Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Tujuh puluh Lima:Murid Baru


__ADS_3

Kring!!


  Terdengar suara jam beker telah berbunyi, sinar Mentari sudah datang dan memasuki celah ventilasi. Tangan merabah atas nakas berusaha mematikan jam beker itu setelah mematikan jam perlahan gadis tersebut bangun dari tidurnya. Mengucek mata, menguap dan merentangkan kedua tangan ke atas.


  Mata masih sedikit sayup-sayup melirik kearah jam menunjukkan angka setengah enam. Dengan langkah malas ia segera masuk ke kamar mandi, bersiap-siap untuk sekolah.


   Di atas meja makan sudah tersedia banyak sekali makanan. Semua orang sudah menyantap sarapan masing-masing, ayah meminum secangkir kopi sedangkan dua adik laki-laki menyantap sarapan masing-masing. Lalu datanglah Lidya dengan rambut kuncir dua dengan pita sebelah kanan menambah kecantikannya.


  Mama melihat putrinya sudah siap dan berpenampilan cantik. "Anak mama tambah cantik."pujinya tersenyum. Lidya duduk bersebelahan dengan Awan, pemuda itu melirik kakaknya penuh arti.


"Hmm, pasti ada maunya nih makanya tampil cantik."ledeknya.


"Sembarangan aja. Aku ini ingin tampil beda saja tidak lebih, lagian ini hanya sekali saja."ucapnya tidak terima membuang muka.


"Sudah-sudah. Lebih baik kalian sarapan dulu."kata mama mempersilahkan menyantap sarapan mereka sebelum berangkat sekolah.


     Jalanan terlihat sangat ramai, di SMK Cemerlang banyak sekali murid mulai berdatangan. Sepeda motor berhenti tepat di depan pagar dan Lidya tidak lupa salim tangan ayahnya kemudian ayah pergi menuju ke tempat bekerja. Lidya segera masuk berjalan santai menuju ke kelas.


  Selama perjalanan menuju kelas ia melihat gadis asing di matanya, gadis tersebut nampak kebingungan. Ia menghampiri gadis tersebut.


"Cari apa?"tanya Lidya sampai di depan gadis tersebut membuatnya terkejut.


Ia memegang dadanya melihat gadis yang tiba-tiba datang menghampirinya. Jujur saja, ia terlihat sangat gugup karena ini pertama kalinya menampakkan kaki di sekolah baru dan di hampiri oleh gadis asing ini. Lidya mengerit bingung melihat gadis di depannya tiba-tiba diam kalau diamati memang Lidya tidak pernah melihat wajah gadis ini.


Tanpa berpikir panjang Lidya angkat bicara, menebak bahwa ia adalah murid baru disini. Gadis itu menatap Lidya lalu mengangguk pelan membuat seulas senyum tipis di bibirnya.


"Pasti kau mencari kantor kepala sekolah?"tebaknya dibalas anggukan, "kalau begitu ikut aku. Aku akan menunjukkanmu jalannya."ucapnya tersenyum. Gadis itu tetap saja hanya diam membuat Lidya harus menarik pergelangan tangan gadis itu menuju ruang kepala sekolah.


  Gadis berambut panjang sepunggung memakai seragam batik cokelat menatap punggung gadis di depannya.


-


-


-


-

__ADS_1


-


  Kemarin malam di rumah besar bertingkat dua,seorang gadis tengah menatap langit malam di balkon penuh dengan ekspresi kegelisahan dan takut. Sebab ia sama sekali susah bergaul padahal ia sudah suka dengan sekolahnya dulu dan terpaksa pindah karena memilih tempat tinggal yang dekat dengan pekerjaan ayahnya. Jadi tidak perlu repot-repot mengantar jauh.


Apalagi ia sekarang mendapatkan kekuatan aneh yang diluar nalar manusia biasa. Ia sendiri tidak tahu, kapan itu bisa terjadi padanya. Kekuatan yang  bisa dibilang sempurna dan keren.


Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu melihat anaknya menatap langit malam, termenung sendiri. Wanita itu menyunggingkan seulas senyum tipis dan menghampiri putrinya, mengelus rambut panjang anaknya itu. Gadis itu menoleh melihat ibunya sudah berdiri di sampingnya.


"Besok kamu masuk sekolah di sekolah barumu. Ibu yakin, kau akan senang sekolah disana dan mendapatkan teman banyak sama seperti sekolahmu dulu."kata ibunya yakin dan berusaha menghibur anaknya itu.


"Itu tidak mungkin!"ucapnya tegas, membuang muka,"pasti sekolah baruku itu buruk tidak seperti sekolah lamaku. Pasti teman-teman baruku nanti tidak ada yang suka padaku. Apalagi sekarang aku mendapatkan kekuatan aneh."lanjutnya penuh penekanan tidak suka.


"Ibu kan, tahu. Kalau aku itu tidak mudah bergaul dengan orang asing."katanya lagi.


"Ibu yakin, kalau disana ada teman yang pengertian padamu. Ibu yakin itu. Jalanin saja, apalagi kekuatanmu itu sangat hebat dari element eyes."kata ibunya menyakinkan lebih pada putrinya bahwa disana akan mendapatkan teman banyak. Ditambah kekuatan anaknya yang sangat hebat dan masuk kelompok element eyes.


-


-


-


-


-


  Gadis itu masih fokus dengan tangannya yang di tarik oleh seseorang menuju tempat kepsek. Langkah mereka  berdua berhenti tepat di depan kantor kepsek. Gadis berkepang dua itu tersenyum, "ini ruangan kepseknya. Kamu masuk saja, tidak apa-apa. Dan maaf kalau aku tidak bisa menemanimu karena aku harus masuk ke kelas. Jadi bye!"jelas Lidya cepat seraya melambaikan tangan, berlari menuju ke kelas.


  10-MM1 semua murid duduk anteng menunggu guru datang. Fitri sedari tadi melihat bangku depan dimana Lidya duduk disana,dia belum saja datang---tidak seperti biasanya. Anggi menoleh kearah Fitri dengan mata fokus ke depan.


"Mana Lidya ya? Kok belum datang?"tanyanya dibalas gelengan,tidak tahu.


Dahi Fitri berkerut berusaha berpikir keras, "kali ini ia terlambat datang dan juga Papa masih belum datang ke kelas."ucapnya pelan menopang dagu, menatap ke depan. Anggi hanya bisa diam menghela nafas.


"Assalamualaikum."


  Semua orang menoleh mengarah ke pintu melihat seorang gadis berkepang dua datang dengan nafas ngos-ngosan. Beni yang melihat hal tidak biasa dengan Lidya, kaget begitupun dengan Pandu.

__ADS_1


Fitri berdiri tersenyum sumringah kalau Lidya sudah datang, "Lidya!"serunya.


  Lidya berjalan menuju bangkunya, melipat kedua tangan diatas meja lalu menenggelamkan kepalanya--lelah. Fitri hanya bisa diam sebab diabaikan. Anggi hanya bisa terkekeh dalam hati melihat itu. Ferdi yang sudah lama tidak mengacaukan kelas mulai beraksi.


Ia menyuruh semua mengalihkan pandang ke arahnya dan pemuda tersebut berdiri di atas meja. Anggi dan Fitri sudah melototi Ferdi untuk turun tetapi pemuda tersebut sama sekali tidak digubris.


"Kenapa kalian semua hanya diam saja tidak berkutik? Ini udah jam tujuh lewat sepuluh menit. Dan Papa Arlan belum datang kesini..."ucapnya melirik jam menacap di dinding,ia melanjutkan omongan,"...jadi ini artinya Jamkos!"serunya membuat suara gaduh menggelegar di kelas MM1.


Fitri yang sudah kesal menunjuk ke arah Ferdi, mengancam. "Kau turun disana dan siapa kata kalau ini jamkos, Ferdi? Aku akan membuatmu kapok kalau begini ceritanya!"ucapnya penuh penekanan.


Bukannya takut, Ferdi malah ketawa ngakak mendengar ancaman dari Fitri. Gadis itu hanya bisa mengepalkan tangannya ia tidak bisa menghajar Ferdi jika itu terjadi maka ia bisa di lumpuhkan oleh Pandu. Beni sebagai ketua kelas menyuruh teman satu kelasnya untuk diam.


Seketika semua murid terdiam membuat seulas senyum Beni,"nah kalau begini kan enak di pandang."ucapnya melirik mengarah Pandu.


"Mereka diam karena ada Pak Arlan datang bersama seseorang di belakangnya."kata Pandu datar. Mendengar hal itu Beni terkejut menoleh ke ambang pintu dan benar, Pak Arlan sudah datang. Ia menggunakan mata tembus pandang melihat seorang gadis cantik di belakang Pak Arlan, menunduk.


"APA!"Pekiknya.


  Pria tampan itu masuk ke kelas, berdiri menghadap semua murid datar. Ferdi yang diatas meja segera turun meminta maaf. Lidya mengangkat kepalanya sedikit melihat Pak Arlan sudah datang dan segera ia mengganti posisi duduk enak.


Setelah semua muridnya diam dan memerhatikan guru, Pak Arlan menghela nafas panjang.


"Selamat pagi anak-anak."


"Selamat pagi juga Papa."


"Saya membawa kabar baik buat kalian kalau kelas MM1 kedatangan murid baru."ucap Pak Arlan disambut meriah murid lainnya. Pak Arlan menyuruh anak baru itu masuk, semua murid menatap murid baru tersebut sweetdrop.


"Silahkan perkenalkan dirimu."


Gadis itu menghadap ke teman barunya, ia merasa sangat gugup seperti hari pertama sekolah dulu. Keringat dingin sudah mulai mengucur, kedua matanya ia pejamkan sejenak mencoba mengusir rasa kegugupannya lalu menghela nafas pelan.


"Hai semua, namaku Alkira Danielle panggil saja aku Elle. Aku dari sekolah SMK Prestasi, aku harap kalian semua bisa berkawan baik denganku. Terima kasih."ucap gadis itu bernama Elle.


"Terima kasih Elle, kamu duduk bersebelahan dengan Lidya ya."kata Pak Arlan.


  Elle duduk disamping Lidya, diliriknya ternyata ia adalah gadis yang mengantarnya di kantor kepsek tadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2