Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Tujuh puluh dua:Tidak mungkin


__ADS_3

"Oh jadi kau yang kemarin telah mengalahkan monster tupai itu!"kata gadis di hadapannya membuat mata Aska membulat sempurna, matanya menyipit berusaha berpikir---bagaimana bisa ia tahu bahwa kemarin ia berhasil mengalahkan tupai besar yang diselimuti oleh bayangan hitam itu.


"Bagiamana bisa tahu soal itu? Padahal kau tidak berada disana?"tanya Aska penuh penekanan menatap lawan musuhnya.


Gadis berambut panjang terurai,badan berisi dan tinggi semampai, tersenyum miring mengarah ke pemuda bermanik abu. Ia tahu kalau musuhnya itu adalah pemilik Grey Eyes. Kekuatan yang hampir mirip dengan pemuda bisu itu hanya saja,Grey eyes sedikit berbahaya sebab bisa menarik kekuatan jahat hanya menyentuhnya dan bisa mengalahkan musuh hanya kali sentuh.


Gadis itu tersenyum miring,"soal aku tahu darimana? Bukanlah urusanmu yang terpenting, kalian harus mati!"ucapnya santai saat mengucapkan kalimat akhir disana ada kalimat penekanan menatap ketiga musuh dihadapannya begitu tajam.


Gadis tersebut menyerang ketiga pemuda sekaligus menggunakan kekuatan aura jahatnya. Aska,Yusuf dan Tama berkali-kali menghindar dari serangan gadis asing itu. Yusuf tidak habis akal ia mengeluarkan sihir cermin untuk menyerap beberapa kekuatan musuh.


"Beri aku Cermin yang banyak!"teriak Yusuf meramalkan mantra. Gadis itu tertawa mendengar ucapan dari pemuda berjaket yang baginya menarik seperti kedua pemilik element eyes.


"Memangnya cermin buat apa ha! Mau mengurungku ke cermin itu?"bentaknya dan menebak kalau pemuda ingin mengurungkannya masuk ke dalam cermin.


Beberapa cermin sudah mulai bermunculan dengan jumlah banyak tanpa berpikir panjang gadis tersebut mengeluarkan banyak aura hitan dari tubuhnya membentuk sebuah senjata mematikan mengarah ke Yusuf. Aska dan Tama yang melihat serangan beruntun mengarah ke Yusuf melotot.


Aska berteriak tidak sempat menyelamatkan Yusuf dari serangan musuh. "Yusuf Awas! Jangan sampai terkena serangan!"


Yusuf menatap ke depan melihat serangan aura hitam mengarah kearahnya secara beruntun dan kecepatannya seperti kecepatan kilat. Dengan waktu yang tepat sesuai rencana yang dibangun saat musuh sibuk menyerang mereka bertiga bersamaan.


"Pelindung cermin penyerap kekuatan!Magic Joe!"seru Yusuf mengeluarkan sihirnya yang level sedang.


Cermin yang berpencar segala sisi dengan kecepatan kilat langsung melindungi Yusuf membentuk lingkaran dan cermin-cermin berjumlah banyak tersebut menyerap kekuatan milik gadis asing yang ingin menghancurkan dunia.


Pemuda berjaket abu itu tersenyum miring menahan serangan musuh yang bisa dibilang kuat. Gadis itu menambah kekuatannya menyerang pemuda di hadapannya dan memutuskan untuk meledakkan pemuda itu. Tama melemparkan sebuah pisau mengarah ke gadis itu. Namun, Tama terlambat karena gadis itu sudah menyudahi perkelahian ia dan Yusuf.


Sebuah ledakan hebat tercipta membuat guncangan seperti gempa, aura hitam muncul begitu pekatnya. Aska yang melihat itu melotot tidak percaya saat aura hitam tersebut menghilang betapa terkejutnya melihat Yusuf tidak ada disana. Jantungnya seolah berhenti, air mata perlahan mengucur, ia berjongkok--tunduk melihat temannya dihabisi oleh musuh.


Sedangkan dia hanya berdiri diam tidak bisa berbuat apa-apa. Tama menatap gadis itu yang tengah tertawa puas melihat musuh dihadapannya berhasil di habisi. Tama mengeluarkan dua pedang di punggungnya, berlari cepat mengarah ke gadis itu.


Ia sudah tahu bahwa pemuda black eyes akan menyerangnya jadi ia menahan kedua pedang assasint itu dengan pedang terbuat dari aura hitam. Kedua mata mereka beradu.


"Aku berhasil mengalahkan pemuda itu dalam ledakan besar. Sekarang giliran, kau pemuda bisu."ledeknya tersenyum miring meremehkan Tama.


Mata Tama menajam dengan cepat ia langsung beradu pedang sama gadis asing yang belum memperkenalkan diri.


"Semburan angin!"seru seorang gadis dari belakang meniup keras menciptakan hembusan angin kencang.


Gadis dan Tama menyadari serangan dadakan, keduanya mengindar dan pemuda itu nampak tidak mengampuni gadis di hadapannya. Dea mendongak keatas melihat pertarungan mereka berdua yang sengit.


"Kalian berhenti!"teriak Dea. Gadis berambut panjang memiliki aura hitam mendarat mulus begitupun Tama, ia memasang kuda-kuda bertarung dan matanya mulai waspada terhadap apapun.


Gadis itu menoleh kebelakang melihat seorang gadis berambut panjang pirang menatap tajam kearahnya. Dea sedikit terkejut melihat siapa yang ia hadapi sekarang?.

__ADS_1


Ti-tidak mungkin! -- batinnya.


Lalu datanglah Lidya melihat di depannya begitu berantakan banyak sekali kerusakan disini apalagi tadi mendengar ledakan berasal dari sini. Ia melihat seorang gadis cantik di depannya entah mengapa Lidya bisa merasakan kekuatan dahsyat seperti kekuatan milik Vin. Tetapi ini lebih buruk dari Vin.


Ia melihat Aska berjongkok dengan kepala menunduk ke bawah, Lidya segera menghampiri pemuda itu.


Dea tidak percaya bahwa yang ada di hadapannya adalah gadis yang selama ini pernah jadi korban bully di sekolahnya. Dan yang ditakutkan oleh Dea memang terjadi kalau ia benar-benar akan membalaskan dendam.


"Meika!"ucap Dea.


"Apakah ini benar-benar dirimu?"tanya Dea berjalan maju berusaha mendekati gadis bernama Meika.


Meika tersenyum miring,"iya, ini memang aku,Meika. Yang dulu sering di bully di sekolah karena tidak memiliki kekuatan seperti yang lain dan hidupku sangat terpuruk. Sampai aku mengalami depresi."ucapnya membuat Dea meneteskan air matanya mendengar cerita yang sama sekali tidak ia ketahui tentang Meika.


"Meika,tolong sadarlah. Ini bukan dirimu, mari kita selamatkan dunia dan jangan memperburuk keadaan seperti mengancurkan dunia. Ku mohon."pinta Dea memohon pada Meika tapi gadis itu sama sekali tidak menggubris perkataan Dea.


"Berhenti disitu!"titahnya membuat langkah Dea berhenti saat itu juga. Matanya masih menatap Meika dengan mata penuh air mata. Tidak percaya bahwa Meika berubah sangat drastis.


"Aku tidak mau didekati oleh orang yang sok meng-kasihaniku."ucapnya membuat Dea terkejut yang di lontarkan Meika.


Lidya mencoba membangkitkan semangat Aska yang entah mengapa menjadi lemah, mudah putus asa. Ia menoleh melihat kedua gadis sedang berhadapan disana. Mereka membicarakan masa lalu yang sangat pedih dan kehidupan yang tidak adil menurut Meika.


Lidya terus memerhatikan mereka berdua begitupun Tama. Dea mengulurkan tangannya mengisyaratkan untuk ikut dengannya menuju ke jalan yang benar. Meika menatap uluran tangan itu tatapan datar lalu ia tepis tangan Dea kasar.


Meika langsung menyerang Dea dengan kekuatan aura hitamnya tanpa persiapan sang lawan. Aska berlari mengarah ke Meika, mendorongnya sampai jatuh.


"Pemuda sialan!"umpatnya melihat delapan orang yang memiliki aura hitam seperti dirinya berdiri di depan super market. Ia mengarahkan delapan orang tersebut menyerang mereka berdelapan dan melukai mereka.


Aska dengan cepat menarik aura hitam yang ada di tubuh mereka agar terlepas dari pengaruh kekuatan gadis tidak tahu diri, Meika.


Meika terbelalak melihat kehebatan kekuatan Grey Eyes jika ia berada disini terus maka ia akan terkalahkan dan tentu saja tujuan yang selama ini ia rangkai akan berubah menjadi sia-sia saja. Ia bangkit berdiri dan berlari menyelamatkan diri. Namun, jalannya di hadang oleh keempat pemuda.


"Mau lari kemana ha!"teriak Nando ingin meremukkan tulang musuhnya sampai hancur.


"Sepertinya ia buru-buru pergi nih."kata Jay tersenyum menatap Meika membuat gadis itu sedikit terpana dengan tatapan serta senyuman manisnya. Itu membuat hatinya berubah luluh.


Meika berusaha untuk sadar dan tidak terkecoh dengan kekuatan aneh dari keempat pemuda di hadapannya. Hampir saja ia terpengaruh kekuatan dari pemuda tampan yang di telinganya ada anting cinta.


"Buatlah musuhku lumpuh!"ucap Pandu membuat kedua kaki Meika melemah dan ia jatuh dengan kedua tangan menjadikan tumpuan. Ia melihat keempat pemuda bergantian, giginya menggertak.


Siapa sebenarnya mereka? Kenapa kekuatannya sangat lemah dan aneh. Tapi aku merasa tidak ada apa-apanya dihadapan mereka karena kekuatanku hampir habis karena menghabisi pemuda berjaket abu itu. Karena dia aku menjadi seorang pencundang---batin Meika sangat kesal.


Keempat pemuda itu berjalan menghampiri gadis di hadapannya yang membuat semua orang takut dan merenggut hak mereka. Nando ingin mencekal pergelangan tangan gadis itu dengan keras tiba-tiba waktu menjadi terhenti. Semuanya berhenti,tidak ada yang bergerak.

__ADS_1


"Ini sungguh merepotkan bukankah begitu?"tanya seorang gadis menoleh mengarah ke seorang pemuda di sampingnya.


"Iya."jawabnya singkat menatap ke depan.


"Meika, harus banyak belajar dariku untuk mengalahkan mereka."ucapnya menunjuk ke Meika. Sebuah rantai hitam mengarah cepat menarik Meika berada di sampingnya.


"Baiklah,kita harus pergi."katanya dibalas anggukan pemuda itu. Mereka bertiga menghilang dengan aura hitam pekat lalu waktu kembali seperti sedia kala.


Semua terkejut melihat apa yang terjadi apalagi empat pemuda yang mau menangkap pelaku dari balik semua ini.


Mata Nando terbelalak, "kemana gadis itu pergi?"tanyanya kaget menoleh ke kanan-kiri mencari keberadaan sosok gadis itu.


Lidya kembali sadar dan bingung apa yang terjadi. Ia melihat gadis di kepang dua, pemuda memakai masker dan pakaian serbah hitam, Aska dan melihat keempat pemuda; Nando, Jay, Pandu dan pemuda memakai tudung.


"Hmm, itu siapa yang memakai tudung?"tanya Lidya.


Semua menoleh mengarah ke pemuda memakai tudung tersebut di bukannya tudung itu, tidak percaya apalagi Aska. Ia tidak percaya apa yang dilihatnya dan senang. Jadi ia bisa menarik nafas lega, syukur kalau ia tidak apa-apa.


Dea tersenyum melihat temannya itu.


"Yusuf!"panggil Lidya tersenyum bangga.


Aska menghampiri pemuda itu dan mengecek apakah yang dilihatnya bukan tipuan semata. Ia mencubit pipi Yusuf membuat pemilik pipi tersebut meringis kesakitan.


"Aduh, sakit Ka!"ringisnya membuat yang lain tertawa kecuali Tama.


"Hmm, musuh itu benar-benar berbahaya jadi kita harus berhati-hati. Karena kekuatannya diatas kita."kata Yusuf sedikit menjelaskan pada teman-temannya.


"Suf, bagaimana kau bisa lepas dari ledakan besar tadi yang diciptakan oleh gadis itu?"tanya Aska membuat Lidya dan Dea terkejut.


"Jadi ledakan itu---"Lidya tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Yusuf menatap semua temannya bergantian.


"Aku tadi menyerap kekuatannya masuk ke cermin dan ternyata kekuatannya lebih kuat dari ku. Maka aku membuat sebuah tipuan kecil yaitu meledak bersama sisa kekuatannya. Jadi ia mengira kalau ia berhasil membunuhku padahal tidak. Ia juga tidak berhasil melukaiku sedikit pun."jelas Yusuf membuat semua tercengang.


"Wah, itu hebat Suf!"puji Aska. Matanya sampai tidak berkedip.


Akhirnya mereka semua kembali ke tempat masing-masing. Yusuf, Tama dan Dea kembali menuju ke sekolah untuk melapor ke kepsek. Seperti biasanya Tama langsung ngacir membiarkan Yusuf dan Dea tertinggal di belakang. Dea ingin mengejarnya tetapi Yusuf melarangnya dan membiarkan Tama menjalankan sesuka hati.


Tama melompati atap rumah menuju dimana ia tadi meletakkan pisang goreng di kost seseorang. Pria yang ada di dalam kost itu sudah tersadar dari pingsannya dan melihat bahwa pisang goreng dari orang misterius masih berada diatas meja. Tanpa basa-basi ia hendak mengambil kresek tersebut tanpa memperdulikan pesan dari orang mister X itu.


Tiba-tiba terdapat empat pisau dapur mengarah ke arahnya membuat mata membulat sempurna. Ia dibuat menancap di dinding bersama empat pisau yang nyaris membunuhnya. Melihat ada seorang misterius masuk dari jendela mengambil pisang goreng tersebut dan tidak lupa menempelkan secarik kertas di atas meja bertuliskan.


Arigato gozaimasu, telah menjaga jajananku dan arigato dengan pisaunya. Untungnya pisau-pisau itu tidak melukai satu orang pun jadi tidak perlu kau cuci.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...


__ADS_2