
Setelah melakukan mos selama tiga hari. Hari kamis ini semua murid akan bergantian untuk melakukan Tes buat menentukan jurusan apa yang cocok. Kelompok dua masih berada di kelas,menunggu kelompok satu selesai Tes. Tidak terasa sebentar lagi mos bakal berkahir secepat ini dan Lidya bakal menemukan teman baru lagi. Bukan bersama Lina.
Kakak osis yang selama ini memimpin murid-murid pembelajaran baru mulai mengabsen, menyuruh nama yang dipanggilnya ke depan dan menuliskan jurusan yang ada.
Kakak kelas berbadan gendut dan berkulit cokelat mulai memanggil murid-murid.
"Achmad Fernando Zaenal."
"Ari Dwi Wulan."
"Ana Dwi Anggraini."
Lidya melihat kedua gadis kembar berjalan ke depan dan menuliskan sesuatu di kertas itu. Kedua mata Lidya terus melihat kedua anak kembar itu menurutnya mereka sangat baik. Wajah mereka benar-benar mirip dan tidak bisa membedakan mana Ari dan mana Ana. Ia harap bisa satu kelas bersama mereka.
"Lina Andia."
Kini giliran Lina yang maju ke depan buat mengisi kertas tersebut. Lidya sangat merasa bingung,kemarin malam ia sudah bertanya pada mama dan ayah tentang jurusan apa yang bakal diisi. Kata mereka Akuntansi membuat Lidya bermuka lesu.
Lidya sangat lemah bagian angka-angka kalau ketemu angka, ia bakal malas mengerjakannya entahlah.
"Muhammad Arkan Fandia."
Pemuda berkacamata keren di belakang Jay itu berdiri dan berjalan ke depan. Bangku paling depan mentertawakan pemuda bernama Arkan. Mereka seperti punya tatapan mengejek terhadap Arkan. Lidya bisa melihatnya dengan jelas. Ia menggeleng cepat.
"Maulidya Wahyu Fatmawati."
Sekarang giliran Lidya yang maju ke depan. Ia melihat isi kertas itu harus menyilang salah satu jurusan yang mereka pilih antara lain:Multimedia, Akuntansi dan Marketing. Pikiran Lidya buntu seketika dan menggigit bibir bawahnya, bingung.
"Duh aku bingung anjay."kata Lidya dalam hati tanpa mengambil keputusan akhirnya ia memilih Multimedia.
Semua murid kelompok satu sudah kembali ke dalam kelas. Seorang wanita muda berdiri di ambang pintu meminta semua murid kelompok dua segera menuju lab untuk tes. Semua murid bersorak ria begitu juga Lidya berharap ia lolos masuk ke Multimedia dan tidak meleceng sedikit pun.
Ruangan lab dibagi tiga ruangan. Anak-anak segera berlari dan memilih komputer mereka. Lidya duduk di tengah dan ternyata Lina berada di depan sendiri. Mendengus sebal. Dalam hatinya pasti ia tidak mendapatkan teman lalu ada seseorang duduk bersebelahan dengan Lidya. Komputernya berjajar dua seperti satu bangku.
Yang di sebelah Lidya adalah salah satu pemuda yang tadi mentertawakan Arkan. Guru yang ada di depan memberikan instruksi buat para murid yang akan melakukan tes. Semua murid mendengarkan dengan baik.
"Waktu untuk mengerjakan tes hanya 20 menit. Kalian akan mengerjakan 50 soal dalam 20 menit."kata pak guru sambil mengawasi ruang sebelah.
Murid-murid terkejut,"Apa!"
Mengerjakan lima puluh soal dalam dua puluh menit, itu sangat gila benar-benar gila. Lidya sudah berpikir yang tidak-tidak dan mengira bahwa guru tersebut bercanda. Pak guru itu memulai Tes dan murid-murid mulai mengerjakan tes pertama yang menanyakan lingkungan sekitar seperti membantu orang dan sosial.
__ADS_1
Soalnya gampang banget.
Jika kau melihat orang tua mengangkat belanjaan banyak, apa yang kau lakukan?
A. Membantunya
B. Pura-pura tidak tahu
C. Membiarkannya
D. Tidak melihat.
Tentu saja Lidya menjawab "A",ia juga melihat sebelah dan terkejut apa yang ia jawab tadi Lidya melihat cowok di sebelahnya ini menjawab "C". Apa yang ia pikirkan? Dasar gila. Lidya sudah mendapatkan 35 soal kurang 15 soal lagi yang belum ia jawab.
"Waktu habis!"
Beberapa murid mulai mengumpat karena mereka belum selesai dan ada juga yang meminta waktu tambahan buat menyelesaikannya. Tes kedua yaitu banyak pertanyaan bakat dan kelebihan. Ini sangat mudah bagi Lidya. Kalau ia menukan soal yang sama seperti pandai berhitung dan pokoknya masalah angka-angka ia akan memilih"kurang". Jika ia menemukan seni terutama video dan foto Lidya akan memilih "A+ tanda baik banget atau tahu banget".
Kalau begini aku pasti akan masuk ke Multimedia nih-batinnya tersenyum penuh arti.
"Waktu habis!"
Lidya lagi-lagi belum menyelsaikan tes padahal tinggal 7 soal, hadeh. Kecepatan berpikirnya agak lambat atau mungkin ia tidak terbiasa memegang mouse komputer. Ya karena Lidya tidak memiliki komputer maupun laptop di rumah.
Ia menjawab sesuai apa yang di pikirannya itu, ia menganggap bahwa tes IQ itu seperti puzzle supaya tidak bingung-bingung amat. Kurang lima menit, Lidya berhasil menyelesaikan tes. Tak lama kemudian kelompok dua disuruh keluar lab dan kembali ke dalam kelas.
Lina menghampiri Lidya dan bertanya bagaimana tes tadi. Lidya dengan enteng menjawab mudah sambil tersenyum simpul.
"Bagaimana denganmu?"tanya Lidya setelah selesai mengikat tali sepatunya. Lina mengangguk pelan dan mengeluarkan permen lollipop dari sakunya. Setelah mengemut permennya ia menjawab,"mudah, aku sudah menyelsaikan dua tes. Waktu tes pertama aku belum menyelesaikannya."Lidya hanya mengangguk-angguk.
"Aku juga begitu."jawab Lidya.
Lina sedikit menyenggol lengan Lidya,"kau bersebelahan dengan Riko ya?"tanyanya membuat Lidya bingung.
"Riko? Riko siapa?"tanya Lidya masih kebingungan sambil menggaruk kepala tidak gatal.
Lina hanya senyum-senyum, "murid di sebelahmu yang memakai seragam SMP Negri empat. Aku tadi waktu dikantin melihat dia. Sepertinya ia akan menjadi pemuda idaman setelah Jay."kata Lina dan kembali mengemut permen sampai menuju kelas.
Seorang gadis berambut keriting panjang dikuncir kuda, memiliki gigi tongos menyapa ke Lidya. "Hai Lid."sapanya langkah mereka berdua berhenti dan Lidya menyapa balik ke Ningsih.
"Ningsih. Kau sekolah disini juga?"tanya Lidya tidak percaya kalau Ningish sekolah disini. Ningsih mengangguk,"iya. Aku bingung sekolah dimana? Ya udah, sekolah di SMK Cemerlang aja eh tahunya ketemu sama kau."jawab Ningsih melihat Lidya bersama gadis cantik disebelah Lidya. "Ya sudah, aku pergi dulu."katanya pergi.
__ADS_1
"Semoga bisa melakukan tesnya ya!"teriak Lidya menyemangati Ningsih. Gadis itu membalas jempolan ke Lidya. Mereka melanjutkan jalan ke kelas. Lina sesekali menengok ke belakang.
"Eh tadi itu temanmu,Lid?"tanya Lina nada bingung. Lidya mengangguk dengan senyuman,"ia tadi itu temanku saat SD. Memangnya kenapa?"Lidya menoleh kearah Lina yang heran,kebingungan.
"Ya, tidak apa-apa. Kenapa giginya tongos kek gitu? Sebenarnya kalau giginya rata, cantik lo. Bisa-bisa ngalahin aku."komentar Lina tentang Ningsih. Lidya terkekeh,"aku juga berpikir sama denganmu,Lin. Tapi dianya nggak mau membenarkan giginya itu padahal udah disuruh oleh kakaknya pergi ke dokter tapi ia begitu tegas buat menolak."cerita Lidya sedikit tentang Ningsih.
Alis Lina terangkat sebelah. "Kenapa ditolak? Kalau aku jadi Ningsih. Aku bakal menerima tawaran itu dan pergi ke dokter gigi. Karena aku yang nomer satu itu image."kata Lina mengemut permen rasa mangga dengan nikmat. Lidya hanya terkekeh menganggapi komentar Lina barusan. Sepertinya Lina kalau berkomentar antara pedas dan tidak.
"Terserah dia."
Hari sudah siang semua murid menatap isi amplop yang ada di genggaman Bu Elina, guru konseling SMK Cemerlang. Guru itu memanggil satu persatu murid maju ke depan mengambil hasil tes mereka dan Bu Elina bilang tidak boleh berkata dengan teman lainnya. Membuat semua murid kecewa tidak bisa melihat hasil tes sebelah temannya. Setelah selesai mendapatkan hasil tes masing-masing secara berbarengan mereka semua melihat hasil tes mereka.
Mereka sangat senang banget dan ada beberapa orang yang lesu karena tidak sesuai harapan mereka. Dan peraturan Bu Elina tadi seolah terlupakan, mereka terutama cowok mengatakan ia masuk ke jurusan.
"Aku Multimedia!"
"Aku Marketing!"
"Wah,Aku Akuntansi!! Akuntansi itu gimana? Oi?"
Satu kelas ribut sampai Bu Elina kualahan menenangkan mereka semua. Akhirnya Bu Elina mengambil penggaris kayu yang ada di pojok dan mengetukkan penggaris tersebut di atas meja.
Brak brak!
Semua menjadi hening karena terkejut melihat Bu Elina menyeramkan ngalahin insidious, di tangannya memegang penggaris kayu begitu panjang. Para cowok yang tadi berisik menjadi tenang.
Bu Elina memandang semua murid dengan tatapan membunuh dan siapa yang melanggar peraturannya penggaris tersebut akan melayang tepat sasaran. "Saya kan sudah bilang. Jangan memberitahukan hasil tes pada yang lain. Mengapa kalian malah memberitahukannya?"katanya berkata tegas dan emosi memuncak seperti gunung berapi yang sebentar lagi bakal meledak.
Cewek berambut panjang cokelat itu mengangkat tangan, ia menatap tajam kearah Bu Elina serius. "Karena ada beberapa anak yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka. Misal Ima ingin mengambil Akuntansi tapi ia masuk ke Multimedia. Jadi anak-anak yang jurusan tepat yang mereka inginkan berhak memberitahu yang lain supaya anak-anak yang masuk tidak sesuai dengan jurusan mereka, semangat. Apalagi ada yang sudah menyimpan rasa terhadap orang lain."jelas gadis itu panjang banget sampai Lidya dan Lina melongo mendengar penjelasan dari gadis berkacamata bulat seperti Arkan.
"Aku harap, Bu Elina bisa memakluminya."kata gadis itu berharap pada Bu Elina membiarkan anak-anak lainnya bersenang-senang dengan hasil tes mereka tanpa ada larangan.
Bu Elina hanya diam sejenak menatap gadis itu lamat-lamat dan menghela nafas panjang. "Baiklah,ibu akan memaafkan kalian. Dan kalian semua boleh memberitahukan hasil tes kalian pada orang lain meski ini melanggar peraturan."kata Bu Elina akhirnya merasa sedikit sedih terlihat begitu jelas wajahnya. Entah mengapa Lidya merasa sedih juga.
Kasihan dia.
Bu Elina keluar kelas dan menuju ke kelas lain untuk memberikan hasil tes mereka. Semua murid kembali bersorak ria. Arkan sangat senang karena ia masuk ke Marketing. Jay hanya diam tidak seramai mereka. Ada yang mendengus sebal. Lidya tersenyum karena ia masuk ke Multimedia, jurusan yang diidam-idamkan.
Seorang pemuda yang tidak terlalu tampan dan jelek berdiri di atas meja mengumumkan kalau murid-murid kelompok dua harus melindungi satu sama yang lain. "Tidak boleh ada preman disini dan tidak ada saling bully, ini berlaku sesuai semua sekolah."kata pemuda itu bernama Aska seperti pemimpin di kelompoknya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...