Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Enam Puluh satu:Berpindah di hutan


__ADS_3

   Mereka semua pamit ke pengurus panti Bibi Maya dan Yusuf. Lina mengelus rambut lembut Caca sedangkan Lidya mengelus pipi Keno sambil mengatakan kalau ia akan rindu dengan Keno. Anak laki-laki itu memeluk Lidya menatap mata indah sempurna milik gadis itu, Keno mengerakkan kedua telinga kucingnya membuat seulas senyum manis menerka di bibir Lidya.


"Jangan lupa Keno ya, kak. Kalau kakak rindu sama Keno kakak bisa datang ke panti ini bersama Kak Yusuf."ucap Keno tersenyum menoleh mengarah ke Yusuf tengah tersenyum simpul. Lidya menatap Yusuf senyum lalu kembali menatap ke Keno.


"Keno jangan nakal ya."pesannya dibalas angguk Keno.


   Beni tersenyum dan mengucapkan terima kasih banyak atas undangannya untuk datang kesini terutama Yusuf. Pemuda itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih banyak telah datang serta membantu membersihkan panti.


   Seorang pemuda bertubuh tinggi datang, ia juga mengucapkan terima kasih ke Yusuf dengan mengundang semua teman datang kesini dan bisa berkawan baik dengan SMK Cemerlang. Yang lain merasakan ada aura berwibawa dalam diri pemuda tersebut.


  Rambut panjang lurus pemuda itu terlihat seperti pangeran kerajaan jaman dulu. Lidya melihat pemuda tersebut dari ujung rambut sampai ujung kaki dia seperti seorang Raja. 


Yusuf tersenyum dan mengangguk pelan,"sama-sama Ibrahim. Terima kasih juga sudah hadir di acara open house ku."


"Ya sudah. Aku dan lainnya akan segera pulang ke rumah. Permisi Yusuf dan Bibi Maya."ucapnya sopan dan hormat sedikit membungkuk lalu dia pergi. Beberapa murid SMK Cemerlang menatap punggung pemuda berwibawa tersebut dan ada yang membuka mulut melihatnya.


"Wah dia seperti ada aura berkharisma di dalam tubuhnya hampir mirip seperti Jay."komentar Arkan seraya membenarkan kacamatanya yang miring.


"Di-dia seperti pangeran zaman dulu, kaisar?"komentar Anggi menaikkan sebelah alisnya tidak terlalu yakin dengan komentarnya sendiri.


"Dia adalah Raja sekolah SMA Negeri satu. Ia memang seperti Raja dan tidak sedikit murid di sekolahku memperlakukan dia seperti seorang Raja, asli. Tapi ia tetap murah hati tidak sombong."jelas Yusuf tentang pemuda bernama Yusuf.


Jay menoleh kearah Yusuf, "dia memiliki kekuatan?"tanyanya Yusuf mengangguk mengiyakan,"ya, dia memiliki kekuatan yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain. Dia berbeda. Aku belum tahu, kekuatannya seperti apa? Selama dia menjadi buah bibir di sekolah masalah kekuatannya aku dengarnya sih begitu... Dia berbeda. Ada yang unik."jelasnya menghela nafas pelan.


     Setelah bercakap-cakap dengan Yusuf tentang SMA Negri satu akhirnya semuanya pulang ke rumah masing-masing. Di mobil Van milik Pandu, semuanya membahas kehebatan murid SMA Negri. Tidak seperti gadis yang duduk di bangku depan, ia sekarang diam dan berpikir bagaimana ia bisa menghentikan pertambahan imajinasi yang masuk ke dalam manusia.


Lidya yakin bahwa semua imajinasi-imajinasi itu memiliki tujuan yang jelas berbeda-beda. Dahi Lidya berkerut dengan kedua mata menatap kedepan. Pandu yang ada disebelahnya sesekali melirik kearah Lidya sebentar dan kembali fokus mengendarai.


"Sedang berpikir tentang apa?Lid? Sepertinya kau berpikir keras."ucapnya membuat Lidya menoleh ke Pandu--ia sepertinya orang paling peka seperti ibunya waktu itu. Tidak perlu di jelaskan ia sudah tahu, tebakan yang sangat benar.


"Tidak. Aku hanya berpikir saja tidak terlalu keras dan memaksa."kata Lidya menutupi sesuatu yang ada di pikirannya untung saja disini tidak ada Hana. Coba saja kalau di mobil ini ada Hana bisa buyar. Kalau di pikirkan lagi Hana bukan orang yang mulutnya ember.


Semua orang yang duduk di bangku penumpang masih ramai membahas sekolah Yusuf, mereka tidak ada henti-hentinya membicarakannya. Fitri menjentikkan jari dan ia sepertinya mengingat sesuatu, sesuatu yang tidak pernah terbesit di pikiran teman- temannya. Semua orang diam, suasana di mobil menjadi tentram.


Anggi,Beni, Arkan, Aska menatap kearah Fitri penuh tanda tanya. Riko, ia lebih fokus menatap jalanan dari balik jendela mobil sambil tangan kanannya menyangga dagu.


"Apa di sana?di SMA Negri satu tidak ada yang memiliki penyerap kekuatan atau meniru kekuatan orang lain?"ucap Fitri membuat semua orang di dalam mobil terkejut.

__ADS_1


Riko yang sebelumnya tidak peduli menoleh, datar. Sepertinya ini pembahasan yang menarik untuk di kupas. Lidya menoleh kebelakang terkejut mendengar perkataan Fitri barusan itu membuatnya lebih khawatir kalau disana ada yang memiliki kekuatan seperti itu.


Tapi untuk apa Lidya menjadi lebih khawatir padahal belum ada tanda-tanda musuh disini. Namun feelingnya lebih dekat dan yakin bahwa semua cepat atau lambat, semuanya dalam bahaya. Ia tidak mau seperti itu.


"Oh itu pasti keren!"kata Fitri senang.


Arkan terdiam sejenak lalu angkat bicara, "aku rasa, itu tidak keren."pendapatnya membuat semua orang menatap Arkan sedikit tidak percaya ia akan mengatakan itu.


"Memangnya kenapa Arkan?"


"Coba deh kalian berpikir secara perlahan dan membayangkan kalau di sekitar kalian ada orang yang memiliki kekuatan seperti itu. Dan ia menyerap kekuatan kalian secara diam-diam tanpa kalian sadari atau meniru. Apa kalian tidak sedih atau iri begitu? Terkejut bisa jadi."jelasnya panjang lebar, semuanya diam dan berpikir.


Aska menatap ke depan dan merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia bisa merasakan kalau di depan ada ratusan atau bakal ribuan bayangan yang menyebar di seluruh wilayah. Matanya menyipit menatap ke depan, berkerut samar nan serius. Arkan yang ada di sebelah Aska terheran melihat tingkah aneh Aska, tidak seperti biasanya.


"Eh Aska? Kau melihat sesuatu apa di depan? Kau serius banget gitu."kata Arkan.


Beni yang memiliki mata penembus ikutan menatap kedepan, melihat tembus jauh--hanya ada kendaraan berlalu lalang dan pejalan kaki tidak ada apapun disana.


"Memangnya ada apa?aku tidak bisa melihat apapun di depan hanya kendaraan dan orang pejalan kaki."kata Beni.


Sedangkan Riko berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi pada Aska sebelumnya ia tidak pernah bertingkah seperti orang yang memiliki kekuatan.


  Mata Aska kembali terbuka terganti berwarna abu-abu. Jalan raya, kendaraan, gedung, kios semuanya berganti menjadi tempat berbeda. Pandu secara otomatis menghentikan mobilnya yang tiba-tiba berada di tengah-tengah hutan.


Ya, mereka berdelapan berada di pertengahan hutan sekarang membuat semua orang disana terkejut bukan main sekaligus terheran-heran.


"Kita kok ada di hutan?"ucap Anggi sedikit panik ia melihat luar jendela banyak sekali pohon rindang menjulang tinggi dan tempatnya sepi.


Mata Aska masih berwarna abu-abu dengan segera Arkan menggoyangkan tubuh Arkan pelan. Pemuda itu tersadar dan warna manik matanya berubah normal tetapi tidak dengan tempat mereka yang sekarang tempati.


"A-apa yang terjadi?"tanya Aska seperti tidak sadar apa yang ia lakukan.


"Apa kau tidak ingat sama sekali,Aska?"tanya Arkan memastikan.


Aska menoleh ke kanan dan ke kiri ia berada di hutan serta teman-temannya mulai panik serta terheran-heran.


"Duh, kalau kita berada disini dan tidak bisa balik gimana?"ucap Anggi panik.

__ADS_1


"Semua tenang. Jangan panik okay, kita perlu berpikir bagaimana kita menemukan jalan pulang."kata Pandu menyuruh semua tidak panik.


  Beni menggunakan kekuatan matanya untuk menembus pandang, apakah ada jalan keluar. "Sepertinya kita harus berkemah disini sementara."kata Beni.


Dibalas pekikkan semua orang terutama Anggi, "APA? KITA UDAH BERKEMAH DUA KALI DAN HARUS BERKEMAH DI HUTAN JUGA SETELAH DI DRAK SHADOWS DAN PANTI ASUHAN!" semua yang ada di dalam mobil tutup telinga kecuali Pandu.


Riko menatap tidak suka ke Aska, ia melipat kedua tangannya. "Bagus, sekarang kita tidak bisa balik ke rumah hanya gegara kekuatan dari Aska. Memindahkan kita ke tengah-tengah hutan belantara dan kupastikan disini masih banyak binatang buas."kata Riko menuduh Aska.


Tentu saja membuat semua orang terbelakak menatap ke arah Aska. Pemuda itu menunduk dan Arkan sebagai saksi menyuruh mereka tenang dan positif thingking.


Lidya menatap Aska tidak percaya kalau dia punya kekuatan juga. "Kau punya kekuatan Aska?"tanyanya tidak percaya.


Aska menggeleng,"aku tidak tahu."


"Apa?tidak tahu?coba kau pikirkan lagi yang jelas-jelas kau penyebab semua ini."kata Riko kesal.


Fitri berdiri dan melihat Riko tatapan tajam,"sejak kapan kau bisa bicara? Waktu kau pergi ke panti. Kau diam saja, tidak berkata satu kalimat pun. Sedangkan sekarang kau sekali berkata seperti cabai!"protesnya ingin memukul Riko tapi berhasil di cegah oleh Beni yang untungnya tempat duduknya di tengah-tengah.


"Sudah. Jangan berantem dan kita semua harus turun. Anggap saja ini adalah ujian kehidupan."kata Beni menyuruh semua turun dari mobil.


   Suasana di hutan sangat dingin karena banyak pohon dan juga terasa sejuk. Aska duduk di bawah pohon menyandarkan punggung dan kepala mendongak, memejamkan kedua mata. Dalam hatinya merasa bersalah membawa teman-teman satu mobil terjebak di hutan dan yakin sangat jauh dari desa sekitar. Membuka mata perlahan sambil menghela nafas berat.


  Lidya yang melihat Aska tersenyum dan menghampiri kakak tirinya itu. "Hei ketua kelas sekaligus kakak tiri...ku."ucapnya tersenyum duduk di sebelah Aska. Pemuda itu menoleh menatap Lidya yang masih ingat waktu di kantin, ia nangis tersedu-sedu karena di bully oleh Tina dan Sarah.


"Jangan sedih. Aku tidak mau lihat kakak tiriku sedih."kata Lidya terkekeh dibalas kekehan Aska.


"Kau tidak pantas menghiburku dengan kata-kata seperti itu."kata Aska. Lidya menatap kesal Aska dibalas tawa kecil semakin membuat Lidya kesal dan wajahnya merah menahan emosi.


"Hahaha, kalau begitu baru aku bisa terhibur."kata Aska akhirnya membuat emosi Lidya menurun dan pipi merah karena emosi berubah menjadi blush..


"Aska nyebelin!"protes Lidya.


Lalu mereka berdua terdiam sejenak dan melihat semuanya masih sibuk mencari jalan keluar terutama Beni. Aska tidak tahu, kekuatan apa yang singgah di dalam tubuhnya bisa memindahkan sesuatu ke tempat lain dan bingung cara mengembalikannya.


*Jangan Anggap Kami lemah*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2