
Murid baru tahun ajaran 2026-2027 telah memenuhi lapangan sekolah SMK Cemerlang. Di tahun ini murid-murid merasakan senang dan sebagian bisa mendapatkan teman baru. Wajah-wajah mereka terlihat begitu sumringah di pagi yang cerah. Murid tahun ini di SMK Cemerlang bisa di bilang cukup banyak yang sebelumnya hanya 125 murid dibagi 5 kelas. Sekarang menjadi 168 murid kelas SMK 1.
Kepala sekolah menyambut peserta didik baru dan memberikan tepuk tangan meriah. Setelah penyambutan, mereka semua peserta didik baru akan di bagi kelompok untuk acara Mos yang berlangsung satu minggu.
Kelompok menjadi 6 kelompok dengan nama warna seperti:Biru,Merah, Hijau, Hitam,Kuning, Putih.
Kakak kelas yang menjadi pemimpin acara Mos segera menuntun mereka ke dalam kelas sementara. Murid-murid sangat senang di hari pertama, tidak ada cemberut sama sekali. Seorang gadis yang berada di belakang berjalan sendiri, tidak ada murid lain yang mengajak jalan bersama seperti berdampingan. Tiba-tiba barisan berhenti otomatis gadis itu juga berhenti.
Rambut yang sengaja ia gerai menjadi awut-awutan tidak karuan karena angin yang terus menerus membuat rambut gadis itu bertebangan. Ia mendengus karena lama sekali buat jalan, apa kelasnya pindah? --- pikirnya.
Sampai di kelas setelah menunggu lama di sana. Gadis bernama Lidya bernafas lega, ia langsung duduk di bangku nomer dua yang ada di pojok, sendirian. Menurut Lidya itu wajar saja karena yang berada di kelompoknya banyak sekali wajah-wajah baru jadi Lidya bisa menganggapi. Mereka pasti malu-malu buat berkenalan dan Lidya juga tidak gampang bergaul.
Lalu ada seorang gadis berwajah imut,cantik dengan rambut panjang sepunggung berwarna hitam. Ia tersenyum semanis mungkin. "Ha-hai, namaku Lina. Apa aku boleh duduk disebelahmu?"tanya gadis bernama Lina sesopan mungkin berusaha tidak gugup dan canggung.
Lidya mengangguk dan bergeser ke pojok mempersilahkan Lina duduk di sebelahnya. "Namaku Lidya."kata Lidya nampak canggung dengan teman kenalan baru di SMK Cemerlang. Lina terkekeh dan mengulurkan tangan ke Lidya, bersalaman. Lidya langsung menjabat tangan Lina dan tersenyum akrab padanya. "Salam kenal Lina. Aku harap kita menjadi teman sekelas kalau Mos udah selesai."kata Lidya tersenyum.
Sambil menunggu persiapan dari kakak osis atau pendamping, Lina dan Lidya saling bercakap-cakap mulai alasan sekolah ini sampai yang tidak terlalu penting ikut dibahas.
"Lid. Kau ingin mengambil jurusan apa?"tanya Lina. Dengan cepat dan yakin Lidya mengatakan, "aku mau masuk ke Multimedia karena aku sangat menyukai edit-edit foto dan membuat cerita di office."kata Lidya senang banget,Lina juga ikutan senang.
"Kalau kau,Lin. Mau masuk ke kejuruan apa?"tanya Lidya balik.
Lina berpikir sejenak dan berkata,"aku ingin masuk ke akuntansi karena aku suka banget sama matematika."balas Lina gembira. Sedangkan Lidya membelalakan matanya mendengar pelajaran yang disukai oleh Lina adalah Matematika. Pelajaran yang sangat aku benci, batin Lidya menggeleng kepala pelan.
"Ada apa Lid?"tanya Lina memerhatikan Lidya yang terkejut tanpa alasan. Dengan cepat Lidya menggeleng, "Bu-bukan itu,aku hanya benci matematika."balas Lidya terkekeh.
"Eh?"
Tak lama kemudian, acara pun berlangsung sangat ramai dan senang di kelompok berwarna merah alias kelompok dua. Mereka semua sangat suka bermain 'Jika-Maka'. Permainan itu benar-benar tidak bisa berhenti tertawa. Murid-murid begitu antusias kalau di suruh nulis dan membuat kalimat aneh dan kadang juga nggak masuk akal.
"Jika aku bernyanyi!"kata Lidya saat ditunjuk oleh kakak osis pembimbing mos(ada beberapa pendamping). Kakak itu menunjuk kearah cowok berkacamata bertubuh kecil dan ia terlihat menggemaskan dengan kacamata bulat, rambutnya rapi dan penuh minyak rambut.
__ADS_1
Keren
"Maka aku belajar setiap hari."katanya membuat satu kelas tertawa.
Ada yang ngegas dan semakin ngawur di pertengahan permainan.
"Jika aku terbang!"
"Maka aku lempar panci ke angkasa luas."
"HAHAHAHA!"
satu kelas tertawa lagi.
"Jika aku jatuh cinta."
"Maka aku pergi."
"Kasihan."satu kelas berduka sesaat.
"Maka aku bunuh,mencabik-cabik tubuhnya, memasukkan ke jurang karena kesal."kata seorang gadis di bangku depan dengan nada yang kesal seperti marah sungguhan.
Kakak kelas angota osis berkomentar dan berpura-pura ketakutan. "Anak ini jiwa pisikopat."katanya bergidik ngeri. Satu kelas tertawa lagi melihat tingkah lucu kakak kelas mereka.
Sekarang Lina yang ditunjuk oleh kakak kelas. "Jika aku jatuh dari pohon."ucap Lina. Kakak kelas nampak bingung mau mencari orang yang belum kebagiaan giliran. Lidya berpikir, mengapa Lina menuliskan itu? Apa ia bingung mau nulis apa?.
Kakak kelas menunjuk kearah cowok tampan yang ada di bangku depan cowok memakai kacamata itu. Cowok itu terlihat kebingungan, dengan perasaan ragu. Ia membaca dengan lantang apa yang barusan ia tulis.
"Maka aku menyelamatkan nyawa dengan rasa pahlawanku."ucapnya. Satu kelas bungkam mendengar kalimat itu. Apa itu tadi kebetulan? Beberapa kakak kelas berjalan ke arah bangku cowok tampan itu dan membacanya dengan terkekeh lalu tepuk tangan seketika satu kelas tepuk tangan dan mengatakan, "Ciyee!"menggelegar satu ruangan.
Semua sorot mata menatap ke Lina yang sudah blushing karenanya. Saat istirahat,Lina secara diam-diam mengamati gerak-gerik cowok tampan yang bernama Jay George.
__ADS_1
Lidya yang ada disamping Lina hanya bisa diam memerhatikan ekspresi Lina dari samping. Kalau di kira-kira Lina jatuh hati pada Jay.
Apa karena permainan 'Jika dan Maka?'. Ah, ia sama sekali tidak tahu. Bagaimana bisa Lina jatuh hati pada Jay? Kan ia baru pertama masuk sekolah masih keadaan mos gitu. Cowok itu berjalan keluar kelas ingin istirahat. Lina langsung mengikuti Jay dari belakang, Lidya juga ikut bergegas mengejar Lina.
Haduh, dalam pikiran Lina ada apa sih? Ia mengejar Jay seperti ngejar idolnya sendiri. Lidya sudah tidak kuat untuk lari lagi dan Lina terus membuntuti Jay dari belakang.
Cowok tampan itu merasa ada yang mengikutinya di belakang. Saat menoleh ia mendapati Lina yang sangat senang bisa bertemu dengan Jay. Jay hanya berekspresi datar mencoba menyembunyikan rasa bingung pada gadis ini.
"Hai Jay! Tadi permainannya seru ya!"kata Lina bahagia. Jay tetap diam melihat Lina tengah salah tingkah.
"Tadi kau memikirkan apa? Kok begitu nyambung sih."kata Lina malu-malu menunduk ke bawah tidak berani menatap Jay.
Jay hanya berekspresi datar tidak berekspresi lain. "Hanya membayangkan menjadi pahlawan dan bisa menyelamatkan nyawa seseorang."kata Jay membuat jantung Lina seolah berhenti berdetak.
Deg!
Kedua pipi Lina merah padam. "Aku harus pergi dulu."kata Jay datar lalu cowok tersebut melangkahkan kakinya menuju kantin sekolah. Lina melihat punggung Jay yang terlihat tegap tidak ada kekuarangan sama sekali.
Lidya menepuk pundak Lina pelan membuat bayangannya pada Jay hilang begitu saja. Padahal ia ingin membayangkan kalau Jay itu benar-benar menyelamatkan nyawanya.
"Sepertinya aku jatuh cinta pada Jay."kata Lina terkekeh kecil. Mata Lidya terbelalak kaget mendengar perkataan Lina barusan.
Secepat itukah jatuh hati pada seseorang? Baru kenalan udah jatuh hati.
"Apa kau yakin? Kita baru saja berkenalan loh. Masa kau sudah menyimpan rasa pada Jay?"kata Lidya masih belum percaya. Kekuatan cinta terlalu kuat, batin Lidya. Lina mengangguk setuju, "Jay, itu tipe ku. Dia itu tampan dan bisa meluluhkan hatiku secepat kilat. Setiap kali aku mendengar perkataannya,aku seperti terkena hipnotis."lanjut Lina terlalu bucin.
Lidya hanya bisa berpikir positif. Ternyata Lina terlalu mudah jatuh Cinta pada seseorang. Ia yakin,kalau Jay itu beda sekolah dengan Lina dan kenapa emosi cinta itu terlalu kuat membuat Lina buta karena cinta.
"Lin, apa kau ingin makan di kantin?"tanya Lidya dibalas angguk Lina dan ucapan penuh semangat dengan tangan terangkat setinggi bahu, "tentu. Supaya aku bisa memandang Jay dari jauh."
Lidya menepuk jidatnya. Efek dari jatuh cinta saat mos.
__ADS_1
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...