Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Lima Belas: Arkan, Buku Tio dan Cahya


__ADS_3

Lokasi yang amat jauh dari peperangan itu di menara tower, di dalam sana ada lima orang yang melihat beberapa sudut ada kobaran api membara. Ribuan drone sudah di luncurkan untuk membantu para warga mengungsi. Kekuatan imajinasi di sana juga ikut membantu yaitu membuat perisai berskala besar dan kuat agar musuh atau serangan yang melesat tidak mencelakai mereka.


Salah satu dari mereka ada Arkan, pemuda berkacamata bulat itu sibuk dengan layar komputer di depannya ini. Ia memprogram semua dronenya di komputer tersebut dan beberapa kamera yang merekam apa yang sebenarnya terjadi.


Arkan ingin sekali membantu teman-temannya menyelamatkan dunia akan tetapi ia hanya manusia biasa yang memiliki IQ tinggi. Tapi kalau menurut Arkan sendiri ia tidak memiliki IQ tinggi hanya bermodal belajar giat saja dan kebanyakan iseng-iseng untuk mempelajari sesuatu yang baru.


Itu saja tidak lebih. Arkan menyipitkan matanya melihat monster tumbuhan menyeramkan muncul lagi kali ini juga monster menyeramkan itu melawan sejenisnya. Perbedaaannya yang satu gundul yang satunya banyak bunga dan dedaunan.


Arkan beberapa melihat sisi ke sisi melihat Aska begitu semangat melawan musuh, Alone Imagination. Melviano juga dengan kekuatan esnya yang meningkat drastis, wajahnya terlihat tidak ada kata maaf. Lalu Yusuf pemuda itu menyerang seorang gadis tapi setiap ia memukul, mereka berdua sama-sama terjatuh. Membuat dahi Arkan berkerut bingung.


Ia menoleh ke arah teman-teman barunya,"apa kalian tidak memiliki alat bantuan?beberapa teman kita yang berperang ada yang kesusahan melawan."kata Arkan.


"Maafkan kami. Kami tidak memiliki senjata apapun. Kami hanya bisa mengawasi mereka."ucap salah satu dari mereka sama sibuknya dengan komputer di hadapannya. Arkan hanya mendengus sebal dan kembali menatap komputernya.


Ia hanya menjadi informasi saja lewat drone-drone itu. "Di peperangan sebelah utara ada dua manusia tergolong Alone Imagination mendekati seseorang yang mengerang kesakitan."katanya dengan sigap Arkan menjawab.


"Kamera drone berapa? Jangan sampai drone disana terkena serangan."ucap Arkan cepat karena sebanyak 300 drone rusak akibat meluncur di area pertarungan antara imajinasi.


"Drone nomer 405!"


Jari tangannya menekan tombol keyboard sangat cepat dan saat itu kedua mata cokelat Arkan membulat sempurna melihat apa yang terjadi.


-


-


-


-


-


-


-


-


Sedangkan di dunia imajinasi mereka berlima masih kebingungan atas kehilangan kelima gantungan kunci itu. Mereka panik dan tidak bisa menenangkan diri. Pandu berusaha untuk tenang begitupun dengan Tio. Pandu menarik nafas dalam-dalam berusaha tenang dan ia juga merasa ada rasa takut serta khawatir pada Lidya.


Ya, karena waktu di sekolah ia bersikeras untuk turun ke area pertarungan tapi malah menyuruhnya pergi ke tempat pintu imajinasi berada buat mengantar gantungan kunci itu.


"Semuanya tenang!"ucap Tio setengah berteriak. Ketiga temannya langsung diam menatap pemuda berambut biru itu.


"Sebaiknya kita lebih baik keluar dari sini dan membatu teman kita. Pasti mereka sudah mulai berperang."kata Tio mengambil buku dari pinggangnya.

__ADS_1


Veno menelan silvana susah payah mendengar kata perang. Sebelumya ia sudah menyelamatkan kota dari manusia yang di kendalikan Roro tapi kali ini berbeda. Hati kecil Veno enggan ikut berperang sebab ia masih sayang sama nyawa. Nia berteriak antusias sudah tidak sabar keluar dari pintu imajinasi ini dan berperang.


Dyah mengangguk mantap. Tio membuka buku itu dan buku tersebut kosong melompong tidak ada tulisan membuat kedua matanya membulat sempurna.


"Tidak mungkin!"ucapnya berteriak membuat keempat temannya menoleh ke Tio dengan ekspresi "ada apa?"


"Ada apa Tio? Kenapa kau tiba-tiba berteriak seperti itu?"tanya Dyah.


"Lihatlah bukuku tiba-tiba tidak ada satu tulisan apapun. Kosong melompong. Padahal selama aku bawa masih ada tulisan loh."ucap Tio begitu panik melihat tulisan di dalam buku itu tiba-tiba menghilang apalagi yang di bawa oleh Tio adalah buku milik neneknya.


Mana mungkin tulisannya tiba-tiba menghilang mendadak seperti sihir. "Kalau begini kita tidak akan ada pentunjuk lagi. Biasanya ada petunjuk dari buku nenekku."keluh Tio menunduk, beberapa helaian rambut birunya tertiup angin.


Pandu menepuk bahu Tio pelan,menyakinkan tanpa ada buku itu mereka akan merebut dunia mereka dari imajinasi jahat. Kedua rusa itu tiba-tiba berubah menjadi wanita cantik bak bidadari turun dari surga.


Dengan rambut tergerai bebas, hiasan mahkota kecil di atas kepala seperti tanduk rusa,pakaian putih dan bersinar. Senyuman manisnya itu membuat siapa saja yang melihatnya akan ikut senang.


"Siapa kalian?"tanya Nia menunjuk kedua wanita itu tersenyum.


"Kami adalah penjaga. Dewi penjaga yang membuat suasana ini tenang."kata salah satu wanita itu.


"Gantungan kunci yang kalian kumpulkan menghilang sebab mereka terbang ke bumi kalian untuk membantu teman-teman kalian. Yang mati-matian melawan imajinasi jahat."


"Ya, karena tidak sengaja imajinasi jahat itu bangkit kembali sebab energi kebencian, pembalasan dendam. Serta ia juga tidak terima kalau ia kalahkan oleh pangeran tumbuhan."kata wanita tersebut.


"Tungggu dulu. Kalian berdua kenal dengan pangeran tumbuhan itu?"tanya Pandu menunjuk dua Dewi penjaga penuh menyelidik.


Tio juga tidak kalah terkejutnya mendengar hal itu. Pangeran tumbuhan spertinya aku pernah mendengarnya tapi dimana?.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Lidya melihat kedua manusia tergolong Alone Imagination menghampirinya yang kesakitan. Salah satu dari mereka berdua mengeluarkan pisau membuat Lidya terbelalak melihat benda tajam itu akan melukai tubuhnya.


Ia melihat sekeliling mencari barang yang mampu menghalau pisau tajam tersebut akan tetapi nihil, ia sama sekali tidak menemukan benda apapun di sekitarnya. Api-api yang membara membuat suasana menjadi panas serta malam semakin larut dan yakin beberapa jam fajar akan tiba.


Ia berlari dan mengangkat pisau itu setinggi-tingginya ke Lidya. Mata cokelatnya membulat melihat ujung lancip pisau itu serta bayangannya di sana.


"Patron Attacking!"


Sebuah pelindung terbuat dari cahaya dan orang yang ingin menyerang Lidya terpental menjauh,menubruk benda yang ada disana. Seorang pemuda melompat tinggi dan mendarat mulus, berdiri membelakangi Lidya. Mata gadis itu terbelalak tidak percaya.


Pemuda itu megayunkan pedang di selimut cahaya di hadapan musuh seketika musuh itu lagi-lagi terpental jauh. Cahaya tubuh pemuda tersebut berubah antara senang dan tidak percaya.


"Terima kasih, Charlie."ucap Lidya tersenyum sumringah.


"Sama-sama, Lidya."ucapnya dengan suara berat, ia balik badan menghadap ke Lidya, lagi-lagi gadis itu dibuat tidak percaya.

__ADS_1


"Cahya!"teriaknya sedikit shock.


-


-


-


-


-


"Cahya, apa kau di tubuh Charlie?"tanya Lidya entah harus berkata apa. Cahya menggeleng.


"Tidak aku sudah keluar dari tubuh Charlie dan menyuruh anak itu ke pengungsian. Aku tidak mau melihat ia terluka parah. Apalagi mati di tangan musuh, pasti keluarga akan terpukul mendengarnya kalau ia mati."kata Cahya jongkok di hadapan Lidya. Pemuda itu menatap lekat mata Lidya.


"Dimana Joe?"tanya Cahya.


"Joe ada di tubuh Yusuf. Ia melawan Meika. Jadi aku kesakitan disini meski aku tidak ikut berperang."jawab Lidya sembari merintih kesakitan di bagian perut.


Cahya melihat perut Lidya yang sudah ada darah. Ia berpikir keras, 'mungkin mereka sudah melawan paksa dan tidak mau mengalah'.


"Hmm pasti temanmu akan datang kesini. Ia membawa penyihir penyembuh. Aku akan pergi."ucapnya tersenyum tipis bangkit berdiri.


"Tunggu,sebelum kau pergi. Kau tidak mengatakan apapun padaku? Sesuatu untuk penulis karaktermu."ucap Lidya.


Cahya menghela nafas berat, cahaya yang ada di dalam tubuhnya sedikit meredup karena ia sekarang memikirkan temannya Joe. Teman yang bertindak seperti anak kecil. Cahya sedikit menoleh ke Lidya, berkata, "selamatkan dunia dari imajinasi jahat dan selesaikan bukumu itu. Jangan terbengkalai terus-menerus. Dan... Kau jangan mati."kata Cahya dingin lalu ia pergi secepat cahaya.


Lidya hanya tersenyum sedikit terkekeh,dalam hati mendengar ucapan Cahya barusan. Ucapan dari imajinasinya langsung.


'Begini ya, kalau bicara sama imajinasi sendiri secara langsung. Agak geli dan merasa senang. Cahya memang gitu, selain perhatian ia juga memiliki sifat dingin'--batin Lidya.


"Lidya,Lidya!"teriak Lina dari belakang bersama seorang penyihir di sampingnya.


"Kau tidak apa-apa kan. Tunjukkan bagian mana yang sakit supaya tuan sihir ini bisa menyembuhkankanmu."kata Lina panik sekaligus khawatir membuat Lidya tekekeh sembari menahan sakit.


Lidya melepaskan pegangan dari perutnya dan melihat darah keluar dari perutnya. Lina melotot soalnya ia terlalu lama pergi sampai rasa sakit itu berubah menjadi luka. Dengan segera penyihir tersebut mengobati dengan mana sihirnya.


"Healing injury!"


Sebuah cahaya biru mengarah ke perut Lidya yang terluka secara perlahan luka tersebut perlahan tertutup membuat Lina terpukau melihat tingkat sihir penyembuhan sangat hebat. Lidya hanya tersenyum melihat tingkah temannya ini begitu antusias. Setelah selesai menyembuhkan luka.


Lidya sudah tidak terasa sakit dan rasa sakit yang tiba-tiba juga menghilang. 'Apa Cahya benar-benar menghentikan Yusuf dan Meika?'--batinnya.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung....


Ikuti terus cerita Jangan Anggap Kami Lemah sampai tamat😊. Bentar lagi kok udah Tamat. Jangan lupa tekan like, coment dan votenya. Kalau kalian nggak mau ketinggalan sama ceritanya tekan Fav biar tahu kalau cerita ini update. See you next chapter...


__ADS_2