Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Dua Delapan: Catatan Prima Pandu Dewana


__ADS_3

Mentari sudah datang, sinarnya masuk ke dalam kamarku. Aku yang masih tidur di kasur empuk harus membuka mata perlahan. Cahaya itu masuk ke dalam mataku membuat pandanganku silau. Aku segera bangkit merenggakan otot-ototku lalu bangkit berdiri membuka tirai jendela membiarkan cahaya pagi masuk ke dalam kamarku yang bisa dibilang seperti kamar seorang pangeran.


Warnanya cat emas dan memang di dekor seperti kamar pangeran. Ini semua karena permintaan ibuku. Aku segera membersihkan diri menggantikan pakaian tidur dengan seragam sekolah SMK Cemerlang. Setiap pagi aku sering sekali antusias pergi ke sekolah karena apa?.


Aku bisa bertemu dengan seseorang yang ku kagumi dari jauh. Seroang gadis yang mungkin jarang aku temui, bagiku dia unik. Setelah bersiap-siap. Aku mengambil tasku dan tidak lupa dengan buku diary yang sengaja aku beli kemarin bersama Beni dan Isa.


Mereka berdua sempat bingung, kenapa aku membeli buku diary katanya seperti anak perempuan. Itu membuatku sedikit kecewa tapi Beni selalu membenarkan kalau buku yang aku pegang ini--untuk kenangan yang Indah selama masa SMK. Ya, kebanyakan masa SMK itu adalah moment terbaik daripada SMP dan SD.


Benar bukan, apa yang aku ucapkan?. Aku sempat melihat sosmed atau google dari semua yang aku temukan. Rata-rata moment saat SMA/SMK daripada masa saat kulihan. Awalnya aku mengira kalau saat kuliah itu menyenangkan ternyata tidak sesuai dugaanku. Karena kuliah itu masa-masa serius belajar yang lebih tinggi, setinggi langit dan tidak boleh salah melangkah apalagi memutuskan sesuatu.


Balik lagi. Aku akan pergi ke sekolah memakai sepeda motor. Keluarga Dewana bisa di bilang keluarga kaya dan hartanya pun tidak pernah habis sampai melewati tujuh turunan. Akan tetapi ayahku tidak pernah menunjukkan kemewahan dan lebih menonjolkan ke sederhanaan. Makanya aku takut kalau meminjam kendaraan ayahku, tidak hati-hati. Lebih tepatnya takut membuat mereka khawatir padaku terutama ibuku.


Ibuku itu memiliki ikatan batin denganku. Apa yang aku rasakan, ibu pasti merasakan dan beliau juga bisa menebak tepat apa yang ada di pikiran, wajah, dan hati seseorang.


Contohnya saja, saat aku mengajak Lidya. Gadis yang aku kagumi itu sengaja ku ajak datang ke rumah. Ibuku menyambutnya dengan bahagia dan memberikan kue pesanan yang keluargaku pesan. Ibuku menyuruh kami ke taman yang penuh dengan bunga-bunga Indah. Memang ibuku itu sangat menyukai hal-hal yang indah seperti hatinya. Jangankan taman bunga yang indah, petampilan ibuku juga selalu indah.


Lidya memuji taman bunga yang Indah dan aku pun menggodanya dengan kata-kata manis. Setiap kali Lidya bertingkah salting aku tambah menyukainya sampai ibuku bisa menebak secara jelas membuatnya terdiam mematung. Serta aku menjelaskan bahwa ibuku memiliki kekuatan seperti Hana.  Sedangkan aku menambah-mengurangi kekuatan seseorang, membantu.


Masa dimana kekuatan yang tiba-tiba datang, hal yang sama sekali tidak ku duga dan lain sebagainya terjadi. Awalnya aku tidak tahu, tetapi lama kelamaan aku tahu.


Aku sering menjalani hidup seperti orang biasa. Namun, kejadian tidak terduga berdatangan sehingga aku melihat teman-temanku dan Lidya merasakan senang, sedih, marah bercampur menjadi satu.


Aku tidak habis pikir dan sempat terbesit di benakku. Apakah Lidya juga menyukaiku saat Lidya pulang dari rumahku. Itu adalah pertama dan terakhir, aku mengajaknya ke rumah. Suatu saat aku akan membawanya lagi ke rumah dengan status berbeda di masa depan.


Pikiranku memang sudah gila karena cinta. Seharusnya aku tidak memikirkan ini tapi rasa dan hati tidak pernah berbohong. Pasti kalau ada yang menemukan buku diary/catatan ini bakal tertawa melihat isi surat ini. Hahaha, sedangkan aku akan menahan malu dan sikapku akan berubah menjadi tsundere.

__ADS_1


Kisahku bersama Lidya;


Sejak awal bertemu dengannya. Gadis itu hanya diam di bangkunya tidak berencana buat ke kantin. Aku sempat mengajaknya pergi keluar tapi ia tidak mau keluar denganku. Mungkin ia malu atau risih, karena kami berdua belum saling mengenal.


Hari demi hari aku sering melihatnya di bully oleh Tina, Sarah dan Ferdi. Mereka bertiga sudah keterlaluan dan membuat Lidya menangis. Seketika aku dan Beni memutuskan untuk membuat teman satu kelas berteman baik bersama Lidya. Yang lain sudah menurut akan tetapi ketiga biang kerok sama sekali tidak memperdulikan kami--pengurus kelas.


Ketika mendapatkan kekuatan mendadak. Mereka biang kerok sudah kapok atas perbuatan apa yang mereka buat. Anggi sudah memberikan pelajaran buat mereka yaitu di kejar oleh piring terbang alias cakra milik Anggi. Dengar-dengar juga Ferdi sempat memerahi Jay, anak MM2.


Tetapi Ferdi sama sekali tidak bisa berbuat buruk padanya sebab Jay memiliki aura kharisma yang membuat siapa saja bakal takjub. Aku sendiri pun pernah takjub padanya, tidak sengaja menatap matanya. Untung saja Jay mengatakan.


"Jangan tatap mataku langsung entar kau terkena kharismaku."


Geli mendengarnya, aku tertawa saat itu. Saat perkemahan juga, Lidya sempat sengsara saat perkemahan, aku seperti biasa selalu mengawasinya dari jauh. Ia terkena marah terus kalau nggak salah gadis bersamanya adalah Vana. Gadis itu sangat jahat dan tidak di sangka ia memiliki kekuatan seperti iblis--Red Eyes.


Lidya juga sering terlihat tergopoh-gopoh dan khawatir sama teman-temannya seolah mereka itu berlian dan Lidya ingin melindungi berlian-berlian itu. Aku saat mendekatinya berusaha perhatian sama persis dengan pasangan remaja umumnya. Tapi Lidya selalu merespon biasa saja seperti teman.


Dan apa yang dikatakannya; Lidya mengira kalau aku sudah punya gadis yang aku cintai tentu saja bukan dirinya.


Vin mengatakan padaku saat waktu di kantin kalau Lidya pernah jatuh hati pada sesorang tapi orang itu tidak menyukainya. Padahal Lidya sering mengamati dari jauh sampai tahu apa yang orang itu suka.


Apa aku mencintai seorang maniak?--pikirku, dengan cepat aku mengusir pikiran buruk. Aku hanya mengiyakan perkataan Vin.


Hari semakin berlalu sangat cepat, aku berencana mengajak Lidya jalan-jalan ke mall, menonton bioskop horor hehehe. Katanya penjual tiket bioskop begitu,yang banyak di minati adalah bioskop horor jadi aku mengiyakan. Pasti Lidya senang dan tidak tahunya dia takut film horor. Membuatku mengejar Lidya yang asik main lari di mall, kayak anjing dan kucing.


Ketika makan disana aku mengatakan kata-kata manis membuat Lidya terkekeh dan pipinya memerah. Kami berdua juga bertemu Jay dan Lina. Aku dan Lidya terkejut melihat mereka berdua, serta sempat berpikir kalau mereka sudah berpacaran tanpa ada mata yang mengetahui kedekatan Jay dan Lina.

__ADS_1


Kejadian di bumi semakin bertambah Hari, bulan dan berganti tahun. Kejadian masalah beruntun datang dan kami murid SMK Cemerlang yang memiliki kekuatan harus sekolah di SMA Negeri Satu yang menjadi SMA Strength. Sesuai kata pemuda Yudistira, yang pernah menunjukkan atraksi mainstream di Panti Asuhan waktu itu. Aku melihat Lidya ketakutan kalau ia membunuh orang tidak bersalah atas permintaan pemuda itu.


Benar-benar pemuda gila.


Lidya sering mengatakan yang tidak kuketahui seperti gantungan kunci, pintu imajinasi yang terbuka luas menyebabkan semua manusia di bumi. Mendapatkan kekuatan tiba-tiba. Aku Juga sempat cemburu melihat Lidya sangat khawatir dengan seorang pemuda bernama Tio dan Aska.


Aska baru mengatakan padaku kalau ia itu kakaknya Lidya. Aku sempat tidak percaya 'kakak' setahuku Lidya tidak punya kakak hanya dua adik laki-laki. Dan Lidya adalah anak pertama.


"Aku sudah jadi kakaknya Lidya walau bukan kakak kandungnya."kata Aska.


"Kalau kau jadi kakaknya Lidya. Aku bakal jadi pacarnya Lidya."ucapku serius.


Waktu aku di rumahnya dan di kamar Lidya buat mengambil gantungan kunci untuk menutup pintu imajinasi. Lidya merasakan ketakutan dan menangis menatap langit senja. Aku yang ada di sampingnya memeluk Lidya erat dan berkata aku akan berada di sampingnya selalu. Serta mengatakan kalau perang itu terjadi, aku bilang padanya kalau jangan melupakan teman-temannya yang membantu menuju ke damaian kembali.


Prima Pandu Dewana, akan menikahi Maulidya Wahyu Fatmawati. Dan kedua orang tuaku sudah setuju. Pandu is a crazy boy.


Aku tidak akan melupakan masa-masa indah bersama teman-temanku dan gadis yang membuatku jatuh cinta pandangan pertama.


                          ♛♚


Lidya,I Love you♥


12-02-2027


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Author bawa catatan Pandu nih. Apa yang ia rasakan dan kejadian yang beberapa--belum saya jelaskan. Author juga tidak nyangka kalau Pandu sempat nulis di buku Diary,mendengar bacotan dia di sana hehe. Tinggal 1 bab dan Epilog ...


__ADS_2