Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Episode Delapan Belas:Bangkitnya Imajinasi


__ADS_3

   Setelah selesai membersihkan diri,gadis berambut panjang lurus tersebut memakai pakaian sederhana dan mengoleskan sedikit bedak di wajahnya. Ia mengambil sisir dan merapikan rambut dengan sisir itu, lembut dan kedua matanya terus menatap pantulan bayangan di cermin besar di depannya.


Ketika asik menyisir, dibelakangnya melihat sosok Jay tengah tersenyum. Kedua matanya melotot dan segera berbalik kebelakang ternyata tidak ada siapapun. Setelah merapikan rambut, ia memilih duduk dekat jendela dan menatap luar jendela, memegang dagu dengan kedua tangannya. Matanya menatap langit senja, awan yang awalnya putih berubah menjadi awan hitam.


Lina menatap awan-awan itu yang perlahan menampilkan wajah Jay tengah tersenyum padanya. Sontak aja ia kaget dan segera menggeleng mencoba mengusir pikiran tentang Jay. Ia ingin sekali melupakan Jay sejenak dan perkataannya tadi. Sungguh perkataan yang menyakitkan.


"Apa selama ini?Jay tidak percaya cinta sehingga ia mengatakan itu padaku?"tanya Lina meragukan perkataan Jay tadi. Bisa jadi Jay tidak percaya adanya Cinta sehingga ia mengatakan itu pada Lina. Tapi kalau melihat dari wajahnya dan tutur katanya, Jay begitu serius mengatakan itu. Tidak ada kata berbohong dari wajahnya.


Berarti selama ini Jay mengatakan sebenarnya tapi mengapa harus tipe pemuda yang selama ini Lina cari. Pertama kali datang di SMK Cemerlang dan Mos,ia sudah mengamati Jay dari jauh.


Jay kata kalau ada seseorang yang diam-diam melihat matanya secara tidak langsung orang itu akan jatuh hati padanya. Kekuatan itu tidak akan pernah berhenti atau hilang. Jika ia terus memandang Jay secara diam-diam. Lina akan terus berusaha kalau ia benar-benar mencintai Jay, murni. Tidak karena efek kekuatan menghipnotis Cinta.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Cinta selalu membuatku terhipnotis


Setiap kali aku menatapmu


Aku selalu terkena kharismamu


Setiap aku menatap matamu...


Kau selalu membuatku tersihir oleh ketampananmu


Namun aku sadar oleh sesuatu


Sesuatu rasa yang sangat luar biasa.


Yaitu Cinta yang suatu hari nanti


Kita bakal disatukan oleh nama cinta.


Kata-kata yang Indah telah tersusun rapi disebuah buku kecil, bulpennya terus menari diatas kertas kosong yang kini terdapat kata mutiara. Setelah menulis, seulas senyum terukir jelas di wajah gadis imut tersebut. Ia tidak tahu kenapa? Kata-kata itu muncul begitu saja di benaknya. Setelah selesai menulis, ia menutup buku kecilnya itu lalu mencari tumpukan kertas hvs yang kemarin sengaja di tumpuk untuk melanjutkan menggambar.


Lidya mencari kertas-kertas tersebut di beberapa laci meja belajarnya lalu kertas itu berhasil ditemukan. Kertas-kertas diletakkan diatas meja belajar dan diambilnya pelaratan pensil sekaligus pewarna. Lidya memilih gambar yang menumpuk yang ingin di warnai pertama.

__ADS_1


Matanya terpaku dengan karakter bernama Cahya jadi teringat kebaikan Charlie. Diambilnya gambar tersebut lalu segera diwarnai dengan sepenuh hati. Meski pakaian yang digambar oleh Lidya tidak sesuai dengan Imajinasi  yang penting ia sudah menggambar tokoh tersebut membuat hatinya sangat lega.


Masih ada banyak tokoh yang sudah dibuat Lidya, gambarnya dan tidak sedikit yang belum digambar olehnya. Tokoh Imajinasi yang dibuat Lidya sangatlah banyak, saking banyaknya ada gambar langsung beberapa karakter sesuai di dalam ceritanya. Seperti Power Of The Rings,My Idol My Hero, dan masih banyak lagi.


Lidya begitu fokus memawarnai gambar bernama Cahya itu. Tanpa disadari waktu cepat berlalu, langit senja sudah hilang tergantikan malam. Gadis itu merentangkan kedua tangan ke atas dan menghela nafas melihat hasil warna pada gambarannya. Menurut Lidya lumayan bagus. Lalu dikemasnya barang-barangnya supaya tidak terlihat berantakan.


"Mbak! Waktunya makan!"teriak Awan dari luar kamar.


"Iya, bentar. Nanti aku bakal kesana!"balas Lidya yang masih merapikan barangnya. Setelah selesai membereskan gambar-gambar itu ia segera keluar kamar dan Lidya tidak menyadari bahwa ada satu gambar yang belum masuk kedalam lacinya. Kertas itu bergambar seorang pemuda berwajah pas-pasan dan ada sebuah tulisan di pojok kertas berukuran kecil:'Mendapatkan kesialan'.


Seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah makan malam. Lidya menarik kursi makan dan duduk dengan tenang. Ayah dan mama tersenyum. "Bagaimana sekolahnya?"tanya mama membuka topik pembicaraan sambil menuangkan air di dalam gelas.


"Seperti biasa."balas Awan melahap dua suapan makananya.


"Iya, biasa saja tidak ada yang menarik."timpal Lidya melahap makananya dan mengunyahnya lembut.


"Apa disekolah tidak ada keributan atau masalah?"tanya mama membuat Lidya menghentikan nafsu makananya sejenak,menatap mama sedikit heran. "Tidak ada."kata Lidya bohong dan melanjutkan makanannya.


"Jika ada apa-apa bilang ayah. Nanti orang itu bakal kapok."kata ayah dibalas anggukan Awan dan Lidya.


"Hari berada di kamarnya, tidur. Soalnya tadi siang nggak tidur."balas mama sambil melahap makanannya dan meneguk air sedikit. Setelah acara makan malam, Lidya kembali masuk kedalam kamarnya dan mengecek smartphonenya ternyata ada notif dari Lina beberapa menit yang lalu.


Gadis itu duduk di atas kasur menatap layar Smartphonenya membalas pesan Lina. Ia rasa Lina sangat kebingungan dan ingin curhat besok. Ini membuat rasa kepo menyerang hati dan pikiran Lidya tentang Lina. Apa mungkin karena pemuda bernama Jay itu? Karena Jay lah yang tadi pergi bersama Lina.


Aaah mereka terlihat romantis hahaha,pikir Lidya.


Ia menghela nafas panjang lalu membaringkan tubuhnya di kasur empuknya menatap ke langit. Rasanya ada yang kurang seperti ada yang tertinggal. Lidya diam memikrikan apa yang tertinggal selama ini. Ia menoleh kearah nakas dan teringat ia belum menulis cerita di dunia oranye. Membuat hatinya sangat janggal.


Lidya berganti posisi berbaring menjadi duduk, punggungnya dikasih sandaran bantal dan diambilnya smartphone itu. Kedua jari tangannya yang sudah lihai menekan layar segera menggeser mencari aplikasi oranye dan menulis sebuah cerita cerpen disana tentang seorang gadis kuat yang menolong pemuda pembawa sial.


Sialnya pemuda itu sehingga hidupnya tidak bisa tenang dan ada-ada saja yang menimpa dirinya. Tidak ada satupun teman yang mendekati pemuda itu karena sudah terkenal dengan nama 'pembawa sial' padahal pemuda itu tidak menyalurkan nasib sialnya pada orang lain. Melainkan pada dirinya sendiri. Sedangkan gadis kuat itu bagaikan super hero dengan penampilan mencolok dari rambutnya. Ya, rambutnya berubah menjadi merah menyala.


Seulas senyum lagi-lagi terlukis di wajah imut Lidya, ia sudah terbawa susana imajinasinya di dunia oranye. Jam terus berlalu dan sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam,ia meletakkan smartphone miliknya kembali ke nakas dan tidak lupa batrainya diisi buat besok disekolahnya.


Badan terasa pegal dan otak ingin beristirahat,besok kembali beraktivitas seperti biasa. Lidya kembali membaringkan tubuhnya di kasur dan perlahan memejamkan mata,siap menyambut hari esok bakal menyenangkan dari hari ini dan hari kemarin. Ia tidak mau mendapatkan bully lagi dari Tina, Sarah dan Ferdi.

__ADS_1


Entah bagaimana membuat ketiga itu jera.


Suasana kamar Lidya begitu sunyi hanya terdengar detik jam. Sebuah kertas yang terdapat gambaran tokoh mengeluarkan sinar dengan berwarna berbeda-beda. Sinar berwarna warna-warni itu bertebangan mengelilingi kamar Lidya seperti burung yang tersesat masuk kedalam ruangan tertutup.


Salah satu cahaya berwarna biru mendekati Lidya dan mendarat ke pipi lembut gadis itu. Merasa ada sesuatu di pipinya itu,Lidya segera menggosokkannya dan cahaya berbentuk bola kecil kembali terbang. Seolah cahaya biru itu adalah pemimpin cahaya-cahaya tersebut. Cahaya itu bersinar begitu terang membuat Lidya menarik selimut sampai kepala, melanjutkan tidurnya.


Cahaya biru tersebut berubah menjadi pemuda berumur 18 tahun memakai jaket berwarna biru, rambutnya blonde, mata biru, seulas senyum yang menggemaskan. Beberapa cahaya juga menjelma menjadi seorang remaja seumuran Lidya. Cahaya putih berubah menjadi pemuda berpakaian serbah putih seperti kesatria dan ia memakai jubah menutupi rambut cokelatnya, di tangannya terdapat pedang yang siap menebas apapun.


Cahaya berwarna merah menampilkan gadis remaja berambut bergelombang, rambutnya merah, memakai pakaian berwarna hitam. Ia tidak membawa satu senjata apapun, wajah gadis itu begitu tegas namun ada rasa kelembutan darinya.


Cahaya-cahaya yang lainnya enggan menampilkan wujud mereka masing-masing di kamar Lidya. Mereka sadar kalau kamar Lidya tidak bakal cukup menampung mereka yang berjumlah ratusan. Pemuda memakai baju biru tersebut membuka mulutnya ingin mengatakan sebuah informasi yang sama sekali tidak diketahui oleh pencipta karakter mereka yang sekarang telah tidur pulas di ranjang dengan menutupi semua sekujur tubuh pakai selimut.


Pemuda tersebut menatap mengarah kedua orang di depannya, cewek dan cowok.


"Okay,tidak usah lama-lama langsung ke inti saja. Kita semua akan segera bangkit di dunia nyata. Kalian bebas memilih siapa saja sesuai kemampuannya. Kita harus menunjukkan bahwa orang-orang lemah itu bisa menjadi hebat."katanya penegasan dan sesekali melirik Lidya yang tidur pulas. Takut kalau Lidya bakal mendengar perkataannya barusan.


Semoga saja tidak,batinnya.


"Kita harus cepat dan tidak boleh sama memilih mereka yang ada diluar sana. Karena aku sudah berpengalaman, ada beberapa anak yang hatinya penuh kebusukan jadi kita harus memilah mana yang baik sebelum keputusan."katanya lagi.


"Aku harap, tidak ada kerusuhan sesama imajinasi. Jika itu terjadi itu bakal menjadi masalah besar."kata gadis berambut merah.


Pemuda berpakaian putih itu hanya diam tidak berkutik sama sekali. Ia membuka suara,"ayo, kita memilah sebelum pagi datang."katanya tidak sabaran.


"Kita tidak bisa membangkitkan rasa semangatnya jika titik lemah belum terlihat. Sekarang hanya tinggal beberapa ratus cahaya yang belum mendapatkan tugas dan ada diluar sana yang sudah masuk kedalam raga seseorang."kata pemuda pakaian biru itu dengan mata penuh menggoda. Gadis yang ada didepannya ingin muntah.


"Kalian semua berangkatlah dan hati-hati. Dunia itu ada terbagi dua sesuai dunia kita ada yang jahat dan baik."ucapnya membuka jendela kamar. Semua cahaya keluar bebas di langit malam. Gadis berambut merah dan pemuda yang peka dalam apapun kembali ke wujud cahaya dan melesat terbang ke angkasa.


Pemuda tersebut masih berada di sana,menoleh melihat Lidya yang mencetaknya dalam imajiansinya itu masih menutupi wajahnya dengan selimut. Ia mengangkat jari telunjuknya dan jari tersebut mengeluarkan sinar biru. Jari tersebut yang awalnya tegak perlahan menunduk. Selimut yang menutupi wajah Lidya perlahan menurun menunjukkan wajah yang begitu tenang saat tertidur.


Pemuda tersebut mendekati gadis yang terbaring di atas kasur,tersenyum. Lalu sebuah ide terlintas dalam benaknya, ia akan berada di dalam rumah ini beberapa hari atau minggu. Ingin melihat aktivitas Lidya dalam sehari-harinya dan ide nakal. Suatu hari ia akan tahu bahwa imajinasinya yang selama ini ditulisnya di buku atau di dunia oranye,menjadi nyata.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2