Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
dua puluh sembilan:Penghijauan(2)


__ADS_3

  Semua murid SMK Cemerlang masih menanam bunga sesekali bercanda dengan teman-temannya. Ada empat kakak kelas menghampiri Tina,Ferdi dan Sarah yang masih sibuk dengan tanaman mereka. Ferdi membersihkan celana olahraganya dari tanah dan bangkit berdiri berbalik terkejut mendapati empat kakak kelas yang berdiri di hadapannya.


Ferdi tahu salah satu empat kakak kelas tersebut. Rambut jambul berwarna hitam dan memiliki alis tebal,mata lebar serta bibir yang bisa dibilang seksi. Tina menoleh melihat Kak Alvan, kakak idaman para cewek. Tina mulai mata berbinar-binar melihat ketampanan Alvan.


"Kak Alvan? Kakak ngapain disini?"tanya Tina, Ferdi yang ingin bertanya sudah disambar oleh Tina.


"Dengar-dengar kalian berdua adalah adik kelas perusuh di Multimedia satu. Apa itu benar?"tanya Alvan tiba-tiba membuat Tina dan Ferdi beradu pandang lalu menatap Alvan dengan raut wajah bertanya-tanya. Alvan menghela nafas panjang,"sepertinya kalian belum mengerti. Apa kalian kenal dengan pemuda yang tampan seangkatan kalian?"tanya Alvan dibalas angguk dari Ferdi. Tina sama sekali tidak tahu, siapa pemuda tampan yang dimaksud oleh Kak Alvan--begitula pikirnya.


"Aku tahu, namanya Jay anak multimedia dua. Kemarin ia menumpahkan kopi di seragamku pasti nanti ia akan mengembalikan seragamku dan aku juga mengembalikan seragam miliknya."kata Ferdi serius. Dibalas tatapan tidak percaya Tina. "Jadi kemarin kau pinjam seragam milik Jay! Pantas aja tag name mu Jay George."kata Tina berkacak pinggang.


"Nah anak itu. Aku ingin sekali menantangnya, Jay George."kata Alvan serius. Ferdi menatap Alvan tidak percaya mau menantang Jay,"apa kak Alvan yakin mau menantang Jay?"tanya Ferdi memastikan dibalas tatapan tajam dari Alvan. Mata yang lebar dan tatapan tajam membuat Ferdi takut.


Semakin lama ia menatap Alvan, ia seperti melihat tatapan mata burung hantu. "Tentu saja, aku akan menantang dirinya. Pemuda itu telah merebut semua yang aku punya yaitu ke hitz an di sekolah."kata Alvan yang terdengar konyol di telinga Tina.


Tina tertawa mendengar perkataan Kak Alvan. "Hahaha!Kepopuleran orang itu sudah di atur kak. Mending kakak menunggu deh nanti juga fans-fans kakak datang kembali seperti dulu. Aku sebenarnya adalah fans kakak paling Setia."kata Tina tersenyum manis. Ferdi menoleh mengarah ke Tina dengan tatapan jijik. Alvan masih menatap kedepan melihat Jay menanam tanaman dibantu oleh teman-temannya.


"Aku menantangnya!"ucapnya yakin melewati Ferdi dan Tina. Anak buahnya ikut membuntuti Alvan dari belakang. Arah pandang Tina dan Ferdi menatap punggung genk Kak Alvan. Pemuda itu memicingkan mata,"aku yakin. Kak Alvan tidak bisa menantang Jay."ucap Ferdi.


Tina menatap Ferdi seolah tahu apa yang dilakukan oleh pemuda bernama Jay. Ia jadi ingin tahu siapa pemuda bernama Jay jadi gadis tersebut mengikuti Alvan pergi. Ferdi berteriak,"Tina! Kau mau kemana?"gadis itu mengabaikan teriakannya jadi ia terpaksa mengikutinya berlari kecil.


Sarah selesai menanam tanamannya di pot terkahir. Keringatnya sudah banyak membasahi pelipisnya. "Tina,Ferdi, aku sudah selesai mena--"ucap Sarah menoleh dan berhenti mengatakan kalau pekerjaannya sudah selesai hanya tinggal menata di tempat yang sudah tersedia. Namun kedua temannya ini tidak ada, ia celingak-celinguk mencari orang yang dicarinya. Sarah bangkit berdiri sambil menggerutu,"duh kemana nih anak. Kerjaannya ngilang mulu."


   Pemuda berambut cokelat dengan anting di telinga kanannya sudah selesai dengan tanam menanam. Ia mengusap keringatnya dengan pungung tangan,tersenyum. Nando menghela nafas panjang,"akhirnya selesai juga."ucapnya dibalas angguk Aska.


"Hei Jay!"teriak Alvan membuat Jay dan kedua temannya menoleh mendapati kakak kelas beserta genknya menghampirinya. Aska tersenyum,"Hai Kak Alvan!"sapa Aska baik-baik tapi dibalas tatapan tajam dari Alvan. Senyuman manis Aska langsung pudar detik itu juga.


"Jay, aku mau mengatakan sesuatu."ucap Alvan tanpa basa-basi. Jay menatap kedua temannya sebentar lalu menatap Alvan, berjalan di hadapan Alvan.


Jay tersenyum saat sudah berada di hadapan Alvan,"ada apa Kak?mau mengatakan apa padaku?"tanya Jay lembut dan masih tersenyum bak malaikat. Alvan yang ingin menantang Jay untuk berkelahi untuk mendapatkan kepopuleran di sekolah seolah sirna saat berdiri tepat di hadapan Jay.


"A--aku!"ucap Alvan sedikit gugup, bingung mau mengatakan apa?. Jay masih menunggu perkataan Alvan. Tina sampai di tempat tujuan dan melihat pemuda yang berhadapan dengan Alvan sangat tampan. "Astaga ternyata Jay tampan juga!"teriak Tina salting saat melihat Jay, pemuda tampan.


Alvan menunduk dan bingung harus mengatakan apa. Salah satu anak buahnya pun berkata,"ayolah, Al. Katamu kau ingin menantang Jay."ucapnya. Alvan menatap mata Jay yang sangat indah, mata itu membuat Alvan lupa dengan tujuannya. Ferdi sudah sampai dan melihat apa yang sebenarnya terjadi terlihat Alvan hanya bisa menatap wajah Jay tanpa mengatakan tantangan apa yang ingin ia katakan oleh Jay.


Apa mungkin bertarung? -pikir Ferdi.


Alvan melangkah mundur dan langsung cabut dari hadapan Jay membuat anak buahnya bingung dengan sang ketua. Jay hanya tersenyum menatap punggung Alvan,kakak kelas yang paling populer. Tina masih stay menatap ketampanan Jay. Ferdi menarik pergelangan tangan Tina ingin mengajak kembali ke tempatnya tadi. Jay menoleh mengarah ke Tina dengan rambut yang tertiup sedikit angin membuat Tina berteriak kencang saat itu juga.

__ADS_1


"JAY, AKU CINTA KAMU!"teriaknya membuat seluruh murid yang ada disana memandang Tina aneh. Ferdi yang ada disampingnya sangat malu telah menjadi sorotan mata seluruh SMK Cemerlang. Ia langsung menarik tangan Tina tidak peduli ada kata penolakan dari mulut Tina.


  Aska dan Nando berdiri di samping kanan-kiri Jay menatap gadis yang tiba-tiba berteriak kencang. "Dia kenapa?tiba-tiba berteriak seperti itu padamu Jay?"tanya Nando tidak mengerti.


Jay mengangkat bahu,tidak tahu. "Entahlah. Ayo kita beres-beres."kata Jay berbalik. Aska berdiri disana berpikir apa yang barusan terjadi sangatlah aneh lalu ia memilih untuk membereskan perlengkapan alat tanam menanam.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


  SMK Cemerlang sudah selesai dengan tanam menanam dan mereka semua bekerja sama menata tumbuhan itu sangat rapi dan tentunya enak di pandang. Kepala sekolah mengucapkan terima kasih pada semua murid di SMK Cemerlang telah melakukan kegiatan penghijauan dan berharap semua murid merawat tanaman dengan baik serta menyirami tanaman ini. Setelah kepala sekolah telah mengatakan itu semua murid bertepuk tangan.


Prok... Prok... Prok...


Semua murid bubar barisan. Lidya sangat senang dengan acara menanam tumbuhan seperti ini. Menyenangkan karena ia bisa bercanda dan menjaili seseorang, hahaha. Anggi dan Fitri menepuk pundak Lidya dengan senyuman yang tidak biasa. Lidya yang tidak tahu maksud senyuman mereka berdua, bertanya,"kalian senyum-senyum gitu kenapa?"tanya Lidya, dahinya terlipat.


Fitri memutar bola matanya,"masa nggak tahu sih."ucapnya membuat Lidya semakin tidak mengerti apa maksudnya. Memang Lidya tidak terlalu peka.


"Masa kamu tidak mengerti juga,Lid?"tanya Anggi.


"Iya, ah Lidya tidak peka."timpal Fitri kecewa. Dibalas kekehan kecil Lidya, "ayolah, jelaskan padaku kenapa kalian itu senyam-senyum gitu. Aku ini tidak terlalu peka loh."katanya.


"Hmm, ya begitulah."balas Lidya tidak mau menjelaskan secara rinci.


"Pandu?"kata Fitri nada menggoda.


"Memangnya kenapa Pandu?"tanya balik Lidya, dahinya berkerut dan mata menyipit.


"Sepertinya Pandu itu menyukaimu."bisik Fitri tepat di telinga kanan Lidya.


Lidya hanya membalas kekehan kecil,"tidak mungkin, Pandu menyukaiku Fit. Dia itu menyukai seseorang dan seseorang itu bukan aku."kata Lidya langsung dibalas tatapan mata dari kedua temannya.


"Siapa?"


"Tunggu waktu ajalah. Seseorang itu siapa?aku sendiri juga tidak tahu. Tipe Gadis yang akan di pilih oleh Pandu."jawab Lidya mengambil barang-barang peralatan tanam menanam tadi lalu mereka bertiga berjalan menuju kelas. Lalu Lidya melihat Tera masih diam,jongkok. Menatap kosong tumbuhan krokot yang ia beli kemarin.


Mereka bertiga menghampiri Tera,"Hai Tera!"sapa mereka bertiga bebarengan membuat Tera terkejut dan menoleh mendapati Anggi, Fitri dan juga Lidya menghampirinya. Ia bangkit berdiri,tersenyum mengarah ke mereka bertiga.


"Ter. Kenapa kau menatap bunga itu dengan tatapan kosong? Apa kau punya masalah?"tanya Anggi melihat lamat-lamat wajah Tera yang banyak sekali ribuan masalah. Terlihat jelas.

__ADS_1


Tera segera menggeleng,"tidak ada masalah kok. Aku tadi hanya memastikan tumbuhan ku yang dirusak oleh Sarah dan Tina hidup kembali. Hanya itu saja kok hehehe."balas Tera terkekeh kecil menutupi semua masalah sendiri.


"Apa kau yakin?Put?"tanya Lidya memastikan.


Tera mengangguk menatap,"Yup. Nanti kalau aku punya masalah, aku akan cerita kok pada kalian bertiga."jawab Tera tersenyum.


Mereka bertiga mengangguk mengiyakannya lalu mereka pamit menuju ke kelas meninggalkan Tera yang masih berdiri di sana sesekali melihat tumbuhan krokot miliknya lalu menatap sekeliling sudah banyak sekali tumbuhan yang berjajar dengan rapi di tempatnya. Tera sudah tidak sabar menyirami tumbuhan yang begitu banyak besok pagi.


***


    Keesokkan harinya pukul 05.45 pagi. Tera sudah sampai di sekolah yang masih sepi hanya ada tukang kebun dan satu satpam yang sudah tiba di sekolah. Tera mengambil selang panjang dekat pos satpam diambilnya selang panjang itu lalu ia pasang ke kran air setelah selesai Tera menyirami bunga-bunga cantik itu dengan perasaan riang.


  Dan gadis itu juga membuat bunga-bunga menari-nari seolah terkena angin sepoi-sepoi. Beberapa menit kemudian semua murid SMK Cemerlang sudah mulai berdatangan sedikit demi sedikit dan tidak sedikit diantara mereka melihat Tera yang begitu giat menyirami bunga sebanyak itu.


Lidya dan Lina datang, mereka berdua melihat Tera menyirami bunga sangat senang. Mereka menyapa Tera dan pemilik nama itu menoleh, meletakkan selang itu ke bawah lalu ia menyembunyikan tangan kanan dibalik punggungnya, mengeluarkan sedikit kekuatannya menyuruh tumbuhan krokot merambat menuju kran air. Tera tersenyum.


"Hai juga Lidya!"sapanya ramah.


"Hai putih. Wah kamu giat ya, pagi-pagi sudah datang dan menyirami tumbuhan pula."puji Lidya.


"Oh aku hanya ingin menyirami bunga saja kok."jawabnya singkat sesekali melirik ke belakang melihat tumbuhan krokotnya sudah memanjang tinggal mematikan kran airnya saja.


Lalu Tera menatap ke Lidya dan menoleh mendapati gadis cantik seperti barbie berdiri di samping Lidya. Dan ia ingat kalau gadis ini kemarin waktu membeli tumbuhan bersepeda. "Kamu gadis bernama Lina itu ya?"tanya Tera dibalas angguk Lina.


"Iya. Apa kamu Tera yang suka sekali dengan tumbuhan?"Tera mengangguk.


"Wah hebat. Kamu bisa melestarikan lingkungan dengan baik pasti rumahmu juga penuh dengan bunga."kata Lina senang. Tera menggeleng,"tidak. Dirumahku sangat kecil dan tidak ada banyak tumbuhan hanya beberapa tumbuhan saja."balas Tera.


  Ada seorang pria memakai kaos oblong membawa peralatan bersih-bersih terkejut melihat tumbuhan yang merambat ke kran air. Semua peralatan yang di bawanya terjatuh menimbulkan suara, klontang. Kedua kakinya bergetar melihat tumbuhan yang terus merambat menuju kran air.


"Aaa benda apa itu!ada hantu!"teriak pria itu berlari ke sembarangan arah. Tera, Lina dan Lidya menoleh mengarah ke asal suara itu. Mata Tera melotot kalau ada orang yang berhasil melihat tumbuhan yang merayap ke kran air.


"Gawat! Aku ketahuan!"teriaknya dalam hati, menggigit bibir bawahnya.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2