
Dalam perjalanan menuju Drak Shadows. Bus tiga yang dipenuhi oleh manusia memiliki kekuatan membuat kekacauan. Lidya ingin menulis tidak bisa karena ia berada di kursi depan dimana roda berada di bawah kursi jadi goyang kekanan atau kekiri membuat konsentrasinya buyar. Tidak hanya itu saja kendala lainnya adalah semua penghuni disini ada yang teriak karena aura negatif Vin yang menyebar bagian belakang sedangkan Vin sendiri sibuk dengan smartphone miliknya menghiraukan Tina dan Sarah sedari tadi berteriak ketakutan.
Ini membuat Lidya mendengus sebal dalam perjalanan 3 jam itu tidak sebentar, perjalanan sangat jauh sekali. Kalau begini terus Lidya akan merasa bosan. Lidya duduk bersebelahan dengan Kak Melvi--ketua osis yang dingin kayak es. Di cuaca cerah ini Melvi memakai baju sedikit tebal dan memakai syall di lehernya karena ia tidak mau teman-teman lainnya kedinginan jika menyentuhnya.
Di sebelah kursi kanan Lidya ada tiga kelompok girlsnya yang di duduki tiga orang yaitu; Anggi, Lina dan Fitri. Lidya pikir Lina akan duduk bersebelahan sama Jay tapi pemuda itu duduk bersebelahan dengan Ferdi--penganggu. Kata Hana tadi biar Ferdi tidak rusuh saat kemah.
Pandu,Beni dan Arkan berada di kursi belakang Lina. Pantesan Pandu tadi turunnya bareng sama Arkan, dia bersebelahan sama Arkan. Lengan Lidya di colek sama orang belakang, ia menoleh kebelakang ternyata Cantika menyuruh ke bangku Hana, ada yang penting. Lidya menggeleng dan menyuruh pakai pesan saja lewat smartphone. Belum berapa detik Lidya mengatakan itu ada sebuah suara tanda pesan masuk ke smartphone Lidya.
Gadis itu menekan layar smartphonenya dan membaca pesan dari Hana. Takut kalau terjadi apa-apa.
Hana pembaca batin:
Kemahnya akan berlangsung menyenangkan. Kau tahu kan? Hehehe.
Me:
Aku pikir, ada apa-apa tadi. Dasar Hana -_-'
Lidya menarik nafas panjang berusaha sabar menyikapi Hana setelah menyikapi Lina. Ternyata ia bertemu dengan orang-orang menyebalkan tetapi itu semua menbuat hari Lidya senang dan bisa tertawa bareng sama mereka. Jika tidak ada mereka, ia akan merasa terasingkan seperti awal masuk sekolah dulu.
Kak Melvi memberikan sepotong cokelat ke Lidya. Gadis itu mengerit bingung ke Melvi, dia dikenal sebagai ketua osis yang tegas sekaligus dingin ia jarang sekali berbicara dan paling aktif di kegiatannya sebagai osis. Melvi menatap kedepan tanpa menoleh mengarah ke sampingnya, "apa kau mau cokelat? Di dalam tasku banyak cokelat."katanya sedingin es. Lidya tersenyum dan mengambil potongan cokelat.
"Tawarkan ke teman-temanmu siapa tahu mau cokelat."kata Melvi memberikan satu batang cokelat ke tangan Lidya. Lidya hanya mengangguk mengiyakan perkataan Kak Melvi, ia menawarkan cokelat ke samping dan belakangnya. Pandu tersenyum mengembang dan ingin mengambil cokelat dengan segera Beni menepuk tangan Pandu dan menyuruhnya duduk.
"Apa kalian bertiga mau?"tanya Lidya tersenyum. Beni tersenyum dan mengambil tiga cokelat lalu Lidya menyalurkan cokelat tersebut sampai kursi belakang. Lidya memakan cokelat pemberian Melvi,"terima kasih Kak Melvi."ucapnya.
"Sama-sama."jawabnya dingin dan terus menatap ke depan tiba-tiba bus melaju sangat lambat dan berhenti di pertengahan jalan.
Pak Adam dan Bu Ajeng yang berada di depan bertanya pada Pak supir bus. "Loh pak mengapa berhenti perjalanannya masih jauh loh."kata Bu Ajeng. Pak supir kelihatannya mencoba untuk menyalahkan mesin bus kembali namun gagal.
"Sepertinya bus ini mogok bu. Biar saya chcek dulu."kata Pak supir turun dari bus disusul Pak Adam membenarkan mesin bus. Semua murid didalam bus kembali rusuh terutama di belakang. Lidya mendengar Sarah terus beteriak ketakutan begutipun Tina. Mereka belum bisa menerima kekuatan aura negatif milik Vin jadi mereka terus kisruh menyuruh Vin pindah.
__ADS_1
Bening tersenyum senang,"aku harap Sarah dan Tina tidak membuat kerusuhan saat kemah."harapannya sambil berdoa meminta bahwa nanti kemah berjalan lancar sampai pulang. Lidya juga berharap seperti itu.
Jay bangkit berdiri dan duduk disebelah Vin. Ardi disuruh pindah ke tempat duduknya yang bersebelahan dengan Ferdi. Saat Jay duduk bersebelahan sama Vin. Sarah dan Tina bernafas lega karena aura negatif milik Vin seolah tidak aktif kalau dekat dengan Jay yang memancarkan aura positif di dalam tubuhnya.
Setelah menunggu lebih dari 10 menit akhirnya bus kembali melaju menuju tujuan utama kami semua. Biar nggak merasa bosan Bu Ajeng menyuruh mereka bernyanyi bersama dan juga bermain tebak-tebakan membuat semua orang jengkel tidak terima. Setelah bermain ada beberapa murid mulai mengantuk dan memilih tidur nanti tinggal bangun mengemasi barang-barang turun. Lidya mulai mengantuk sesekali menguap, ia menyandarkan punggung di kursi dan memejamkan matanya tidur.
Suasana yang tadi ribut sekarang sunyi, banyak yang tidur dan ada beberapa murid yang sibuk dengan smartphone masing-masing. Ada yang satu kursi tidur semua. Lidya berapa kali mencoba tidur dengan posisi enak. Melvi melirik ke Lidya merasa kasihan sama adik kelasnya ini. Ia menepuk pipi adik kelasnya, Lidya merasakan ada rasa dingin seperti es yang menepuk-nepuk pipinya ia bergumam lemah.
"Tidur di bahuku saja daripada tidurmu tidak nyenyak."ucapnya. Lidya tidur di bahu Melvi yang hangat ini,"apa perjalanannya masih jauh?"tanyanya Lidya pelan.
"Masih tinggal satu jam setengah."jawab Melvi dingin.
*Jangan Anggap Kami lemah*
Drak Shadows 36 memiliki hutan yang sangat luas dan cocok buat kemah atau piknik bersama keluarga dan teman-teman. Tidak sedikit orang yang menyewa lokasi ini buat acara kemah untuk murid-murid sekolah serta belajar baris-berbaris. Saking luasnya di pintu depan terpasang sebuah peta besar tempat wilayah yang sudah ditentukan, sisanya adalah tempat yang tidak boleh dilewati oleh pengunjung.
Kendaraan sudah berdatangan semua kakak pembina yang sudah sampai duluan karena paling depan dan memang ada beberapa pembina yang berda di bus-bus peserta. Mereka menyuruh semua baris terlebih dahulu sebelum membawa barang-barang bawaannya.
Kakak pembina memberitahu bahwa ada dua titik yang akan dijadikan lokasi perkemahan. Sebelah timur tempat semua murid SMK dan SMA sedangkan sebelah barat murid SMP. Kakak-kakak itu membaca kegiatan hari ini yang tidak terlalu berat.
Semua menggendong barang bawaan yang lumayan berat. Dan mereka semua berjalan memasuki Drak Shadows 36 bergantian karena pintunya kecil jadi harus sabar menunggu. Sampai dimana lokasi yang akan menjadi lokasi buat kemah. Kakak pembina menyuruh untuk berkumpul sesuai kelompok yang sudah ditulis di alun-alun kota tadi.
Lidya dan Bening mencari Farah serta kelompok lain,yak lama kemudian mereka bertemu di tempat sedikit pojok. Lidya mengkerutkan dahi,"kenapa ada di pojokkan?"komentar Lidya.
"Biarkan saja lebih baik disini. Noh lihat sebelah juga berada di pojok juga. Nggak usah bacot mending kita cepat-cepat buat tenda."Kata Vana gadis berkulit cokelat itu nada kesal. Bening hanya menggeleng dan memegang dada mencoba bersabar melihat kelakuan Vana sedikit menjengkelkan. Lidya mendengus sebal harus bertemu orang menyebalkan seperti dia.
Kelima laki-laki itu membawa tenda dan perkataan lainnya untuk membangun tenda. Tendanya hanya satu dan tentunya luas serta mereka juga memberikan pembatas. Agung menyuruh memegang cagak tendanya dan menarik kuat dan lurus. Tenda sudah mengembang. Kevin menawarkan diri untuk membantu Agung.
"Terus siapa yang memegang cagak itu?"tanya Agung. Pandu dari kelompok lain atang membantu,"biar aku saja yang memegang cagaknya kalian berdua segera menali tendanya."kata Pandu menggantikan posisi Kevin.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka berhasil membangun tenda yang besar dibantu oleh kelompok lain. "Terima kasih bantuannya."kata Agung menjabat tangan Pandu.
__ADS_1
"Sama-sama."jawabnya.
Para gadis semua sibuk menyiapkan peralatan masakan dan bahan-bahan lainnya. Beberapa anak laki-laki mencari kayu untuk acara api unggun. Selena membawa kompor kecil yang biasanya dibuat untuk kemah dan Lidya membawa peralatan dapur, Bening membawa bahan-bahan masakan bersama Vana. Arka dan Arsa membawa kantong kresek besar buat tempat sampah dan pembersih piring.
Terlihat semua murid senang dan menikmati acara kemahnya. Seulas senyum di bibir Pak Arlan melihat semua gotong royong. Di kelompok Lina selalu saja didatangi oleh para gadis karena ia satu kelompok dengan Jay, Lina tidak tahu mengapa ia bisa berlari cepat kearah pemuda yang membuatnya tergila-gila saat mos sampai sekarang.
"Aku sudah bilang Jay pergi mencari kayu!"teriak Lina kesal. Shena tersenyum melihat Lina seperti bodyguard setia Jay. Dan bisa dibilang kelompok Lina banyak laki-lakinya daripada yang perempuan. Hanya 3 gadis dan sisanya laki-laki semua.
Di kelompok Anggi kebalikan kelompok Lina. Di kelompok Anggi banyak sekali gadisnya daripada laki-lakinya. Laki-laki hanya ada 4 orang sisanya gadis semua. Beda lagi kelompoknya Lidya, seimbang. Tapi itu semua bukan halangan jika mereka saling membantu maka kelompok tersebut pantas menjadi juara dengan kelompok paling kompok saling membantu.
Lidya tidak bisa memasak ia hanya mengamatinya Vana dengan asiknya memasak tahu dan tempe di penggorengan. Vana menatap ke Lidya tidak suka,"jangan diam saja disitu bantu aku masak!"perintahnya nada membentak. Lidya kaget melihat sikap Vana yang suka membentak, ia terlihat brutal dan anehnya ia memilih sekolah kesehatan.
Bagaimana caranya Vana melayani pasien kalau sikapnya saja seperti ini? Jangan-jangan nanti pasiennya cepet mati terkena jantung, batinnya. Ia menuruni perkataan Vana, ia memotong sosis yang sudah ada disana.
"Jangan terlalu banyak. Ambil 3 sosis saja terus potong kecil-kecil."ucap Vana tidak bisa nada santai selalu saja pakai tekanan atau tidak seperti mak-mak ngomel.
Saat Vana menggoreng Lidya yang dekat dengan kompor terkena minyak membuat Lidya meringis kesakitan,"auh!"ucapnya mengibas-ngibaskan tangan kananya. Vana melirik ke Lidya sebentar,"gitu aja. Sakit."katanya menyindir.
Farah berteriak memanggil yang lainnya untuk berhenti sejenak dan makan terlebih dahulu. Semua orang duduk melingkar diatas karpet yang dibawah oleh Arsa tadi. Lauk pauk sudah berada di tengah-tengah dan ada nasi yang banyak juga. Mereka bersepuluh makan bersama dan melahap makanan dengan cepat.
Lidya makan sedikit dan mengambil lauk pauk juga sedikit. Selena yang melihat porsi makan Lidya sedikit bertanya,"Lid. Sedikit banget kau mengambil makananya. Ambil yang banyak bentar lagi kita bakal aktivitas lebih banyak loh apalagi besok."kata Selena dibalas gelengan kepala.
"Aku memang makan seporsi segini, sedikit."kata Lidya pelan tersenyum tipis lalu melahap makannya.
Vana menatap wajah Lidya sebentar dan melanjutkan makanannya kembali. Bening yang melihat tidak ada wajah ceria dalam diri Lidya merasa kasihan. Karena daritadi ia dimarahi oleh Vana.
Aku harap Vana cepat minta maaf ke Lidya,batin Bening berharap banget.
Fandra yang berada disebelah Lidya mengambil lauk pauk ke piring Lidya. "Makan lauk pauk yang banyak kalau nasimu sedikit. Itu sudah menambah energi kok."ucapnya tersenyum. Lidya mengangguk pelan tanpa menoleh kearah Fandra.
Mereka semua terlalu baik padanya sedangkan ia tidak pernah membalas kebaikan mereka yang setimpal.
__ADS_1
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...