
Tet.. Tet.. Tet..
Suara bel masuk telah berbunyi semua murid menggerakan langkahnya cepat menuju ke kelas apalagi kelas 11-Akuntansi 1 waktunya jam di mana guru yang dikenal Killer dan peraturannya harus disiplin serta mengerjakan tugas. Seorang gadis tidak terlalu cantik namun manis berlari tergesa-gesa menuju kelas yang ada di belakang sendiri. Raut wajahnya khawatir karena satu ia ketiduran ketika ingin mengerjakan tugas. Kedua, ia datang ke siangan jadi tidak bisa mengerjakan tugas dari Pak Roy--Guru mengajarkan mapel Administrasi Pajak.
Ia duduk di bangku belakang dengan nafas ngos-ngosan, semua teman-teman satu kelas menatap mengarah ke gadis bernama Putri Intan Cantika. "Untung Pak Roy belum datang kalau sudah datang kena hukuman lagi kamu,Can!"ucap salah satu gadis disana nada sinis.
Seulas senyum miring terlukis di wajah gadis yang berada di depan bangkunya. "Kalau kau terkena hukuman lagi, tidak apa-apa. Enak melihat mukamu yang tidak pantas dengan namamu, hahahaha."sindir gadis itu tanpa ada rasa bersalah.
Cantika menunduk ke bawah dengan wajah kusut, ia tidak tahu mengapa dia sering di sindir karena masalah wajah tidak begitu Cantik. Tahu, kalau zaman sekarang rata-rata teman-temannya bermuka glowing karena perawatan setiap bulannya. Cantika juga bisa seperti yang lain tetapi ia sadar kalau mengambil perawatan kecantikan ia butuh uang banyak dan harus satu bulan pergi ke perawatan kecantikan karena semuanya itu bersifat sementara bukan alami.
"Wuuh, Namanya aja Putri Intan Cantika tapi tidak sesuai apa yang arti katakan!"timpal gadis lain lalu satu kelas tertawa terbahak-bahak. Cantika merasa sakit hati karena sering mendapatkan sindiran dari teman-temannya tapi yakin kalau ini adalah terbaik untuknya, wajah jelek tidak masalah yang penting hatinya yang bagus.
Lalu masuklah Pak Roy tawa pecah murid langsung redam seketika ketika Pak Roy datang. Pria yang sudah beruban dan memiliki kumis tebal, kedua matanya lebar,sekali lirik langsung tumbang.
Jantung Cantika berdetak kencang karena ia belum mengerjakan soal dari Pak Roy. Mungkin ini waktunya ia akan mendapatkan hukuman Pak Roy yaitu berdiri di depan dengan kaki diangkat dan kedua tangannya menjewer kedua telinganya. Sungguh itu memalukan dirinya!.
Pak Roy melihat ke seluruh kelas yang duduk anteng damai dan tidak berisik karena beliau tidak suka dengan suara bising dan keramaian. "Assalamualaikum anak-anak!"salam Pak Roy membuka pelajarannya.
"Waalaikumsalam Pak Roy!"
"Baikah,keluarkan tugas Administrasi Pajak yang bapak beri kemarin! Seperti biasa buka bukunya dan letakkan di atas meja tanpa ada sentuhan sedikit pun!"perintah Pak Roy nada sedikit tegas. Dengan cepat semua murid 11 Akuntansi 1 mengeluarkan buku Administrasi Pajak secepat mungkin dan meletakkan di atas meja segera tanpa di otak-atik lagi, kedua tangan di lipat diatas meja, tatapan kedepan menatap papan putih yang masih kosong melompong.
Cantika menatap buku Administrasi Pajaknya yang masih deretan soal belum ada jawaban sama sekali, ia pasrah dan akan menuruti perintah Pak Roy sebagai hukuman. Kepala Cantika menunduk ke bawah,"Tamatlah riwayatku Jimin!"gumamnya pelan dan langsung mata terbelalak kaget melihat ke depan. Ia menyebut nama asing itu kesekian kalinya entah berapa banyak ia menyebut nama 'Jimin' ketika sedang ragu,khawatir dan terkejut.
Pak Roy berjalan memutar melihat tugas yang di berikan sudah selesai, tinggal satu barisan lagi dimana ada Cantika dan bangku paling awal karena Pak Roy lewat jalan belakang. Pria tersebut sedikit membungkukkan badanya melihat tugas Cantika dan kedua matanya membulat sempurna.
"Cantika!"teriak Pak Roy membuat satu kelas terkejut dan mengarah ke arah Cantika yang masih menunduk ke bawah.
"Cantika! Mengapa kamu tidak mengerjakan tugas dari bapak!"ucapnya nada tinggi. Cantika menunduk rasa bersalah, "Maaf, Pak. Saya ke-kemarin ketiduran saat ingin mengerjakan tugas."ucapnya jujur dan ingin meluncurkan air mata saat itu juga.
__ADS_1
"Banyak sekali alasanmu itu! Dari kemarin kamu selalu saja bilang begitu! Ketiduran Pak, Lupa Pak, Tidak sempat Pak. Mana waktu luangmu buat mengerjakan tugas sekolah? Apa hanya mapel bapak yang kamu sering lupa?"omel Pak Roy memarahi Cantika. Gadis itu menangis, ia sering di bentak oleh Pak Roy tapi kali ini membuatnya sakit hati.
Gadis yang duduk di depan bangkunya senyum mengejek. "Dia memang malas Pak. Semua pekerjaan rumah ia tinggal jadi Cantika sering mendapatkan hukuman dari guru lain."ucapnnya membuat Pak Roy bertambah kesal.
"Apa itu benar?Cantika! Apa yang dikatakan oleh Fena benar?"tanya Pak Roy sedikit merendahkan nada bicaranya. Cantika mengangguk lemah sebagai jawabanya. "Astagaa! Malas sekali kamu Cantika. Sekarang, kamu berdiri di depan kelas sampai jam pembelajaran saja 3 jam habis!"titah Pak Roy menunjuk ke arah pintu kelas menyuruh keluar.
Tanpa babibu Cantika berjalan keluar kelas tiba-tiba ada kaki yang menjenggal kaki Cantika membuat gadis itu terjatuh dan seluruh kelas tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahha!"
Pak Roy beteriak,"DIAM!"
Cantika bangkit cepat lalu keluar kelas tidak lupa menutup pintu kelas. Di depan kelas ia berdiri dan menangis di sana, ia tidak menyangka teman-temannya melakukan semua ini. Cantika merasa lelah mendapatkan semua ini, ia ingin mendapatkan teman yang bisa tahu perasaanya.
"Apa aku akan sering dihukum? Aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sendiri. Hiks.. Hiks.. "Ucapnya berkeluh kesah dalam isak tangis.
"Dunia luar sangat jahat padaku! Aku sama sekali tidak tahu kenapa?semua teman-temanku menjadi tega dan jahat padaku padahal tahun kemarin mereka berteman baik padaku. Tapi ini membuatku tidak nyaman. Jangankan mereka, sifatku juga berubah menjadi pemalas."keluh Cantika menunduk berusaha menyembunyikan wajah basahnya dari orang yang berlalu lalang disini. Basah karena air mata kesedihan dan putus asa.
"Turuti saja apa yang aku ucapkan. Lihat dia!"kata gadis berkacamata bernama Hana, ia mengkode mata ke arah gadis yang berdiri di depan kelas 11 Akuntansi 1. Dahi temannya bertaut,"terus kenapa?"tanyanya.
"Dia mendapatkan hukuman dari Pak Roy, guru killer yang ada di SMK Cemerlang."ucap Hana.
"Terus apa? Apa kamu ingin aku membuat harapan padanya?"tebaknya dibalas senyum arti dan anggukan dari Hana. "Karena kakak ini memiliki syarat terpenuhi."lanjut Hana. Gadis itu memicingkan sebelah matanya, "aku jadi curiga padamu, Han. Jangan-jangan kau juga punya kekuatan. Peka banget jadi orang."ucapnya sedikit menyindir Hana yang terlalu peka dengan orang lain sampai temannya heran.
Ia menghampiri Cantika,"Permisi kak?"ucapnya sesopan mungkin. Cantika mendongak sedikit melihat siapa yang bicara padanya. Seorang gadis cantik memakai hijab berdiri di depannya dengan senyuman manis. Sudah manis cantik pula,aku jadi iri--batin Cantika.
"Apa kakak mendapatkan hukuman?"tanyanya membuat Cantika membuang muka darinya. Hana yang berdiri dibelakangnya menepuk jidat, ia salah mengatakan kalimat yang membuatnya malah merasa down.
Hana maju dengan senyuman manis pula. Aku pikir gadis berkacamata ini tidak memiliki ekspresi tapi dugaan nya salah,bantinya. Ia sedikit melirik kearah gadis berkacamata ini yang tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi datar.
__ADS_1
Aneh..
"Tidak sopan banget sih!"kata Hana tiba-tiba membuat gadis hijab disampingnya bingung padahal kakak kelas itu belum mengatakan apapun. Hana tiba-tiba bicara begitu.
Hana menghela nafas panjang berusaha untuk bersabar,"Kak Cantik. Bolehkah kami menolong kakak?"ucap Hana membuat Cantika terkejut kalau gadis berkacamata ini tahu namanya atau ini hanya kebetulan saja.
"Aku dengar, kakak kena hukuman dari Pak Roy?"tanyanya membuat Cantika diam tidak berkutik. "Teman saya, bisa membantu kakak."ucapnya menunjuk gadis berhijab di sampingnya. Cantika menoleh mengarah ke gadis berhijab tersebut, Cantika tidak begitu yakin kalau gadis ini membuat harapan.
"Kakak hanya bilang aja padaku?apa yang kakak harapkan dan jangan lupa nanti berdoa ya semoga di kabulkan sama Allah."ucapnya tersenyum.
Gadis ini periang banget tidak seperti ku selalu minder. Hana yang tidak sabar mendesak Cantika agar ia cepat-cepat melontarkan harapan. Cantika melihat ke gadis hijab itu,"aku ingin teman-temanku berkawan baik denganku dan sifat kemalasanku hilang. Aku sama sekali tidak bisa menghilangkan masalah malas pada diriku. Aku ingin belajar giat!"ucap Cantika menunjukkan Puppy Eyes ke gadis itu.
Gadis berhijab tersebut mengangguk paham lalu mengajak Hana mengantarkan daftar ke 11 multimedia 2. Mereka berdua melambaikan tangan ke Cantika. Gadis tersebut merasa terbohongi oleh kedua gadis tersebut, ia cepat-cepat menggeleng mengusir pemikiran negatif itu jauh.
"Ya allah, aku ingin teman-temanku berteman baik padaku dan Pak Roy mencabut hukuman berdiri di depan kelas. Kalau begini caranya aku bisa ketinggalan pelajaran."kata Cantika berdoa sambil menatap atap sekolah yang kosong melompong.
Lalu pintu kelas terbuka mendapati Pak Roy berdiri di sana, Cantika menoleh mengarah Pak Roy menatapnya dengan mata lebar seperti tadi. 'Semoga Pak Roy menyuruhku masuk'--batin Cantika terus berharap.
"Cantika. Kamu masuk kelas gih dan selesaikan tugasmu itu."ucap Pak Roy menyuruh Cantika masuk kedalam. Gadis itu tersenyum bahagia,"serius Pak!"memastikan.
"Iya, serius. Cepat masuk atau bapak cabut perkataan bapak!"ucapnya setengah mengancam. Cantika segera masuk kedalam kelas dengan perasaan senang lalu ia membuka bukunya dan segera mengerjakan tugas Pak Roy secepat kilat bukan cepat asal jawaban tepat. Karena Pak Roy tipe orang tidak suka menunggu lama dan harus tepat waktu.
Benar-benar disiplin.
"Hari yang beruntung banget! Jimin!"ucapnya keceplosan lagi menyebut nama Jimin lagi.
"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi padaku. Mengapa aku terus memanggil Jimin? Jimin itu siapa?"batinya berteriak ada sedikit kesal. Ia tidak bisa berhenti menyebut nama Jimin.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...