Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
episode sebelas:cowok misterius (2)


__ADS_3

Hujan deras menghujani kota, banyak sekali orang yang berlarian mencari tempat teduh sejenak menunggu hujan berhenti. Ada juga yang berteduh di cafe dan memesan sebuah kopi panas, sangat cocok sekali buat musim hujan seperti ini.


Di halte bus hanya ada dua orang berteduh menunggu hujan deras ini redah. Gadis itu melirik kearah pemuda yang ia temui tadi pagi. Lidya sudah mencoba lari darinya tapi tuhan malah mempertemukan kembali. Ia pikir dia laki-laki baik tapi kenyataan jutek banget ngalahin cewek pms.


"Hei! Aku bicara padamu!"teriaknya lagi ngegas sampai Lidya jengkel dan membalas,"iya, aku denger!"


"Kalau denger, kau sudah duduk dari tadi disampingku dodol!"


"Nggak usah ngegas, kau jutek!kau ingin modus ya sama aku!"balas Lidya melirik sinis kearahnya. Laki-laki berjaket abu itu diam kalah debat dengan Lidya. Lidya tersenyum kemenangan dan terpaksa harus duduk disampingnya agak kejauhan,menunggu hujan deras redah.


Suasana begitu hening hanya ada suara hujan deras dan sepeda motor begitu kencang mengenai bendungan air sehingga air itu naik menyipratkan seseorang yang ada disana, tempat Lidya berdiri tadi. Ia rasa, penilaiannya dengan laki-laki jutek, ia tarik.


Lidya mengambil handphone dari sakunya dan menekan aplikasi oranye buat melanjutkan ceritanya yang menggantung. Ia tidak tega menunggu readersnya menunggu lama. Laki-laki yang ada di sebelahnya diam-diam memperhatikan aktivitas gadis disampingnya. Ia merasa tidak asing lagi dengan gadis itu,ia pernah bertemu dengannya tapi dimana?.


Ia memegangi dagunya, berpikir lama. Lalu ia teringat kejadian pagi tadi naik bus. Ia duduk bersebelahan dengan gadis yang sekarang menulis di sampingnya. Disisi lain ia malu dan takut kalau gadis di sampingnya ini mengabaikannya.


Ia sering dianggap oleh teman-temannya adalah jin. Laki-laki itu tidak tahu apa yang teman-temannya pikirkan. Jadi ia merasa terasingkan dan terlupakan.


"Yes, akhirnya aku selesai menulis cerita milik Joe di bab 23. Ah, babnya masih panjang tapi tidak apa-apa lah, aku akan mencari waktu buat menyelesaikan bab selanjutnya."kata gadis itu disampingnya setelah menulis sesuatu di handphone begitu senang. Tatapannya menatap ke depan, hujan tidak begitu hentinya menghujani kota. Lidya pikir, langit masih sedih disisi lain ia bersyukur karena ada hujan cuaca menjadi sejuk. Lidya sangat merindukan suasana sejuk seperti musim hujan.


Merasa laki-laki yang ada disampingnya memperhatikannya, ia menoleh. Refleks orang itu mengalihkan pandang menatap ke depan melihat jalanan yang dilalui banyak sepeda motor menyebabkan polusi udara.


"Hei!kenapa kau memperhatikanku secara diam-diam!"protes Lidya pada laki-laki itu tapi laki-laki berjaket tersebut tidak menganggapi perkataan balik. Sampai Lidya heran, tadi aja ngegas banget tapi sekarang diam seperti es.


Ya, kadang perkataan laki-laki ini seperti es kalau protes seperti tadi. Sedikit ada es-esnya mungkin Lidya kebanyakan membaca cerita tentang Ice Boy didunia oranye terkadang juga di facebook. Konyol memang.


"Kau sekolah dimana?"tanya Lidya mencoba memberanikan diri dan siap menerima protesan dari laki-laki disampingnya dengan lampang dada. Dan terjamin hati Lidya tidak bakal tersayat dan dendam pada laki-laki ini.


Laki-laki itu menoleh kearah Lidya dengan tatapan tidak enak dan kembali menatap ke depan. "Bukan urusanmu, aku sekolah dimana?"jawabnya menyakitkan buat hati gadis patah apalagi gadis tersebut diam-diam menyembunyikan rasa pada laki-laki ini.

__ADS_1


Seulas senyum terukir jelas di bibir imut Lidya. Ia sudah terbiasa mendapatkan perkataan seperti ini jadi jangan khawatir, ia sangat berpengalaman dan sedikit berolahraga jantung dan hati.


"Kenapa kau menjawab pertanyaanku seperti itu?"tanya Lidya menjadi serius. Lidya bergeser mendekati laki-laki tersebut. "Apa kau laki-laki yang tadi pagi naik bus sebelahku?"tanyanya lagi tapi laki-laki misterius itu tidak menggubris pertanyaan Lidya.


Gadis itu memutar bola matanya berusaha sabar agar pemuda misterius ini membuka suara dan mulai curhat sedikit tentang dirinya. Meski itu sulit dilakukan, Lidya akan mencoba untuk membujuknya. Mulai mengintrogasi.


"Mengapa kau sering berjalan dengan menunduk dan memakai pakaian tertutup seperti ini?"tanya Lidya setenang mungkin supaya ia menjawab pertanyaannya dengan baik dan tenang.


"Buat apa?kau bertanya padaku tentang semua itu?"tanyanya balik nada dingin.


"Agar aku bisa membantumu sedikit. Tentang masalah yang menimpahmu baik dirumah atau disekolah."jawab Lidya serius. Laki-laki itu menoleh melihat wajah seriusnya, tidak ada celah ia bercanda dengan perkataan barusan.


Lidya sedikit terpukau dengan wajah, mata, bibir, hidung laki-laki ini. Ia persis seperti sketsa gambar yang pernah ia buat beberapa hari yang lalu. "Aku mau tanya padamu? Apa kau pernah keberadaanmu terasingkan dan dilupakan orang lain."tanyanya ke Lidya. "Pernah, tapi itu hanya berlaku disekolah saja. Dimanapun aku pergi, aku sering sendirian."jawab Lidya.


"Aku yang dulu periang dan gembira. Berubah drastis menjadi orang paling serius dan pelit senyuman. Orang lain tertawa, aku hanya diam. Aku tertawa jika ada orang bicara maksud tersirat dan didalam kalimat itu ada lelucon yang hanya bisa orang tertentu mengerti."lanjut Lidya menatap manik mata laki-laki di depannya.


Laki-laki itu diam mendengar pembicaraan yang keluar dari mulut Lidya. Sepertinya ada yang lebih prihatin darinya yaitu gadis di sampingnya ini. Ia tidak memiliki teman sama sekali sampai seperti itu jadinya. Lidya menghela nafas sejenak dan masih menatap manik mata laki-laki itu. "Jadi apa masalahmu disekolah?"


"Apa kau sudah dekat dengan keluarga gadis yang kau cintai itu?"tanya Lidya mulai mengintrogasi sedetail mungkin. Ini yang paling Lidya sukai selain menulis cerita yaitu mengintrogasi seseorang sampai rasa penasarannya lunas. Ia tidak akan mengintrogasi orang itu lagi kecuali orang itu mulai melakukan sesuatu yang mencurigakan.


Laki-laki itu mengangguk dan menahan air matanya yang ingin jatuh detik ini juga. Dengan segera ia mengusap air matanya berusaha tegar di depan Lidya. Mencoba membuktikan kalau ia sebenarnya laki-laki kuat. "Aku malah sering ke rumahnya dan sudah dekat dengan orang tuanya. Ia punya adik kecil yang lucu. Kalau aku kerumahnya, aku sering bermain dengan adik-adiknya mulai kuda-kudaan dan permainan lainnya. Aku juga pernah membuat bando dari bunga liar dan memakaikan bando itu di kepala gadis yang aku cintai. Adik-adiknya menganggap kakaknya itu tuan Putri dan aku adalah panglima yang Setia menjaga Putri kerajaannya."ceritanya panjang membuat hati Lidya lagi-lagi tersentuh.


"Berarti kau sangat menyukai anak-anak."Laki-laki misterius itu mengangguk dan tersenyum manis membuat ketampanan laki-laki ini terpencar jelas. Harusnya gadis itu beruntung mendapatkan laki-laki seperti ini.


"Ngomong-ngomong namamu siapa?"tanya Lidya.


Laki-laki itu menatap Lidya lamat-lamat dengan senyuman manisnya. "Namaku Joe Sugar!"katanya membuat Lidya terkejut apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.


"A-apa Joe Sugar! Tidak mungkin!"pekiknya tidak percaya.

__ADS_1


Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi gadis disampingnya itu lucu. Ia memegangi perutnya dan masih tertawa lepas.


Lidya masih shock dengan apa yang keluar dari mulut laki-laki misterius itu. "Seriusan?"


"Hahaha, tidak lah. Namaku Muhammad Yusuf bukan Joe Sugar."ucapnya membuat Lidya bernafas lega kalau laki-laki didepannya ini bukan hayalannya. Jika dia hayalannya maka selama ini ia berbicara sendiri di Halte.


"Oh syukurlah kalau begitu."ucap Lidya bernafas lega.


Mereka melihat kedepan dan hujan derasnya sudah redah. Mereka berdua bangkit, Yusuf sangat berterima kasih pada Lidya,"terima kasih banyak. Aku merasa senang kalau ada orang yang menganggapku ada dan tidak disamakan oleh Jin."kata Yusuf berjalan beriringan dengan Lidya.


"Ya iyalah, masa aku menganggapmu jin sih. Mana mungkin?sekolahmu dimana?"kata Lidya dan bertanya pada Yusuf.


"Hmm,aku di sekolah SMA Negeri satu. Aku masuk ke IPA."ucapnnya.


"Wow! Kalau aku di SMK Cemerlang jurusan Multimedia."kata Lidya.


"Benarkah? Padahal aku dulu pengen sekolah di sana."


"Seriusan?"


"Iya, biar aku nggak dianggap sebagai Jin dan sering diolok-olok sama teman-teman yang tidak memiliki hati."kata Yusuf dibalas senyum kecut dari Lidya.


"Iya, kau benar hahaha."tawa Lidya. "Kalau ada orang yang mengatakan itu. Bilang aja, jangan anggap kami lemah."kata Lidya.


  Lalu mereka berdua berpisah, Yusuf masih berjalan lurus dan tidak lupa melambaikan tangan ke Lidya. Lidya membalas lambaian dari Yusuf lalu masuk kedalam rumah. Gadis berambut panjang bergelombang itu melepaskan kuncir kudanya dan menghempaskan tubuhnya diatas kasur menatap langit kamar.


"Ya allah. Hari ini sangat beruntung sekali. Aku bisa bertemu dua orang baik bernama Charlie dan Yusuf. Aku tidak percaya kalau ada orang yang sama sepertiku. Diolok-olok dan menjadi bahan tertawaan di sekolah. Charlie membuatku tersentuh dengan hati suci dan kepeduliannya. Yusuf membuat jantungku berdebar-debar nggak karuan telah mengerjaiku kalau ia adalah Joe sugar, teman hayalan anak-anak di ceritaku. Yusuf pasti senang melihat Charlie karena Charlie masih imut di umur 14 tahun."ucap Lidya pada diri sendiri.


Ia perlahan memejamkan kedua matanya dan tertidur nyenyak.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...


__ADS_2