Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Dua Satu: Pertarungan Sengit


__ADS_3

Suara petir terus terdengar, Keysa berlari menghampiri Riko yang masih memandangnya diam. Tanpa babibu lagi Keysa menyerang akar tumbuhannya ke arah Riko.


Kedua matanya melotot tidak percaya melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Secara tiba-tiba serangan Keysa yang cepat itu menjadi pelan seperti seekor siput. Ia menatap Riko yang masih diam memandangnya datar lalu pemuda tersebut meluncurkan tinjuannya bersamaan waktu yang melambat menjadi normal. Sehingga tubuh Keysa terpelanting ke belakang.


Keysa segera bangkit menatap membunuh ke arah Riko. Pemuda tersebut menunjuk ke arah Keysa penuh amarah,"aku tahu! Kau akan melakukan ini padaku dari awal pertemuan kita untuk bekerja sama. Suatu hari nanti kau akan mengkhianatiku dan membunuhku. Teman-temanku juga akan terbunuh dan bumi ini menjadi hancur lebur."ucapnya panjang lebar setengah berteriak.


"Tetapi. Tetapi ada sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku lihat. Sesuatu yang membuat jantungku berpacu cepat."lanjutnya menghampiri Keysa. Gadis itu langsung menyerang Riko diam-diam dari belakang tanpa ada suara sedikitpun.


Ketika Riko hampir mau menghampiri Keysa, akar tumbuhan berduri itu dengan cepat melesat ke arah Riko. Pemuda itu berhenti melangkah, matanya melotot dan ia memutah-kan darah.


"Huk!" darah segar keluar dari mulutnya lalu ia melihat ada benda lancip berada di perutnya. Ia menatap Keysa yang tersenyum penuh kepuasaan perlahan pandangannya mulai memburam dan kepala terasa pusing.


'Apa ini akhir hidupku?padahal aku ingin sekali menghabisi nyawa gadis tak tau diri ini'--batinnya.


Tubuh pemuda itu ambruk ke tanah bersama darah yang terus mengucur. Keysa bangkit berdiri dan tertawa terbahak-bahak ia melihat Lidya yang memandang dengan senyuman. Keysa berpikir kalau penulisnya itu gila! Ya, tidak seperti kejadian awal saat ia telah merenggut nyawa seorang pemuda bernama Pandu. Ia menangis tersedu-sedu tetapi sekarang ia malah tersenyum melihat temannya mati tepat di hadapannya.


"Sekarang giliran kau! Lidya!"teriak Keysa meluncurkan serangan dari tumbuhan. Akar-akar dan monster tumbuhan mulai menyerang Lidya. Gadis itu tersenyum penuh arti tak lama kemudian datang lah Vin dengan pedang iblisnya.


Sreet!


Vin menatap dingin musuh-musuhnya itu dan menebas dengan gerakan gesit mengayunkan pedang iblis. Lidya merasa kalau dia itu di lindungi oleh teman-temannya. Keysa murka sebab lagi-lagi ada orang yang menghalau serangannya menyerang Lidya. Ia rasa, kalau Lidya adalah orang yang berharga untuk mereka.


Keysa tidak memiliki pilihan lain ia memilih menyerang dengan aura kebencian dan kegelapan. Keysa menyerang langsung Vin dengan tangan menggenggam dua kapak. Vin segera menahan serangan Keysa tetapi kekuatan musuh lebih kuat darinya. Padahal Vin sudah berlatih lama untuk menjadi kuat.


Pemuda itu berusaha mendorong Keysa sekuat tenaga yang ia bisa dan Keysa tidak tinggal diam saja, ia berusaha menjatuhkan Vin. Kaki kanannya menendang perut Vin dan ingin menancapkan kapak tepat di jantung pemuda itu. Dengan segera Vin bepindah di belakang Keysa membuat mata merahnya melebar, ia menoleh ke belakang.

__ADS_1


Sreet!


Vin terkena serangan dari akar tumbuhan Keysa. Serangan itu sedikit menggores pipi Vin, ia sedikit mundur dengan jarak 2 meter. Vin memegang pipi kanan yang terasa sedikit pirih.


"Licik!"


Lidya masih menonton pertarungan mereka berdua, ia masih belum mengambil langkah untuk bertarung. Entah apa yang di pikiran gadis itu.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Vana berhasil bertemu dengan imajinasi lain yang bersembunyi. Ia menyuruhnya untuk ke pengungisan, Vana mendongak ke atas ada ratusan drone milik seseorang. "Kalian harus ke pengungsian!"titahnya sesekali suara petir kembali terdengar yang semakin lama semakin keras.


"Kami harus di sini sesuai rencana ketua kelompok kami."katanya.


Mata Vana terbalak,"disini berbahaya mending kalian ke tempat aman."


Vana menghela nafas panjang berusaha untuk bersabar,"huh, baiklah kalau begitu. Kita akan menyusul kesana untuk membantu kawan-kawan kita."putus Vana sepihak ia tidak mau beradu mulut.


Nia sangat antusias mendengar kalimat itu karena yang di tunggunya sudah datang. Ah sebelumnya ia ingin sekali muncul saat bersama Tio tapi pemuda berambut biru itu tidak mau dan menyuruh mereka berada disini, bersembunyi. Tentu saja itu sangat konyol bagi Nia.


Dyah mengangguk mengiyakan perkataan Vana. Mata merahnya sudah ingin sekali menyerang musuh. Dyah ini memiliki kekuatan sihir. Mata merahnya memiliki sebuah misteri tersendiri sebab dari ratusan sihir hanya Dyah lah yang memiliki iris mata merah seperti pemilik kekuatan Red Eyes.


Sedangkan Veno memilih untuk pergi ke pengungsian, rasa takutnya malah menjalar ke seluruh tubuhnya. Bilang saja kalau ia adalah laki-laki pengecut. Keempat gadis itu hanya mengangguk mengiyakan kemudian pergi.


Petir-petir kembali menyambar dan menimbulkan suara yang amat keras. Pertarungan antara Vin dan Keysa semakin menjadi gesit bisa dibilang mereka berdua sama-sama kuat. Akhirnya Vin yang kalah dalam pertarungan, Keysa ingin membunuh Vin dengan cepat Lidya menghalau serangan.


Gelombang suara yang keras membuat Keysa terhempas jauh. Lidya terbang ke udara dengan tatapan tajam. Rasa perih dan kehilangan sesorang yang berharga itu berhasil menyayat hati kecilnya. Bagaimana pun juga ia akan mengakhiri pertarungan panjang ini.

__ADS_1


"Kau sudah cukup sampai sini! Tomma!"teriak Lidya kencang membuat siapa saja yang mendengar teriakan itu akan menciut.


Vin yang berada disana kaget begitupun imajinasi yang terkurung. Aura Lidya yang awalnya tenang sekarang menjadi menggebu-gebu. Amarah yang ia tahan sementara akhirnya keluar. Sebuah lingkaran besar tercipta di tanah, lingkaran tersebut untuk menyembuhkan luka-luka temannya, menyegel kekuatan Alone Imagination, memberikan pertahan dan kekuatan teman-temannya.


Keysa melotot melihat penjara imajinasinya  terbuka memperlihatkan sekelompok kekuatan lemah di mata Keysa keluar sebab Lidya, seorang penulis. Kalau ia tahu sejak awal jika menjadi seperti ini, ia akan membunuhnya.


Memang penyesalan itu datangnya di akhir bukan di awal kalau penyesalan datang di awal itu namanya bukan penyesalan melainkan kebahagiaan sesaat.


"Tuh kan, aku sudah bilang. Kau itu yang sebenarnya sendirian bukan aku!"ucap Tio membuat Keysa melotot tidak percaya melihat pemuda berambut biru jabrik dengan pakaian sisian itu masih hidup.


"Bukankah kau sudah mati!"ucapnya menunjuk Tio.


"Hahaha. Yang kau serang itu memang aku tetapi aku memiliki kekuatan yang tidak bisa orang tiru. Kekuatannya tergolong Together Imagination, kekuatan saling melengkapi dan aku memiliki keduanya tanpa bantuan orang lain. Mengubah diri sendiri atau mengubah barang menjadi benda yang aku inginkan. Lalu nyawa berpindah ke raga atau benda."Jelas Tio membuat Keysa tercengang mana mungkin ada kekuatan sejenis itu.


"Oh satu hal lagi!"ia mengacungkan jari telunjuknya ke atas,"aku juga bisa menjadikan ragaku yang asli menjadi benda dan benda bisa ku jadikan ragaku yang asli. Jadi kejadian tadi saat kau berhasil membunuhmu...hanya tipuan."


"Biarkan saja. Ia memang gadis bodoh sejak pertama aku bertemu dengannya."ucap Riko dari sebelah kiri Keysa.


Pertanyaan demi pertanyaan sudah menumpuk di pikiran Keysa. Di sini sudah ada Riko dan Tio yang tadi ia berhasil membunuhnya,sekarang malah kembali hidup seolah mereka berdua mengalami reinkarnasi untuk membalas dendam. Keysa mengacak rambutnya frustasi dan memutuskan untuk mengeluarkan akar berduri.


Lidya dengan cepat mengeluarkan serbuk ajaib, serbuk itu bisa menghalau serangan Keysa. Keysa berdecih kesal menatap Lidya, ia menyerang Lidya secara bertubi-tubi. Teman-temannya ingin membantu Lidya akan tetapi kekuatan mereka tersegel.


Ya,Lidya sengaja menyegel kekuatan mereka untuk sementara waktu dan mereka juga tidak akan terkena serangan Keysa sebab serbuk ajaib.


"Aku akan menghabisimu terlebih dahulu Lidya. Jika itu berhasil maka aku tidak akan lelah untuk berperang melawan pangeran tumbuhan. Sesuai rencanaku."ucap Keysa tertawa jahat.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2