Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Sebelas: Awal Pembukaan Yang Bagus


__ADS_3

  Setiap sudut desa tiba-tiba mengeluarkan api dan terdengar seperti ledakan bom. Semua orang berhamburan keluar rumah dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Mereka pikir kalau ledakan itu dari tabung gas bocor sehingga menimbulkan ledakan serta api yang menjalar.


Lidya yang ada di piring terbang menyuruh semua warga untuk mengungsi ke tempat aman. Gadis itu menaiki piring terbang menuju ke atas mencoba melihat lebih jauh lagi dari atas, apa yang terjadi. Mama yang melihat anak gadisnya berteriak kencang panik sedangkan Awan hanya bisa diam melihat kedua tangannya, tidak percaya kalau ia mendapatkan kekuatan super.


Awan ingin menciptakan jaring laba-laba seperti film spiderman tetapi tidak bisa, membuat kecewa. Dari atas,Lidya menatap ada beberapa tiga titik di desanya. Api dan ledakan. Dengan segera Lidya kembali ke rumah melompat dari piring terbang memasuk ke dalam rumah mengambil handphone sekaligus pensil ajaib serta beberapa lembaran kertas.


Handponenya sering bergetar dengan segera ia melihat begitu banyak pesan dari teman-temannya lebih singkat bahwa musuh yang selama ini menantang mengajak berperang besok,semuanya dusta. Tentu saja membuat Lidya terdiam. Rasa yang membuatnya takut kembali terasa, khawatir, jadi semua yang ditakutkan Lidya terjadi.


Gadis itu berlari menuju ke depan rumah menyuruh semua orang mengungsi ke tempat aman. Lalu datanglah sebuah drone,di drone tersebut ada tulisan Arkan. Itu tandanya ia akan membantu orang-orang mengungsi ke tempat aman. Lidya sempat tidak bertemu Arkan akhir-akhir ini dan sekarang ia muncul membantu orang-orang mengungsi lewat dronenya.


"Mama, ajak Hari dan warga lainnya mengikuti drone itu! Itu milik salah satu temanku. Ia akan membantu kalian menuju ke tempat aman!"teriak Lidya kencang dibalas anggukan mama.


  Semua orang mengikuti drone-drone itu ke tempat aman. Lidya menatap Awan dengan senyuman,"adikku tercinta. Kau bisa membuat kapal terbang?"tanyanya dibalas pelototan dari Awan.


"Aku tidak bisa melakukannya kapal itu memliki ukuran besar!"balasnya teriak.


"Kau bisa!aku yakin itu!"ucap Lidya santai mencoba menyakinkan adiknya itu. Awan hanya mendengus sebal dan membayangkan bentuk kapal yang ada di pikirannya. Ia sendiri baru pertama kalinya tahu kalau ia mendapatkan kekuatan yang selama ini teman-temannya bicarakan.


Bisa dibilang kalau hampir teman-teman Awan secara tiba-tiba mendapatkan kekuatan. Aneh bukan tapi ini kenyataannya. Sebuah pernak-pernik datang dari atas langit langsung membentuk kapal berukuran besar,lengkap dengan layar bergambar bajak laut.


"Hohoho, seketika aku jadi kapten bajak laut!"ucap Lidya seraya menirukan suara bajak laut.


Awan berkacak pinggang melihat kakaknya yang seenaknya menciptakan benda berukuran besar membuat tenaganya terkuras. "Kakak macam apa kau!"gerutunya kesal menatap sinis Lidya.


Lidya tidak peduli dengan tatapan itu ia sekarang peduli dengan orang-orang yang mungkin memerlukan bantuannya. Memang musuh tidak bisa dapat di percaya. Dan Lidya tidak akan pernah memaafkan Keysa, yakin kalau gadis itu adalah Tomma.


Lidya sudah di atas kapal dan menyuruh Awan buat naik di atas kapal tersebut. Lalu kapal tersebut terbang melewati awan gelap dari atas, di sini sudah banyak kobaran api dimana semua orang yang memiliki kekuatan imajinasi berusaha untuk memadamkan api tersebut.

__ADS_1


  Di sisi lain semua teman-teman Lidya geram melihat suasana yang awalnya damai kini menjadi rusuh. Banyak sekali kebakaran di mana-mana sekaligus ledakan seperti bom. Dari arah Utara di atap gedung menjulang tinggi ada seorang gadis memakai pakaian dress hitam-ungu dengan kedua mata merah menyala, rambut lurus tergerai indah.


Seulas senyum terukir di bibirnya dan terus mengatakan,"Hancurlah dunia hancurlah! Hahaha. Kalau saja Roro tidak tertangkap aku pasti akan menjadikan semua orang menjadi budakku."ucapnya tertawa jahat mengeluarkan kekuatan besarnya yaitu tanaman yang tiba-tiba saja muncul di setiap beberapa bagian.


Lidya yang memakai kapal terbang terhenti dan bagian kapalnya bolong sebab pohon-pohon gundul secara tiba-tiba tumbuh menjulang tinggi.


"A-apa!"pekiknya tidak percaya. Ia mengedarkan pandang banyak sekali pohon-pohon yang tiba-tiba muncul dari kobaran api.


"Darimana asal pohon-pohon gundul ini?!"ucapnya menahan emosi karena Keysa yang katanya bilang peperangan akan berlangsung besok. Itu sudah tertera jelas pada surat tersebut akan tetapi apa? Ia malah mengikarinya dengan serangan mendadak.


Mungkin ribuan orang sudah tewas akibat ledakan yang tiba-tiba muncul menciptakan si jago merah dimana-mana. Awan menyipitkan matanya dilihat dari pohon-pohon gundul yang tumbuh itu berasal dari Utara. Lidya melihat beberapa teman-temannya menuju ke arah sana.


Yusuf melintas di atas kepala Lidya menoleh ketika di depan gadis itu,tersenyum---"perperangan sudah di mulai, Lid."katanya berlalu pergi.


"Ya, peperangan di mulai sebelum 24 jam."ucapnya menyuruh Awan membayangkan piring terbang sekaligus pedang  buat menebas Keysa.


  Piring terbang yang di pakai oleh Lidya hampir terjatuh dengan sigap ia melompat mengayunkan pedang ke pohon itu.


Sling!


Sebelah tangannya terpotong hanya satu kali tebasan pedang. Tangan kiri pohon tersebut ingin menyerang Lidya dari belakang.


Sling!


Satu serangan kembali memotong tangan pohon tersebut seroang gadis memakai zirah dan wajahnya tidak asing lagi. Lidya tersenyum sumringah,"Lina!"serunya membuat Lidya bertambah bersemangat.


  Akhirnya mereka berdua menyerang pohon-pohon yang berusaha menghalangi jalan mereka. Semangatnya sekarang berlevel dan tekatnya sudah menjulang tinggi ingin menuju ke damaian.

__ADS_1


Mereka berdua mengangkat pedangnya ke atas melompat tinggi.


Kya!!


Dua tebasan pedang sekaligus membuat pohon yang ada di depannya terbelah menjadi dua. Lidya yang awalnya tidak memiliki tingkat bertarung entah kenapa ia seperti sudah ahli mengayunkan pedang dan turun ke peperangan secara langsung. Sepertinya ia benar-benar ikut bertarung daripada hanya menonton melihat semua teman-temannya melawan Keysa.


Pedang yang di genggam Lidya tiba-tiba hancur membuat gadis itu melotot. Ia tidak menyangka kalau pedang tersebut memiliki massa singkat sehingga tidak bisa bertahan lama seperti pedang asli. Jadi teringat waktu di perpustakan, pada saat itu ia bertemu dengan Danu--kesatria labirin.


Lidya menoleh ke kiri melihat Lina memakai pakaian layaknya kesatria sangat cocok buatnya.


"Kau hebat Lina."puji Lidya tersenyum.


Lina tersenyum dan melihat Lidya,"terima kasih, Thor. Aku senang kau memujiku hebat."ucapnya membuat Lidya terkejut Lina memanggil nama "Thor bukan Lidya".


Dahi Lidya berkerut menunjuk Lina tidak percaya,"kau Grisyell!"serunya dibalas angguk Lina mantap.


"Yup. Karena Lina tidak bisa bertarung dan tidak tegaan. Jadi aku terpaksa mengambil ahli tubuhnya sementara. Panggil aku Lina aja nggak usah Grisyell. Nggak pantas, di jaman modern."ucapnya panjang lebar membuat Lidya terkekeh.


"Kau benar. Yuk kita lawan musuh yang ada disana."kata Lidya bangkit berdiri lalu berlari bersama Lina.


  Keysa yang melihat lawannya yang sibuk melawan pohon-pohonnya, menyunggingkan senyuman miring. Ia menyuruh Meika menampakkan diri dan mengeluarkan kekuatan aura gelap masuk ke dalam pohon-pohonnya itu. Dengan sigap Meika mengeluarkan kekuatan yang sangat besar dari sebelumnya.


Kekuatan aura gelapnya masuk ke dalam pohon-pohon Keysa membuat pohon-pohon tersebut lebih agresif dari sebelumnya.


"Kalian semua tidak akan bisa mengalahkanku semudah itu!"serunya tersenyum miring.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2