
Riana langsung merapihkan rambutnya, lalu langsung keluar dari kamar itu, untuk menuju ke meja makan yang sudah di tunggu suaminya. Tadi memang suaminya langsung pergi ke meja makan lebih dulu. Riana sampai di depan meja makan, ia langsung menggeser kursi, ia merasa canggung setelah mendengar ucapan dari suaminya, yang mengatakan jangan menyentuhnya, apa lagi sekarang di meja makan hanya ada ia dan suaminya. Hadi sarapan tanpa mengeluarkan suara, bahkan dentingan sendoknya saja tidak ada, ia sarapan tanpa sedikitpun melihat istrinya yang baru datang, ia tetap diam membisu, hatinya yang mulai bahagia, nemen
lagi-lagi di buat kecewa oleh istrinya, tapi hingga sampai saat ini, bahkan Hadi belum mengakui kalau ia mencintai istrinya, ia hanya bisa memendam perasaannya, walaupun perasaan itu semakin hari semakin besar. Riana mulai sarapan, sambil sesekali melihat suaminya, ia ingin sekali bertanya, kenpa berubah begitu mudah, bahkan baru saja ia tinggal suaminya ke dalam kamar mandi, tapi suaminya sudah berubah menjadi istana es lagi, entah apa kesalanya, Riana juga tidak tau, yang jelas, Riana sangat kecewa dengan sikap suaminya yang selalu berubah-ubah, seandainya saja ia tidak mencintai suaminya, ia ingin sekali mengatakan kalau suaminya pria iblis yang tidak memiliki hati, karena sangat sulit untuk Riana mengenal kepribadian suaminya. Tiba-tiba saja telpon Riana berbunyi
Ting...Ting...
Riana langsung mengambil ponselnya di saku roknya, ia langsung melihat nama orang yang menelponnya, ternyata itu adalah kakaknya, membuat ia bingung, haruskah ia angkat telpon itu, atau ia tolak saja telpon itu, ia benar-benar sangat takut akan membuat salah paham lagi dengan suaminya, apa lagi sekarang suaminya sudah berubah menjadi pria dingin. Hadi langsung melihat ke arah istrinya yang hanya menatap ponselnya, ia langsung mengambil ponsel milik istrinya dari tangan istrinya, ia langsung melihat nama orang yang menelpon istrinya, namanya adalah Koko sayang, tapi Hadi mengenali nomer yang di beri nama tersebut, itu adalah nomer Kristian. Hadi langsung mengangkat sambungan telpon itu, lalu langsung membesarkan volume panggilannya, tapi ia tidak mengeluarkan suaranya, ia ingin tau apa yang akan Kristian bicarakan pada istrinya. Kristian yang sudah melihat telponnya tersambung ia langsung berbicara
" Sayang, Koko sudah berhasil membeli rumah yang kau minta, kau bisa langsung menepati rumah itu kapan saja dengan ibumu."
Hadi yang mendengar ucapan dari Kristian, ia langsung mengepalkan kedua tangannya, ia benar-benar sangat marah. Hadi langsung meletakkan ponsel itu di meja makan. Riana yang melihat suaminya semakin emosi, ia menjadi takut, bukan takut karena kemarahan suaminya, tapi ia takut suaminya akan membencinya. Kristian yang tidak mendengar jawaban dari adiknya, ia tidak berbicara lagi, tapi ia tetap tidak mematikan sambungan telponnya, ia ingin tau, kenapa adiknya hanya diam. Hadi langsung mengangkat dagu istrinya yang hanya menunduk takut, lalu ia langsung bertanya pada istrinya
" Riana! Kau anggap aku apa?, hingga kau membeli rumah dengan menggunakan uang dari Kristian. Riana, aku bisa membelikan apapun untukmu! Apa tidak bisa kau menghargai aku sebagai suamimu?, kenapa kau begitu menjadi wanita munafik?, kau bilang tidak membutuhkan apapun dariku, tapi kau membutuhkan uang dari Kristian! Apa yang ada dalam pikiranmu Riana?, aku sangat tidak mengerti dengan jalan pikiranmu."
__ADS_1
Hadi langsung menurunkan tangannya yang dari tadi memegang dagu istrinya, ia benar-benar sangat kecewa pada istrinya. Riana yang mendengar panggilan Riana, hatinya sangat sakit, baru saja ia tadi pagi berbaikan, tapi kali ini sudah bertengger lagi. Hadi yang melihat istrinya hanya diam, ia langsung berbicara lagi
" Kenapa kau berbohong padaku, kenapa kau tidak bilang kalau kau kemarin pergi bertemu Kristian juga?, sudah sampai di mana keseriusan hubunganmu dengan Kristian, hingga kau membawa Kristian ke rumahmu?, Riana, apa aku pria yang sangat menakutkan bagimu?, hingga kau tidak terbuka seutuhnya padaku?, atau kau melihat aku pria yang sangat menyedihkan?, karena aku semalam mabuk berat."
Riana yang terus mendengar celotehan suaminya, ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi, ia langsung menjawab ucapan dari suaminya sambil menggelengkan kepalanya
" Tidak, aku tidak pernah menganggap om pria yang sangat menyedihkan, aku tidak pernah memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih dengan Koko, dan aku."
Riana baru saja ingin mengatakan dan aku hanya mencintaimu, tapi ucapan itu terhenti, karena suaminya memotong pembicaraan darinnya
Riana langsung memegang tangan kanan suaminya dengan kedua tangannya, lalu langsung berbicara pada suaminya lagi
" Aku mohon, tolong om dengar dulu penjelasanku, aku dan Koko tidak memiliki hubungan apa-apa, aku dan Koko adalah."
__ADS_1
Riana baru saja akan mengatakan aku dan Koko adalah sodara kandung, tapi lagi-lagi suaminya memotong pembicaraannya
" Cukup Riana!"
Hadi langsung menghempaskan tangan istrinya, lalu ia langsung berdiri, ia tidak ingin lagi berdebat dengan istrinya, ia tidak ingin lagi mendengar ucapan lugu dari istrinya, semua ucapan istrinya hanya membuat ia bahagia sesaat, tapi membuat luka yang amat dalam di hatinya, entah dengan cara apa agar istrinya bisa sepenuhnya terbuka padanya, banyak rahasia yang tidak ia ketahui tentang istrinya. Riana langsung ikut berdiri, air matanya sudah membanjiri pipinya, lalu ia langsung berbicara lagi dengan nada keras
" Aku tau, aku berbohong padamu! Tapi semua itu aku lakukan karena aku tidak ingin bertengkar denganmu, untuk itu aku berbohong padamu!"
" Riana, kebohonganmu hanya membuat aku semakin benci padamu! Aku benci dengan Gadis munafik sepertimu!"
" Om, tidak bisakah kau mendengar penjelasanku terlebih dahulu?, tidak bisakah kau menahan emosimu dulu?, aku tidak ingin menutupi ini semua lagi denganmu, walaupun aku belum sepenuhnya ingat dengan masa laluku, tapi aku sudah tidak bisa menahannya lagi, tolong dengarkan penjelasanku."
" Tidak Riana! Harusnya kau jelaskan semuanya saat aku tidak mengetahui semuanya dari orang lain, harusnya kau jelaskan tadi pagi, bukan sekarang! bukan setelah aku mengetahui dari asisten pribadimu."
__ADS_1
Hadi tidak bisa lagi membendung air matanya, kini air matanya sudah mengalir deras di pipinya, rasa kecewa terhadap istrinya begitu dalam, di saat ia sudah benar-benar berharap dengan istrinya, tapi istrinya begitu mudah mematahkan hatinya dengan ucapan manis dari istrinya, tapi ternyata semuanya hanya kebohongan belaka, entah dengan cara apa agar istrinya mengerti sedikit saja tentang perasanya, ia sudah mencoba menjadi yang terbaik untuk istrinya, tapi lagi-lagi semuanya sia-sia, perlakuan lembut yang ia tunjukkan pada istrinya, istrinya tidak bisa melihat ketulusan itu, istrinya hanya mencintai pria lain. Riana melihat suaminya menangis, membuat hatinya sangat sakit, entah kenapa setiap melihat suaminya menangis, hatinya selalu sakit, kecewa, dan sedih, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, suaminya tidak pernah ingin mendengar penjelasan dari ia sekarang, ia sadar, ia hanya istri kontrak, dan suaminya juga sudah memiliki tunangan, tapi kebaikan suaminya dan kelembutan suaminya, membuat ia semakin mencintai suaminya, membuat ia ingin selalu bersama suaminya, walaupun hanya sesaat denganya, tapi ia bahagia