Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Delapan puluh Enam: Titik Tiga


__ADS_3

   Kabar berita mengumumkan ke semua orang kalau ada monster di tiga titik berbeda. Banyak sekali polisi dan militer untuk melumpuhkan monster tetapi usaha mereka sia-sia. Banyak sekali orang yang berusaha menyelamatkan diri dan tidak sedikit korban luka-luka.


    Di SMA Strength Lidya masih memerhatikan tiga titik berbeda ia menatap semua teman-teman barunya. "Kita harus meluncur bagaimana pun juga!"serunya yakin.


"Tapi Lid. Kita kan tergolong No Elements dan nggak bakal mungkin kita semua itu harus melawan mereka."kata Eric.


"Aku yakin. Ada kekuatan tersembunyi di diri kalian. Meski aku tidak tahu kepastiannya setidaknya aku memiliki 'Keyakinan Kuat' untuk mengajak kalian ke turun area. Ini juga demi keselamatan semua orang."ucap Lidya penuh keyakinan kuat mungkin ini adalah jalan terbaik untuk menuju tujuan utamanya.


     Semua murid sudah mendapatkan kelompok masing-masing dan sisanya adalah menyelamatkan orang-orang yang masih berada di sekitar wilayah tersebut. Lidya mendapatkan tempat titik kedua melawan kucing raksasa.


   Bangunan roboh dan teriakan orang ketakutan terdengar begitu keras. Pesawat tempur datang dan berusaha untuk menembak monster tersebut akan tetapi tidak mempan sama sekali. Kucing besar itu menganggap helikopter dan pesawat yang mengarah ke arahnya adalah permainan yang menyenangkan.


  Lidya dan lainnya mendongak melihat kucing raksasa berwarna hitam putih menyerang kota sekali berguling merobohkan semua bangunan di sekelilingnya. Mulut gadis itu menganga tidak percaya,"sepertinya kucing ini masih anak-anak."gumamnya.


"Ayo kita lawan raksasa itu!"seru seorang gadis dengan mata berapi-api ia berlari diikuti dengan lainnya. Mereka bertarung melawan kucing raksasa tanpa henti dan kucing itu bertambah geram mengangkat tangannya berusaha mencakar orang yang menganggunya.


  Entah mengapa Lidya tidak tega melihat kucing itu di serang seperti itu apalagi ada kekuatan api yang terus menyembur serta tusukkan pedang menyebabkan badan kucing tersebut penuh luka. Suara erangan kucing itu membuat Lidya tidak kuasa mendengarnya, ia menutup kedua telinganya menatap pemandangan yang buruk.


  Hewan itu sama sekali tidak bersalah apapun yang salah besar adalah orang yang membuat hewan itu menjadi jahat plus sebagai alat menghancurkan dunia dan melukai orang-orang tidak bersalah.


"Miko, kau kah itu!"teriak seorang wanita sekitar 24 tahun ia berlari mendekati tempat dimana kucing tersebut sedang mengerang kesakitan dan berusaha menyingkirkan orang penganggu. Sontak saja Lidya berlari mengejar wanita tersebut.


"Tunggu! Jangan kesana!"teriak Lidya mempercepat larinya menyusul wanita yang terus-menerus memanggil Miko.


"Miko, lihat sini!"ucap wanita tersebut melambaikan kedua tangan berusaha untuk mengalihkan pandang hewan kucing bernama Miko tersebut.


Mata kuning kucing tersebut menoleh mengarah ke wanita tersebut membuatnya tersenyum,"Miko, Sini. Ini aku Gigi. Aku sudah lama mencarimu,Miko!"ucapnya begitu lantang. Raksasa itu mengarah ke wanita bernama Gigi itu.


Meow


Suara kucing tersebut begitu keras menghampiri tuannya yang senang melihatnya. Lidya tersenyum sumringah sebab raksasa kucing tersebut tidak menyerang wanita itu. Tidak di sangka Sania mengeluarkan kekuatan apinya ke kucing raksasa itu.


Miko menundukkan kepala ke tuannya hendak menyapa tiba-tiba ia mengerang kesakitan akibat kekuatan Sania mengenai badan kucing tersebut yang penuh luka. Mata kuningnya berubah menjadi merah disertai dengan aura hitam. Mata Lidya terbelalak melihat mata itu seperti tupai yang ada di hutan.


  Luka-luka yang ada di tubuh kucing tersebut kembali seperti sedia kala seolah tidak terjadi apapun. Kucing tersebut bangkit dan mengangkat tangannya hendak menginjak tuannya, Gigi. Lidya terbelalak melihat itu ia tidak bisa menolongnya tetapi kedua kakinya sudah melangkah cepat mengarah ke Gigi. Ia mendorong wanita itu bersamaan kaki kucing tersebut berhasil menginjak Lidya.

__ADS_1


Wanita tersebut terkejut mengeluarkan air mata. Di lokasi titik pertama ada seekor ular kobra raksasa ular tersebut sudah berkali-kali mengeluarkan racun ke jalanan dan tidak sedikit orang di sekitar sana terluka. Mata ular tersebut sudah berwarna merah penuh aura hitam. Aska,Charlie,Vin dan Arka yang harus melawan ular itu tidak bisa mendekat karena ular tersebut suka mencari mangsa.


Ular tersebut mulai menyerang dengan segera mereka menghindar. Arka menjadi 4 ke sisi yang berbeda berusaha untuk mengalihkan perhatian ular tersebut. Vin dengan kekuatan iblisnya menancapkan pedang di tubuhnya membuat ular kobra tersebut berusaha untuk menghabisi Vin. Charlie dan Aska mencari celah kosong untuk menyerang menyerap kekuatan aura hitam dan melumpuhkan lawan.


Arka melemparkan batu bersamaan bayangan dan Vin tidak ada habisnya untuk melukai ular tersebut. Ini sudah ada beberapa celah kosong, Aska ingin melompat ke atas kepala kobra sebab disana ada tempat dimana ada tanda aneh di sana.


"Bagimana bisa aku melompat sejauh itu?"tanya Aska menoleh ke arah adik kelasnya.


"Aku akan menebas lehernya agar ia jatuh dan kakak naik ke atas kepalanya. Mungkin goresan itu hanya bertahan sementara."ucap Charlie serius dibalas anggukan Aska kalau ide adik kelasnya sangatlah ampuh.


"Ide bagus!"


  Di titik Tiga dimana ada monyet mengamuk dan melompat kesana kemari. Yusuf terbang mengikuti monyet tersebut seraya tertawa girang.


"Hahahaha, kayak di film saja."ucapnya kegirangan.


Tera dari bawah mengacang-ancang menangkap monyet yang sudah hilang kendali dari sebelumnya. Ia malah membuat keributan dan tidak sedikit bangunan sudah hancur karena monyet itu melompati gedung-gedung.


"Merepotkan!"kesal Tera berusaha fokus untuk mengendalikan kekuatan tumbuhannya yang bisa dibilang besar.


Beberapa anak lain sudah menyerang monyet raksasa itu tetapi usahanya sia-sia saja, lukanya cepat sembuh dan monyet tersebut semakin agresif. Yusuf malah bersenang-senang dan mengejek monyet tersebut bertambah kesal.


  Kevin menatap dari atas gedung ia sedari tadi berada di sana tanpa pengawasan dan suruhan. Baginya ini memang membuat kesal dan ingin sekali bertemu orang di balik semua ini. Membuat tugasnya semakin rumit. Kevin menghela nafas kasar menatap ke depan mengambil sebuah pil kecil dan di telannya.


  Kevin menjadi asap dan langsung berada di tubuh monyet yang memiliki aura menyeramkan. "Menyeramkan sekali dia."ucapnya santai membuat lingkaran asap tebal membuat pandangan mata monyet tersebut terganggu membuat seulas senyum terukir jelas di bibir Kevin.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


   Bangunan terbengkalai yang letaknya jauh dari titik tiga. Di sana ada empat anak muda menatap tiga layar kehancuran. Mata gadis di sebelah Roro dan Meika menatap serius mengarah ke Titik Tiga dan seulas senyum penuh arti di sana lalu ia melihat layar kedua dimana satu orang berhasil di injak oleh kucing raksasa.


  Kembali ke titik kedua tangan kucing itu kembali terangkat dan Lidya pingsan disana. Gigi menganga dan bangkit berdiri berusaha membangunkan remaja tersebut meminta maaf karena dia masuk ke area berbahaya. Ia mengguncangkan tubuh gadis itu.


"Bangun-bangun, maafkan Miko telah menginjakmu. Ku mohon bangunlah."ucap wanita tersebut terus menggoyangkan tubuh Lidya serta menepuk pipinya.


  Di dalam bawah sadar Lidya di sana sangatlah gelap tidak ada sepercik cahaya sedikit pun. Lidya menoleh ke kanan-kiri perasaan bingung ia ada di mana. Lalu kedua telinganya seperti menangkap sesuatu....yang sama sekali tidak ia ketahui.

__ADS_1


Matanya terus menuju ke depan samar-samar ia melihat terdapat tujuh gantungan dengan gambar berbeda-beda serta warna berbeda juga. Ada biru gambar Lebah, Ungu Tupai,Merah Kucing, kuning monyet,Hijau ular,Emas Jangkrik, Hitam tidak ada.


  Tiba-tiba ada cahaya membuat silau segera Lidya menutup kedua matanya setelah cahaya itu menghilang ia mengintip. Terkejut melihat Sayap lebar bak malaikat. Lidya sama sekali tidak tahu apa ini dan semuanya itu berubah menjadi satu bola berwarna putih mengarah ke tubuh Lidya.


  Kedua mata terbuka lebar-lebar melihat seorang wanita menangis di sampingnya dan ada beberapa asap hitam mengepul di udara serta api yang berkobar-kobar. Lidya mengganti posisi menjadi duduk menoleh mengarah ke wanita di sampingnya.


"Apa yang terjadi?"


"Syukurlah kau tidak apa-apa. Maafkan aku hiks."ucapnya memeluk Lidya membuatnya terkejut. Ia melihat kucing raksasa dengan aura hitam begitu pekat berada di tubuhnya sebelumnya ia tidak pernah bisa melihat aura hitam itu selain Aska, Grey Eyes.


  Saat Kucing raksasa itu berbalik badan membelakangi Lidya sekali lagi matanya membulat sempurna melihat ada tanda aneh yang ia lihat di bawah kesadarannya. Merah,Kucing.


Di titik pertama Charlie mengeluarkan pedang cahayanya tepat di leher ular tersebut membuat sang ular berteriak kesakitan dan menggeliat sementara berusaha berdiri. Ini adalah celah untuk Aska menaiki kepala ular tersebut. Ia sekuat tenaga berlari dan melompat di atas kepala ular. Saat lukanya kembali sembuh ular tersebut berdiri dan berusaha untuk menyingkirkan Aska dari sana.


  Gadis di tempat lain mengenakan pakaian dress Ungu hitam menyuruh Roro dan Meika menyingkirkan anak pemiliki kekuatan Grey Eyes sebab ia bisa mencabut aura hitam dari sana.


"Cepat singkirkan anak itu!"teriaknya dibalas angguk Meika dan Roro berbarengan.


Roro menatap layar tersebut serius, "tidak akan kubiarkan aku kalah dengan anak itu! Rasanya aku ingin membunuh anak itu duluan!"ucapnya penuh kekesalan menambah kekuatan pengendali boneka. Kedua matanya berubah menjadi ungu gelap.


  Meika tersenyum dan menambahkan aura hitam ketiga monster itu sekaligus agar sama-sama menang di waktu bersamaan. Seorang pemuda di samping Meika tersenyum tipis dan ia menghampiri gadis yang mengajaknya bekerja sama untuk menghancurkan dunia.


"Keysa. Apa dengan cara itu akan berhasil?"tanyanya.


"Tentu saja. Apa kau?... Ingin turun tangan?"ucapnya menoleh mengarah ke Riko, pengendali waktu.


"Aku akan memilih bonekanya Roro yang Jangkrik."ucap Riko.


"Tidak-tidak,"menggeleng, "yang benar adalah hewan boneka Roro."lanjutnya tersenyum miring.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....


A/n

__ADS_1


Halo semua ikuti terus ceritanya "Jangan Anggap Kami Lemah" sampai tamat ya:) bentar lagi aksi mereka semua menyelamatkan bumi dari imajinasi jahat dan menutup kembali pintu imajinasi akan tiba. Penasaran di tunggu ya updatenya.


Jangan lupa vote, like dan commentnya see you all😊


__ADS_2