Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Sembilan Puluh Satu: Guardians Of Drakness


__ADS_3

  Beberapa pasukan kapten kentang berjalan menulusuri perpustakaan besar. Lidya tidak tahu alasan pasti kenapa perpustakaan ini di biarkan tertutup tetapi untung saja ia bisa masuk ke perpustakaan dengan berubah wujud tikus dari kekuatan Tio.


Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan Tio yang katanya Yusuf ia sangat sulit di temukan sebab sering berubah wujud berbeda-beda. Kapten kentang bilang ke Lidya kalau buku yang di cari oleh Tio tidak ada, gadis itu menatap pemuda tersebut yang semakin lama gelisah.


"Huh, aku harus menutup pintu imanjinasi lebih cepat aku takut anak-anak lain yang memiliki kekuatan bisa celaka. Seperti akhir-akhir ini jadi hot."kata Tio menghela nafas kasar sambil berjalan ke sana kemari.


Lidya menatap kapten kentangnya itu lalu ada prajurit kentang mengatakan kalau di luar ada Vin, Abimanyu dan Kevin. Sebuah ide terbesit di benak Lidya, ia menyuruh prajurit kentang itu masuk ke dalam kertasnya. Tio melihat apa yang di lakukan oleh gadis tersebut mengintip kalau Lidya menggambar kentang prajurit menjadi pakaian detektif.


"Kentang detektif, keluarlah carikan aku informasi tujuan mereka bertiga; Vin, Abimanyu dan juga Kevin!"perintahnya dan kentang detektif tersebut keluar dari kertas memberikan hormat ke Lidya lalu pergi melaksanakan tugas.


Tio menganga melihat hal unik tepat di depannya ia menatap Lidya tidak percaya dan melihat mengarah pensil di genggaman gadis itu. "Eh, kenapa gambaranmu bisa nyata dan melaksanakan perintahmu?"tanyanya Lidya hanya membalas senyuman.


"Itu rahasia. Kita setelah mendapatkan informasi dari mereka bertiga. Kita akan bergerak membantu mereka sebelum musuh bertindak menghancurkan semuanya."ucap Lidya di balas angguk Tio.


"Sebenarnya aku hanya memiliki tujuan menutup kembali pintu imajinasi ternyata ada tujuan lain yang kita harus laksanakan yaitu mengalahkan musuh."ucap Tio menyunggingkan senyum.


****


Pemuda berambut cokelat itu merasakan ada sesuatu yang janggal ia merasakan ada aura negatif yang tidak jauh dari sini sedangkan kucing yang ia suruh dari energi negatifnya belum datang. Seolah tahu apa yang di rasakan oleh Vin, Abimanyu mengaktifkan orange eyesnya.


"Energi negatif dari... Eh."ucapnya berhenti membuat Kevin bertanya-tanya dan siaga.


"Gawat!"seru Abimanyu kedua matanya melebar.


"Ada monster tumbuhan yang mengamuk."lanjutnya. Kevin dan Vin terkejut. Kentang Detektif mengikuti mereka bertiga berlari menuju ke lapangan sekolah.


  Semua murid SMA Strength mencoba melawan monster tumbuhan yang besar dan monster-monster itu merusak bangunan sekolah. Vin berdecih, "lama kelamaan semua bangunan di sini akan roboh."


  Semua dari berbagai kelas menyerang,para kesatria juga ikut berperang dan ada juga menatap santai tidak melawan. Lidya yang ada di perpustakaan cengo melihat ada tumbuhan merambat di luar sana.

__ADS_1


"Di luar ada apa?"tanyanya pada dirinya sendiri. Kentang prajurit mengatakan kalau ada musuh menyerang SMA Strength. Mereka berdua terkejut, Tio memegang tangan Lidya dan berubah wujud menjadi sekelompok kupu-kupu terbang melewati celah ventilasi udara.


Groaaaa


  Akar-akar pohon menjalar ke bangunan menyapu semua benda yang ada di hadapannya. Sekitar ada 6 monster tumbuhan yang di serbu banyak murid SMA Strength. Tio dan Lidya berada di atap sekolah melihat segala sisi sudah terkepung oleh musuh.


Lidya sangat penasaran siapa dalang dari semua ini dan kenapa mereka sekarang menyerang secara beruntun. Apa ada kaitannya dengan mimpi buruk Lidya yaitu bertemu dengan musuh Johhny Evans, Pangeran tumbuhan Elementer.


  Salah satu monster sudah ada di belakang mereka berdua menyerang dengan dahan pohon yang besar mengeluarkan suara mengerikan menghantam mereka berdua yang lengah.


"Pedang kegelapan tebas!"seru seseorang menarik pedang berwarna putih yang di selimuti oleh kegelapan dari sarungnya, melesat terbang ke udara dengan sayap elang putih ia turun begitu cepat seperti melihat mangsa di depan matanya mengayunkan pedang kegelapan ke dahan pohon itu.


Sling!


Sekali tebas dahan pohon tersebut patah. Lidya dan Tio melihat itu menganga tidak percaya dengan


kecepatan bagai kilat. Monster tersebut ingin memukul makhluk setengah burung itu tetapi instingnya begitu tajam. Ia berbalik dan mengayunkan pedangnya.


"Kau harus mati!"ucapnya mengangkat pedang ke atas. Aura hitam yang ada di dalam pedang tersebut keluar begitu banyak sampai ke atas langit.


   Semua yang melawan monster dengan keras dan menghabiskan kekuatan mereka berhenti. Mata mereka tertuju ke atas melihat aura hitam yang begitu besar menembus langit. Vin yang melawan monster ikut berhenti dan melihat kekuatan kegelapan yang sangat besar. Abimanyu melihat dengan seulas senyum sumringah akhirnya dia datang juga.


"Syukurlah dia datang!"serunya membuat Vin menoleh ke arah Abimanyu penuh tanda tanya.


"Siapa?"


"Dia adalah...Gavin; Guardians of Darkness!"serunya.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


  Semua orang melihat kekuatan kegelapan sangat besar. Makhluk setengah burung tersebut mengayunkan pedang yang seperti pecut. Garis kegelapan itu menyapu semua monster tumbuhan yang sekali tebas sudah tumbang dan kalah. Beberapa bagian pohon itu patah berjatuhan,semua orang yang di bawah segera melarikan diri menyelamatkan diri dari bagian pohon yang jatuh.


  Setelah 6 monster pohon sudah di kalahkan makhluk setengah burung itu menoleh ke belakang melihat dua orang yang menatapnya kagum. Ia menyunggingkan senyum miring dan berdiri di hadapan mereka berdua. Kedua sayap elangnya tiba-tiba menghilang bersamaan cahaya putih membuat Lidya terbelalak mengingat sesuatu.


  Ketika tidak mood melakukan apa-apa ia duduk di atas kasurnya, bosan. Lalu tiba-tiba ide baru muncul di benaknya, Lidya mengambil handphone membuka aplikasi orange untuk menulis sebuah cerita baru di karya khusus cerpen. Ia menimbang imbang berpikir mengasih judul yang bagus buat cerita barunya.


Ia menyunggingkan seulas senyum, "Bagaimana kalau aku kasih judul Gavin; Guardians of Darkness. Ia adalah makhluk setengah elang yang di buang oleh ortunya karena terlahir tidak memiliki sayap elang seperti mereka. Dan siapa sangka kalau anak itu istimewa yaitu bisa mengalahkan musuh dengan pedang kegelapannya."Kata Lidya merasa senang bisa menemukan ide cerita yang bagus dengan segera ia menulis cerita itu ke aplikasinya.


Lidya menatap seorang pemuda bak kesatria berjalan ke arahnya, ia tidak masuk ke dalam raga manusia di bumi tapi ia memakai raga imajinasi sendiri. Jadi Lidya bisa tahu siapa orang ada di hadapannya.


Pipi Lidya sedikit memerah, "Ga-Gavin!"panggilnya menatap pemuda di hadapannya.


Tio menoleh ke arah Lidya dan bertanya-tanya bagaimana bisa ia tahu. Gavin berhenti dan tersenyum,"sudah lama kita tidak ketemu."ucapnya ramah.


"Loh kalian berdua kok kenal?"tanya Tio yang semakin hari semakin membingungkan dan aneh.


Lidya menoleh berusaha tersenyum,"Hehehe, Tio. Sebenarnya pintu imajinasi yang kau buka itu membuat semua imajinasi yang ada di sana masuk ke dunia manusia dan mereka memilih bersemayam di tubuh manusia. Itu membuat manusia memiliki kekuatan seperti apa yang kau lihat."Jelas Lidya dan Tio sama sekali tidak bisa menangkap maksud Lidya.


"Intinya semua imajinasi penulis menjadi kenyataan dan Gavin yang tidak mengambil raga manusia, penulisnya tahu bahwa dia adalah karakter yang penulis itu ciptakan."lanjutnya membuat Tio sedikit paham.


Dalam hati pemuda itu kenapa ia sama sekali tidak paham akan hal itu padahal ia juga memiliki jiwa penulis dan sudah menulis cerita di buku tulis.


"Lid. Mana imajinasimu yang lainnya?"tanya Gavin.


"Imajinasi lainnya lagi bersemayam di tubuh manusia jadi aku tidak tahu. Apakah mereka(imajinasi), sifatnya sama atau tidak? Kalau penilaianku itu sifat mereka berubah total. Ya, walau sedikit kayak sifat imajinasi yang aku buat."jelas Lidya bingung harus mengatakan apa pada Gavin. Ia sangat bingung merangkai kata-kata.


Pemuda itu hanya mendengus sebal dan berkata dengan ramah. "Makanya aku tidak mengambil raga manusia dan mengirim kekuatanku pada manusia. Itu sama saja tidak jadi diri sendiri."komentarnya lalu melihat semuanya kacau akibat musuh yang kuat.


"Sepertinya aku terlambat datang ke sini."katanya singkat menyungingkan senyuman tipis.

__ADS_1


*Jangan Anggap kami Lemah*


Bersambung....


__ADS_2