
"Lidya!"teriak Riko melihat Lidya menutup kedua matanya. Johnny juga terkejut melihat tubuh Lidya sudah melemas. Ia tidak menyangka bahwa musuhnya ini tega membunuh seorang penulis karakter nya sendiri.
Johnny mengepalkan kedua tangannya menatap tajam wanita ber-iris mata merah bak iblis. Riko yang sudah naik pitam, Agung, Aska,Shenna, Melvi, dan lainnya-- tangan mereka sudah mengepal. Tomma tersenyum miring melepaskan akar tumbuhannya yang melilit di tubuh Lidya membiarkan tubuh kecil gadis itu tergeletak begitu saja.
Di tempat pengungsian mama Lidya meneteskan air mata dan memegangi jantungnya. "Ya allah, apa yang terjadi pada anakku."ucapnya seolah jantungnya ini hampir berhenti begitu saja. Ayah segera memeluk istrinya dan mencoba menghibur bahwa Lidya baik-baik saja. Hari yang tidak tahu apa-apa hanya diam dan bertanya pada mama nada polos.
"Mama, kenapa? Kok nangis gitu? Jangan nangis Ma, nanti Hari juga ikut nangis."ucap bocah kecil itu memeluk mamanya, ikut menangis.
"Mas, Lidya tidak apa-apa kan? Mana Awan? katanya dia tadi di luar tapi belum juga datang."ucap Mama begitu khawatir dengan anaknya, Lidya.
Yuli, ibu dari Pandu sudah menangis sejadi-jadinya di dalam kediamannya semua pembantu disana sudah menenangkan nyonya besarnya. Tetapi Yuli masih menangis. Ikatan batin dia sama Pandu sudah menghilang, ia juga tidak bisa merasakan lagi, hanya sakit, rasa sakit yang sangat luar biasa.
Beliau sudah menangis selama hampir mau dua jam. Dewana,suami Yuli berusaha menenangkan istrinya ia juga ikut sedih mendengar Pandu sudah tiada. Pandu pernah mengatakan padanya kalau ia sangat mencintai Lidya, suatu hari ia ingin menikah dengan Lidya.
"Ayah, ibu. Kalau Pandu sudah besar. Di masa depan aku akan menikahi Lidya. Karena gadis itu telah membuatku jatuh cinta sejak pandangan pertama."katanya waktu makan malam.
"Ibu setuju kau menikahi Lidya di masa depan. Ia anak baik-baik, cantik dan lucu. Membuat ibu bertambah muda karena tertawa."ucap Yuli setengah bergurau.
"Yang mana, ayah belum bertemu dengan gadis bernama Lidya itu."kata Ayah masang wajah cemberut.
Yuli bangkit berdiri di bantu oleh suaminya menatap ke depan dimana semua asap dan api yang menjalar kemana-mana. Petir yang menyambar ke sana kemari. "Siapapun yang membunuh anakku! Aku mau dia cepat lenyap! Dan jangan biarkan calon menantuku mati!"teriak Yuli melihat awan hitam dari balik jendela disusul oleh suara kilat yang semakin memburuk.
-
-
-
*
*
Tomma sangat senang bisa melihat Lidya sudah mati di tangannya sendiri. "Sebentar lagi, kalian imajinasi lemah pemilik Lidya akan musnah tepat di depanku!"ucapnya tertawa terbahak-bahak. Semua yang ada disana menatap Tomma, wanita gila.
Tio semakin jengkel dan ingin rasanya menebas kepalanya supaya ia bisa menutup kembali pintu imajinasi plus kehidupan manusia tidak bisa di ganggu lagi.
'Dimana kau gantungan kunci unknown?aku sangat membutuhkanmu untuk mengakhiri semua ini!'---batin Tio.
Tomma melihat semua bergantian, imajiansi yang kekuatannya telah di segel oleh Lidya. Sudah lima menit menunggu tetapi tidak ada satupun yang kekuatannya keluar dari tubuh manusia dan menghilang seperti abu. Ia melirik pangeran tumbuhan dengan tubuh terlilit kekuatannya tapi belum juga pudar dari dunia ini. Apa ada yang salah?-pikirnya.
Wanita itu melangkah maju dengan mata melotot,"kenapa imajinasi lemah seperti kalian tidak lenyap?!padahal aku sudah membunuh penulisnya!"teriaknya di balas tatapan aneh.
"Dasar gadis gila!"komentar Diana, "apa kau berencana untuk membunuh seorang penulis agar imajiansi yang di ciptakannya pudar begitu? Aku rasa itu adalah kesalahan besar."lanjutnya membuat Tomma meluncurkan dua tusukkan dari tumbuhannya mengarah ke Diana. Namun,Serangannya tidak mengenai Diana sama sekali.
"Percuma saja kau menyerang kami. Apakah kau sudah lupa apa yang di katakan Lidya tadi?"kata gadis di sebelah dingin. Ia ingin sekali melayangkan belati mengarah Tomma tapi sayangnya ia masih dalam tersegel.
__ADS_1
"Lidya bilang. Kami tidak akan terluka karena serbuk ajaib itu."lanjutnya.
"Dasar penulis tidak tahu diri. Seenaknya saja ia melakukan hal konyol,benar-benar imajinasi lemah."ucapnya menggertakkan kaki kesal.
"Dan kenapa semua masih hidup bukankah seharusnya kalau aku mematikan seorang penulis maka imajinasi yang di ciptakan oleh penulis itu akan hilang. Dan jika imajinasi yang penulisnya sama maka penulis itu akan terluka. Serta imajinasi itu juga akan sama-sama terluka."ucap Tomma melihat sekeliling bingung.
Kemudian ada suara yang terkekeh masuk ke gendang telinga Tomma, "secara tidak sadar. Hukum itu sudah di hapuskan. Dan kata-kata yang aku ucapkan dengan Lidya waktu di kamar itu adalah kebohongan besar hahaha."ucap seorang pemuda periang.
"Hahaha,kau tertipu."
"Memang wanita bodoh. Sejak awal memang aku tidak mau bekerja sama. Ya, secara tidak sadar bahwa salah satu anak buahnya adalah seorang pengkhianat."ucap Riko berada di dalam pikiran Tomma.
"Aku sudah bilang jangan gila kekuasaan apalagi ke abadian. Semua orang itu bakal mati cepat atau lambat."itu suara Johnny.
"Aku ingin sekali membunuhmu!"Nando penuh amarah.
"Aku ingin sekali melemparkannya ke jurang kalau perlu menenggelamkan."
Suara yang tiba-tiba berada di kepala Tomma membuat si pemilik merasa kesakitan. Tomma merasa kalau semua yang di katakan itu menyakitkan. Wanita itu menutup kedua telinganya dan berteriak kencang "Berhenti-berhenti" seraya berjalan ke samping kanan-kiri berusaha menyingkirkan suara-suara yang baginya menyakitkan.
Ketika suara itu menghilang. Johnny tersenyum miring,"bagaimana rasanya saat mendengar kalimat ejekan itu. Menyakitkan bukan. Apalagi kau mengatakan bahwa semua yang hadir di sini adalah Imajinasi lemah. Kau salah besar."kata Johnny menggerakkan tubuhnya ke kanan-kiri berusaha melepaskan diri dan akhirnya terlepas.
"Sudah waktunya aku mengakhirimu."kata Johnny pada Tomma.
"Lambang itu!"seru Aska membuat Fitri yang ada di sebelahnya menoleh, "lambang apa?Aska?"
"Lambang gantungan kunci itu berada di dada wanita itu. Selama ini gantungan yang di sebut itu berada di Tomma."jawab Aska pada Fitri. Fitri melotot tidak percaya.
"Jadi kita harus menyerang Tomma bersama-sama. Bagaimana pun juga."kata Fitri bersemangat.
Perlahan jari Lidya bergerak sendiri,ia belum mati hanya saja pingsan kehabisan nafas. Matanya perlahan terbuka dan mulutnya terbuka menggumamkan sesuatu,"sudah waktunya mengakhiri semua ini,"menjentikan jarinya.
Keluarlah sinar-sinar sesuai warna imajinasi memenuhi area. Tomma yang sibuk menghadapi serangan Johnny melotot tidak percaya melihat energi kuat datang. Johnny menyerang Tomma dengan kekuatannya. Gerakkan cepat Tomma berhasil mengelak serangan Johnny dan meluncurkan serangan bertubi-tubi.
'Bagaimana mungkin mereka memiliki energi kuat seperti ini? Mereka semua hanya lah imajiansi lemah? ' batin Tomma.
Tio berteriak kencang mengasih aba-aba pada yang lainnya untuk menyerang satu musuh yang merepotkan. "Serang dia dengan kerja sama teman-teman!"seru Tio.
Mereka semua menyerang Tomma secara bersamaan. Tomma mengumpulkan semua kekuatannya, Max.
"Thorn Attack Repeatedly! Max Power!"seru Tomma.
Keluarlah ribuan duri dan duri-duri itu meluncur mengarah ke imajiansi tersebut. Semuanya menyerang duri-duri yang ada racunnya, beberapa dari mereka terkena dengan cepat penyihir menyembuhkan luka itu.
Tomma segera memerintahkan pada monster besarnya menyerangnya secara membabibuta. Johnny mengikat tumbuhan besar itu menggunakan kekuatannya di bantu oleh gadis kecil bernama Tasya.
__ADS_1
Johnny menoleh dan berterima kasih pada anak itu. Tomma begitu jengkel ia mengeluarkan kekuatannya lagi namun di hadang oleh Tio.
"Apa kabar nona?"ucapnya menyerang Tomma dengan sigap wanita itu menghindar lalu menyerang balik Tio.
"Pemuda merepotkan!"
"Kau pantas mati!"teriak Aska melihat lambang gantungan unknown berada di tubuh wanita tersebut.
"Tio! Tusuk jantung wanita itu karena disana ada lambang gantungan kunci unknown!"titah Aska dibalas angguk Tio.
Pemuda berambut biru dan hitam bersebalahan itu sangat senang karena potongan puzzle terakhir pada wanita ini.
Hiyaa
Tio berlari dan menodongkan senjatanya mengarah ke Tomma dengan cepat wanita itu berhasil menghindar dan memukul Tio tepat tengkuknya. Tio seketika ambruk.
"Gerakan yang bagus tapi kau kurang cepat dariku."ejek Tomma.
Johnny mengarahkan kekuatan tumbuhnya dan berhasil melilit tubuh wanita itu. Secara tiba-tiba keluarlah aura hitam dari tubuhnya dan aura tersebut bisa memotong kekuatan pangeran dengan cepat. Tomma bergerak cepat bagai kilat tepat di belakang pangeran.
Tomma membuat pangeran tumbuhan. "Uh, kau tidak pantas jadi Raja karena aku berhasil membuatmu pingsan."
Aska mengumpat dalam hati ia segera menghampiri wanita itu dan
Mengeluarkan semua kekuatan Grey Eyes, Aska melayangkan pukulan maut ke Tomma. Mata abu-abu melotot melihat makhluk mengerikan dengan mata merah tiba-tiba muncul di hadapannya dan membuatnya jatuh pingsan.
Tama berlari sangat cepat dan lincah ia berusaha menarik perhatian Tomma. Wanita itu lagi-lagi tersenyum miring mengejek tentunya.
"Wah ada tikus nih dan seorang gadis kuat di depanku."katanya.
Tomma berusaha menjebak Tama tetapi pemuda misterius itu tidak dapat di tangkap dengan mudah. Ia sempat mengeluarkan senjata shuriken ke arah Tomma. Wanita itu berhasil menghindar dan mengeluarkan akar bertubi-tubi berusaha untuk mencekal Tama.
Shenna melemparkan badan mobil yang rusak ke arah Tomma. Montser yang sibuk menyerang imajinasi lain melihat ada benda yang ingin melukai Tomma. Monster itu menghalau melemparkan mobil itu jauh-jauh.
"Monster Sialan!"
Tomma terus menerus menyerang tanpa henti. Dan peperangan ini cukup banyak menjatuhkan korban setelah awal peperangan. Lidya bangkit berdiri mengepakkan kedua sayapnya terbang menerjang langit. Ia sudah waktunya untuk mengakhiri semua ini,sebelum itu.
"Tomma, akan ku hancurkan kau sampai tidak terisa."
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung....
Vote, like, comment, 5 Rate nya... Teman-teman... See you next time🤗. Dukung terus "Jangan Anggap Kami Lemah"--bentar lagi tamat loh!
__ADS_1