Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Delapan Puluh Satu: Permintaan Kak Cantika


__ADS_3

  Semenjak tiga hari setelah pertarungan hebat antara Alvan dan Jay. Sekarang murid Smk mau tidak mau harus membagi kelas mereka menjadi satu yaitu 10 mm1 dengan mm2 dan terus sebagainya.  Bangunan yang hampir roboh segera di renovasi. Semua guru yang tidak tahu menahu kalau muridnya memiliki kekuatan sekarang sudah tahu, ini juga membuat kepala sekolah bingung dan bimbang.


   Lidya menghela nafas kasar dan sering memegang lehernya akibat pertarungan waktu lalu, sekarang ia sering menggunakan syall supaya kulitnya yang merah tidak di lihat oleh orang lain walaupun rasa perihnya udah hilang tetapi tidak dengan warna merahnya. Elle yang duduk di sebelah Lidya menoleh mengarah ke temannya itu ia tidak bisa menolong atau membantu temannya.


"Lid?"


"Iya."


"Maafkan aku."ucap Elle tiba-tiba membuat Lidya mengerut bingung,"Maaf untuk apa?kau tidak salah apa-apa kok,Elle."ucap Lidya.


Elle menggeleng pelan,"aku salah. Aku tidak ikut bertarung melawan aura hitam dan pengendali boneka itu harusnya aku berada disana agar kamu tidak mendapatkan luka seperti itu."ucapnya penuh penyesalan ia menundukkan kepala, memainkan jarinya.


Lidya tersenyum tipis,"tidak. Ini bukan salahmu, El. Ini semua salahku sendiri, bertindak tanpa memikirkan resiko aku turun kesana dan aku mendapatkan luka ini. Mungkin suatu hari nanti aku akan berpikir secara matang dan tahu resikonya itu."ucap Lidya penuh keyakinan membuat Elle merasa senang tapi hatinya masih saja menjerit kalau ia salah.


  Suasana kelas 10-mm1 sangatlah ramai karena bercampur dengan kelas tetangga. Ya, apa boleh buat. Guru yang mengajar pun hanya menggeleng melihat mereka apalagi disini ada Jay, kharisma Jay memang membuat para gadis luluh. Tentu saja membuat beberapa pemuda iri padanya.


Menatap iri membuat Lidya tersenyum tipis melihat kebelakang. Lalu ada tangan seseorang menyentuh tangan Lidya membuat gadis itu menoleh menatap siapa yang memegang tangannya itu ternyata Pandu.


"Anu, lehermu masih merah?"tanyanya dibalas angguk Lidya. Gadis itu memperlihatkan sedikit lehernya, masih merah. Guru yang duduk di mejanya menatap Pandu yang berdiri di sebelah Lidya.


"Ada apa Pandu?kenapa kamu berdiri disitu?"tanya guru tersebut.


Pandu menatap guru tersebut terkekeh,"anu bu,cuman mengecek luka Lidya saja tidak lebih."ucapnya jujur nada cepat. Beberapa teman di belakang senyam-senyum penuh arti melihat tingkah Pandu.


Guru itu menatap ke arah Lidya, "Lid."


"Iya, bu."


"Lehermu masih merah?"


"Masih."


"Sering-sering kasih es biar hilang."saran beliau dibalas angguk Lidya.


  Ia sudah memberikan air es ke lehernya sepertinya warna merah itu masih saja belum hilang. Beberapa menit kemudian jam istirahat sudah tiba banyak sekali murid berhamburan keluar kelas. Tina yang tidak jauh dari bangku Lidya angkat bicara menatap Lidya tidak enak dan seperti waktu awal masuk.


"Makanya jangan cari perhatian orang lain. Udah tahu tidak mempunyai kekuatan masih bandel ke lapangan. Orang yang memiliki kekuatan saja tidak mampu apalagi orang yang tidak memiliki kekuatan. Cih...biar jadi sorotan mata orang lain kan."cibir Tina melirik ke Sarah. Lidya hanya bungkam saja tidak merespon perkataan Tina.


"Err sebenarnya juga, aku tidak terlalu yakin. Orang memiliki kekuatan seperti ada di film-film itu terdengar tidak masuk akal."lanjutnya. Anggi yang mendengar itu menatap Tina membunuh.


Aura tidak enak terasa sangat pekat, Tina melotot merasakan aura yang pernah ia rasakan saat dekat dengan Vin, Aura iblis. Di belakang Tina ada bayangan hitam dengan gigi tajam, kuku tajam serta mata berwarna merah menyeramkan. Bayangan tersebut mendekat di daun telinga Tina membuat aura menyeramkan semakin kuat, bulu kuduk berdiri semua.

__ADS_1


  Air ludahnya sampai ia telan kembali dengan susah payah, giginya bergetar. Bayangan itu angkat bicara, membisik ke telinga Tina. "Apa kau masih tidak yakin bahwa di dunia ini ada kekuatan seperti yang terjadi tiga hari yang lalu? Tina. Apa kau juga tidak yakin kalau di kelas ini ada penunggu yang selalu mengawasi anak yang menyukai membully orang lain."ucap bayangan itu tersenyum menakutkan.


  Mata Tina masih terbelalak seolah bola matanya ingin keluar dari tempatnya. Perlahan ia menoleh ke sumber suara itu, ingin berteriak tetapi suaranya seolah tercekat tidak bisa berteriak sekencang-kencangnya. Matanya terpejam berusaha mengeluarkan suaranya tidak lama kemudian Tina berhasil mengeluarkan suara.


"AAAAA HANTU!"Teriak Tina lari terbirit-birit dan terjatuh, bangkit berdiri lagi keluar kelas seraya berteriak ketakutan membuat semua murid mengarah ke arah Tina, aneh.


Lidya menoleh ke belakang, kursi pojok. Seorang pemuda berambut cokelat tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Tina yang ketakutan serta Pandu yang menahan tawa, Beni hanya menggeleng melihat kedua temannya yang sudah kelewat batas upnormal. Anggi bernafas lega tidak mengeluarkan cakranya dan Fitri bodoh amat.


"Memang kalian ini."gumam Lidya menggeleng pelan. Elle terkekeh pelan melihat tingkah aneh teman barunya.


Lalu ada seseorang yang mengetuk pintu ternyata itu Lina bersama Kak Cantika. Kedunya masuk ke kelas dan tidak sengaja Lina melihat Jay tengah membaca buku serta kedua telinganya memakai handset membuat terkesan keren. Lina menghampiri bangku Lidya mengambil dua kursi lalu duduk di hadapan Lidya dan juga Elle.


"Eh Lin. Tumben kau datang ke kelasku?"tanya Lidya tersenyum.


"Aku ingin berkunjung saja."jawab Lina singkat sambil mencuri pandang ke Jay. Lidya melihat arah pandang Lina yang ternyata tertuju ke Jay.


Ia tersenyum menggoda,"oh aku udah tahu asalan yang sesungguhnya datang ke sini yaitu melihat Jay kan."celetuknya dibalas gelengan cepat dari Lina.


"Bukan gitu ih."kata Lina tidak mengakui tujuan sebenarnya kesini.


Elle hanya bisa diam dan tersenyum. Cantika menatap ke Lidya, angkat bicara,"Lid. Apakah kau bisa menolongku?"tanyanya membuat Lidya dan juga Lina menoleh ke arah Cantika.


"Tentu saja."jawab Lidya singkat.


"Maksudnya sebuah petunjuk?"tanya Lidya lagi.


Cantika menghela nafas kasar, "petunjuk siapa nama yang sering aku sebut. Akhir-akhir ini aku terlalu sering menyebut nama itu. Aku sangat penasaran siapa nama yang sering aku sebut, Jimin."Jelas Cantika menatap ketiga temannya yang saling berpandangan bingung.


Lidya tidak bisa menjawab permintaan Cantika, ini adalah keputusan sulit. Ia sendiri tidak tahu dan mengapa Kak Cantika sering menyebutkan nama itu. Ia berpikir sejenak memikirkan sesuatu.


"Apa kakak punya masa lalu dan ada kaitannya dengan nama itu.. Jimin?"tanya Elle ke Cantika.


Gadis itu menggeleng pelan,"aku sendiri tidak tahu. Masa laluku seperti anak normal lainnya hanya saja aku sering di bully oleh teman-temanku karena wajahku jelek."kata Cantika sedih menunduk.


"Bagiku kakak cantik seperti tuan Putri."celetuk Lina tersenyum tulus.


"Iya. Sebenarnya itu tidak jadi masalah tapi apa boleh buat itu sama saja menyayat hati di ejek seperti itu."sahut Lidya seperti tahu apa yang dirasakan oleh Cantika.


  Gadis itu mengusap air bening yang sempat terjun membasahi pipinya ia menatap penuh harap pada Lidya. "Lid. Tolong aku ya? Aku yakin kau pasti bisa menemukan siapa yang sering aku sebut itu.. Jimin?"ucapnya lagi.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


    Tas di taruh di sebelah meja belajar ia mengganti seragam sekolah dengan pakaian santai. Wajahnya nampak sedih dan bingung, duduk di meja belajarnya menatap luar jendela melihat langit masih cerah. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya mencoba berpikir permintaan Kak Cantika, siapa nama yang sering ia sebut... Jimin.


Lidya pernah bertanya ke Cantika siapa Jimin itu tetapi Cantika tetap menjawab tidak tahu. Elle bertanya bahwa ada kaitannya di masa lalu tetapi jawabannya masih sama tidak tahu. Menghela nafas kasar,"ah aku sama sekali tidak tahu."ucapnya mengacak-ngacak rambutnya.


Lidya berbalik badan menghadap cermin besar yang ada di almarinya. Melihat ia masih menggunakan syall yang dibelikan oleh teman-temannya, dibukannya syall itu lehernya masih saja merah. Saat tangan Lidya menyentuh leher tidak ada rasa perih sama sekali.


"Aku tidak bisa berpenampilan menggunakan syall terus hanya menutupi leherku."ucapnya dan memakai syallnya kembali.


  Layar ponsel menyala seperti ada notif masuk Lidya mengecek ponselnya ternyata notif dari dunia oranye. Banyak pembaca yang meng-vote ceritanya berjudul Faded dan buku keduanya. Awalnya hanya sekitar 500 pembaca dan buku kedua yang hanya 200 pembaca kini menjadi sekitar seribu pembaca.


Melonjak tinggi.


Lidya diam sejenak memikirkan sesuatu, memang sih ceritanya ini masih menggantung artinya masih ada kelanjutannya hanya saja ia bingung menyusun rangkaian cerita dan konflik puncak. Terakhir kali ia menuliskan sesuatu di bukunya bahwa ada monster datang menghancurkan benda yang ada di hadapannya dan menantang pangeran tumbuhan yang hilang untuk bertarung kembali setelah 100 abad yang lalu.


  Serta di tuliskan Lidya di buku tersebut manusia yang memiliki kekuatan dari planet elementer. Planet yang sama seperti di bumi hanya saja planet itu sangat jauh. Di planet bernama Elementer ada beberapa kekuatan di wilayah berbeda yaitu;


-Listrik


-Api


-Air


-Es


-Angin


-Cahaya


-Tumbuhan


-dan wilayah yang bisa disebut wilayah mati hanya ada binatang buas serta beberapa bayangan yang pernah membuat kekacauan di bumi.


Bayangan itu bisa mengendalikan orang lain dan bisa bertindak sendiri tanpa mengendalikan orang lain. Bayangan hitam itu bisa mengeluarkan kekuatan api sebab Raja wilayah kekuatan api memberikan kekuatan ke bayangan itu yang disebut Shadows. Di buku kedua bayangan hitam itu sudah tidak menganggu orang-orang di bumi sebab ada yang mengendalikan shadows tersebut yaitu kakak dari tokoh cerita tersebut.


Lidya tersadar, ia bisa mengalahkan kedua gadis yang berhasil mengendalikan tubuh Kak Alvan sampai pemilik tubuh tersebut tidak tersadar dari apa yang ia perbuat karena ia berstatus budak Meika dan gadis yang entah namanya siapa.


  Sebelum itu ia juga harus memikirkan permintaan Kak Cantika mencari tahu siapa itu Jimin. Jari-jari tangan Lidya mencari di internet dengan nama Jimin kemudian menampilkan sebuah foto seorang artis papan atas bersama boy bandnya yang naik daun pada tahun 2018.


Mata Lidya terbelalak.


*Jangan Anggap Kami lemah*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2