Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Episode Tujuh:Sial (2)


__ADS_3

Alat-alat bersih untuk membersihkan toilet sudah Eric siapkan di depan toilet perempuan. Sebenarnya sih bagi Eric tidak masalah membersihkan toilet perempuan karena bilik toilet perempuan berjejer bukan didalam satu ruangan besar dan didalamnya baru ada deretan toilet perempuan. Eric lama-lama juga risih dan jijik pada hari sial ini.


Pukul tujuh pagi sampai ingin memasuki jam pelajaran ke tiga Eric masih menjalankan hukuman dari guru konseling yang sama sekali tidak ia ketahui namanya. Dalam benaknya berhasil mengingat satpam menyebalkan itu,Udin. Ia kesal sekali, mengapa ia mengira bahwa Eric ingin kabur dari sekolah yang jelas-jelas ia ingin masuk sekolah karena terlambat.


Ia ingin mengeluh pada tuhan tapi disisi lain mengira kalau ini hanyalah hari buruknya. Beberapa murid yang berlalu lalang melihat Eric tengah membersihkan closet duduk di dalam toilet, menahan tawa. Awalnya Eric tidak peduli pada mereka, lama-lama itu membuat Eric semakin risih. Eric yang berpenampilan keren namun sederhana sudah tercoreng di hadapan teman barunya, SMK Cemerlang.


Jangan berpikir negatif, berpikirlah positif Ric--batinnya menahan kesal dan marah.


Lalu guru konseling datang ketika Eric selesai menjalankan hukuman. Pemuda itu terkejut mendapati wanita muda cantik itu menatap datar dan kedua sorotan mata tajamnya menyapu isi toilet perempuan. Satu kalimat yang berhasil melesat di guru konseling itu adalah bagus dan bersih. Beliau menghela nafas menatap Eric yang berdiri di depannya memegang Pel dan meletakkan ember di sampingnya.


"Bagus, Ric. Kau lepas dari hukuman dan besok jangan terlambat lagi dan yah... Kau pergi ke ruang konseling. Aku ada seragam buatmu."pujinya dan menyuruh Eric menuju ke ruangan konseling. Eric mengangguk sekaligus senang bisa dipinjamin seragam.


   Jam ketiga sudah dimulai,kedua kaki galah melangkah menuju kelas Akuntansi 02 yang terletak di lantai dua. Pemuda itu tersenyum sambil membawa surat atas keterlambatan masuk kelas.


Knock knock


Diketuknya pintu kelas membuat seisi kelas mengarah ke Eric. Guru bahasa Indonesia menatap Eric tidak suka dan ingin marah pada anak itu karena terlambat masuk di mata mapel miliknya. Seolah tahu, Eric menyodorkan surat yang dipintanya tadi di guru piket. Guru tersebut menerima sodoran dari Eric dan membacanya sesekali melihat wajah pemuda itu.


"Baiklah silahkan duduk."


  Bangku Eric berada di nomer tiga bagian tengah, seorang pemuda pas-pas-san yang duduk bersebelahan dengan Eric cepat-cepat pindah tempat di kursi belakang. Eric mengerutkan dahi melihat temannya itu tiba-tiba  berpindah tempat.


"Riz, kenapa kau berada di belakang?"tanyanya nada terheran-heran.


Pemuda bernama Rizki tersebut memalingkan wajah dari Eric dan berkata sinis,"biarin suka-suka aku lah. Kau mending bangku sendiri saja."jawabnya masih memalingkan wajah dari Eric.


"Kenapa?"


"Aku tidak suka dekat dengan anak pembawa sial nanti aku juga kena sial."jawabnya cepat nada tidak suka dengan Eric. Eric mulai kebingungan melihat sifat drastis dari teman barunya itu,Rizki.  Mereka berdua adalah pemuda yang ada di akuntansi dua, hanya ada dua yaitu Rizki dan Eric sendiri. Lagi-lagi takdir berkata lain, Rizki malah menjahui Eric tanpa ada alasan yang jelas. Tanpa babibu sama Rizki, ia duduk di bangkunya dan mulai mencatat pembelajaran bahasa Indonesia.

__ADS_1


Tidak hanya hari ini saja Eric mendapatkan hari sialnya melainkan setiap hari Eric sering kali tertimpa sial dan sial. Ia sampai jengkel menendang tiang tidak bersalah meski kakinya sakit, Eric menahan rasa sakit itu dengan menggigit bibir bawahnya.


Badan Eric sudah pegal-pegal telah mengangkat kiloan beras di pasar karena ia menyenggol kantong beras sampai robek. Beras yang ada di kantong itu tumpah membuat sang penjual marah-marah dan meminta uang rugi pada Eric. Pemuda itu memandang beras yang tumpah begitu melas dalam hatinya. Mungkin aku menyenggol kantong yang sudah robek besar sehingga beras tersebut tumpah, itu yang ada dipikiran kronologisnya.


Tapi disisi lain mengapa harus dia yang memdapatkan hukuman seperti ini. Ada contoh lain ketika Eric membuang sampah gelas plastik, gelas tersebut ia lemparkan masuk ke tong sampah dan tiba-tiba ada botol plastik mengenai kepala Eric. Eric menoleh ternyata pengendara motor membuang sampah sembarangan dan mengira kepala Eric adalah tong sampah.


Semakin hari, semakin tidak kuat menjalaninya.


Kreek


Pintu terbuka dan berjalan masuk ke apartemen yang acak-acakkan seperti kapal pecah. Ini paling sering banget terjadi. Kamar apartemen Eric sering acak-ackkan dan benda-benda yang sudah di tata serapi mungkin menjadi semrawut tidak karuan.


Langkahnya berjalan malas dan segera ia tiduran diatas kasur,menatap langit kamar apartemen berwarna putih tidak ada olesan sama sekali di sana.


"Sebenarnya aku ini salah apa? Mengapa aku sering mendapatkan kesialan. Apa aku melanggar sesuatu sampai aku mendapat hari begitu buruk?"kata Eric berbicara pada diri sendiri dan tuhan. Setelah beberapa menit ia bangkit menuju kamar mandi membersihkan diri.


Hanya butuh beberapa menit Eric sudah rapi dengan memakai baju cukup sederhana yaitu kaos dan celana selutut. Ia mengambil sapu dan siap membersihkan apartemen miliknya ini. Menghela nafas sejenak menatap semua benda yang awut-awutan tidak tertata rapih.


Nafasnya naik turun tidak beraturan, ia duduk di sofa melihat sekitar sudah bersih dan Indah. Keringatnya sudah mengucur deras di pelipis Eric, rambutnya pun ikut basah dan tambah ganteng dari sebelumnya.


Ia tiduran di sofa sambil bernafas lega tugasnya sudah selesai dengan hasil memuaskan tidak ada hal kecil yang terlewatkan. "Oh lelahnya."katanya mengelap keringat dengan punggung kanan kananya ketika diangkat tangan terkena sinar lampu, banyak banget keringat ku-pikirnya.


Kruk..


Tiba-tiba terdengar perut keroncongan. Eric memegangi perutnya itu,ia bangkit duduk. "Duh, laparnya."ucapnya kelaparan. Ia bangkit berdiri berjalan menuju dapur dan membuka kulkas di sana, berharap kalau ada stock makanan. Dan kenyataan isi kulkas yang banyak sekali stock makanan bulanan, habis tidak terisa hanya ada botol air minum saja. Itupun hanya tinggal sedikit banget, tidak sampai diteguk air itu sudah habis.


Eric merogoh sakunya dan membuka dompet, kosong melompong. Ia sangat krisis sekarang.


"Agh!!"teriak Eric frustasi.

__ADS_1


Ternyata tidak hanya diluar saja ia mendapatkan kesialan yang bertubi-tubi tapi di dalam apartemennya sendiri pun, ikut mendapatkan kesialan yang lebih parah.


Eric jatuh tertunduk,wajahnya pun sudah pasrah. Ia sangat lelah banget. Dan mulai mengeluh bahwa hidup itu tidak adil pada Eric.


"Mengapa? Mengapa aku mendapatkan takdir seperti ini. Orang pembawa sial, tidak berguna."katanya mengeluh dan merasa putus asa. Sekarang ia tidak bersemangat lagi dan membiarkan perut kosong tidak ada isi. Eric ingin nyawanya cepat-cepat diambil biar ia bisa tenang di surga.


"SipFood!"teriak seseorang begitu lantang di luar kamar apartemen Eric. Kedua matanya melebar, menoleh keluar dapur. Ia diam memastikan kalau ia tidak salah dengar.


"Sipfood!"teriaknya lagi kali ini sambil mengetuk pintu.


Knock!! Knock!


Seulas senyum terlukis di wajah Eric, pemuda itu langsung berlari kearah pintu membukanya lebar-lebar dengan senyuman penuh kebahagian. Di depan sudah ada orang memakai jaket dan helm 'SipJek' yang tersenyum menyodorkan makanan ke Eric. Eric dengan senang hati menerima sodoran dari Sipjek.


"Wah!makasih Pak!"ucapnya berterima kasih pada orang tengah baya itu. Eric berbalik badan tapi orang tersebut bilang,"bayar dulu mas."katanya.


Eric menoleh,"loh ini kan buat saya, Pak. Bapak kan yang memberi saya makanan lezat ini kok malah minta bayar?"


"Ya harus bayar kan mas udah menerima makanan dengan senang hati berarti harus bayar."


"Ya sudah kalau begitu. Ini aku balikin."kata Eric akhirnya menyodorkan kembali kresek berisikan makanan lezat. Dalam hatinya makanan itu sangat disayangkan karena perut Eric udah keroncongan dari tadi.


Bapak tersebut tersenyum licik. "Selamat anda berhasil saya tipu. Nikmati makanan dari SipJek tanpa  bayar cuman hari ini,"ucap bapak itu tiba-tiba, Eric dibuat bingung dengan bapak ini. bapak tersebut mengulurkan tangan ke Eric dan pemuda itu bersalaman,"Sekali lagi anda hari ini sangat beruntung dan nikmati makanannya."katanya melepaskan jabat tangan lalu pergi.


Eric langsung menutup kamar apartemen dan cepat-cepat membuka makanannya. Sebelum itu ia terkekeh apa yang terjadi beberapa detik, menit dan jam yang lalu. Dalam pikirnya, Eric sama sekali tidak memiliki aplikasi SipJek dan secara tiba-tiba datang makanan siap saji. Kebetulan sekali perutnya lagi kelaparan.


"Horai makan!"serunya memakan makanan ayam goreng begitu nikmat. Sampai air mata kebahagiaan menetes.


"Hmm lezatnya!"

__ADS_1


*jangan anggap kami lemah*


Bersambung....


__ADS_2