
Riana masih diam ia, tidak menyangka bahwa suaminya mengetahui nama sebelumnya. Repan yang melihat nona mudanya hanya diam, ia memutuskan untuk memberi tahu tuan mudanya, ia tau tuan mudanya mengatakan itu secara tidak sadar, karena terlalu panik, apa lagi kejadian tadi sudah pernah di alami oleh gadis yang tuan mudanya cintai
"tuan muda, dia adalah nona Riana."
Setelah mendengar ucapan asistennya, seketika Hadi sadar, Kalau ia baru saja berimajinasi, gadis yang di hadapannya itu bukanlah gadis kecil yang ia cintai selama ini, lalu ia langsung menjawab ucapan asistennya
"iya, saya tadi panik, Gadis kecil, aku akan panggil dokter untukmu."
Riana masih diam, ia masih memandangi wajah suaminya, sambil terus berpikir, dari mana suaminya tau nama sebelumnya, bahkan mantan kekasihnya saja tidak tau nama sebelumnya, tapi ia tidak ingin bertanya dari mana suaminya tau, ia hanya memandang mata suaminya dengan tatapan kosong, ia berharap bisa mendapatkan petunjuk dari suaminya, tapi yang ia lihat, di dalam mata suaminya, saat pria kecil itu di culik dan hampir di tusuk pisau, membuat Riana seketika teriak sambil menutup telinganya
"tidak!"
Hadi yang mendapati istrinya teriak, ia semakin panik, ia langsung memeluk istrinya sambil bertanya
"apa yang sakit?, apa kau baik-baik saja?"
Riana hanya menjawab dengan gelengan kepala, masih di pelukan suaminya, ia tidak tau harus bagaimana, semakin hari bayang-bayang itu semakin menyiksanya, semakin berusaha mengingatnya, semakin ia tersiksa. Hadi dan Riana melepaskan pelukannya. Hadi membelai rambut istrinya dengan lembut, lalu ia langsung bertanya pada istrinya
"Gadis kecil, apa kau mau di panggilkan dokter?"
Riana hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hadi lalu langsung menyuruh istrinya untuk mengganti baju
"lebih baik kau ganti baju, nanti kita masuk angin."
Riana hanya menjawab dengan anggukan kepala. Hadi yang akan mengangkat tubuh istrinya, tiba-tiba saja ponsel asistennya bergetar
Deret.... deret....
Repan langsung melihat nama panggilan tersebut, ternyata yang menelponnya adalah Yulia, ia langsung berbicara pada tuan mudanya
"tuan muda, nona Yulia menelpon saya."
"angkat saja, dan katakan saya sedang miteeng."
Hadi langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu langsung berjalan untuk menuju kamarnya. Repan yang mendengar jawaban dari tuan mudanya, ia benar-benar tidak menyangka, tuan mudanya sekarang benar-benar hanya peduli dengan istri kontraknya. Hadi sampai di kamar, lalu ia langsung menurunkan istrinya, setelah itu langsung menyuruh istrinya untuk mengganti baju
"gadis kecil, kau lebih baik ganti baju, setelah itu kau istirahat."
"baik om."
Riana langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa baju gantinya. Setelah istrinya masuk ke dalam kamar mandi, Hadi langsung mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak mengerti kenapa tadi melihat Riana seperti Kristiani, ia sangat tersiksa, karena wajah kristiani terus saja membayanginya
"Kenapa menjadi seperti ini, kenpa aku selalu melihat Kristiani di dalam sosok Riana, kalau terus seperti ini, aku bisa-bisa gila." batin Hadi
Hadi langsung mengambil ponselnya, ia langsung melihat layar ponselnya, ternyata tunangannya menelponnya hingga 8 kali, lalu ia langsung meletakkan lagi ponselnya, setelah itu langsung mengambil baju ganti, lalu langsung keluar dari kamarnya, ia langsung berjalan keluar kamarnya hingga ia sampai di depan kamar ibunya, ia langsung mengetuk pintu kamar ibunya
Tok-tok
Henny yang sedang duduk di sofa, ia mendengar suara ketukan pintu, langsung membuka pintu kamarnya, ia melihat putranya, lalu langsung bertanya pada putrinya
"sayang, kenapa bajumu basah?"
"aku mau mandi mah, tadi Riana jatuh ke dalam kolom, aku langsung menolongnya."
__ADS_1
"iya sayang."
Hadi langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Henny hanya menatap putranya yang pergi ke kamar mandi, tiba-tiba saja ia mendapatkan ide jahil untuk menyatukan Riana dan putranya, agar pernikahan itu bukan pernikahan kontrak, ia langsung mengambil wine, lalu langsung membuka botolnya, setelah itu ia langsung memasukkan obat perangsang ke dalam wine, setelah itu ia langsung meletakkannya di meja lagi. Tidak lama Hadi keluar dari kamar mandi, lalu langsung mendekati ibunya
"mah, terimakasih, aku akan ke kamarku dulu."
"iya sayang, oh iya mamah tadi membelikan wine 1990, apa kau mau?"
"tidak mah."
"mamah sudah membelikannya untukmu, kau tidak mau?, benar-benar tidak menghargai perasaan mamah."
"baiklah mah, aku ambil wine ini, terimakasih mah."
Hadi langsung memeluk ibunya dari samping sambil pipinya menempel di pipi ibunya. Henny hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia berharap putranya bisa melakukan hal itu dengan Riana, agar pernikahan itu tidak menjadi pernikahan kontrak, dan agar putranya bisa melupakan Yulia dan masa lalu gadis kecilnya, Henny juga sangat menderita melihat putranya yang selalu mengingat gadis kecilnya, bahkan ia juga tau, putranya masih menyimpan semua foto dan mainan gadis kecilnya, lalu Yulia, ia tidak berharap putranya bisa melupakan masa lalunya karena Yulia, baginya Yulia tidak cocok dengan putranya, Yulia adalah wanita yang selalu mementingkan karirnya, jadi Henny tidak menyukai Yulia. Hadi langsung keluar dari kamar ibunya sambil membawa wine, hingga ia sampai di kamar, ia langsung meletakkan wine itu di meja samping ranjangnya, setelah itu ia langsung mendekati istrinya yang duduk di atas ranjang sambil menatap ke luar balkon, hingga ia sampai, lalu ia langsung bertanya pada istrinya
"gadis kecil, apa kau mau melihat pemandangan?"
Riana hanya menjawab dengan anggukan kepala, karena pikirannya masih di penuhi kejadian tadi, saat suaminya memanggilnya dengan panggilan kristiani, ia masih bingung, dari mana suaminya tau tentang namanya. Hadi yang melihat jawaban istrinya, ia langsung mengajak istrinya ke arah balik
"mari aku ajak kau ke balkon."
Setelah mengatakan itu Hadi berjalan lebih dulu. Riana tidak menjawab ucapan suaminya, ia langsung turun dari ranjang, lalu langsung mengikuti suaminya ke arah balkon hingga ia sampai di balkon. Hadi langsung duduk di kursi, sedangkan Riana, ia langsung mendekati pagar besi, ia melihat sekeliling situ sambil tersenyum. Angin yang berhembus kencang menemani mereka berdua. Setelah jam menunjukkan pukul 07.09 WIB, Hadi langsung mengajak istrinya untuk makan malam, lalu ia langsung mendekati istrinya yang masih berdiri di dekat pagar besi, hingga ia sampai di samping istrinya
"gadis kecil, ayo kita makan."
Riana yang mendengar ajakan suaminya, ia langsung menjawab tanpa melihat ke arah suaminya, ia tetap melihat pemandangan di sekitarnya
"aku tidak lapar om, pemandangan ini sangat indah."
Riana yang mendengar ucapan suaminya, ia langsung melihat ke arah suaminya, lalu langsung menatap mata suaminya, ia memang melihat kekuatiran dalam diri suaminya, tapi ia juga tidak tau kenapa suaminya itu sangat kuatir, yang ia tau suaminya itu selalu saja melakukan semena-mena, dari ia harus di pecat, lalu tadi siang menyuruhnya untuk masuk sekolah, suaminya selalu saja memaksanya, dan perjanjian di dalam kontrak itu sangat mudah suaminya langgar, lalu Riana langsung berpikir tentang perjanjian kontrak itu
"untuk apa ada perjanjian kontrak, kalau kau saja melanggarnya, kau saja melakukan seenaknya, aku tau, jika kau menginginkan sesuatu yang berharga juga pasti kau dapatkan, karena kau memiliki segalanya, tapi bukan berarti karena kau memiliki segalanya, kau menjadi pria yang tidak memiliki prinsip."
Riana terus saja menatap wajah suaminya, hingga ia pun sadar dari lamunannya, lalu ia langsung menjawab ucapan suaminya
"aku tidak mau om, om saja yang makan."
Hadi yang mendengar jawaban istrinya, ia hanya menghela nafas berat, entah kenapa ia begitu sangat kuatir pada istrinya, walaupun ia baru saja lebih mengenal istrinya itu selama 3 hari, setelah mereka menikah, tapi rasa kuatir yang ia alami sangat berlebihan, ia juga tidak tau kenapa, apa lagi di dalam diri istrinya, selalu saja melihat sosok kristiani, membuat ia menjadi serba salah dengan keadaan itu, lalu Hadi hanya mengiyakan ucapan istrinya
"baiklah, kita tidak perlu makan."
Hadi langsung berjalan masuk ke dalam, hingga ia sampai di sisi meja ranjang, ia langsung mengambil wine, lalu mengambil dua gelas, setelah itu ia langsung berjalan ke arah balkon lagi, hingga ia sampai di balkon, ia langsung membuka wine, lalu langsung menuangkan wine itu pada dua gelas, setelah itu ia langsung memberikannya pada istrinya
"gadis kecil, kau minum dulu, agar tubuhmu terasa hangat."
Hadi langsung menyerahkan satu gelas wine itu. Riana juga mengambil gelas wine yang di serahkan suaminya
"terimakasih om."
Setelah di pegang, tiba-tiba saja gelas itu langsung terjatuh
Crack..
__ADS_1
Riana yang menjatuhkan gelas, ia langsung minta maaf pada suaminya dengan perasaan takut
"aku minta maaf om, aku tidak sengaja."
Setelah itu Riana langsung berjongkok untuk memungut gelas itu. Hadi langsung menahan tangan istrinya yang akan memegang pecahan gelas
"tidak perlu, nanti tanganmu terluka, gelas itu biarkan saja, besok akan ada pelayan yang membersihkannya."
"tapi om."
"tidak apa-apa gadis kecil."
Hadi langsung memegang tangan istrinya untuk berdiri lagi, lalu ia langsung menyerahkan gelas yang ia pegang tadi
"ini minumlah, agar badanmu tidak dingin."
"baik om."
Riana langsung mengambil gelas yang di serahkan suaminya, lalu langsung meminumnya sedikit demi sedikit sambil melihat pemandangan malam dengan suaminya. Hadi juga akhirnya tidak jadi meminum wine itu, karena ia malas untuk mengambil gelas lagi, ia ikut melihat pemandangan malam di samping istrinya. Riana masih meminum wine itu sambil sesekali ia melihat ke arah suaminya yang sedang fokus memandang pemandangan malam, ia melihat suaminya memang sangat tampan, walaupun usia suaminya berbeda jauh dengan ia, tapi tidak bisa di pungkiri, memang suaminya itu lebih tampan dari adiknya
"kau memang sangat tampan, tidak heran adikmu saat itu sangat cemburu, hanya saja sikapmu yang seenaknya, membuat aku benci dengan semua sikap burukmu, tapi kau juga ternyata sangat peduli, Riana, apa yang kau pikirkan, kau baru saja menikah kontrak dalam waktu 3 hari, perasaanmu sudah tidak waras." batin Riana
Riana terus saja berpikir, sambil sesekali masih meminum wine itu, hingga wine itu habis, ia mulai merasa panas, tapi panas yang berbeda, ia benar-benar merasa sangat gerah, dan mulai pusing, hingga gelas yang di pegangnya terjatuh lagi
Crack...
Hadi seketika terkejut, lalu ia langsung melihat ke arah istrinya, setelah itu ia langsung bertanya pada istrinya
"gadis kecil, kau tidak apa-apa?"
"aku sangat gerah om."
Riana langsung membuka dua kancing baju tidurnya, sambil sesekali ia mengipaskan tanganya pada dadanya. Hadi langsung memegang kening istrinya, lalu langsung memegang pipi istrinya, ia paham Kalau istrinya terkena obat perangsang, seketika itu ia langsung berteriak
"mamah!"
Wajah istrinya sudah merah, ia semakin bingung dengan keadaan ini. Riana yang mulai kehilangan kesadaran, ia langsung memeluk suaminya sambil berdiri
"om tolong, ini sangat gerah."
Hadi tidak ada pilihan lain, mau tidak mau, cara satu-satunya hanya itu, ia langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu berjalan masuk ke dalam kamar, hingga ia sampai di sisi ranjangnya, lalu langsung meletakkan tubuh istrinya di atas ranjangnya, setelah itu ia juga naik ke atas ranjang, lalu langsung mengunci tubuh istrinya dengan kedua tangannya, setelah itu ia langsung mencium bibir istrinya dengan perlahan, ia tidak peduli besok istrinya akan marah seperti apa, yang jelas ia sekarang melihat istrinya seperti itu, ia tidak tega. Hadi terus saja mencium bibir istrinya. Riana juga membalas ciuman itu, walaupun ia tidak berpengalaman, tapi ia sebisa mungkin untuk melakukan hal itu, hingga ciuman itu berubah menjadi lumut*n. Hadi yang mulai ikut terangsang dengan permainan itu, ia terus mencoba mengontrol diri sendiri, ia tidak ingin sampai berlebihan melakukan hal itu, walaupun ia pasrah dengan keadaan besok, tapi ia sebisa mungkin untuk tidak melakukan hal itu pada gadis kecil yang sekarang menjadi istri kontraknya, dan ia juga menganggap malam ini adalah malam paling sial dalam hidupnya, bahkan tidak pernah terbayangkan harus berciuman dengan seorang gadis kecil, tapi ia bersyukur, karena ia tidak meminum wine itu, tidak tau akan jadi apa kalau ia juga meminum wine itu. Setelah 20 menit mereka berciuman, Hadi langsung bertanya pada istrinya
"gadis kecil, apa kau sudah baik-baik saja."
Riana hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala, lalu ia langsung mencium bibir suaminya lagi. Hadi juga membalas ciuman istrinya sambil memutar otaknya, harus bagaimana agar tidak sampai melakukan hal itu, hingga ia menemukan solusi, satu-satunya adalah membasahi tubuh istrinya. Hadi langsung bangun, lalu ia langsung turun. Riana yang melihat suaminya turun ia langsung duduk masih dengan keadaan terpengaruh obat perangsang, lalu ia langsung bertanya
"om, mau kemana?"
Hadi tidak menjawab pertanyaan istrinya, ia langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi, ia langsung menurunkan istrinya di bawah shower, ia langsung menyalakan shower, untuk membasahi tubuh istrinya
"om, apa yang kau lakukan?"
"diam."
__ADS_1
Riana diam di bawah shower menuruti apa kata suaminya. Sebenarnya Hadi juga tidak tega, tapi ia takut kalau harus melakukan hal itu