
Selama pelajaran, murid 10--MM1 duduk anteng mendengar penjelasan dari Papa Arlan. Arah jarum jam terus berjalan sehingga tidak terasa sebentar lagi istirahat akan tiba. Papa Arlan menyuruh semua muridnya mencatat tugas di papan tulis lalu di kumpulkan minggu depan.
Elle mencatat semua soal di papan tulis dengan cepat dan didalam hatinya merasa kalau ia tidak akan punya teman seperti sekolah lamanya. Benar, Elle adalah anak yang susah bergaul jadi ia tidak terlalu banyak teman dan untung saja ada murid berhati lembut dan bisa diajak mengobrol santai. Satu teman bagi Elle sudah cukup.
Dan sekarang ia akan memulai dari angka nol yaitu tidak memiliki teman dan ia tidak pandai membuka topik. Ia menoleh melihat gadis sebelahnya yang sedari tadi diam dan menulis soal di papan tulis, mengingat ia peduli orang lain dan mengantarnya ke ruang kepsek.
Lidya selesai menulis soal dan merentangkan kedua tangannya seraya sedikit bergumam yang masih bisa didengar oleh Elle.
"Huu, akhirnya selesai juga. Hmm, malas banget ngerjakan tugas."gumamnya malas, menghela nafas kasar lalu ia menenggelamkan kepalanya di kedua tangannya.
"Anu, kau tidak pernah mengerjakan tugas?"celetuk Elle membuka suara melihat teman bangkunya ini ternyata malas mengerjakan tugas.
Lidya mengangkat kepalanya sedikit melirik anak baru yang tadi ia antar ke ruang kepsek. Ia tersenyum tipis lalu menenggelamkan kepalanya kembali, membalas pertanyaan Elle.
"Aku bukannya malas mengerjakan tugas. Masalahnya aku sekarang tergantung mood, bagiku itu adalah musuh besarku setelah waktu."jawab Lidya mengangkat kepalanya menghadap ke Papa Arlan yang sibuk mengisi jurnal absen murid. Dan Lidya membenarkan posisi duduk yang nyaman, menoleh menatap Elle.
"Aku sering tugasku tidak selesai karena hal itu. Kadang awalnya niat ngerjakan tugas eh tahu-tahunya rasa kantuk datang,"lanjut Lidya sedikit memincingkan mata ke Elle, "Apa menurutmu tentang hal itu? Pasti menyulitkan."ucapnya meminta pendapat Elle.
Elle tersenyum tipis menghadap ke depan ternyata teman sebangkunya tidak buruk untuk meminta sebagai teman baiknya.
"Bagiku itu memang sulit terkadang aku juga begitu."jawab Elle santai dan merasa nyaman bersama gadis di sebelahnya. Ia menoleh ke gadis di sampingnya itu, mengulur tangan berkenalan.
"Namaku Elle. Namamu siapa? Hmm anu, baru pertama kali aku membuka pembicaraan antara kita berdua. Sebenarnya aku orangnya tidak mudah bergaul dan susah mencari teman. Dan baru pertama kalinya aku mengajak orang asing membuka topik pembicaraan."ucap Elle memperkenalkan diri serta mendiskripsikan sedikit tentangnya kalau ia adalah tipe orang susah bergaul.
Lidya menjabat tangan Elle,"Namaku Lidya. Aku sebenarnya juga sama sepertimu susah bergaul. Tapi lama kelamaan rasa itu menghilang dan memiliki banyak teman."
Mereka berdua melepaskan jabat tangan dan Elle mengangguk mendengar langsung kalau tidak hanya dia yang susah bergaul dan tidak begitu suka membuka topik pembicaraan duluan kalau bukan orang asing itu yang mengajak bicara duluan. Menurut Elle ini sangat canggung.
Gug gug gug!
Semua murid melongo mendengar bel yang berbunyi suara anjing, tidak seperti biasanya.
'Salah server ****'
Lalu terdengar suara pegawai yang bertugas menekan bel sekolah, seketika semuanya tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Kring!!!!!
Semua murid merasa senang akhirnya bisa merdengar suara bel istirahat setelah empat jam berada di kelas mendengar pembelajaran yang sulit. Lidya bangkit berdiri dan Elle memerhatikan gadis itu menoleh kearahnya.
"El, yuk kita pergi ke kantin bersama. Kau akan mendapatkan banyak teman."ajak Lidya tersenyum. Belum Elle menjawab pertanyaan dari Lidya, gadis itu sudah ditarik pergelangan tangan oleh bendahara kelas yang udah tidak sabar menuju ke kantin.
"Ala Lid, tidak usah basa-basi. Buruan ke kantin, yuk anak baru ikut aku!"komentarnya ke Lidya dan menarik Elle menuju kantin tanpa peduli Lidya yang masih diam membeku disana.
Anggi tertawa renyah melihat kejadian langkah ini, "aku tidak pernah melihat Fitri sebahagia itu pada murid baru."Lidya menoleh ke sampingnya, mengerit, "aku juga."
Di kantin sekolah seperti biasa sudah ada para gadis kelompok Lidya yang udah mengambil posisi, menunggu lainnya datang. Disana ada Hana, Bening, Tera, Lina dan juga kakak kelas Cantika. Mereka berempat tengah asik berbincang-bincang ringan. Lalu keempat gadis itu menoleh mendapati Fitri dan seorang gadis nampak asing di penglihatan mereka.
"Hai semua!"sapa Fitri ceria sembari melambaikan tangan. Semua menjawab sapaan Fitri sembari membalas lambaian juga.
__ADS_1
"Siapa yang ada disebelahmu? Apa murid baru?"tanya Hana datar, jari telunjuknya mengarah ke murid baru itu.
Fitri mengangguk mantap,"Yap, dia adalah murid baru di kelasku dan ia duduk bersebelahan dengan Lidya."
Lina yang mendengar hal itu sangat senang karena awal masuk sekolah Lidya sama sekali tidak memiliki teman dan di pandang rendah oleh murid lain.
"Alhamdulillah. Akhirnya Lidya dapat teman sebangku."ucap Lina membuat Elle terkejut mendengarnya.
Ia melihat ke gadis berwajah cantik dan memiliki body bagus seperti boneka barbie, dalam hatinya merasa bahwa gadis itu sangat terkenal di sekolah ini dan banyak laki-laki yang mengantri untuk menjadikan pasangan dia.
"Maaf. Apakah Lidya dulu tidak memiliki teman?"tanyanya begitu hati-hati.
Lina mengangguk,"iya. Dan waktu mos, aku langsung duduk bersebelahan dengannya. Ia adalah gadis yang mengerti perasaan orang lain. Ya, terkadang juga agak nggak peduli atau suasana hatinya buruk. Ngeselin juga."jelasnya.
Tidak lama kemudian orang yang di bincangkan datang, ia melirik ke Fitri tajam. "Kenapa kau menculik Elle dariku? Padahal aku ingin bertanya banyak hal tentangnya?"protes Lidya melipat kedua tangan di dada.
"Aku setuju dengan hal itu. Mengapa kau selingkuh dariku demi gadis itu ha?"Protes Anggi ke Fitri membuat teman-teman lainnya ambigu dengan perkataan Anggi.
Fitri yang merasa suasana menjadi memanas meminta maaf. "Sorry-sorry. Aku terlalu bersemangat dan aku kan tetap akan bersamamu, Nggi. Kita berdua itu tidak akan terpisah buktinya bangku kita terpisah tapi kita tetap dekat kan."ucap Fitri bijak. Teman-teman nya yang mendengar hal itu terkekeh membuat bibir Fitri mayun.
Lidya menggeleng melihat Anggi dan Fitri ada-ada saja yang dibicarakan. Ia memperkenalkan Elle ke teman-temannya.
"Perkenalkan murid baru yang akan bergambung sama kita. Ia adalah tipe orang seperti ku tidak mudah bergaul dengan orang asing. Namanya adalah Alkira Danielle dari SMK Prestasi,panggil saja Elle."ucap Lidya tersenyum.
Elle tersenyum ke semua teman barunya. Tera menyuruh Elle duduk di sampingnya dan membuka topik pembicaraan baru. Awalnya Elle merasa canggung dan berkali-kali meminta kata Maaf serta terlalu formal pada mereka.
"Iya. Lagipula kita kan udah berteman anggap saja kami semua itu sudah berkawan lama."kata Bening dibalas anggukan lainnya.
Elle yang mendengar itu merasa terharu,"Baik!"
Tak jauh dari sana ada mata yang mengawasi mereka bersembilan. Matanya menyipit melihat ada gadis asing yang pasti itu adalah murid baru. Dari segi pengawasannya masih belum mendapatkan informasi penting dari target, Lidya.
Dan ia juga harus berhati-hati dengan gadis berambut pendek itu yang pernah menghebohkan SMK Cemerlang, kekuatan tumbuhannya. Bahwa musuh besar yang akan membunuh gadis X itu, di masa depan.
Ada dua orang pemuda yang berjalan beriringan mengobrolkan sesuatu. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang pemuda tengah mengawasi sesuatu dari samping aja sudah terlihat jelas tingkat keseriusan melihat sesuatu. Keduanya mengikuti arah pandang pemuda tersebut ternyata ia melihat sembilan gadis disana dan fokus mengarah ke Lidya.
Pemuda berambut ikal itu membisik ke pemuda disampingnya, berbisik,"wah gawat nih. Kalau Pandu tahu bisa bahaya."
"Iya. Hmm, lebih baik kita kejutkan saja dia dan mengintrogasinya."usul pemuda ikal itu, Reza.
Eric di sebelahnya,"ide bagus tuh, tapi gimana?"
"Berpikir itu belakangan aja, buruan!"desak Reza mendorong Eric menuju ke pemuda yang mengawasi para gadis dengan serius tanpa berpikir kalau ada seseorang yang menciduk mengawasi sesuatu.
Reza tersenyum penuh arti ia mendorong Eric membuat pemuda itu terkejut dan mendorong pemuda tersebut, jatuh.
Bugh!
"ADUH SIAPA SIH YANG BERANI MENGANGGU AKU!"Protes pemuda itu menoleh ke belakang melihat Eric dan Reza berekspresi masam.
__ADS_1
Semua penghuni kantin menoleh ke sumber suara itu. Reza dengan jantan berjalan maju menunjuk ke pemuda asing itu dengan suara lantang dan cemprengnya berkata, "KENAPA KAU MENGAWASI GADIS DI SEBELAH SANA DAN KENAPA KAU FOKUS KE ARAH LIDYA HA!"
perkataan Reza membuat semua terkejut apalagi Lidya. Ia tidak menyangka bahwa ia memiliki pengagum rahasia di sekolah. Pemuda itu memalingkan wajahnya segera dan memilih untuk keluar dari kantin sebelum ada menyadari identitasnya. Tentu saja membuat Reza merasa aneh dengan tingkah mencurigakannya.
Eric menoleh ke Reza meminta bantuan tetapi pemuda tersebut mengabaikan permintaannya. Tiba-tiba ada botol plastik melayang ke udara mengarah ke Eric. Bening yang melihat itu langsung berteriak, "AWAS ADA BOTOL!"
Akan tetapi teriakan dari Bening terlambat karena Eric sudah terpentuk oleh botol yang entah asalnya darimana. Eric mengelus kepalanya dan mengaduh karena ia selalu saja tertimpa sial-sial. Hana yang mengamati itu menggeleng.
"Mereka selalu saja menjadi sudut perhatian terutama pemuda bernama Reza."komentarnya.
Cantika menoleh mengarah ke Lidya yang masih diam membeku mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Reza barusan. "Aku tidak menyangka kalau kau memiliki pengagum rahasia,Lid."ucap Cantika.
"Aku sendiri juga tidak menyangka."respon Lidya singkat mengkerutkan dahinya berpikir keras tapi apa daya ia tidak bisa.
Selama satu hari murid baru itu Elle,merasa senang karena ada kejadian yang tidak terduga dan hal konyol yang mereka buat-buat. Itu membuat Elle merasa senang apalagi bersama Lidya, tidak ada habisnya tertawa melihat ia salting.
Ternyata semua teman barunya kini memiliki pribadi unik dan membuat Elle nyaman di sekolah barunya.
Pulang sekolah Lidya menoleh ke Elle berkata,"El, besok aku akan mengajakmu jalan-jalan mengelilingi sekolah dan anggap saja sebagai tur sekolah sederhana."kata Lidya.
Elle mengangguk, "ya. Dan ceritakan kebiasaan murid disini ya. Entah kenapa sejak kejadian di kantin membuatku tertarik."jawabnya terkekeh.
Mereka berdua pergi keluar kelas bersamaan tetapi seorang pemuda berambut panjang sebahu menghadang mereka dan melirik ke Elle. "Boleh, aku pinjam Lidya bentar."ucapnya.
"Heh? Apa yang kau ucapkan Pan?"ucap Lidya cepat.
"Seperti biasa."
"Tapi aku pengen bareng sama Elle. El, kau satu arah sama aku kan?"tanya Lidya menatap Elle segera menjawabnya.
"Hmm, rumahku di desa Red Flower jadi aku harus pergi ke Utara."balas Elle dibalas mata lebar dari Lidya bahwa rumah Elle dan rumahnya tidak satu arah.
"Nah, yuk bareng karena aku sekarang lagi berbaik hati."kata Pandu mengkode untuk segera pulang.
"Neh, kenapa kau tidak bilang satu arah saja?"bisik Lidya ke Elle.
"Sorry. Aku tidak bisa boong karena itu dosa."balas Elle polos.
"Ayok,Lid. El, kami duluan ya--jaga dirimu."ucap Pandu tersenyum lalu menarik pergelangan tangan Lidya untuk pulang bareng.
"PANDU!"teriak Lidya membuat Elle tersenyum sumringah melihat mereka berdua. Seandainya ia juga memiliki teman dekat seperti itu mungkin akan merasa sulit...suit menolak ajakan.
Elle melihat langit yang mulai berwarna jingga, mulutnya terangkat ingin mengatakan sesuatu.
"Terima kasih telah mengirimku ke sini dan bertemu teman baru buat Elle yang baik seperti mereka."
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung.....
__ADS_1