
Sepulang sekolah Lidya menunggu Lina di depan kelasnya, duduk santai. Lina masih mengerjakan sesuatu dan bentar lagi ia bakal selesai. Lidya tidak tahu, apa yang di kerjakan oleh Lina itu membuatnya penasaran. Eric keluar dari kelasnya dan melihat kalau Lidya menunggu seseorang sendirian disana.
"Hai Lidya!"sapanya, gadis itu menoleh melihat Eric. "Hai juga Ric. Sedang apa kau disini?"tanya Lidya menggeser tempat duduk dengan senyum sumringah. Eric duduk sebelah Lidya. "Tidak apa-apa. Kau sedang apa? Nunggu siapa?"tanya Eric sedikit canggung pada Lidya.
Karena ini pertama kali ia mendapatkan teman gadis dan gadis pertama itu adalah Lidya. Sudah beberapa minggu Eric tidak memiliki teman di SMK Cemerlang ingin rasanya nama sekolah ini ia ganti menjadi SMK Kegelapan. Eric juga kehilangan teman yaitu Riski sampai sekarang Riski masih menjauh dan tidak pernah mengobrol sama sekali padanya. Dan kata-kata anak pembawa sial masih tergiang-giang.
"Ric?"panggil Lidya membuat lamunan Eric buyar. Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal sambil terkekeh. "Kau memikirkan apa Ric?"tanya Lidya dibalas gelengan Eric.
"Aku tidak memikirkan apa-apa kok."balas Eric sambil melihat arlojinya sudah menunjukkan angka setengah empat sore. "Lid. Apa kau tidak pulang?"tanya Eric.
"Aku masih nunggu Lina, temanku."kata Lidya dibalas angguk Eric. "Ya sudah aku duluan ya. Assalamualaikum."katanya lalu melesat pergi. Lidya tersenyum,"waalaikumsalam."
Tak lama setelah Eric pergi Lina keluar kelas sambil tersenyum kearah Lidya. Ia menoleh melihat Lina sudah selesai dengan urusannya,"sudah selesai?"Lina mengangguk dan mereka berdua berjalan pulang bersama-sama.
Mereka menunggu bus di halte. Sebentar lagi malam akan tiba tapi busnya sama sekali belum melintas. Membuat Lidya merasa bosan. Lina berpikir sejenak dan mengajak Lidya berjalan beberapa meter sontak saja Lidya terkejut mendengar keputusan itu keluar dari mulut Lina. Jika mereka berdua berjalan maka kedua kakinya bakal patah, sekolah ke rumah sangat jauh sekitar beberapa kilometer dari sini,tidak tahu berapa kilometer yang akan mereka berdua tempu. Lidya menghela nafas,"jauh banget Lin."ucap Lidya melas.
Lina menepuk pundak Lidya. "Tidak apa-apa,Lid. Nanti kita bakal dapat bis di tengah jalan ketimbang nunggu disini."kata Lina, terpaksa Lidya mengiyakan perkataan Lina. Mereka berdua berjalan, Lina dengan semangatnya berjalan sedangkan Lidya tidak semangat.
Di pertengahan jalan mereka berdua harus menyebrang pertigaan jalan. Ini yang tidak Lidya sukai, menyebrang disini itu sulit dan banyak sekali kendaraan berlalu lalang apalagi mobil besar seperti truck. Lina mengenggam tangan Lidya sambil menunggu lampu merah menyalah. Lina menoleh kekanan dan kekiri memastikan tidak ada kendaraan, sudah sepi mereka berdua menyebrang jalan. Tinggal satu jalan yang harus mereka lewati dan ini sangat mudah untuk dilewati hahaha. Dari sebrang sana ada seorang gadis remaja dengan rambut dibiarkan tergerai ingin menyebrang juga.
Lampu merah sudah menyalah gadis remaja itu menyebrang jalan dengan santai. Lina dan Lidya masih menunggu giliran setelah sepi mereka berdua berjalan menyebarang dari arah timur terdapat ada mobil yang melaju kencang. Gadis yang tadi menyebrang melihat kedua gadis itu masih menyebrang dan arah timur ada mobil yang melaju kencang. Ia meneriaki mereka berdua,"AWAS ADA MOBIL!"Teriaknya kembali berlari.
Lina dan Lidya berhenti menoleh melihat mobil berwarna putih melaju kencang kearah mereka. Mereka berdua tidak bisa bergerak di sana. Gadis berambut panjang bergelombang berwarna merah berdiri menghadap ke mobil tersebut dengan kedua tangan ke depan.
Mobil tersebut sudah membunyikan klakson,TIN!! TIN!!. orang-orang yang menunggu lampu lalu lintas warna hijau melihat apa yang dilakukan oleh gadis berambut merah tersebut. Mobil itu sudah mendekat. Lidya dan Lina berpelukan sambil menutup mata mereka tidak ingin melihat kejadian ini.
Gadis berambut merah tersebut menahan mobil tersebut meski ia tidak bisa menahan kuat. Gadis itu berusaha mengentikan mobil tersebut, suara decitan terdengar memekikkan telinga.
Dengan sekuat tenaga gadis berambut merah mencoba mendorong maju mobil tersebut. Mobil itu mundur secara perlahan, orang-orang yang melihat itu pada cengo dan ada beberapa orang yang memvideo kejadian tersebut. Mobil tersebut belum berhenti. Gadis itu mendorong sekuat tenaga menatap kedepan. Rambut merah semakin lama semakin memerah dan terdapat cahaya disekeliling tubuhnya.
"Aku meminta yang ada di dalam mobil keluar supaya aku bisa menghentikan mobil ini tanpa ada yang terluka."ucap gadis tersebut. Namun tidak ada yang merespon. Ia terpkasa dengan cara halus yaitu menahan sekuat tenaga. Lina melihat gadis itu sepertinya kelelahan ia akan membantunya. Lina melepaskan pelukan ketakutan dan berlari ikut menahan mobil.
"Aku akan menolongmu."kata Lina yang sudah berdiri disamping gadis berambut merah itu. Ia menoleh kearah gadis yang cantik dan imut itu. "Apakah kau bisa?"tanya gadis berambut merah itu ke Lina.
"Aku pasti bisa. Aku ingin menjadi strong girl."kata Lina yakin, menahan laju mobil itu. Kedua gadis tersebut perlahan melangkah mundur dan mereka secara bersamaan mendorong kebelakang. Jalanan menjadi macet. Lidya cepat-cepat menyebrang dan berdoa Lina dan gadis berambut merah tidak terluka.
Akhirnya mobil tersebut berhenti. Dan kedua gadis itu menghela nafas lega. "Alhamdulillah akhirnya selesai juga."ucap Lina dengan nafas ngos-ngosan dan keringat begitu derasnya mengucur membahasi pelipisnya. gadis berambut merah itu tersenyum melihat Lina telah membantunya,"terima kasih telah membantuku. Kau gadis cantik yang sangat kuat."puji gadis itu membuat Lina malu-malu.
Mereka berdua menghampiri Lidya yang menatap khawatir. "Lin,apa kau baik-baik saja. Apa tanganmu tidak terluka nanti kau harus pijat supaya tidak linu."kata Lidya khawatir sambil memegangi kedua tangan Lina.
"Iya. Nanti aku pijet deh."
Lina dan Lidya menatap gadis yang tadi berambut merah tapi sekarang menjadi hitam membuat keduanya bingung. "Eh bukanya tadi kamu rambutnya berwarna merah ya? Kok sekarang menjadi hitam?"tanya Lina kebingungan dibalas angguk Lidya. Gadis itu hanya tersenyum.
Di sebuah cafe yang sangat tenang, cafe disini tidak begitu luas namun pelanggannya banyak banget dan ada panggung kecil di sana. Terlihat ketiga gadis duduk di dekat jendela begitu menikmati caffe latte masing-masing. Gadis cantik dan imut itu sangat penasaran apa yang terjadi pada gadis yang ada didepannya.
__ADS_1
Ia takut kalau gadis ini seperti Jay memiliki sifat aneh dan kekuatan. Ya, Lina berpikir dua kali tentang 'kekuatan' dan sampai saat ini ia tidak dapat menyimpulkan kekuatan yang dimaksud oleh Jay, pemuda idaman. Dan Lina pun masih menghindari Jay untuk sementara waktu.
"Namamu siapa?dari tadi kita hanya hening dan meminum caffe late ini."ucap Lina mencairkan suasana yang hening begitu lama. Lidya hanya diam dan menulis sesuatu di buku kecilnya.
"Oh aku sampai lupa memperkenalkan diri,"ucapnya tersenyum menatap ke Lina dan Lidya bergantian, "namaku Shena Nabila panggil saja aku, Shen."Shena memperkenalkan diri wajah senang bisa mendapatkan teman baru.
"Perkenalkan namaku Lina Andia panggil saja aku Lina."Lina memperkenalkan diri bangga lalu memperkenalkan teman sebelahnya yang sibuk menulis sebuah cerita di buku, "kalau ini namanya Maulidya Wahyu Fatmawati, biasanya di panggil Lidya. Dan ia sangat suka menulis, ada beberapa cerita yang sudah dipublik lewat aplikasinya."Lina memperkenalkan temannya Lidya sekaligus mempromosikan akunnya. Shena mengangguk dan tersenyum mengiyakannya.
"Wah hebat! Bisa nulis cerita."kata Shena sedikit kagum.
"Shen. Aku ingin jawabanku tadi."pinta Lina tidak sabaran. Akhirnya Shena memilih untuk menceritakan semua dari awal mendapatkan sebuah kekuatan yang bisa dibilang datang secara tiba-tiba. Lidya yang tadi sibuk menulis, berhenti sejenak menulis ia ikut penasaran dengan Shena bisa mendapatkan kekuatan tersebut.
Shena begitu senang bisa mendapatkan kekuatan yang bisa dibilang sangat kuat seperti wonder woman. Namun, ini sangat berbeda--Shena merasa enteng dengan kekuatannya apalagi kalau warna rambutnya semakin lama akan memerah berkobar. Itu full kekuatan otomatis energinya bisa habis dan kehilangan kesadaran.
Untunglah Shena tadi tidak mengeluarkan semua energinya jika ia melepaskan kekuatan merah berkobar maka Shena akan pingsan. Waktu pemulihannya pun lama,Shena membutuhkan beristirahat selama delapan jam. Lina yang mendengarkan semua cerita dari Shena melongo tidak percaya.
"Masalah aku dapat kekuatan itu. Aku tidak tahu,secara tiba-tiba saja kekuatan itu muncul dari tubuhku. Dan kekuatan itu juga membuat warna rambutku berubah menjadi merah."jelas Shena pada kedua teman barunya.
Mata Lina terbinar-binar, "wah hebat juga. Warna rambutnya yang awal hitam jadi merah. Aku jadi pengen."kata Lina bersemangat tapi ia sadar. Lina hanya manusia biasa bukan manusia super. Shena tertawa melihat tingkah laku Lina.
"Coba kau ceritakan sekali lagi. Awal kau merasakan kekuatan itu dari tubuhmu?"tanya Lina kepo. Lidya hanya melirik Lina sebentar lalu melanjutkan menulis di bukunya. Shena tertawa, menggeleng,"maaf, aku tidak bisa menceritakan semua itu padamu."
Lina cemberut kecewa dengan Shena karena ia tidak bisa menceritakan banyak hal tentang kekuatan itu. "Kenapa?"Shena tersenyum, "ya, karena ada sesuatu yang tidak boleh diceritakan."ucapnya meminum caffe latte.
"Mungkin ini hanya sebuah kebetulan atau halusinasiku tentang fantasi bahwa Shena memiliki kekuatan luar biasa dan warna rambutnya berwarna merah. Ia tidak mungkin seperti tokoh imajinasiku yang belum aku publiks tantang kisah seorang gadis menjadi kuat dengan warna rambut merah."batin Lidya.
"Shen, rumahmu dimana?"tanya Lidya membuka suara. Shena menatap Lidya tersenyum manis, ia melihat senyuman milik Shena sama persis seperti 'Billa',Tokoh di ceritanya.
Ini mungkin hanya kebetulan saja,batin Lidya lagi.
"Rumahku ada di jalan Purple shadow nomor 32,perumahan kok. Kalau kalian berdua ingin main ke rumah ku. Silahkan, aku malah senang banget."kata Shena lembut dan menyuruh mereka berdua sekali-kali mampir kerumahnya.
"Wah pasti rumahmu besar."kata Lina senag bisa bertemu Shena.
"Aku suka dengan sifatmu yang periang Lin."kata Shena tersenyum.
Lidya tersenyum. "Lain kali aja,Shen. Kalau ada Free time aku dan Lina bakal main ke rumah. Aku catat alamatmu."jawabnya mencatat alamat Shena di lembaran.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Setelah duduk santai bersama dua gadis yang enak diajak mengobrol, ini baru membuat hati Shena senang. Ia melanjutkan perjalanan menuju rumah, jalan kaki dengan tujuan tidak memakai sepeda motor ataupun sepeda. Shena tidak mengerti selama ia mendapatkan kekuatan super, ia sangat suka sekali jalan kaki entah berapa kilometer ia akan tetap jalan kaki. Naik sepeda saja ia tidak mau.
Dalam perjalanan Shena melihat wanita menggandeng anak balita keluar dari apotek. Lalu wanita itu mendapatkan telpon dari seseorang ,anak balita itu terlepas dari genggaman wanita tersebut dan anak itu berjalan mengarah ke jalan raya dimana banyak sekali kendaraan.
Shena berteriak ke wanita yang sibuk dengan telponnya,"Tante, anaknya ke jalan raya."teriak Shena akan tetapi wanita itu tidak mendengar teriakannya. Ini membuat Shena jengkel,"mengapa orang-orang bertingkah ceroboh seperti ini. Mereka memilih menyibukkan diri sendiri daripada keselamatan anaknya sendiri."gumamnya nada jengkel.
__ADS_1
Shena menatap kedepan, tangan mengepal, melihat anak balita sudah turun ke aspal jalan. Rambut Shena berwana merah, balita itu berlari dari arah Selatan ada mobil tengah melaju. Gadis itu masih diam mencoba detik-detik yang tepat, ia berlari kearah balita tersebut.
Suara klakson mobil sudah berbunyi.
Tin! Tin!
Wanita tadi sudah selesai dengan urusannya dan tersadar anaknya tidak berada di samping. "Vivi!"panggilnya kebingungan saat menoleh kearah jalan raya ia melihat anaknya berjalan kesana,"VIVI!"teriaknya.
Shena berlari kearah balita tersebut dan memeluknya erat. Mobil itu terpaksa rem mendadak menimbulkan suara berdecit.
Cit!!
Tinggal beberapa centi Shena dan balita itu ditabrak mobil, jika pengendara itu tidak mengerem di waktu tepat maka Shena bersama anak balita itu akan mati. Pengendara mobil tersebut turun dari mobil melihat kondisi tidak apa-apa, ia melihat gadis remaja memeluk balita itu. Wanita tadi yang membiarkan balitanya keluar dari pengawasan berlari menuju anaknya.
Ia mengendong anaknya dan mencium dahi anaknya berulang kali. Nafas Shena naik-turun hampir saja balita itu celaka tidak hanya balita tersebut orang lain dan diri sendiri akan celaka karena kecerobohan. Rambut Shena masih merah setengah hitam tanda ia masih ada marah dan sabar. Pengendara mobil itu membantu Shena berdiri.
"Kamu tidak apa-apa."tanyanya dibalas gelengan, "tidak apa-apa."Shena melihat wanita di depannya memasang wajah khawatir dengan anaknya.
"Tante harus menjaga anak tante. Jangan sampai lepas pengawasan tante. Kalau anak tante tadi ditabrak mobil, bagaimana?"Shena menasehati orang yang lebih tua darinya. Wanita tersebut mengangguk,"tante akan hati-hati dan ini buat pembelajaran buat tante. Terima kasih telah menolong anakku Vivi."ucapnya berterima kasih dan meminta maaf telah ceroboh.
Beberapa jam kemudian Shena pulang kerumah terlambat, ia langsung masuk kedalam kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Sering kali kalau ia berada di jalan raya ada-ada saja yang terjadi dan sudah berapa kali ia menolong seseorang. Dan ia juga pernah menahan truck guling yang terjadi dua minggu lalu.
Itu sangat diluar nalar manusia. Shena melihat telapak tangannya yang halus dan tubuh yang kurus bisa menahan barang-barang berat seperti itu. "Apa aku adalah wonder woman?"tanyanya pada diri sendiri.
Lalu keluarlah sinar berwarna merah dari rambutnya. Shena yang melihat itu langsung duduk dan mengamati benda bersinar apa itu?. Cahaya merah bundar itu perlahan berubah wujud manusia, seorang gadis cantik badannya langsing dan Shena terkejut ketika melihat rambutnya sama persis seperti dirinya yaitu rambut bergelombang panjang dan berwarna merah.
Shena melirik kearah pantulan cermin di lemarinya. Sekarang rambutnya kembali normal yaitu hitam. Gadis berambut merah itu tersenyum menatap Shena,"hai Shen. Kau jangan takut padaku dan jangan heran melihatku."katanya.
Dahi Shena berkerut,"siapa kau?mengapa kau persis sepertiku dan rambutmu?"tanya Shena sedikit bingung dan bertanya-tanya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku?dan darimana aku berasal. Kau jangan heran, mengapa sifatmu berubah drastis seperti Shena yang dulu. Aku akan membantumu agar kau bisa seperti dulu,Shena."ucapnya tersenyum.
"Kau tidak perlu membantuku. Lagipula aku sudah bahagia hidup seperti ini menjadi anak broken home dan dicibir dengan teman-teman. Aku lemah, aku sudah tahu itu. Dan mengapa aku perlu bantuanmu?"kata Shena sinis.
"Jangan menganggap kamu itu lemah. Jangan sering menganggap kamu itu lemah dimatamu sendiri dan orang lain. Sebenarnya kau itu kuat dan hatimu itu baik seperti bidadari. Hanya saja kau menyembunyikan itu dari semua orang dan menunjukkan sisi lemahmu pada orang lain. Semua orang punya hidup kelam,Shena."ucap gadis berambut merah berjalan mengelilingi kamar Shena dengan kata-kata motivasi supaya Shena bisa tampil percaya diri menjadi strong girl.
"Shen. Apa kau ingat gadis bernama Lina itu?"tanyanya. Shena diam sejenak dan mengangguk,"ia adalah gadis periang dan menyenangkan. Aku suka punya teman seperti dia."jawab Shena jujur menatap gadis berambut merah datar.
"Gadis itu ingin sekali menjadi kuat tetapi ia belum menunjukkan titik lemahnya pada orang lain. Harusnya kau meniru gadis bernama Lina itu, aku yakin kau akan senang dekat dengan Lina."ucapnya membuat seulas senyum di wajah Shena.
"Aku akan membantumu dan jangan membicarakan tentang semua ini. Biarkan ini menjadi rahasia."ucap gadis berambut merah berubah menjadi cahaya merah dan masuk kembali ke dalam tubuh Shena.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1