Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Dua Enam: Pintu, Perasaan dan Awal Baru


__ADS_3

Johnny memberikan gantungan unknown itu ke Tio,"segera lakukan untuk menutup pintu imajinasi."katanya. Tio merasa senang bisa mendapatkan potongan puzzle yang hilang itu. Ia menatap gantungan kunci di tangannya dan menggenggam erat. Akan menutup pintu imajinasi.


Jeremy pria berambut putih salju dan jubah berwarna putih di tambah cahaya yang bersinar di tubuhnya tersenyum ke arah Lidya. "Terima kasih, atas kerja sama kalian bersama makhluk imajinasi. Aku akan membawa makhluk imajinasi yang masih bersemayam masuk ke pintu imajinasi."ucapnya di balas angguk yang lainnya tetapi tidak dengan Lidya.


Lidya menatap Jeremy, ia kenal dengan pria itu. "Tunggu, aku meminta untuk imajiansi itu keluar dari tubuh temanku ke bentuk asli imajiansi. Biar mereka tahu, imajinasi apa yang bersemayam di tubuh mereka."pinta Lidya, ia sebenarnya tidak terima kalau imajinasi-imajinasinya akan menghilang dan bertemu lagi di dunia khayalan.


Dimana seorang penulis bermain untuk berimajinasi demi menciptakan cerita, kata-kata mutiara, gambaran yang akan di tulis di sebuah kertas putih. Jeremy hanya tersenyum dan mengiyakan permintaan Lidya.


Cahaya berwarna warni keluar dari tubuh mereka dan cahaya tersebut berwujud dengan beberapa bentuk. Lidya melihat, tidak menyangka bahwa ada juga yang berbentuk hewan, ia kira bentuk manusia. Mereka semua tidak menyangka dan berkenalan dengan imajinasi tersebut. Sebuah cahaya keluar dari tubuh Lidya terdapat dua cahaya,satu putih dan kuning.


Kedua cahaya itu menjelma menjadi dua pemuda, Gavin dan Cahya. "Kenapa penulis ku meminta pada Jeremy untuk menunjukkan wujud imajinasi kita berdua?"tanya Cahya menaikkan sebelah alisnya, curiga.


Gavin hanya tersenyum, menyenggol lengan Cahya,"kau ini, sopan dikit napa? Kan dia udah baik hati menciptakan karaktermu hehehe."kata Gavin sedikit mengejek Cahya sembari terkekeh kecil. Cahya ingin sekali memukul Gavin tetapi Lidya melerai keduanya.


"Hei hei, kalian berdua ini. Jangan berantem gitu dong. Malu kali sama yang lain. Kalian ini memang bertolak belaka ya."kata Lidya melirik bergantian kedua pemuda di sampingnya ini.


Tio juga bercakap-cakap dengan kedua adik kakak yaitu Ren dan Simon. Ren masih tetap aja bersikap dingin dengan Tio membuat pemuda berambut biru itu hampir naik pitam.


"Tadi penampilanmu sangat bagus dan berotot tapi saat kami berdua menghilang. Otot aja tidak punya, penampilanmu juga mencolok."cibir Ren nada datarnya, melipat kedua tangan di perut.


Tio sangat kesal,"enak saja kalau ngomong. Kau tidak tahu apa kalimat pepatah soal 'mulutmu harimaumu' ha!"


Dengan entengnya Ren berucap,"tahu lah. Mulutmu harimaumu berarti mulutku mauku, terserah aku mengatakan apapun kan mauku."


"Bukan itu maksudku, Bangk*k!"


Simon yang ada di sebelah kakaknya hanya tertawa mendengar adu mulut yang baginya lucu. Lidya yang melihat itu pun tak kuasa menahan tawa sampai ada air yang menetes di matanya. Riko menghampiri Lidya di susul dengan imajinasinya,seorang pria memakai topi yang menutupi sebagian wajahnya di tangan pria itu terdapat tiga jam yang melingkar di pergelangan tangannya serta kalung yang memiliki gantungan jam.


"Rom!"panggil Lidya. Riko melirik ke arah pria bernama Rom lalu menatap Lidya heran, mengapa ia tahu nama pria yang jelas terdengar aneh di telinganya.


Rom hanya diam tidak menjawab sapaan Lidya. Mungkin part di buku Lidya sudah habis jadi pria tua itu enggan angkat bicara.


"Lid. Kita ke pengungsian buat bertemu dengan yang lainnya pasti orang tuamu menghawatirkanmu."kata Riko dibalas angguk Lidya.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Orang yang ada di pengungsian segera bangkit dan memeluk anak-anaknya, tidak dengan mereka yang sudah kehilangan kedua orang tua akibat peperangan besar serta orang tua yang kehilangan anaknya. Lidya memeluk mama dan ayahnya bergantian, ia senang sekaligus sedih.


Riko hanya menatap dari jauh, wajah kebahagiaan yang terpampang jelas di wajah orang-orang itu. Ia rasa, hanya dia seorang yang sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang orang tuanya. Pemuda itu juga, tidak tahu--apakah orang tuanya meningal atau masih hidup.


Seorang pria tampan menghampiri Riko yang hanya diam disana menatap kosong orang yang tengah melepas rindu dan meneggelamkan rasa kekhawatiran akibat peperangan besar, menyeramkan.


"Butuh pelukan?"tanya pria bernama Alan, wali kelas 10 MM1--SMK Cemerlang.


Riko mengalihkan pandang ke arah lain berusaha jual mahal, ia tidak secengeng mereka, Riko adalah laki-laki yang kuat, cukup air matanya keluar saat peperangan itu untuk terakhir kalinya dan tidak kedua kalinya. Ini sebuah penegasan untuk dirinya sendiri.


"Tidak perlu."ucapnya datar.

__ADS_1


Alan menaikkan Sebelah aslinya,"yakin nih?"tanya Alan memastikan kalau Riko tidak perlu pelukan. Riko melirik ke Alan sebentar, pria itu seolah menunggunya untuk Riko berubah pikiran.


"Baiklah, kalau gitu aku pergi dulu. Kayaknya sekolah bakal libur sampai mendapatkan tempat baru buat belajar."ucap Alan pamit dan berkata tentang sekolah. Pria muda itu berjalan meninggalkan Riko yang tengah menatap punggung pria muda.


"Tunggu!"


Langkah Alan berhenti dan menoleh ke arah Riko. Pemuda itu langsung menghampiri Alan dan memeluknya erat. Riko kembali menangis dan berkata apa yang selama ini ia simpan sendiri. Alan terkejut melihat Riko yang tiba-tiba memeluknya. Pria itu memeluk Riko, tersenyum,"tidak apa-apa. Suatu saat ada orang yang mengerti perasaanmu."


--


--


--


-


-


-


-


-


Keenam gantungan kunci yang hilang sekarang sudah kembali ke tangan Tio. Pemuda itu mengulum senyum sudah waktunya semua ini berakhir. Ia tidak akan pernah melupakan kejadian ini selama hidupnya, kejadian yang senang bercampur sedih.


Angin semilir menerpah wajah Tio. Ia sudah masuk ke dunia imajinasi menatap batu yang memiliki simbol bentuk sama seperti gantungan kunci. Joe, pemuda berambut blonde itu menyuruh Tio segera meletakkan gantungan itu pada batu di sana.


"Aku ingin memastikan saja. Apakah setelah aku meletakan gantungan 'unknown' ini. Tidak ada satupun orang di bumi yang memiliki kekuatan bukan?"tanya Tio pada mereka.


Joe tersenyum ia menyakinkan pada Tio kalau semua ini sudah berakhir. Semuanya sudah pulang dengan kebahagiaan dan ada juga yang sedih.


Cahya angkat bicara,"semua orang akan melupakan kejadian ini kecuali orang tertentu saja yang tidak akan pernah melupakan kejadian ini termasuk kau."


"Kami juga tidak janji. Kekuatan itu, masih ada atau tidak setelah kejadian itu. Kami tidak bisa memastikan jelas suatu hari kekuatan itu akan muncul di masa depan. Tapi saat ini semua kekuatan imajinasi benar-benar lenyap di dunia manusia."jelas Ren datar.


"Entah di masa depan bakal muncul atau tidak. Kami tidak tahu. Yang penting,"Gavin menepuk bahu Tio yang masih ragu,"kalian manusia bumi bisa hidup damai lagi dan membangun lembaran-lembaran baru."


"Terima kasih. Aku akan segera menutup pintu imajinasi terima kasih."ucap Tio tersenyum lalu pemuda tersebut meletakkan gantungan kunci unknown di tengah batu tersebut.


Ketujuh gantungan tersebut bersinar-bersinar membentuk segi enam dengan garis saling terhubung kemudian sinarnya keluar begitu silau. Tio menutup matanya dengan tangan.


Sling!!!


Setelah cahaya itu menghilang Tio perlahan menurunkan tangannya dan ia sudah berada di dalam hutan tempat dimana ia menemukan pintu imajiansi. Pemuda tersebut merabah-rabah berusaha memastikan kalau pintu imajinasi itu sudah menghilang.


Tangan Tio menggenggam udara, pintu itu sudah menghilang artinya ia sudah menempati janjinya dan kerja sama dengan adik kakak itu, Ren dan Simon. Tio sangat senang, air mata kebahagiaan keluar dari kelopak matanya.

__ADS_1


Ia mengambil buku yang ada di pinggangnya, buku neneknya. Di bukannya buku itu kedua matanya terbelalak kaget sebab tulisan di buku neneknya sudah kembali. Pemuda itu berteriak kegirangan dan berlari menuju ke teman-teman barunya.


Lidya menatap wilayah yang rata dengan puing-puing bangunan, tanah penuh abu serta orang-orang yang meninggal. Gadis berambut panjang bergelombang itu naik di atas puing-puing menatap langit yang sudah cerah seolah ini adalah awal kehidupan baru.


Tera, Elle, Anggi, Fitri dan Lina menyusul Lidya ikut menatap langit biru cerah. Angin meniup dengan kencang.


"Kita mulai dari nol."ucap Elle.


"Ya. Kita mulai dari nol dan teman-teman kita sudah berkorban demi kedamaian ini."jawab Lidya pelan.


"Akhir peperangan yang sangat indah,"kata Anggi menoleh ke arah Lidya,"air mata sedih dan kebahagiaan telah menetes. Aku tidak menyangka kalau Keysa adalah Tomma dan dia juga menjadi potongan akhir puzzle yang hilang itu."lanjutnya menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Hahaha. Tidak perlu di pikirkan. Ngomong-ngomong kita, mau tinggal di mana? Kota ini sudah hancur."ucap Tera akhirnya. Gadis berambut pendek itu mengingatkan sesuatu begitupun Lidya.


"Kita pindah ke kota Selatan!"teriak mereka berdua kompak, Tera dan Lidya.


Sedangkan beberapa pemuda yang mengawasi keenam gadis itu hanya menggeleng saja. Aska tersenyum melihat gadis berambut pendek itu, ia rasa ia telah jatuh hati pada gadis berkekuatan tumbuhan. Beni melirik ke Aska yang secara diam-diam tersenyum sendiri.


"Ka, kenapa kau senyum-senyum sendiri?"tanya Beni membuat Aska terkejut.


"Ah.. Tidak!"balasnya kaget.


Nando memasang wajah curiga dengan temannya satu ini,"kau jatuh cinta ya?"


"Tidak!"


"Ya, kau jatuh cinta dengan salah satu gadis di sana! Apa mungkin kau menyukai Tera ya?"tebak Nando membuat pipi Aska memerah, ia membantah perkataan Nando yang seenaknya menggoda.


"Enak saja kau bicara!"teriak Aska membuat keenam gadis itu menoleh melihat Aska dan Nando sempat-sempatnya bermain kejar-kejaran.


Mereka tidak sengaja menangkap ucapan Aska yang kencang banget dan Nando tidak henti-hentinya menggoda Aska agar mengucapkan rasa sebenarnya.


"Tera! Aska menyukaimu karena dia punya hutang budi padamu!"teriak Nando.


"Tidak! Itu tidak benar. Nando hanya membual Tera!"serga Aska.


"Kalau gitu Tera buat aku aja ya?"ucap Nando.


"Nggak! Memangnya Tera barang apa? Dan mana mungkin Tera menyukai pemuda galak sepertimu!"


Tera hanya tersenyum, kedua pipinya merah merona. Fitri menggoda Tera,"Tera. Aska suka loh sama kamu. Bilang ke dia, kalau kau suka padanya."godanya.


Lidya yang melihat itu hanya tertawa. Anggi malah menggoda Fitri bahwa ia mirip sekali dengan Nando serta menyuruh Fitri memilih Nando dan Riko. Ya, karena kejadian di hutan belantara kalau Fitri itu suka menarik emosi Riko.


Lidya teringat kalau teman-temannya sempat mengatakan kalau Pandu menyukainya. Dan itu benar kalau Pandu menyukainya. Hanya saja Lidya ingin mengucapkan sesuatu saat waktu yang tepat tapi sayangnya...Pandu pun tidak sempat mendengar ucapan dari mulut Lidya langsung.


"I love you too, Pandu."gumamya pelan.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...


__ADS_2