Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Enam Puluh Lima:Aska Pingsan


__ADS_3

   Berkali-kali pemuda tersebut menghindari serangan tupai besar yang di selimuti oleh bayangan hitam. Hewan tersebut sangat marah dan ingin menghabisi pemuda tersebut dengan mencoba mencakar serta mengeluarkan suara besar agar pemuda tersebut tidak fokus menyerang.


   Ia melompat ke dahan pohon dengan nafas sudah ngos-ngosan, menghela nafas berat menatap tupai besar tersebut menatapnya tajam seolah melihat mangsa sudah berada di depannya. Tupai besar itu mengangkat tangannya dengan kuku panjang mengarah ke Aska.


  Kedua mata abu-abu Aska melebar dan lagi-lagi menghindar melompat ke pohon lain. Dahan pohon yang tadi ia tempati patah.


Dia kuat sekali, bagaimana caranya aku menyerangnya? Sedangkan mata ini terus melihat bayangan hitam di dalam tupai yang kini membesar, batin Aska.


   Ia tidak bisa terus berlari dari serangan tupai besar ini karena membuang waktu dan tidak bisa merencanakan keluar dari hutan belantara ini. Aska melihat tupai itu menatap kearahnya dan menyerang cara yang sama. Pemuda tersebut melompat sejauh mungkin dan mengarahkan tinjauan ke hewan tersebut. Namun, tangan lain tupai itu memukul Aska seperti memukul bola membuat tubuh Aska terpental dan menubruk pohon.


  Rasa sakit berhasil tercipta, tubuhnya seketika ambruk tidak kuat untuk bangkit karena tupai itu memukulnya terlalu keras. Seorang gadis berlari mencari sosok pemuda yang kini ia cari meskipun ia sudah membentaknya untuk pergi. Tetapi ia harus kembali karena tahu, Aska butuh bantuan.


   Gadis itu melihat tupai besar tersebut terus mengaum dan berjalan menuju tempat dimana ada seorang pemuda yang jatuh tidak bisa bangkit berdiri. Dilihatnya lamat-lamat pemuda itu, mulutnya menganga serta mata terbelalak,"Aska!"teriak Lidya sekeras mungkin.


  Dan menarik perhatian tupai tersebut melihat ada mangsa baru yang akan menjadi pelampiasan amarahnya. Gadis berambut panjang bergelombang itu tidak menyadari tatapan dari tupai besar itu, pandangnya masih fokus dengan Aska yang sudah tidak kuat untuk bangkit menyerang makhluk yang tiba-tiba menjadi besar. Kedua kakinya berlari menuju ke Aska seraya terus meneriaki nama pemuda itu untuk segera bangkit diikuti suara tupai yang menggelegar.


  Tupai cokelat tersebut berbalik dan mulai meluncurkan pukulan dari ekor panjangnya untuk menindas gadis itu,Lidya.


   Lidya yang tidak sempat mengelak hanya bisa diam memerhatikan ekor tupai besar yang akan menindasnya jadi penyet.


"Lidya,awas!"teriak seorang gadis yang gerakannya seperti kilat menuju mengarah ke Lidya tempat berdiri. Ia menggenggam tangan Lidya dan berlari mengindar saat ekor itu sudah beberapa centi dari kepalanya.


Dum!


Bunyi begitu keras membuat hembusan angin yang kuat. Lidya dan Fitri terjatuh, keduanya menoleh bebarengan ke belakang melihat mereka berhasil selamat dari mara bahaya membuat helaan nafas lega. Fitri menoleh melihat Lidya yang sedikit shock dengan kejadian barusan ia menatap balik ke Fitri, berkata,"terima kasih."ucapnya pelan.


Fitri mengangguk,"sama-sama. Untung saja, aku sampai tepat waktu jika tidak. Pasti kau akan terluka."katanya menatap tupai besar dan berusaha kembali menyerang. Fitri menyuruh Lidya untuk segera pergi.


"Yup, aku akan membangunkan Aska."

__ADS_1


"Sedangkan aku mengurus tupai ini."jawab Fitri cepat menatap tajam tupai itu dan mengejeknya membuat kesal. Lalu Fitri tertawa renyah dan mulai berlari cepat memutari monster tupai yang berusaha mencelakai temannya. Tupai itu terlihat bingung melihat mangsanya berlari cepat dan tidak bisa menguncinya.


  Suara derap kaki cepat terdengar samar-samar di telinga Aska. Pemuda itu berusaha untuk membuka mata dan bangkit untuk melawan tupai itu. Namun, sekuat tenaga yang tersisa--tidak kuat untuk bangkit. Lidya sampai dan duduk di samping Aska, menggoyangkan tubuh pemuda tersebut.


"Aska, bangun. Bagkitlah, ini aku Lidya. Ayo, bangun. Jangan begini kumohon, Aska."ucap Lidya tidak kuasa menahan tangis ia terus mengguncangkan tubuh Aska.


*Jangan Anggap Kami lemah*


     Suasana yang berbeda tapi samar-samar,kedua kaki Aska melangkah masuk ke dalam gua yang gelap. Kakinya terus melangkah dengan sendirinya seperti ia sedang di tuntun oleh seseorang yang tidak terlihat.


"Aku dimana?"tanyanya terus melangkah masuk ke gua yang gelap gulita tidak ada cahaya sama sekali. Kemudian langkahnya terhenti, Aska menoleh ke kanan-kekiri berharap ia bisa menemukan sepercik cahaya dari gua ini. Mendongak melihat langit gua berusaha mencari celah masuk cahaya tetapi tidak menemukan sama sekali.


"Aska?"suara seorang gadis yang asing di pendengarannya terdengar jelas. Aska mencari orang itu di kegelapan.


"Siapa kau?"tanyanya.


"Aku adalah Greysia pemilik mata abu-abu yang kini mengalir ke dalam tubuhmu,Aska."ucapnya lembut.


Terdengar suara kekehan kecil dari Greysia seperti mengejek. Tiba-tiba gua gelap ini menjadi terang karena ada penerangan api dan tepat di depan pemuda itu berdiri lah seorang gadis cantik berambut panjang abu-abu memakai dress di atas lutut, sepatu kaca, kaos kaki putih. Kedua matanya abu-abu.


"Mengapa kau bisa membawa satu mobil yang kau tumpangi ke hutan? Jawabannya kau bisa memindahkan suatu barang ke tempat lainnya yang aman. Yang tiba-tiba kau berada di hutan bersama teman-temanmu karena kekuatanmu belum bisa kau kendalikan dengan baik maka dari itu kekuatan teleportmu muncul dan membawa semua teman-temanmu termasuk kau,Aska,"jelasnya berhenti menatap lawan bicaranya serius,"ke tempat aman."


"Seperti yang ku bilang awal tadi. Bisa memindahkan suatu benda ke tempat aman dimana orang tidak bisa menemukannya."ucap Greysia tersenyum.


"Bagaimana caranya aku bisa menggunakan mata abu ini melawan musuh dan mengembalikan semua teman-temanku ke rumah?"tanya Aska penuh harap ke Greysia.


"Mudah. Bangkitkan mata abumu itu lagi seperti waktu kau melihat bayangan hitam begitu banyak di kota dan memandang tupai besar itu. Kau bisa mengeluarkan bayangan hitam di tubuh monster itu dengan mata abumu."ucapnya tersenyum lalu penerangan api padam.


Aska ingin bertanya banyak hal ke Greysia tapi sepertinya gadis itu menghilang. Ia menghela nafas kasar dan mengusap wajah kasar, bingung harus melakukan apa lagi menyerang monster tupai itu.

__ADS_1


***


"Aska, please bangunlah. Ku mohon."kata Lidya terus berusaha membangunkan Aska tapi usahanya gagal. Ia melihat Fitri berusaha mengalihkan perhatian tupai besar tersebut lalu datanglah Pandu dan lainnya. Lidya bangkit berdiri dan berteriak memanggil Arkan.


  Pemuda berkacamata itu menoleh dan mendapati Lidya yang meneriaki namanya menyuruh menghampirinya. Anggi menatap monster itu penuh seringai ia tidak pernah melawan monster seperti ini. Fitri berhenti berlari dan memegangi kedua lututnya, nafasnya sudah ngos-ngosan dan banyak sekali keringat mengucur di pelipis gadis itu.


  Ia menunduk dan monster tersebut ingin melukai Fitri. Anggi dengan cepat meluncurkan cakra tajam nya mengenai tangan monster tersebut menciptakan sayatan dan teriakan dari tupai tersebut. Anggi menangkap cakranya lagi.


"Hmm rasakan seranganku itu!"katanya tersenyum.


"Sepertinya kita harus menyerangnya bersamaan."kata Beni.


  Monster tersebut sangat marah karena ia mendapatkan luka sayatan dari cakra Anggi. Tupai itu terus mengaum dan meluncurkan serangan bertubi-tubinya. Pandu berusaha untuk melumpuhkan monster tersebut dengan kekuatan pelumpuh-nya.


Pandu terus fokus ke monster di depannya yang sibuk menyerang teman-temannya. Tapi tidak ada satupun kekuatannya yang mempan pada makhluk besar ini.


"Sial,kenapa aku tidak bisa menggunakan kekuatanku?"umpatnya.


   Arkan duduk di samping Lidya menatap Aska yang belum sadarkan diri. "Dia kenapa,Lid?"


"Mungkin, dia diserang oleh monster tupai itu. Tidak sempat menghindar jadi ia jatuh."jelas Lidya nada khawatir, menatap kembali Aska.


"Kekuatan monster itu pasti kuat. Tapi aku hanya manusia biasa yang tidak punya kekuatan penyembuh atau apapun itu. Aku hanya anak jenius yang suka menciptakan suatu benda baru."kata Arkan menatap Aska yang masih belum sadar juga.


  Mereka berdua hening sesekali melihat teman-temannya yang lain sedang berusaha melumpuhkan monster keji itu.


Aku juga, hanya manusia biasa tidak memiliki kekuatan sama sekali dan kini imajinasiku menjadi nyata. Jujur, aku sampai kualahan dan kejadian aneh terus berulang kali--batin Lidya berharap semua bisa cepat berlalu.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2