Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Enam Puluh Enam:Bangkitnya Grey Eyes


__ADS_3

    Teman-teman lainnya masih menyerang monster tupai yang kini semakin marah, pertarungan mereka semakin memanas. Anggi terus menyerang menggunakan Cakranya dan sudah banyak sekali luka yang ada di monster itu akibat cakra milik Anggi.


"Rasakan ini!"serunya melemparkan tiga cakra sekaligus mengarah ke monster itu. Cakra-cakra itu begitu cepat menembus angin dan beberapa goresan di tubuh monster itu tercipta.


   Banyak sekali darah yang keluar. Anggi berjongkok menyangga tubuhnya dengan dua tangan, nafasnya terengah-engah karena terlalu banyak menggunakan tenaga untuk mengeluarkan senjata. Ia menatap monster tupai itu mulai kesakitan.


Fitri menatap tajam mengarah monster itu,"rasakan pukulan maut flas milikku ini!"teriak Fitri berlari cepat mengarah ke monster itu memberikan sebuah tinjuan,"sekarang Pandu!"ucapnya memberikan aba-aba ke Pandu.


   Pemuda itu menambahkan kekuatan kepalan tangan Fitri seperti monster yang di depannya.


Bugh, pukulan itu berhasil mendarat tepat di perut monster tupai tersebut membuat terpental jauh akibat kekuatan flas Fitri. Monster tersebut menumbangkan banyak pohon hutan ini. Fitri mendarat mulus menatap ke depan yang awalnya banyak pohon rindang dan adem kini terbuka jalan luas akibat pukulan maut flas dibantu oleh Pandu.


  Yang lainnya cengo melihatnya seulas senyum terukir di bibir mereka semua karena berhasil mengalahkan monster itu. Beni menghampiri Anggi yang masih bertahan menyangga tubuhnya agar tidak ambruk,"Anggi kau tidak apa?"tanyanya waktu sampai di samping Anggi. Gadis itu lalu pingsan di pangkuan Beni.


"Anggi!"panggil Beni menepuk pipi Anggi untuk membangunkannya. Fitri dan Pandu menghampiri Beni.


"Anggi!"panggil Fitri. Beni menatap mereka berdua bergantian,"mungkin, dia kehabisan tenaga melawan monster itu sendirian. Dia sedari tadi mengeluarkan banyak senjata untuk melukai monster itu."kata Beni menatap Anggi yang berada di pangkuannya.


Pandu menoleh melihat Arkan dan Lidya yang belum bisa menyadarkan Aska dari pingsannya. "Apa kita sebaiknya kembali. Nanti Aska dan Anggi beristirahat di mobil."usul Pandu dibalas angguk setuju Fitri.


"Iya. Itu usul yang Bagus,Pan. Untung saja aku berhasil mengalahkan monster tupai menyebalkan itu."katanya masih kesal apa yang dilakukan monster itu, pengacau.


  Disisi lain dimana monster itu terpental jauh akibat pukulan mematikan Fitri. Tupai itu tidur dan bayangan gelap yang singgah di tubuhnya membangkitkan tupai tersebut. Luka-luka yang ada di tubuh tupai karena senajata cakra perlahan menutup kembali seolah tidak ada yang melukainnya sedikitpun. Mata tupai tersebut berubah menjadi merah disertai aura hitam. Monster tersebut bangkit dan kembali ke tempat dimana mangsanya yang berani melawannya.


  Lidya memandangi wajah Aska dan memanggil namanya pelan. Dahi pemuda itu terlihat dan jari tangannya mulai bergerak membuat Arkan dan Lidya tersenyum senang.


"Aska, kau bangun."ucap Lidya senang.


  Aska bangun dari pingsannya dan duduk seraya memegangi punggungnya yang masih terasa sakit. "Aduh, monster itu membuat punggungku sakit."keluhnya melihat Lidya dan terkejut kalau ada Arkan disini.


"Arkan? Sejak kapan kau ada disini? Dan..."ucapnya heran dan menatap kedepan melihat Pandu,Beni, Fitri dan Angin yang pingsan. Dan monster tupai itu hilang serta banyak pohon yang tumbang seperi kedatangan angin topan.


"K-kalian. Hmm, mana monster tupai itu?"ucapnya terkejut sekaligus bingung tidak ada monster tupai disana.


"Monster itu sudah dikalahkan oleh Fitri dan pohon-pohon tumbang itu akibat pukulan flas Fitri dibantu kekuatan tambahan dari Pandu."jelas Arkan. Aska hanya melongo tidak percaya, pemuda itu bangkit berdiri perlahan dan menegakkan kembali punggungnya agar nggak encok.


"Eh mau kemana?"tanya Arkan saat Aska melangkahkan kakinya.


"Aku akan cari monster itu. Aku harus mengeluarkan bayangan hitam yang ada di dalam tubuhnya itu."kata Aska tanpa menoleh ke lawan bicaranya. Arkan dan Lidya berdiri,ekspresi wajah Arkan heran.


"Bayangan hita,maksudnya. Selama kau pingsan. Aku dan lainnya tidak melihat bayangan hitam di makhluk tupai itu."kata Arkan.


Aska berbalik badan menghadap ke Arkan, pemuda berkacamata. "Bayangan hitam itu bisa dilihat oleh mataku. Aku harus mengeluarkan bayangan itu keluar dari tubuhnya jika tidak..."belum sempat Aska menyudahi kalimatnya suara monster tupai itu terdengar semua mata melotot, tidak percaya.


Beni menggunakan kekuatan penembus pandangnya terkejut, "gawat! Monster itu kembali lagi kali ini lebih menyeramkan."kata Beni.


"Ta-tapi kan. Aku sudah melukainya dan Anggi menciptakan banyak luka di tubuh tupai itu. Masa bisa bangkit lagi sih."ucap Fitri protes selama ini ia sia-sia melawan monster besar itu.


"Tubuh tupai itu kembali seperti semula, mengherankan."kata Pandu, mata Fitri terbelalak dan mengeluarkan banyak keringat dingin di pelilisnya. Ia sudah menyerah melawan monster ini.


Aska menatap geram dengan monster itu, ia kembali untuk mencari mati. Ia berteriak untuk kembali ke tempat perkemahan biar ia sendiri yang melawannya. Pandu berteriak membalas perkataan Aska.


"Tidak! Aku akan membantumu Aska."jawabnya.


Beni menyuruh yang lainnya untuk kembali kecuali Aska dan Pandu. Beni menggendong Anggi ala bridal style menuju ke perkemahan.


    Kini tinggal dua orang pemuda yang menatap lawan sudah berada di depan mata. Pandu bertanya pada Aska, mereka harus apa untuk melawan tupai ini. Aska menatap Pandu, "aku harus mengeluarkan bayangan hitam yang singgah di tubuh tupai itu."

__ADS_1


"Ha? Bayangan hitam? Mana?"Pandu terkejut dan bingung berusaha mencari bayangan hitam yang dimaksud oleh Aska.


"Kau tidak bisa melihatnya. Mungkin kelompok element eyes yang bisa melihat bayangan hitam ini saja. Aku juga belum paham."kata Aska. Tangan tupai itu bergerak cepat mengarah mereka berdua dengan cepat mereka menghindar.


"Wow. Tupai itu seperti melihat makanan di depannya."komentar Pandu melihat mata tupai itu mengarah ke dia dan berusaha mencekalnya. "Matikan fungsi tangan tupai itu!"ucapnya fokus ke tangan yang ingin menangkapnya.


Dan berhasil, tangan tupai itu seketika lemas tidak ada tenaga sama sekali-lembek. "Memang cari mati dia."kata Pandu tersenyum tipis.


Aska berusaha membangkitkan kekuatan mata abunya agar bisa melihat bayangan hitam dan mencabutnya. Ia terus melihat taktik Pandu yang berhasil melumpuhkan lawan tanpa menyentuhnya sedikit pun.


Ke--kena-pa. Kenapa kekuatan mata abuku tidak muncul saat keadaan seperti ini? Tadi padahal muncul, batin Aska berusaha untuk mengeluarkan kekuatan matanya tapi tidak bisa.


Sialan.


Tiba-tiba Pandu berteriak kencang dan ia berhasil di tangkap oleh monster tupai tersebut. Pandu berusaha untuk keluar dari genggaman tangan tupai tersebut tapi tidak bisa. Ia berkali-kali melumpuhkan tangan tupai itu tapi tidak bisa. Kekuatannya tiba-tiba saja tidak mempan seperti awal datang kesini.


   Aska terbelalak melihat tupai itu ingin memakan Pandu. Seketika mata abu-abu muncul dan betapa banyak bayangan hitam berada di tubuh tupai itu. Tangan Aska mengepal dan turun dari pohon berlari kearah monster itu.


"Monster! Coba tangkap aku dan lepaskan temanku!"teriaknya membuat mata tupai itu teralihkan ke Aska.


  Tupai itu mengaum dan menyerang Aska dengan ekornya yang besar. Aska tidak sempat mengelak dan akhirnya terpental menubruk pohon tapi ia bisa bangkit kembali menatap tajam penuh amarah berkobar di dalam tubuhnya. Ia menatap ke depan tiba-tiba saja matanya melihat tak tik yang harus ia lakukan untuk naik ke tepat atas kepalanya... Mencabut bayangan hitam yang ada di tubuhnya. 


Tanpa berpikir panjang Aska berlari melompat ke pohon satu ke lainnya. Tupai itu tidak ada henti-hentinya menyerang Aska menggunakan ekornya. Pandu berusaha untuk keluar dari genggaman tangan tupai yang erat ini tapi kagak bisa, sekuat tenaga yang ia punya pun berakhir sia-sia.


  Tangan lain tupai itu menumbangkan pohon yang akan di lewati oleh Aska. Mata Aska terbelalak, ternyata monster ini pintar juga. Ia melompat turun, cara pertama gagal.


Keringat sudah mengucur deras dan ia kehabisan ide. Aska teringat sesuatu apa yang dikatakan oleh Greysia tentang memindahkan benda ke tempat aman tapi apa bisa ia memindahkan dirinya sendiri ke atas kepala tupai itu supaya bisa mencabut bayangan hitam itu.


Ekor tupai itu ingin menghantam mengenai Aska refleks ia menghindar dan melompat di atas ekor tupai itu.


Monster itu berusaha mengibaskan ekornya agar Aska terjatuh. Aska memegang erat ekor monster itu dan kedua mata terpejam, menahan. Ia membuka matanya sedikit dan berusaha untuk naik ke punggungnya karena ekornya berada di bawah,tidak berdiri.


Monster itu tidak bisa menjatuhkan Aska jadi ia kembali mengibaskan ekornya lagi sambil mengeluarkan suara mengerikan. Pandu yang tepat di depan mulut tupai itu menahan bau mulut.


"Kau tidak pernah sikat gigi ya. Bau banget sumpah."celetuknya menutupi hidungnya sambil mengibaskan tangannya agar bau itu bisa pergi jauh-jauh.


Ekor tupai itu berdiri dan kebawah terus menerus seperti jungkat-jungkit membuat Aska sendiri kesal. Bayangan hitam sangat banyak dan ingin mengakhiri sekarang juga. Bisa kembali dan beristirahat.


  Mata abu-abu Aska menatap punggung tupai itu dan ada sebuah simbol yang entah apa itu. Bergambar kepala tupai. Meski ekor yang kini ia pegang erat naik-turun berusaha mengganggu kosentrasi dan menjatuhkan mangsanya, Aska.


  Pemuda itu berusaha untuk berdiri  dan melompat ke punggung tupai itu dimana simbol itu berada. Dan hap, dia berhasil di punggung tupai itu. Pandu mendelik karena monster ini akan memakannya mengabaikan Aska yang entah dimana.


"Sialan, Aska kau ada dimana?"teriak Pandu berkali-kali mengumpat.


  Mata Aska menatap simbol tersebut, perlahan bayangan itu meresap ke tubuh Aska membuat ia berteriak karena harus meresap sangat banyak bayangan hitam di tubuh kecilnya. Tak lama kemudian monster itu berteriak kesakitan.


  Pandu mengambil kesempatan untuk melemahkan tangan tupai ini agar ia bisa terlepas. Tangan tupai itu melemas dan genggaman tangannya merenggang. Pandu melompat dan turun dengan mulus.


  Ia mendongak melihat tupai besar itu berteriak dan ada sedikit aura hitam yang keluar dari tubuh monster itu. Perlahan tupai yang tadi besar kini menjadi tupai kecil.


  Kedua mata Pandu berkedip-kedip melihat apa yang dilihatnya. Tupai kecil yang imut, menatap polos ke arahnya. Pandu jongkok melihat tupai itu tatapan membunuh,"oh kau rupanya. Yang ingin memakanku dan bau mulut nggak enak itu."Pandu mengancam tupai kecil itu.


   Tupai tersebut segera berlari dari Pandu. Aska berhasil menyerap semua bayangan yang ada di tupai tersebut. Bayangan yang diserap oleh Aska berubah menjadi sebuah gantungan kunci bergambar kepala tupai. Tubuh Aska menjadi lemah dan kembali pingsan.


  Pemuda berambut panjang sebahu itu melotot melihat temannya lagi-lagi pingsan. Mata abunya menjadi normal, cokelat. "Aska, bangun."ucap Pandu menggoyangkan tubuh temannya itu. Pandangnya beralih melihat ada gantungan kunci tidak jauh dari tangan Aska. Ia mengambilnya dan melihat gantungan kunci itu bergambar kepala tupai tadi.


-

__ADS_1


-


-


-


-


    Semua teman-temannya melihat Pandu datang dan menggendong Aska di punggungnya. Arkan menyuruh di luar mobil karena Anggi belum sadar dari pingsannya. Lidya khawatir melihat Aska kembali pingsan. Aska sudah terbaring di tanah dan wajah pemuda itu terlihat sangat lelah telah bertarung melawan monster tupai itu.


"Apakah monster itu berhasil di kalahkan?"tanya Beni ke Pandu dibalas anggukan mantap.


"Iya. Aska berhasil mengalahkan monster itu seorang diri yang entah apa yang dilakukannya bisa mengalahkan monster itu. Dan aku sempat melihat ada aura hitam yang ada di tupai tersebut sebelum menyusut kembali ke bentuk normal."jelasnya merogoh saku mengeluarkan gantungan kunci yang ia temukan tak jauh dari tangan Aska.


  Menyodorokannya ke Beni. Semua melihat gantungan kunci bergambar kepala monster tupai tadi yang berhasil di kalahkannya.


"Gantungan kunci? Buat apa?"tanya Fitri bertanya-tanya.


  Lidya diam memandangi gantungan kunci itu,"sini. Biarkan aku yang menyimpannya."pintahnya Beni memberikan gantungan kunci itu ke Lidya.


"Buat apa?"


"Hmm, ada deh. Sepertinya aku akan bertanya ke seseorang yang tepat."jawab Lidya membuat semua penasaran.


"Siapa?"tanya Pandu, Lidya hanya tersenyum penuh arti.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


   Rumah yang besar nan megah seperti bak istana kerajaan. Seorang gadis berambut panjang sangat kesal karena monster yang di ciptakannya itu berhasil di kalahkan oleh Elements Eyes yaitu Grey eyes yang bisa menyerap bayangan hitam dari kekuatan Purple Eyes shadow  miliknya.


"Argh. Keterlaluan. Jika dia berhasil mengalahkan semua monsterku. Maka pintu imajinasi itu akan tertutup untuk selamanya dan aku tidak akan memiliki kekuatan yang sangat kuat ini. Aku sudah lama, ingin melakukan ini yaitu mengusai seluruh bumi dan manusia akan menjadi budak. Dan manusia berkekuatan itu aku hancurkan agar tidak bisa menghalangi jalanku. Hahahaha."ucapnya tertawa terbahak-bahak dan kedua mata ungunya menyalah dalam kegelapan kamar yang sengaja ia tutup semua jendela dan pintu.


"Aku tidak akan kalah dengan manusia berkekuatan lemah itu, tidak akan."lanjutnya.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...


   

__ADS_1


__ADS_2