Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Dua Belas: Ular Naga


__ADS_3

  Semua pohon-pohon gundul yang sudah di kalahkan kembali bangkit serta potongan dahan pohon yang sudah terlepas kini kembali seperti sedia kala. Membuat semuanya melotot apalagi pohon-pohon gundul itu lebih agresift seperti biasanya. Aska melihat banyak aura kegelapan penuh kejahatan berada di pohon-pohon itu.


Mata Aska menyipit menyimpulkan, ini seperti monster-monster waktu itu--batinnya. Melompat ke bagunan rumah ke rumah melawan pohon-pohon itu dengan tangan kosong. Semuanya bertarung melawan pohon-pohon yang menghalangi jalan mereka. Beberapa dari mereka terlempar akibat serangan pohon-pohon itu.


  Lidya terus menggerutu kesal ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan atau apapun. Tidak memiliki kekuatan tapi turun dalam peperangan. Itu adalah tindakan bodoh bukan. Gadis itu yakin kalau ia disini akan membantu imajinasi lain melawan Keysa dan Meika. Kedua gadis itu tidak pernah ada henti-hentinya membuat dunia ini hancur serta manusia-manusia yang tidak punya dosa ikut terlibat.


  Lidya mengambil pensil ajaib dari sakunya kemudian ia juga mengambil kertas yang sengaja di bawa. Meski ia tidak memiliki kekuatan setidaknya masih memiliki pensil ajaib yang di temukan teman-temannya di hutan belantara.


Sebuah cahaya keluar dari kertas tersebut mengeluarkan ular naga yang bentuknya tidak sempurna seperti di pikiran Lidya. Tidak sesuai ekspektasi, pikir Lidya tidak peduli. Sebuah ular naga berukuran besar, kepalanya seperti ular kobra, memiliki sayap lebar bak kelelawar tetapi tidak memiliki tangan maupun kaki. Lidya sesekali menepuk jidatnya pelan bisa melupakan bagian terpenting.


  Keysa yang ada di atas melotot melihat hewan berukuran besar muncul,tidak hanya Keysa yang terkejut melihat hewan naga ular yang tiba-tiba muncul. Semua imajinasi pun ikut terkejut.


Ular naga berwarna ungu biru tersebut mengeluarkan suara mengerikan. Lidya memejamkan mata menintah ular naganya terbang ke atas lalu mulut Lidya terangkat,"Snake Blackness Dragon!"teriak Lidya memanggil nama ular naga kegelapannya.


Kedua tangan ia satukan, matanya melihat pohon-pohon gundul yang mengerikan bak monster hutan. Matanya terpejam mencoba untuk fokus buat memerintahkan ular naganya.


"Breat Blaze Drakness it attack!"seru Lidya membuka mata seketika iris matanya berubah ungu biru. Ular naga meraung keras kemudian menyapu habis api kegelapan membakar monster pohon kegelapan itu habis tidak terisa. Kobaran api dari nafas ular naga pun berbeda yaitu ungu biru seperti warna ular naga itu sendiri.


Semua imajinasi yang melihat itu terpenganga tidak percaya melihat kekuatan dahsyat itu. Keysa melotot tidak percaya dan siapa orang yang memiliki kekuatan seperti itu padahal dari Alone Imagination bertugas memata-matai setiap imajinasi, tidak ada satupun imajinasi yang memiliki kekuatan tersebut. Ini membuat Keysa kesal, mengepalkan tangan geram.


Meika hanya cengo tidak percaya semua kekuatannya lenyap hanya karena ular naga yang bentuknya tidak sempurna. Mata Lidya sudah kembali sedia kala, nafasnya naik-turun walau hanya memerintahkan ular naganya buat menyerang. Tanpa babibu tubuh Lidya ambruk. Lina yang tadi melawan monster pohon itu menoleh melihat Lidya sudah ambruk.


"Lidya!"gadis itu berlari dan duduk di sebelahnya,menepuk-nepuk pipi Lidya. Ular naga tersebut perlahan menghilang dari pandangan mereka. Lina melirik ke arah kertas yang tak jauh dari Lidya.


'Ular naga tadi'--batinnya sedikit shock.


  Selama tidak ada halangan lagi mereka semua para imajinasi kuat menuju ke arah Keysa. Gadis itu langsung menyuruh ratusan Alone Imagination buat melawan mereka. Keysa menciptakan kekuatan tumbuhannya buat menjebak para imajinasi yang merasa lebih kuat darinya.


Beberapa dari mereka sudah tertangkap karena kekuatan tumbuhan Keysa membuat gadis itu tertawa bahak-bahak. Melvi terperangkap oleh tumbuhan melilit membuat ia tidak bisa bergerak. Pemuda berambut jabrik itu berusaha untuk diam dan tenang. Hawa tubuhnya berubah menjadi dingin,sedingin es. Semakin Melvi tenang semakin kuat kekuatannya.


Tubuhnya sudah berubah menjadi kristal-kristal es secara perlahan menjalar ke lilitan tumbuhan yang melilit di tubuhnya. Merasa semua menjadi es, Melvi mematahkan es tersebut sekuat tenaganya dan es tersebut pecah berkeping-keping.


Setelah itu Melvi mengeluarkan senjata tembak dan melesat pergi ke arah musuh menggunakan jalan esnya, mempercepat larinya. Shenna ia seperti sudah tidak sabar buat menghabisi musuh-musuhnya akibat perbuatan musuh yang menyerang terus menerus-menerus merasa muak.


Akibatnya Shenna melemparkan benda-benda berat membuat musuh terpenganga. Tangan kanan, satu jari mengangkat mobil, dan tangan kiri sama-sama satu jari angkat dua mobil sekaligus. Bisa dibilang kekuatan Shenna sekarang meningkat drastis, over power. Warna rambutnya pun lebih merah dari biasanya.

__ADS_1


Shenna tersenyum tipis,"goodbye."ucapnya manis lalu melemparkan ketiga mobil tersebut ke arah musuh.


Brak! Brak!


Sembari menyelesaikan musuh-musuh itu, Shena menepuk kedua tangannya merasa puas. "Sepertinya aku terlalu berlebihan ya."katanya pada dirinya sendiri.


Agung, warna rambutnya lebih mencolok dan seperti ada lampu di rambutnya. Ia sangat puas bisa menghabiskan semua musuh dengan kobaran api yang menyala-nyala. Lalu ada Dea di sampingnya mereka saling beradu pandang melihat ke depan ada enam orang yang memiliki kekuatan lemah tapi kekuatan mereka bisa dibilang cukup kuat.


"Sepertinya aku butuh kekuatanmu."ucap Dea membuka pembicaraan.


"Ya, aku juga sama. Bagimana kalau kita melakukan serangan combo."usul Agung membuat Dea tersenyum sumringah.


"Satu pemikiran. Okay!"seru Dea,"kalau selesai berperang aku akan mentraktirmu kopi."kata Dea masih sempat-sempatnya mengatakan traktir kopi membuat Agung tertawa.


"Aku suka tawarannya, terima kasih."jawabnya.


  Mereka berdua mengeluarkan kekuatan mereka dan menyerang musuh dengan kekuatan combo, angin dan api.


"Blaze Pickaxe!"


  Arka terkekeh melihat musuh Alone Imagination nampak kebingungan melihat dirinya ada empat. Musuh itu selalu menyerang  Arka palsu. Arka yang asli malah duduk santai seraya terkekeh di samping Arsa, adik kembarannya.


"Bosan lah kak, kalau aku sering melihat tontonan ini terus menerus."keluh adiknya menopang wajahnya dengan tangan kananya menoleh Arka masih tertawa ngakak.


"Okay kalau kau merasa bosan. Kau bisa mengambil musuh itu!"ucapnya menunjuk musuh yang sibuk dengan bayangan Arka membuat Arsa tersenyum sumringah.


"Seriusan kak?wah!"jawabnya riang ia mengeluarkan gelang karetnya dan menarik gelang karet menuju ke musuh. Musuh tersebut mengaduh kesakitan sebab ada seseorang yang menembak dengan gelang karet.


"Siapa sih yang ganggu gue! Segala, pakai gelang karet apa-apan itu! Mau bermain apa!"protesnya seraya menyerang musuh yang tak habis-habisnya ia sedari tadi sudah memukul berulang kali dan masih banyak.


"Siapa yang main-main sama gelang karet? Justru aku akan menangkapmu."kata Arsa santai dan tanpa disadari orang itu kalau Arsa sudah berdiri di belakangnya. Punggungnya menubruk Arsa perlahan orang itu menoleh, melotot tidak percaya.


Arsa hanya tersenyum,"sayoonara!"ucapnya, seketika di atas kepala orang itu keluar tiga gelang lalu melilit ke tubuh orang itu. Arsa mengeluarkan gelang karet dan memainkan membentuk sebuah peti mati.


Orang yang memiliki kekuatan Alone Imagination melotot,perlahan kedua matanya berubah menjadi putih, tubuhnya tiba-tiba kaku. Arsa melangkah mundur. Ketiga gelang karet yang mengikat orang itu perlahan berubah menjadi peti mati.

__ADS_1


Arsa Samana memiliki kekuatan yang berhubungan dengan apa yang disukainya. Arsa ini suka sekali bermain gelang karet pokoknya yang berhubungan dengan gelang karet, kalau ia pergi kemana-mana selalu membawa gelang karet. Maka dari itu ia mendapatkan kekuatan yang baginya tidak hebat jadi hebat.


Arsa jadi teringat kata-kata gadis berhijab waktu di perkemahaan saat itu, Bening. "Suatu saat yang lemah akan menjadi berguna. Karena semua itu saling membutuhkan." lebih intinya seperti itu.


Arka mengajak saudara kembarannya buat membantu lainnya dibalas anggukan Arsa mantap. Yusuf yang terbang di atas langit sambil tertawa girang. Ia sangat senang bisa menikmati ini dengan bebas.


Meika yang melihat ada satu orang yang ingin menuju ke arah Keysa menatap serius. Ia berkata,"Key, aku akan menyerang anak itu! Sepertinya ia ingin mengajak masalah."katanya.


"Baiklah. Terserah kau! Aku ingin melihat tanda-tanda keberadaan pangeran tumbuhan dan Lidya. Setelah itu aku akan turun."katanya sedikit acuh.


Meika langsung turun menggunakan kekuatan kegelapannya. Yuruf melihat ada salah satu musuh turun membuat ia sangat bersemangat tidak seperti biasanya..


"Ini sangat seru!"


  Dari pandangan Keysa,sudah banyak api yang menjalar ke seluruh kota tetapi belum ada tanda-tanda Pangeran Tumbuhan serta Lidya. Ia yakin kalau mereka berdua sudah ada disini. Keysa malas menunggu besok jadi ia sengaja melakukan peperangan dadakan sebelum peperangan keesokkan harinya. Seulas senyum terlukis di sudut bibirnya.


  Dahinya berkerut berpikir, ia sepertinya melupakan satu orang yang sampai kini tidak memperlihatkan batang hidungnya semenjak ia turun tangan menghancurkan Kota Selatan.


"Dimana pemuda bodoh itu, Riko! Harusnya ia berdiri disini bersamaku dan Meika. Tapi ia malah tidak menunjukan diri, aku ingin melihat semua imajinasi lemah yang bersusah payah menyerang anak buahku. Dalam waktu perlahan, aku bakal sangat menikmatinya."ucapnya pada dirinya sendiri menatap bulan sabit yang ada di belakangnya.


   Tempat yang sangat jauh dari peperangan itu disana ada beberapa pemuda-pemudi, orang tua dan anak-anak yang memiliki kekuatan imajinasi. Di sana juga ada Riko, Vin, Keno, Caca, Saturnus, Uranus, Elle, Abimanyu, Kevin, Cantika,Iva, Hana dan Bening.


Mereka bertiga belas sengaja tidak turun dalam peperangan, menunggu teman-temannya yang belum kembali dari tugas di berikan; Kelompok Tio dan Radit.


Riko sudah dilanda perasaan yang susah di deskirpsikan ia akan mencoba untuk tegar dalam situasi apapun. Ia sesekali menarik nafas dalam-dalam membuat Vin menepuk bahu pelan Riko,seperti menyelidik.


"Apa yang kau sembunyikan dariku?"tanyanya tiba-tiba dingin membuat Riko sedikit kaget mendengar kalimat dingin dari mulut Vin.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....


A/n


Jangan Anggap Kami Lemah update! Don't forget for like, comment and votenya. 5 rate juga 😊. Ikuti terus ceritanya sampai tamat ya see you^_^

__ADS_1


__ADS_2