
"Masa sih? Kau kan cantik dan memiliki body yang sempurna. Dan ukuran tubuhku dan tubuhmu masih besaran tubuhmu karena kau berisi sedangkan aku krempeng."kata Lidya menunjukkan lingkaran lengannya yang kecil dan ia mengukur lingkar tangan milik Lina, berisi.
"Tidak. Aku itu lemah Lid. Aku angkat galon ke gledekkan aja nggak kuat. Angkat sedikit buat ingisi air aja nggak kuat."jelas Lina membuat Lidya terkejut dan itu sangat mustahil.
"Masa sih?"Lina mengangguk mengiyakannya. "Iya, padahal aku ini ingin menjadi kuat biar aku bisa membantu orang lain. Dan jujur saja, pukulanku tidak sekuat tangan pria padahal aku ingin sekali pukulanku seperti seorang pria."ucap Lina. Lidya tertegun mendengar keinginan Lina yang sangat berbahaya menurutnya. Ia takut, kalau Lina akan masuk ke tim smackdown yang ada di televisi.
Lidya menggeleng cepat mengusir pemikiran yang tidak-tidak, tersenyum tipis. "Terserah kamu aja,Lin. Eh aku baru ingat, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."ucapnya membuat Lina semakin kepo.
"Apa?"
"Aku tadi bertemu dengan cowok misterius di dalam bus."
"Cowok itu gimana?"
Lidya menjelaskan semua ciri-ciri pemuda yang ia temui pagi ini ke Lina. Gadis cantik tersebut mendengarkan temannya menjelaskan ciri-ciri pemuda misterius itu. Selesai bercerita, Lidya meminta Lina berpendapat bagaimana cara mendekati pemuda misterius itu. Lina menyunggingkan senyum miring menggoda Lidya.
"Jangan-jangan kau suka ya? Sama pemuda itu!"goda Lina membuat Lidya memukul lengan Lina keras tidak peduli dengan aduan Lina mendapatkan pukulan keras dari Lidya. "Lidya, tubuhnya kecil sepertiĀ biting tapi pukulannya keras banget."kata Lina dibalas tatapan seram dari Lidya. Gadis cantik tersebut hanya bisa terkekeh mengelus lengan yang dipukul Lidya tadi. Lalu angkat bicara,"ya, biarin aja sih. Nanti juga datang sendiri padamu karena pemuda itu ingin tahu sifatmu dari dekat."jawab Lina akhirnya dibalas anggukan mantap dari Lidya. Dan tatapannya ke Lina menggoda,"kayak Lina dan Jay waktu Mos hehehe."goda Lidya.
Pipi Lina memerah saat itu juga menyuruh Lidya berhenti memanggil nama 'Jay'. Lidya terus tertawa ngakak melihat temannya itu salah tingkah saat mendengar nama 'Jay'. "Eh kenapa kau tidak di kelas Multimedia 2 kan disana ada Jay. Mengapa kau datang di Multimedia 1."Lidya terus menggoda Lina dan berkali-kali mengulang nama 'Jay'.
Akhirnya Lina membekap mulut Lidya dengan tangannya. "Berhenti! Lidya yang cantik. Jangan bilang namanya! Aku malu ih."kata Lina pelan-pelan. Lidya menyingkirkan tangan Lina dari wajahnya dan mengambil nafas banyak-banyak.
"Lina, tangannya bau amis."ejek Lidya.
Tet... Tet.... Tet...
Bel masuk telah berbunyi semua murid duduk dibangku masing-masing menunggu guru masuk kedalam kelas. Lidya menulis di buku berukuran sedang dan ditulisnya pertanyaan lagi,pertanyaan konyol. Semakin lama,ia akan tertarik membuat pertanyaan itu. Menurut Lidya, itu bisa memancing ide lama yang terpendam dan ia bisa kembali menulis di aplikasi oranyenya lagi.
'Jika ada gadis kuat? Bagaimana ya reaksi mereka yang melihat gadis lemah itu tiba-tiba menjadi kuat?'
__ADS_1
Di kalimat kedua ada tulisan begini.
'Akhir-akhir ini aku melihat hal aneh terjadi padaku. Apakah orang lain merasakan itu juga?'
Seperti itulah isi buku yang ditulis Lidya disana. "Nanti aku akan menulis cerita fantasi ku di rumah."gumamnya senang dan menutup buku kecilnya lalu memasukkan kembali kedalam tas.
Ia harap aman dan tidak ada siapapun yang bisa mengintip isi buku itu. Lidya takut kalau terjadi apa-apa yang tidak diinginkan.
Pluk
Kertas gulungan seperti tadi pagi lagi-lagi mengarah padanya dan mengenai kepala. Tanpa menengok kebelakang bangku, ia mengambil kertas itu,membacanya.
'Gadis lugu, maukah kau pulang sekolah ke belakang sekolah. Aku punya urusan denganmu'.
Seulas senyum terukir jelas di bibir Lidya, senyum mengejek. Ia mengambil pulpen dan menjawab di bawah tulisan itu.
'Jika kau memiliki urusan denganku. Coba perlihatkan siapa dirimu dan berdiri dihadapanku sekarang juga, dihadapan para murid. Tidak perlu bersembunyi-sembunyi, Penakut!'
Balasnya, kembali *** kertas menjadi bulat dan membuangnya kebelakang tanpa menoleh. Arah pandangnya kembali ke papan tulis, menulis teori. Ia merasa muak dengan murid yang suka buat surat teror seperti itu, baginya penakut. Kenapa penakut? Karena Lidya sudah tahu diperlakukan seperti ini pada masa SMP.
Dulu ia menderita tapi sekarang berusaha tegar dan menantang, siapapun itu ia tidak akan takut.
Kertas yang tadi yang dibuang ke belakang oleh Lidya. Diambil oleh Tina dan membaca apa yang ditulis oleh gadis lugu itu, saat ia membaca begitu terkejutnya gadis lugu seperti Lidya bisa mengatakan itu.
Sepulang sekolah Lidya memilih naik angkot. Takut, kalau ia bertemu dengan pemuda misterius tadi. Itu sangat mengerikan dan membuat tingkat kepo Lidya memuncak kalau seperti ini terus ia akan mencoba menajdi agent mata-mata seperti yang ada di televisi. Ha mungkin ini sudah gila, pikiran ke mana-mana dan mulai disandingkan dunia fiksi dan nonfiksi.
Ketahuilah ini hanya Perbandingan saja. Dan Lidya cuman iseng saja. Mana mungkin cerita yang bergenre fantasi menjadi kenyataan. Angan-angan yang ditulis oleh Lidya di buku tulis kecil itu juga tidak akan terjadi di dunia nyata seperti:orang sering mendapatkan kesialan,orang yang berharap bakal dikabulkan dalam sekejab, orang yang di olok tidak kuat menjadi kuat dan masih banyak lagi cerita fantasi yang terkumpul di dalam buku.
Hanya saja ia sangat penasaran dengan Vin dan cowok misterius yang ada di dalam bus itu. Rasanya mereka berdua berbeda dari yang lain.
__ADS_1
Lidya turun dari angkot dan melanjutkan perjalanan menuju ke rumah yang hanya beberapa meter saja sampai. Lumayan buat melatih otot kaki.
"Aku tidak punya uang, kak!"ucap seseorang nada ketakutan. Lidya mendekati suara itu yang menuju di gang sempit,berdiri merapat tembok dan mengintip apa yang terjadi di dalam sana. Terlihat ada anak laki-laki yang sekitar umur 13 tahun memakai seragam SMP. Ia bersama ketiga pemuda yang jauh lebih besar darinya.
Bugh
Pemuda itu memukul adik kelasnya dengan keras, Lidya memejamkan mata sejenak tidak kuat melihat kekerasan itu.
"Berikan uang itu!"ucapnya maksa. Anak itu meringis kesakitan memegangi perut yang dipukul pemuda yang berada di tengah, kedua pemuda.
"Pengecut!"gumam Lidya ingin menolong anak itu tapi ia sadar. Ia sendiri dan ia seorang gadis biasa.
Salah satu pemuda merogoh saku anak itu mencari uang yang dimaksud. Anak laki-laki SMP itu hanya bisa bicara,"Jangan Kak. Jangan diambil. Itu buat makan sehari-hari Kak!"ucapnya memohon tapi ketiga pemuda tersebut mengabaikan permohonan anak itu. Lalu mereka bertiga pergi meninggalkan anak itu disana, menangis. Lidya mencari tempat persembunyian.
Terdengar suara ketiga pemuda yang selesai membully adik kelas merasa senang.
"Uang banyak oi. Lumayan bisa beli rokok."kata pemuda satu.
"Iya, terus kita juga bisa beli minum."kata pemuda dua.
"Eh bagaimana kalau kita manfaatin anak itu aja. Kalau dagangannya habis. Kita ambil semua uangnya?"kata pemuda tiga mencoba untuk merancuni otak teman-temannya.
"Bagus tuh. Lagian dia tidak melawan kita. Katanya dia ikut karate tapi luar dugaan. Rumor itu tidak benar."kata pemuda satu menyetujui rencana pemuda tiga.
Setelah mereka bertiga pergi dari sini. Lidya yang bersembunyi di balik pagar telah berhasil mendapatkan informasi tentang anak SMP itu.
"Ini tidak bisa kubiarkan. Ketiga pemuda itu harus mengakui kesalahannya dan membantu anak SMP itu."kata Lidya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
*Jangan anggap kami lemah*
__ADS_1
Bersambung....