
Air mata terus membasahi pipi Lidya, gadis itu menunduk, tanganya mengepal kuat. Hatinya teriris melihat Keysa telah membunuh temannya yang berharga dan ia juga tidak sempat membalas perasaannya ke Pandu.
Aku selama ini diam-diam menyukaimu,Pan. Hanya saja, aku tidak menunjukkan secara langsung. Mengapa aku melarangmu untuk pergi ke medan perang dan menyuruhmu untuk pergi ke Tio, mengembalikan gantungan kunci itu? Karena aku tidak mau kau terluka. Tapi kenapa kau malah datang ke sini dan menyelamatkanku. Kenapa? Kenapa?
Suara hati Lidya sangat sedih atas kepergian Prima Pandu Dewana, pemuda itu sering sekali membuat Lidya tidak merasa kesepian, selalu membelanya saat Lidya di bully dan memerhatikan dirinya. Air bening terus membasahi pipi Lidya.
Keysa tidak ambil pusing ia mengeluarkan akar tumbuhannya untuk melilit tubuh gadis di hadapannya yang sudah penuh luka di tambah lagi semangat membara untuk menghabisi Keysa sudah pudar. Gadis berambut panjang itu tersenyum lebar melihat Lidya sudah penuh keputus asaan dan kesedihan yang mendalam.
Akar-akar pohon itu sudah menjulang tinggi dan tubuh Lidya sudah di ikat, dengan kedua tangan di atas dan kedua kaki di bawah. Kepala Lidya menunduk melihat ia sudah berada di atas tanah dengan akar-akar yang melilit anggota tubuhnya. Dalam hatinya ia sudah pasrah, ia tidak bisa menyelamatkan semua orang yang ada di bumi dari imajinasi jahat.
Harapan yang pernah di ucapkan oleh Lidya tahun kemarin, berharap kalau imajinasinya benar-benar nyata. Ia akan merasa senang dan ia akan mendapatkan seorang teman yang mengerti perasaannya. Nyatanya tidak sesuai harapan. Imajinasi-imajinasi datang ke bumi dan menjadi nyata karena suatu alasan yang sedikit menyimpang. Menyebabkan semuanya menjadi seperti ini, kota-kota hancur semuanya hancur.
Keysa tertawa jahat disana. Riko hanya bisa berlutut disana tanpa berkutik sedikit pun membantu Lidya. Ia telah menyesal apa yang selama ini ia perbuat. Riko diam-diam memata-matai teman-temannya untuk mengetahui titik lemah lalu melapor ke Keysa padahal ia sudah tahu rencana busuk Keysa. Namun, ia masih menghiraukan dan tersadar bahwa semuanya terjadi begitu cepat. Ia menatap jasad Pandu yang ada disana.
Maafkan aku, Pandu. Maafkan aku semua teman-temanku memang aku orang tidak berguna--batin Riko.
-
-
-
-
-
-
Tempat dimana semua imajinasi di tahan yang melihat kejadian beberapa menit yang lalu terkejut bukan main. Mereka semua sangat terkejut dan sampai ada beberapa yang tubuhnya tidak bisa bergerak sementara waktu melihat salah satu temannya meninggal di tangan musuh. Kepalan tangan mereka ingin sekali meninju dinding penjara transparan.
Beberapa waktu lalu ketika ada serangan turun dari langit membuat mereka menghilang dari area peperangan adalah untuk mengecoh saja. Agar mereka semua masuk ke penjara berukuran besar dan keberadaan penjara tidak bisa di lihat oleh siapaun. Orang yang ada di penjara tersebut bisa melihat keluar tetapi orang luar tidak bisa melihat orang yang ada di dalam penjara atau melihat penjara imajinasi dengan mata telanjang.
"Aku rasa. Aku ingin sekali menghabisi nyawa gadis tidak punya hati itu. Ia melebihi Roro."ucap Nando emosi menggenggam cekalan gadanya erat.
Hanami memegang segala sisi penjara imajinasi ini, tidak ada. Ia tidak merasakan apapun. Gadis bersurai ungu dengan kuncir kuda itu bingung. Aska melihat dengan Grey Eyesnya mencoba melihat wujud penjara imajinasi itu tetapi usahanya sia-sia saja. Ia juga tidak menemukan jalan keluar menggunakan mata ini.
"Ah sepertinya kekuatan mataku tidak beguna disini."kata Aksa.
__ADS_1
Fitri memukul bagian penjara imajiansi pun tidak bisa seolah penjara ini tidak berwujud apapun. Mata Fitri terbelalak melihat semua teman-temannya, "gawat! Penjara ini tidak memiliki wujud asli. Benda tidak berwujud!"katanya.
"APA?"
"Jadi kita harus bagaimana?"ucap salah satu dari mereka panik.
Melvi yang ada disana berusaha menutup telinganya tapi itu percuma saja. Mereka semua terlalu banyak dan suara mereka kesana-kemari tidak berhenti. Aura tubuh Melvi perlahan semakin dingin, semua imajinasi yang merebutkan pasal untuk keluar dari penjara imajinasi pun merasakan suasana dingin bak kutub Selatan.
Awalnya berisik sekarang mereka diam sibuk dengan kegiatan menghangatkan diri. Setiap mereka bicara kepulan asap keluar dari mulut, tubuh mereka juga rasanya ingin menjadi es.
"Ya allah. Dingin banget di sini kayak kita di dalam freezer kulkas, dingin banget."celetuknya memeluk diri erat-erat.
Lalu Melvi menurunkan aura dinginnya dan berucap,"kalau berisik aku bakal membuat kalian beku."ucapnya dingin sontak saja mereka terkejut apa yang dikatakan pemuda es seperti Melviano itu.
"Apa kau nggak panik apa? Kalau kita semua terjebak di sebuah penjara yang sama sekali tidak ada bentuknya dan orang yang di luar sana tidak bisa melihat keberadaan kita!"teriak salah satu dari mereka sembari menunjuk keluar memperlihatkan Keysa yang akan menyiksa Lidya di luar sana.
Dengan santainya Melvi menjawab,"santai saja. Kita nunggu orang luar yang membebaskan kita. Aku tahu, mereka akan datang kesini."ucap Melvi menatap ke depan memperlihatkan kedua iris mata berwarna biru cerah.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Gadis bersurai hitam tersebut mengeluarkan tumbuhan tajam berukuran besar mengarah ke Lidya tepat di perutnya.
"Pin Root Attack!"seru Keysa.
Akar yang memiliki sudut lancip seperti jarum itu melesat cepat mengarah ke Lidya berbarengan dengan tawa Keysa.
"Hahahaha, matilah Lidya!"teriaknya tertawa jahat.
Matahari sudah hampir menunjukkan diri, sinar mentarinya sudah keluar untuk menerangi kota yang penuh dengan kobaran si jago merah. Semua imajinasi yang ada di penjara melotot melihat serangan tumbuhan milik Keysa. Mereka berteriak berusaha untuk menyadarkan Lidya yang masih di landah kesedihan. Namun usaha mereka gagal sebab suara mereka tidak bisa di dengar oleh orang luar.
Riko yang melihat itu terpengangah, ia tidak bisa bangkit berdiri seolah kedua kakinya ada yang menahan untuk lari dan menghentikan serangan Keysa yang sudah berlebihan. Akhirnya Riko berteriak sekencang-kencangnya,"TIDAK!"teriaknya begitu keras.
Serangan Keysa mau mengarah ke perut Lidya hanya tinggal 6 meter lagi, senyuman menerkah di sudut bibir Keysa. Dalam hatinya bahwa kemenangan dirinya akan menjadi kenyataan. Kepala Lidya terangkat, mata yang terpejam penuh air mata terbuka melihat akar berduri mengarah cepat ke perutnya.
Ketika akar itu sudah hampir ke perut Lidya tiba-tiba sebuh cahaya kuning berada di perut Lidya dan menjadi sayap yang seolah ingin membentang. Akar tumbuhan itu seketika patah membuat Keysa terkejut.
Sayap putih terbuka lebar setiap sayap itu menatap benda, benda itu langsung hancur. Akar yang mengikat tangan dan kaki Lidya terlepas bergitu saja. Luka-luka yang ada di tubuh Lidya sudah sembuh. Tubuh Lidya bersinar seperti cahaya, sayap putih bak elang berada di punggung gadis itu.
__ADS_1
Kedua matanya berubah menjadi kuning cerah. Mata Keysa berubah menjadi merah gelap, ia sangat marah melihat seorang penulis yang memiliki kekuatan. Hal itu sangat-sangat mustahil bagi seorang penulis. Tangan Keysa mengepalkan kuat. Riko yang melihat itu kagum, ia sangat terpesona dengan Lidya.
Gadis itu terlihat seperti Angel bukan seperti manusia setengah elang sebab ada cahaya di sekeliling tubuhnya. Rambut gelombang Lidya di kuncir tinggi di tambahi oleh mahkota bunga menghiasi kepalanya. Jantung Riko berdebar-debar.
"Apa ini yang di maksud oleh Pandu selama ini?"tanya Riko pada dirinya sendiri.
"Jika kau bingung dengan perasaanmu sendiri. Suatu hari kau akan tahu perasaanmu sebenarnya tepat di depan mata."
"Tepat di depan mata?"
"Iya. Kalau kau melihat ia sedih atau senang. Kau secara tidak langsung ikut sedih dan senang. Itulah awal, aku menyukainya tapi,"ucap Pandu.
Di tambah lagi Lidya yang awalnya sedih sekarang tersenyum seperti gadis itu terlahir kembali.
Keysa mengumpulkan semua kekuatannya dengan amarah masuk ke dalam tubuhnya,"mana mungkin seorang penulis memiliki kekuatan? Mana bisa! Aku yakin! Kalau kau Lidya! Kau adalah seorang penulis!"ucap Keysa penuh amarah menunjuk Lidya yang masih menatap Keysa dengan senyuman menerkah.
"Iya. Aku memang seorang penulis dan aku juga tidak memiliki kekuatan seperti temanku yang lainnya."jawab Lidya lembut masih dengan senyuman menerkah.
"Nggak mungkin! Pasti kau pasti berbohong! Mana mungkin penulis bisa mendapatkan kekuatan itu!"teriak Keysa masih belum menerima,aura hitamnya memenuhi seluruh tubuh gadis itu. Aura pembalasan dendam sudah di ujung batas.
Riko menoleh, ia melihat ada sebuah penjara imajinasi yang terletak tak jauh dari lokasi kejadian. Keysa mengepalkan tangan erat masih tidak percaya, mata merahnya melihat Lidya yang sudah berubah menjadi penyelamat.
Dari sebelah timur datanglah seorang pemuda berambut biru dan hitam, ia menggunakan pakaian zirah dengan warna sama persis dengan warna rambutnya.
"Kata siapa seorang penulis tidak memiliki kekuatan seperti teman-temannya. Aku Tio Wulan Sandi, memiliki kekuatan tanpa disadari oleh teman-temanku dan aku juga seorang penulis."kata Tio datang dengan tampilan berbeda lebih bergaya dengan rambut jabrik berponi, tatapan matanya tajam, bibirnya seksi,ototnya kekar, zirah yang di pakainya pun sebelahan.
Sebelah kanan berlengan panjang berwarna hitam, sebelahnya tanpa lengan sehingga memperlihatkan otot kekarnya-biru. Di punggungnya ada dua senjata yang memiliki ukuran sama. Dua senjata itu memiliki kekuatan yang levelnya tinggi bisa menebas apapun termasuk aura hitam yang ada di tubuh Keysa.
"Menyerahlah Keysa dan kembalilah ke tempat asalmu."kata Lidya lembut.
"Tidak! Aku akan tetap disini sampai misiku selesai yaitu menghabisi nyawa Pangeran Tumbuhan atau Lidya."ucapnya.
-Jangan Anggap Kami Lemah-
Bersambung...
Dukung terus "Jangan Anggap Kami Lemah" tekan like, vote dan comment. Kalau nggak mau ketinggalan sama chapternya tekan Fav. Yang udah tekan, ku ucapkan terima kasih. Ikutin terus ceritanya sampai akhir. Yang udah baca sampai sini sekali lagi terima kasih😚.
__ADS_1