Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Sepuluh: Menghancurkan Penjara Imajinasi


__ADS_3

"Aku rasa, Tera berada di gedung terbengkalai ini."ucap Abimanyu merasakan aura kuat dari dalam sana. Aura kekuatan Elements Eyes.


Radit melihat sekeliling bangunan yang sudah tidak di pakai dan merasa nggak pernah di jamak oleh orang lain lagi. Banyak sekali corat-coret di dinding bangunan itu. Pemuda itu seolah enggan memasuki bangunan ini. Ia yakin kalau hanya kelompoknya saja yang belum ke sekolah akibat pertarungan secara mendadak dari Alone Imagination.


Radit merasakan sangat malas dan tertidur di paha Abimanyu. Abimanyu saat itu sering protes atas tingkahnya yang mulai bermalas-malasan. Kalau boleh jujur, Radit memang punya aura kemalasan yang besar jadi ia tidak bisa mengelak dari sifat itu apalagi ia juga tergolong Alone Imagination.


Alone Imagination sudah di pandang rendah oleh imajinasi lain. Serta kekuatan paling bodoh, lemah dan gampang di kelabuhi oleh orang-orang jahat. Seperti apa yang dilihat oleh kedua matanya sendiri.


"Kenapa kita hanya berdiri memandang bangunan ini? Apa kita nggak langsung masuk saja?"tanya salah satu anggota kelompok.


"Bentar, biar aku dan Abimanyu yang ngecek terlebih dahulu."ucap Radit dibalas anggukkan lainnya.


Pemuda tersebut melangkahkan kakinya maju ingin masuk ke dalam bangunan tapi tiba-tiba saja tubuh Radit terdorong ke belakang, jatuh. Abimanyu segera menolong Radit dan anggota kelompoknya mencoba masuk ke dalam sana akan tetapi sama saja. Mereka tidak bisa masuk seperti ada penghalang transparan di sana.


Pemuda berambut cokelat yang hanya diam saja, ketua MM 1-- Beni Anggara. Setelah ia mendapatkan luka tusukan dan koma hampir dua hari terlihat sangat pendiam dari biasanya. Dulu, ia memiliki sifat kepimpinan tinggi sampai satu kelas memilihnya di bantu oleh Pandu. Sekarang, pemuda itu terlihat datar dan tidak ingin angkat bicara dengan salah satu temannya.


Beni melangkahkan kakinya maju, kekuatan tembus pandangnya aktif. Disana ada banyak ruangan dan dia  melihat ada satu kekuatan kuat yang ada di lantai dasar pojok sendiri. Matanya menyipit berusaha meng--zoom tembus pandangnya.


Selama Beni koma, ia bertemu dengan seorang pria tangguh bersikap datar. Pria tersebut mengatakan bahwa kekuatannya sudah selevel dengan kekuatan musuh.


"Disana ada Tera."ucapnya datar, semuanya terkejut.


Abimanyu yang merasakan aura kuat dari dalam diri Beni, angkat bicara,"dimana Ben?"tanyanya cepat sambil celingak-celinguk melihat dua sisi bangunan yang ia yakin bisa menuju ke belakang tanpa memasuki bangunan ini.


"Di ruangan belakang pojok kiri. Ia tidak bisa keluar dari penjara yang tercipta dari Alone Imagination."jelas Beni serius.


Kedua mata Abimanyu melotot tidak percaya kalau bangunan ini sudah menjadi penjara imajinasi. Dan makanya ia tidak menyadarinya perihal kekuatan Alone Imagination terlalu lemah.


"Pantas aja, aku nggak menyadari kalau ada penjara imajinasi. Tapi kenapa?"tanya Abimanyu bingung  dengan kemauan musuhnya ini.


Radit tersenyum kecut mendengarnya. "Sial. Musuh kita terlalu pintar. Dan kita harus hati-hati untuk menyelamatkan Tera."kata Radit di balas angguk lainnya.


"Padahal ini sudah malam. Aku ingin pulang."keluh salah satu anggota kelompok.


Sebelum mereka menyelamatkan Tera. Beni mengatakan kalau ada beberapa Alone Imagination di sana dan berhati-hati sebab kekuatan lemah mereka, bisa menjadi kuat karena di bantu oleh aura kegelapan dari Meika.


  Lalu mereka semua melewati sisi bangunan tersebut menuju ke belakang dan mereka telah mengundang Alone Imagination. Pertarungan terjadi lagi, semuanya dengan rasa semangat menyerang mereka. Dan beberapa orang mulai menyelinap masuk ke dalam gedung.


"Aduh!"ringis salah satu perempuan yang lupa kalau bangunan itu di pasang sesuatu sehingga orang lain tidak bisa masuk ke dalam sana. Ia bangkit berdiri, punggungnya terasa sakit akibat gelombang dari bangunan itu.


"Siapa yang disini bisa melihat penjara tak kasat mata?"tanya perempuan itu mengerucutkan bibirnya.


"Nggak ada!"ucap mereka berempat membuat perempuan itu mendengus sebal.

__ADS_1


"Kalau begitu kita tidak bisa masuk dong."


Seorang pemuda berbadan gendut itu tersenyum penuh ke anehan,"aku punya ide!"ucapnya menjentikkan jarinya membuat teman-temannya menatap ke pemuda gendut itu.


"Apa?"


"Aku akan menyanyi nada tinggi."katanya dibalas pelototan tidak percaya.


"JANGAN!"


Ucap mereka kompak dibalas tatapan cemberut pemuda gendut itu. Radit datang dan bertanya kenapa mereka berteriak seperti itu. Ia mendengar cerita singkat tersebut, melirik ke pemuda gendut tersebut penuh senyum tipis. 


Radit mengehela nafas panjang, rencana terbesit begitu saja ke dalam benaknya. Ia menyuruh kelima temannya melingkar, menyusun rencana dadakan. Mereka semua mengangguk mengiyakan.


Radit melangkahkan kaki menuju ke bangunan yang sudah menjadi penjara imagination. Pemuda itu masuk dengan aura kemalasan yang besar dan berpura-pura membantu teman Alone Imagination melawan penyusup. Kelima temannya hanya cengo melihat Radit bisa melewati penjara tanpa dorongan keluar dari dinding penjara tak kasat mata tersebut.


Senyuman miring terukir jelas di bibirnya, "Ayo, keluarkan suara nyanyianmu. Bulat!"seru Radit menyuruh pemuda gendut itu mengeluarkan nyanyian merdunya(merusak dunia).


Dalam hati Radit berharap penjara ini bisa hancur. Karena kalau gelombang betemu gelombang lebih gede dari gelombang penjara maka gelombang paling kuat itu yang menang.


Semuanya menutup kedua telinganya dan pemuda gendut tersebut menyanyikan lagu bernada tinggi.


"Are you Readyyyyy!"serunya bernada tinggi.


Penjara yang berada di sekeliling bangunan terbekangkai itu, baik di luar maupun di dalam. Penjara imajiansi pecah akibat gelombang suara merdu menyakitkan,


menyanyikan lagu rock n roll. Setelah selesai bernyanyi bumi kembali tenang.


Alone imagination yang menyerang mereka tiba-tiba pingsan tidak sadarkan diri serta kekuatan dalam diri mereka pergi begitu saja. Abimanyu melepaskan tangan dari telinganya, bernafas lega tidak mendengar suara maut yang membuat gendang telinganya hampir tuli.


Radit memberikan jempol pada pemuda gendut tersebut lalu menyuruh mereka masuk ke dalam. Tera yang ada di dalam keluar dari bunga yang menyelimutinya dari gelombang suara mengerikan. Tangannya mengepal ingin sekali menyerang gadis itu.


Saat ia menggerutu sendiri disana, telinganya menangkap suara dan membuat nya menoleh kebelakang menatap terkejut.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


  Angin malam berhembus kencang, gadis itu masih duduk di atas atap memandang pemandangan yang tidak pernah berubah. Entah sampai kapan ia berada di atas sana memandang ke depan kosong. Pikirannya terus berputar mengulang kejadian-kejadian tidak terduga sebelum imajinasi kembali nyata dan membawa petaka.


Lidya juga mengingat mimpi buruknya melihat Tomma dan berteriak kalau ia akan datang ke dunia untuk melanjutkan perperangan selama 100 abad. Dan pertempuran mereka di hentikan 500 yang lalu. Ah, kalau di pikir-pikir Lidya bingung sendiri.


Yang pasti ia ingin tahu tujuan sebenarnya Tomma dan bisa saja tujuan awal Tomma itu berpindah haluan. Lidya juga tidak tahu dimana pangeran tumbuhan berada, ia rasa kalau pangeran tumbuhan berada di raga Tera. Namun, sayangnya pangeran malah pergi dan menghilang entah dimana.


"Mbak! Kenapa kau ada di atap rumah? Turun!"teriak wanita paruh baya dari bawah. Lidya melihat ke bawah,melihat mamanya mendongak menatapnya menyuruhnya untuk turun.

__ADS_1


"Aku mau disini, bentar!"teriak balik Lidya.


"Ya allah. Bagaimana bisa kau berada di sana? Tanpa tangga."teriak mamanya lagi.


"Manjat ma!"jawab Lidya terdengar mustahil kalau ia naik ke atap bermodal memanjat.


Wanita paruh baya itu berkacak pinggang menatap anak gadisnya kesal. "Sejak kapan kau bisa memanjat?"ucapnya.


Membuat Lidya menggaruk kepalanya tidak gatal. Ia rasa berbohong pada orang tua adalah kesalahan besar atau bisa sudah mendapatkan julukan, anak durhaka. Tidak-tidak, ia ingin sekali membahagiakan kedua orang tuanya waktu besar nanti. Sekarang ia akan mengurus masalah yang semakin hari semakin rumit.


"I'm forget ma! Kalau aku bisa naik kesini bagaimana caranya aku turun."ucap Lidya bodoh. Habis sudah akal sehatnya kalau terus begini.


Lalu tak lama kemudian Awan keluar dari rumah mendongak melihat kakaknya yang entah sejak kapan berada di atap rumah memandang langit malam. Tahu,ini pertama kalinya Lidya bertindak konyol seperti ini.


"Awan, tolong mbakmu untuk turun dari sana!"titah mama ke pemuda yang lebih muda dari Lidya, dua tahun.


"Apa?kita aja nggak punya tangga."jawab Awan melirik Mama menyipitkan sebelah mata.


"Lebih baik kalian segera mengungsi ke tempat aman sesuai apa yang aku katakan tadi. Sebelum semuanya itu terlambat!"teriak Lidya pada mereka.


"Bagiamana kita bisa pergi kalau kau sendiri berada di atas sana?"kata mama menggeleng melihat anaknya.


"Baiklah, aku akan turun dengan cara melompat."ucap Lidya berdiri dari posisi duduknya. Tentu saja membuat kedua orang itu melotot.


"Kau gila apa!"teriak Mama.


"Nggak apa-apa, aku nggak bakal mati kok."jawab Lidya tersenyum penuh arti. Mamanya tidak sepenuhnya tahu apa yang di pikirkan oleh Lidya, melompat dari atap rumah dan memprediksi kalau ia tidak akan mati.


Saat Lidya ingin melompat tiba-tiba saja di beberapa sudut titik komplek tempat tinggal Lidya, meledak seperti ada bom.


Dom!


Lidya yang di atap rumah, kakinya terpeleset membuat Lidya benar-benar jatuh dari atap. Mama yang melihat itu terkejut dan berteriak.


Lidya berteriak dan matanya terpejam,pikirnya ia akan mencium tanah.


"Flay plate!"seru Awan mengalihkan pandang, memejamkan mata sambil membayangkan kalau di bawah kakak perempuannya itu ada piring terbang.


Lidya yang memejamkan mata dan rasanya ia masih mengapung di udara. Secara perlahan ia membuka mata dan terkejut. Tidak hanya Lidya yang terkejut, Mama juga terkejut melihat benda seperti piring lebar terbang menyelamatkan nyawa Lidya.


Awan kembali menghadap ke depan dan terkejut bukan main, apa yang dilihatnya.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2