan keningnya, ia mengingat ciuman pertama, ciuman pertama yang mana menurut dirinya, lalu ia pun ingat saat dirinya menindih Gadis kecil ini, bibir merka saling menempel


"lalu kenapa kau menolong saya?, sekarang kau menyalahkan saya?"


"sudah aku bilang, aku tidak ingin berhutang budi padamu, lalu kau kenapa sampai mau bunuh diri?"


Hadi diam ia langsung menundukkan kepalanya. Riana masih menatap pria itu dengan tatapan sinis, lalu ia bertanya lagi karena pria di depannya belum menjawab pertanyaannya


"kenapa diam, apa karena seorang Gadis?"


"iya."


"apa kau bodoh, karena seorang Gadis kau akan membahayakan nyawamu sendiri?"


Riana yang belum mendengar jawaban pria itu langsung bertanya lagi


"kenapa tidak menjawab?"


Hadi langsung mengangkat kepala, lalu dirinya menatap Garis itu dengan tatapan sinis


"iya, tapi ini beda bukan sepertimu, dia membatalkan pernikahan karena dia memilih karirnya."


"sama saja, kau pria bodoh yang pertama kali saya temui. Jika kau mau bunuh diri silahkan saja, saya tidak akan melarang kau lagi, karena saya sudah tidak memiliki hutang budi padamu!"


"kenapa aku bisa bertemu Gadis aneh seperti dia." batin Hadi


Riana membuka suara lagi karena Hadi tidak menjawab pertanyaannya


"kenapa takut?, dan saya juga menyesal jika tau kau akan menindih tubuh saya, saya juga tidak akan menolongmu, karena nyawamu itu tidak berharga."


"apa maksudmu?"

__ADS_1


"iya, karena ciuman pertama saya hilang, kau tau saya Gadis yang menjaga tubuh saya dari atas hingga kaki, dan hanya akan saya berikan pada suami saya!."


Setelah mendengar jawaban dari Gadis kecil yang ada di hadapannya Hadi hanya tersenyum, karena jarang sekali Gadis yang menjaga seluruh tubuh hanya untuk suaminya, lalu ia juga ingat saat akan bunuh diri itu sebenarnya belum di cium oleh kekasihnya, lalu tiba-tiba saja dirinya langsung membuka suara


"gadis gila."


Riana yang mendengar ucapan pria itu, ia tidak terima, lalu langsung menjawab pertanyaan pria itu


"apa kau bilang saya gila?, kau yang gila kenapa akan bunuh diri, tapi tidak jadi, apa takut?"


"tidak."


Riana langsung mengerutkan keningnya karena melihat pria di hadapannya tersenyum, termasuk Repan yang melihat tuan mudanya sedikit heran. Riana langsung melihat jam yang menujukan pukul 07.47 WIB


"gawat, aku kesiangan." batin Riana


Riana lalu langsung berdiri tanpa berpamitan ia langsung melangkahkan kakinya. Hadi yang melihat Riana jalan ia langsung berteriak


"gadis kecil, ciuman pertamamu bersamaku adalah pertemuan ketiga kita!"


Riana menghentikan langkahnya ia sudah mengepalkan kedua tangannya, ia ingin sekali memukul pria yang berteriak, tapi ia juga merasa tidak ada gunanya


"dasar pria gila!"


Repan melihat tuan mudanya sedikit heran, bagaimana mungkin tuan muda mengatakan pertemuan ketiga adalah ciuman pertama, apa tuan muda akan mencium Gadis tadi di pertemuan ke tiga?, ia juga melihat tuan mudanya yang awalnya murung menjadi ceriah, entah banyak ke anehan bagi Repan sudah dua kali tuan mudanya bertemu dengan Gadis kecil itu selalu tersenyum. Hadi melihat Gadis kecil itu hingga menghilang dari pandangannya, lalu ia pun berdiri


"ayo pulang."


Repan masih diam ia masih memikirkan perkataan tuan muda yang akan mencium Gadis itu di pertemuan ketiga. Hadi menatap asistenya dengan tatapan bingung


"kau kenapa?"


"anu tuan muda."


"anu apa?"


"tuan muda, benar akan mencium Gadis tadi di pertemuan ketiga?"


"tidak, ayo pulang."

__ADS_1


"baik, tuan muda."


__ADS_2