
Suara derap langkah kaki terdengar sepanjang koridor,ia melihat sekeliling yang masih sepi dan hanya beberapa murid saja yang sudah sampai disekolah. Hari ini Lidya sengaja bangun subuh demi Lina supaya gadis tersebut bisa curhat denganya. Setelah meletakkan tasnya, ia bergegas berjalan menuju kantin karena disanalah Lina bakal mencurahkan semua isi hatinya yang terjadi kemarin bersama Jay.
Lidya duduk di bangku sambil menoleh kekanan dan kekiri menunggu Lina datang sesekali melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Mulut Lidya mengatup dan jari telunjuknya mengetuk meja pelan. Ia memejamkan mata, menghela nafas mencoba untuk bersabar. Setelah lama menunggu akhirnya gadis yang ditunggunya datang dengan senyuman tanpa dosa.
"Hai Lidya!"sapanya dibalas senyuman tipis dari Lidya.
"Hi Lina."sapanya balik. "Dan,kau ingin mengatakan sesuatu tentang kejadian kemarin bersama Jay. Memangnya kenapa?rasanya kau ingin mengutarakan semua isi hatimu padaku."tanya Lidya tanpa basa-basi. Lina yang awal memasang wajah senang sekarang murung namun pipinya merona merah. Setiap kali Lina mendengar nama 'Jay' kedua pipinya selalu merah merona seperti selesai di gampar oleh seseorang.
Lina menghela nafas berat,menatap Lidya yang kini ia menjadi serius. "Jay? Jay tidak percaya dengan cinta,Lid. Aku harus gimana?setiap kali aku melihat Jay, hatiku terasa senang dan merasa setengah jiwaku berada di jiwa Jay."ucap Lina dengan dibumbui kata-kata mutiara.
Lidya memasang wajah datar ketika mendengar semua itu dari mulut Lina,ia pengen muntah saat Lina mengucapkan setengah jiwanya ada di dalam diri Jay. "Kenapa Jay tidak percaya adanya cinta?"tanya Lidya.
Lina terdiam. "Aku tidak tahu soal itu. Tapi tolong aku Lid."kata Lina menggenggam tangan Lidya, memohon supaya ia bisa dekat dengan Jay meski ada rasa sakit dan senang disana.
Lidya tersenyum dan menghela nafas. Ia berpikir mencari solusi yang paling mudah untuk bisa dekat dengan pemuda idaman. "Ah, kau seharusnya tidak mengatakan kalau kau jatuh cinta pada Jay."kata Lidya membuat Lina mayun. "Bukan aku yang mengatakannya. Jay sudah tahu sendiri kalau aku jatuh Cinta padanya."
"Kau nunjukin kode keras padanya!"
"Mengapa aku yang disalahin sih,Lid?"protes Lina tidak terima, Lidya menuduh seenaknya saja.
"Jika tidak. Mengapa Jay bisa mengatakan itu semua padamu?"tanya Lidya serius. Lina menunduk,"karena aku bertanya padanya. Mengapa ia kemarin dikerumunin banyak gadis seolah Jay itu idola mereka."
"Lalu ia berkata padaku itu karena efek dari dirinya sendiri dan kedua matanya. Lid, aku harap kau tidak menceritakan kisah ini pada yang lainnya. Hanya aku, kau dan Jay sendiri. Aku telah membuka satu rahasia Jay padamu."kata Lina menatap Lidya dengan air mata yang siap-siap meluncur membasahi pipi merahnya.
"Seandainya Jay..."ucap Lina diam lalu ia menangis tersedu-sedu di pagi yang cerah ini. Lidya berganti posisi duduk di sebelah Lina mencoba menenangkan Lina tengah menangis. Memang Cinta itu buta, pikir Lidya.
"Tenangkan dirimu,Lin. Dan aku ingat satu solusi yang akan menyadarkan Jay kalau kau sebenarnya sangat mencintai Jay."hibur Lidya. Lina menoleh dan menghapus air matanya,"apa?"
"Kau kan sudah dianggap Jay, teman. Kau jadi teman Jay aja, sementara waktu."kata Lidya.
"Bagaimana kalau ia mencoba menghindariku?"
"Hal itu tidak akan mungkin terjadi, Lin. Kau jadilah teman Jay dan kasih sesuatu padanya. Aku yakin, Jay akan perlahan menyadarinya. Tidak usah tergopoh-gopoh."kata Lidya lagi dengan seulas senyum manis. Lina menatap Lidya tersenyum dan memeluk gadis krempeng itu, "terima kasih banyak, Lid. Aku sangat senang dan segera aku lakukan itu."ucap Lina memeluk erat Lidya sampai gadis itu tidak bisa bernafas.
__ADS_1
"L-lin,a-aku ti...dak bisa bernafas!"
Lina tersadar dan langsung melepaskan pelukan erat. Lidya mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Lina kalau meluk kuat banget sampai Lidya ingin nyawanya dicabut oleh malaikat maut.
Terlihat wajah Lina kembali berseri-seri seperti sedia kala. "Terima kasih Lid. Sekarang aku pergi. Terima kasih dengan solusinya."ucap Lina lalu melesat pergi kembali ke kelas. Lidya hanya bisa menggeleng melihat satu temannya yang jatuh cinta. Ia sekarang jadi penasaran dengan Jay.
Apakah benar Jay tidak percaya dengan adanya cinta? Itu sangat mustahil. Jay adalah pemuda tampan di SMK Cemerlang dan hampir semua murid disini mengidolakan Jay.
Lidya berjalan mengelilingi sekolah di pagi hari. Udara saat pagi sangatlah sejuk. Terlihat tak jauh dari pandangan mata cokelat Lidya, di sana seorang pemuda bermuka pas-pasan,bisa dibilang ganteng dan bisa dibilang jelek. Tapi nggak jelek-jelek amat. Pemuda tersebut terlihat sangat kesal dan jaket cokelat yang dikenakannya terdapat banyak noda. Entah noda itu dapat darimana.
Lidya melanjutkan jalan-jalan paginya di halaman sekolah dan berpapasan dengan pemuda itu. Ia menyenggol lengan pemuda itu pelan. Pemuda tersebut jatuh, meringis kesakitan dan Lidya terkejut kalau senggolan pelannya membuat pemuda tersebut jatuh seperti selesai disenggol oleh dua orang.
Lidya merasa sangat bersalah dan mengeluarkan tangannya membantu pemuda itu berdiri. Eric melihat gadis cantik yang rambutnya dibiarkan tergerai dan beberapa helaian rambutnya sedikit bertebangan karena angin. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan uluran tangan seperti ini, jangan-jangan ini adalah hari keberuntungan Eric setelah tertimpa banyak kesialan di dunia ini.
"Apa kau baik-baik saja."kata Lidya membuat lamunan Eric buyar. Ia mengangguk dan tersenyum lalu Eric menyambut tangan Lidya dan berdiri. Tersenyum,"oh aku baik-baik saja kok tidak perlu khawatir."ucapnya.
"Maafkan aku telah menyenggolmu dengan sengaja. Aku pikir tadi aku menyenggolmu pelan tapi itu membuat kau jatuh."kata Lidya menunduk dan meminta maaf pada Eric.
Eric terkekeh melihat gadis di depannya ini. "Tidak apa-apa. Memang tadi senggolanmu pelan tapi itu juga kesalahan ku. Melamun saat berjalan."Lidya menatap wajah pemuda tersebut. Senyumannya tidak terpaksa, ia tersenyum sumringah seolah Lidya--gadis yang telah menyenggol seorang pemuda bermuka pas-pasan terjatuh tersungkur.
Lidya terkejut dan segera berbalik menghadap ke pemuda yang tadi ia tolong. Bukan menolong lebih tepatnya membuatnya terluka dikit.
"Kita belum kenalan."kata pemuda itu sambil terkekeh pelan. Lidya mulai takut dengan pemuda ini, ia terpaksa membalas dengan senyuman tipis. Tidak tahu mau jawab apa?
"Perkenalkan namaku Muhammad Eric Sentosa. Panggil saja namaku Eric dari Akuntansi dua. Sedangkan namamu siapa?"ucap Eric memperkenalkan diri. Dan itu membuat Lidya berpikir dua kali jika ia ingin kekelas Lina karena kelasnya bersebelahan.
Tapi belakangan ini saat Lidya ke kelas Lina, ia tidak pernah melihat pemuda bernama Eric ini. Tapi kalau dilihat-lihat lagi,pernah bertemu. Video yang ada di pikiran Lidya kembali terputar dan ia baru tersadar bahwa Eric pernah menabrak dirinya waktu itu.
"Bukannya kau pernah menabrakku ya?"tanya Lidya menunjuk kearah Eric. Pemuda itu diam,mencoba mengingat kejadian menabrak seorang gadis dan ia ingat. Eric tersenyum lalu mengangguk mengiyakan,"ya, aku pernah menabrak seorang gadis. Waktu itu aku buru-buru banget."kata Eric terkekeh.
"Sekali lagi aku minta maaf ya."ucapnya meminta maaf. Entah sudah berapa kali Eric meminta maaf sama Lidya dan ia juga tidak sempat menghitung kata 'maaf' dari Eric.
"Oh itu tidak apa-apa kok, kau kan tidak sengaja dan buru-buru banget. Perkenalkan namaku Maulidya Wahyu Fatmawati dari Multimedia satu."kata Lidya memperkenalkan diri ke Eric. Setelah memperkenalkan diri, mereka berdua menuju ke kelas sesekali mengobrol banyak tentang keseharian yang bisa dibilang 'membosankan'.
__ADS_1
Dari arah timur ada bola voli yang melambung ke atas udara dan arah bola tersebut mengarah ke Eric. Ada seseorang yang memperingatinya soal kedatangan bola tersebut,"AWAS!BOLANYA AKAN MENGENAI KEPALAMU!"
Lidya yang mendengar teriakan peringatan itu menoleh ke timur,mendongak ada bola voli mengarah tepat ke Eric. Kedua matanya melotot dan Lidya mendorong Eric supaya tidak terkena bola tersebut.
"Eric Awas!"teriak Lidya mendorong Eric. Pemuda itu jatuh,Eric melihat ada bola voli jatuh kearahnya. Lidya ingin menangkap bola tersebut, namun terlambat. Bola voli itu sudah mengenai dahi Eric sampai merah. Lidya yang melihat itu terkejut menutup mulut dengan tangannya.
"Eric, kau tidak apa-apa?"tanya Lidya dengan kalimat yang sama seperti tadi. Ia membantu Eric bangun. Eric merasa bingung rasanya dunia menjadi dua bagian dan gadis yang baru dikenalnya ikutan menjadi dua. Dahinya benjol akibat bola voli yang entah darimana.
Lalu ada dua pemuda datang dan salah satu dari mereka mengambil bola voli tersebut. Lidya bangkit memasang wajah marah. "Hei kalian berdua. Kalau main itu hati-hati. Jangan asal pukul saja, lihatlah kalian melukai orang dengan bola voli kalian!"protes Lidya tidak terima.
Kedua pemuda itu minta maaf. "Maaf, mbak. Kami tadi bermain bola volinya sudah hati-hati kok tapi terkena angin apa sampai bola volinya melambung tinggi dan mengenai teman kakak."kata pemuda tersebut memasang muka melas.
Eric bangkit berdiri memegangi dahinya yang benjol merah. "Lid, tidak apa-apa ini sudah jadi takdir ku."katanya dibalas tatapan tidak mengerti dari Lidya. Eric menatap kedua pemuda yang menunduk bersalah. "Kalian berdua main bola voli dengan rasa semangat ya. Dan soal tadi anggaplah kecelakaan sedikit. Benjol seperti ini hanya masalah kecil buatku. Kalian lanjut main bola voli mumpung masih pagi."kata Eric memberi kan semangat buat mereka berdua. Kedua pemuda tersebut pergi membawa bola voli mereka untuk latihan.
Eric tersenyum menatap Lidya yang masih kebingungan. Mereka melanjutkan perjalanan menuju kelas karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Pemuda tersebut pamit menuju kelas terlebih dahulu namun dicegah cepat oleh Lidya.
"Tunggu dulu,Ric."
"Apa?"
"Perkataan soal tadi 'Takdir' itu artinya apa? Yang jelas kau tertimpa musibah malah jawabanmu itu takdir."kata Lidya begitu penasaran.
"Itu memang takdirku meski kau berusaha menyelamatkanku seperti tadi. Bola itu akan terkena padaku."jawabnya singkat lalu pergi menuju ke kelasnya yang ada di atas membiarkan Lidya yang masih diam, mencoba untuk mencerna perkataan Eric barusan.
Ia memicingkan matanya. "Maksudnya aku sama sekali tidak mengerti."gumamnya dan melangkahkan kaki menuju kelas yang berada di gedung belakang lantai dua. Ketika kedua kaki kurusnya menaiki anak tangga,ia tidak sengaja berpapasan dengan Jay. Lidya melirik kearah Jay melihat matanya, entah mengapa detak jantungnya berdebar-debar tidak seperti biasa.
Tatapannya masih mengarah ke Jay yang turun tangga. Lidya tidak memperhatikan jalannya dan ia menubruk seseorang.
Bugh.
"KALAU JALAN ITU HADAP KE DEPAN JANGAN NENGOK KEBELAKANG. GADIS BISU!"protes seorang pemuda yang suaranya sangat khas dan Lidya menoleh mendapati Ferdi menatap benci ke Lidya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...