Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Dua Puluh: Gantungan Kunci Unknown


__ADS_3

Air mata terus menetes tiada henti, hatinya terasa di tusuk-tusuk melihat kematian Pandu. Ia sangat bersalah sekali padanya sebab ia tidak bisa menjawab pertanyaan Pandu tentang perasaannya padanya.


Ia melihat sekitar yang awalnya penuh api membara kini hitam, tidak ada apapun. Suara isakan Lidya terdengar menggema. Hanya Lidya seorang dengan kaki dan tangan diikat. Aura keputus asaan telah memenuhi tubuhnya. Semangat membara menyelamatkan dunia dari imajinasi seolah sirna hanya melihat salah satu temannya meninggal tepat di pangkuannya.


Memori itu akan sulit dilupakan oleh gadis bernama Lidya. Lalu terdengar lah suara lembut yang ia yakini itu adalah suara milik Pandu. Lidya mendongak melihat sekeliling, tidak ada apapun disana. Suara itu kembali terdengar.


"Lidya."panggilnya.


Gadis itu hanya bisa mendengar suaranya saja. Lidya ingin angkat bicara namun tidak bisa, hatinya terlalu sakit menerima kenyataan pahit ini. Sebuah cahaya terang berada di depan Lidya, gadis itu melihat cahaya tersebut.


Cahaya itu perlahan mendekati Lidya dan menciptakan cahaya lebih terang membuat Lidya memalingkan wajahnya, memejamkan mata. Sinar yang awalnya terang menjadi gelap gulita. Lidya perlahan membuka matanya, sudah tidak ada cahaya sedikit pun. Kemudian ada warna hitam dan ungu tepat di hadapan Lidya.


Warna tersebut membentuk seorang wanita dengan rambut panjang terurai serta di belakangnya terdapat pohon besar. Lidya terkejut melihat simbol yang selama ini hilang, gantungan kunci yang selalu ia sebut "Unknown". Bentuk gantungan kunci itu seorang wanita rambut terurai dan ada gambar pohon di belakangnya.


Setelah melihat itu kepala Lidya tiba-tiba terasa pusing sekali,"Arkhh!"


Saat kepalanya terasa sangat pusing ia sesekali mendengar suara-suara yang memberikan Lidya motivasi buat mengalahkan Keysa dan mendapatkan gantungan kunci itu. Sebab gantungan tersebut adalah jalan satu-satunya menutup pintu imajinasi dan membuat semuanya hidup aman damai seperti sedia kala.


Tubuh Lidya bersinar layaknya cahaya, gadis itu terus mengerang kesakitan, kaki dan tangannya berusaha melepaskan diri tetapi tidak bisa.


"Kalahkan Tomma. Kami akan membantumu. Dalam ragamu terdapat banyak kekuatan unggul jadi kau bisa mengalahkannya."kata seorang gadis yang entah itu siapa.


"Lidya. Nanti semua teman-temanmu membantumu. Kau kalahkan Keysa atau Tomma."kata seorang wanita lembut.


"Aku akan membantumu, Lid."kata seorang pria datar nan tegas.


"Ternyata aku memilih tubuh penulis ku sendiri. Kita selamatkan semua orang!"seru pemuda yang Lidya yakin itu suara Gavin.


"Tidak apa-apa. Singkirkan rasa sedihmu terlebih dahulu dan fokus ke tujuan utama mengalahkan Tomma. Kau pasti bisa!"


Cahaya kembali bersinar di dalam ruangan yang gelap dan hampa. Sebuah sayap terbuka membuat serangan Keysa hancur berkeping-keping, ikatan akar di tangan dan kaki Lidya hancur, seulas senyum tulus terukir jelas di sudut bibir Lidya. Penampilan Lidya berubah total yang sebelumnya gadis biasa kini menjadi gadis setengah elang.


Kedua mata Lidya yang terpejam pelahan terbuka melihat ekspresi Keysa yang terkejut melihatnya. Ia terlihat kesal karena serangannya tadi sia-sia, aura hitam penuh kebencian dan pembalasan dendam keluar dari tubuh gadis itu. Mata merahnya berubah menjadi merah gelap ia tidak terima.


Tio sudah datang dengan penampilan berbeda juga. Ia terlihat keren dengan penampilan seperti itu.


"Menyerahlah Keysa dan kembalilah ke tempat asalmu."kata Lidya lembut.


"Tidak! Aku akan tetap disini sampai misiku selesai yaitu menghabisi nyawa Pangeran Tumbuhan atau kau!"ucapnya.


Setelah itu Keysa mengumpulkan seluruh kekuatan hitam. Area pertarungan yang awalnya penuh kobaran api sekarang penuh dengan pohon-pohon gundul menjulang tinggi. Mentari pagi yang sudah menampakkan diri pun tertutup awan hitam yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


Mungkin ini suasana gelap milik Keysa--batin Lidya.


Tempat pengungsian warga terkejut melihat cuaca tiba-tiba gelap di tambah suara petir yang memekikkan telinga. Semua orang ketakutan dan memilih saling berpelukan.


"Sepertinya badai besar akan datang."tebak Caca, gadis setengah vampire itu berlari memberitahu para penyihir menguatkan perisai sihir mereka agar semua orang yang berada disini tidak terluka.


Hana hanya bisa berdoa supaya peperangan musuh itu sudah selesai. "Suasana semakin memburuk."ucapnya.


"Aku harap, semua teman-teman baik-baik saja."harap Bening melihat awan hitam yang sudah memenuhi langit sesekali ada kilatan biru disana.


Hana mencari Vin tetapi pemuda itu sama sekali tidak ada disini, tidak hanya Vin saja melainkan Vana. Elements Eyes--Red Eyes begitu berbahaya.


"Gawat! Vana turun area bersama Vin."kata Hana.


"Kalau Vin. Ia ingin membantu mereka yang ada disana. Kalau Vana, itu masih berbahaya ia sama sekali tidak bisa mengendalikan kekuatan matanya itu."kata Bening membuat Hana menghela nafas kasar.


"Sial!"


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Vin dan Vana berlari sangat cepat menuju tempat peperangan. Lalu mereka melihat begitu banyak pohon-pohon gundul menjulang tinggi di tambah lagi suasana mendung dan petir yang menyambar.


Vin merasa kalau di beberapa sisi ini ada penjara yang berukuran besar dan di dalam sana terdapat banyak imajinasi yang terkurung lalu ia juga merasa kalau ada beberapa imajinasi bersembunyi di suatu tempat dan mereka tidak berani melawan Keysa.


"Aura disini sangat menyengkram."kata Vin menoleh ke arah Vana, datar.


"Iya. Kau benar, Vin. Aura negatif disini sangat tinggi dan membuatku tidak bisa mengendalikan mata ini. Mata ini ingin sekali keluar."jawab Vana memegang mata kanannya yang sudah mode Red Eyes. Jika itu terjadi maka Vana akan melakukan hal yang sama seperti di perkemahan tahun kemarin.


"Kau harus bisa mengendalikan kekuatan Elements Eyesmu. Kau harus melawan aura negatif. Aku juga merasakan aura negatif itu lebih kuat dariku. Sebaiknya kau jemput imajinasi yang sembunyi di balik pohon-pohon besar,"kata Vin pada Vana sedikit dorongan kalau gadis itu bisa mengendalikan kekuatan Red Eyesnya yang sering kehilangan kendali,"kau pergi ke sebelah Utara: di sana ada mereka, penyihir, pertarung jarak dekat yang gesit dan pertarung lemah."lanjutnya dibalas angguk Vana mantap.


Gadis itu berlari menuju ke arah Utara sedangkan Vin menuju ke tempat area dimana kekuatan mencengkram ini berasal serta menyelamatkan teman-temannya dari benda yang dibuat khusus oleh Alone Imagination.


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


-


-


Keysa langsung melawan Lidya dengan sigap Tio menebas serangan Keysa menggunakan dua senjatanya. Dengan gesitnya Tio menari-nari di udara untuk menebas serangan Keysa bertubi-tubi.


"Rasakan ini!"seru Tio menyerang Keysa menggunakan kedua pedangannya.


Keysa menyilangkan kedua tangannya membuat pelindung dari kekuatan tumbuhannya, kakinya mundur beberapa meter dan tubuhnya hampir terhuyung kebelakang sebab kekuatan pedang yang di bawah oleh Tio benar-benar kuat.


Mata Keysa memincing melihat kedua pedang itu sangat kuat dan pedang tersebut juga bisa menghancurkan aura kebencian dalam dirinya. Riko ingin sekali membantu Tio, pemuda asing itu saat di rumah sakit masih terbaring lemah dan sekarang pemuda itu bangkit--menyerang musuh.


"Aku tidak akan diam saja. Aku harus membantu!"ucapnya mencoba untuk membantu tapi kekuatannya tidak cukup kuat membuat Riko mengacak-acak rambut frustasi.


Lidya yang berada di atas hanya menonton lalu ia melihat Riko, sedang frustasi dengan kekuatan perpindahan cepat, Lidya sudah berada di samping Riko menepuk bahu pemuda itu. Membuat si empu menoleh tekejut melihat wajah Lidya dari dekat dan bersinar apalagi ia tersenyum.


"Bantulah. Kekuatanmu sangat hebat kok. Pengendali waktu. Kau bisa melihat gerak serangan lawan dengan memperlambat waktu."kata Lidya tersenyum bersamaan tubuh Riko bersinar dan ia merasakan bahwa ia terlahir kembali.


Ia menatap kedua orang yang saling bertarung tiada henti. Keysa benar-benar muak dengan pemuda di depannya ini ia menggunakan kekuatan tumbuhannya menyerang Tio berkali-kali sehingga kedua pedang yang ada di dua tangan Tio terlempar jauh membuat Keysa tersenyum mengejek.


Ia berhasil mengikat Tio erat,"jika kau tidak menggunakan pedang itu, kau tidak akan berguna bukan. Dasar imajinasi lemah!"ucapnya memperkuat eratan lilitan tumbuhan di tubuh Tio sehingga membuat pemuda itu mengerang kesakitan.


Tio ingin memberoantak melepaskan diri tetapi tidak bisa, ini terlalu kuat. "Jangan menganggap kami lemah!"ucapnya menatap Keysa yang tersenyum penuh kepuasaan.


Gadis itu tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon itu,"hahaha, kami? Kamu aja sendirian. Lidya, penulismu hanya diam menonton ia sama sekali tidak membantu. Teman-temanmu? Teman-temanmu tidak ada disini... Mereka telah menghilang."ucapnya berusaha mengelabuhi Tio, ia berjalan mendekati pemuda itu dan memperkuat lilitan tumbuhannya.


"Arrkhh!"ringis Tio, nafasnya ingin habis saat ini ia menatap Keysa lagi,"dasar manusia tidak punya hati. Kau sama sekali tidak sadar bahwa yan--yang se-sebenarnya.. Se-sebenarnya sendirian ialah kau!"ucap Tio ke Keysa lalu Tio menutup matanya sebab kehabisan nafas seketika Keysa tertawa terbahak-bahak.


Dua nyawa sudah habis di tangannya sendiri. Ia sangat bahagia. Tinggal Lidya atau pangeran tumbuhan itu sendiri yang akan datang untuk menjemput ajalnya sendiri.


"Hahahah. Sekarang giliran..."ucapnya menoleh ke arah kanan melihat seorang pemuda yang selama ini membantunya untuk mencapai detik ini, peperangan yang baginya Indah.


Suara petir terus terdengar,Keysa berlari menghampiri Riko yang masih memandangnya diam. Tanpa babibu lagi Keysa menyerang akar tumbuhannya ke arah Riko.


Kedua matanya melotot tidak percaya melihat apa yang sebenarnya terjadi.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2