Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Lima puluh sembilan:Masuk dimensi


__ADS_3

   Mereka berdua terkejut apa yang terjadi, semua kunang-kunang terbang menjauh dan perlahan kedua kaki mereka menginjak tanah. Kedua mata membulat sempurna dan pipi mereka memerah bak tomat.


   Semua teman yang lain keluar dari tempat persembunyian mereka. "Wah tadi pemandangan yang sangat bagus sekali."ucap salah satu gadis.


"Itu tadi buruk sekali! Aku tidak ada henti-hentinya mimisan tahu!"teriak salah satu pemuda dari belakang barisan beberapa orang menoleh kearahnya. Yang benar saja, perkataannya benar hidungnya tidak ada henti-hentinya mengeluarkan darah.


Vana yang kebetulan sekolah perawat melotot,"kau harus membuntu lubang hidungmu dengan tisu. Nanti kau bisa kekurangan darah bodoh!"protes Vana ke pemuda tersebut.


   Beberapa jam kemudian semua orang beristirahat seperti perkemahan di Drak Shadows hanya saja, beberapa dari mereka ada yang membawa tenda dan kebanyakan tidak membawa tenda. Jadi mereka hanya membawa selimut di buat seperti kepompong, ada juga yang tidur di dalam mobil.


  Suasana setelah tahun baru kembali sunyi dan hanya ada keheningan, angin malam yang dingin. Lampu-lampu setiap rumah membuat penerangan.


    Seorang pemuda terbangun dari tidurnya dan melihat semua orang sudah terlelap tidur. Ia bangkit berdiri berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. Kedua matanya melihat seorang gadis yang sudah tidur pulas tidak jauh dari mobil milik Pandu. Pemuda yang sok tahu itu, ia tahu bahwa dia adalah wakil ketua kelas di kelas MM 1.


   Semua orang termasuk teman-temannya tidak tahu identitasnya sebenarnya. Pemuda tersebut mencoba mendekati gadis itu melangkahi beberapa teman yang tidur pulas seperti ikan bandeng, berjajar.


  Kedua matanya terus waspada pada sekitar lalu tidak sengaja menginjak sesuatu membuat pemuda, Pandu itu sedikit bergumam dengan suara parau.


"Siapa disana?"tanyanya. Pemuda tersebut segera diam dan menggigit bibir bawahnya berharap pemuda sialan itu tidak bangun dari tidurnya. Jika ia terbangun habis sudah rencananya. Ia melihat Pandu kembali tidur dan berbalik arah membelakangi.


"Huh."menghela nafas lega dan ia kembali berjalan mendekat kali ini dengan merangkak sedikit. Akhirnya ia sudah berada di dekat gadis tersebut hanya tinggal memegang tangan gadis itu supaya bisa tahu, apakah ia gadis selama ini ia cari.


  Dengan hati-hati ia memegang tangan gadis tersebut dan melihat gadis itu sudah masuk ke dalam mimpi jadi tangan yang di genggamnya tidak di rasakan oleh gadis itu. Pemuda tersebut memegang tangannya seraya memejamkan kedua mata sebuah sinar oranye muncul membawa pemuda tersebut masuk ke masa lalu atau masa depan.


  Ia berusaha untuk masuk dimana masa yang di carinya selama ini. Sebuah pintu berukuran besar yang di pinggirnya terdapat warna lava,pemuda tersebut berhenti tepat di depan pintu besar. Kreek, pintu terbuka, satu yang pertama ia lihat gelap dan tiba-tiba saja tubuhnya terdorong sesuatu membuatnya masuk ke dalam pintu itu dan kembali tertutup dengan suara keras.


Brak!


  Terasa dunia berputar, pemuda tersebut ikut berputar tidak bisa berhenti. "Ini dunia apaan? Aku masuk ke dunia dimensi apa? Dasar, aku tidak pernah memikirkan lebih panjang kalau misi ini lebih sulit dari apa yang aku bayangkan selama ini."gerutunya mengingat kalau misi yang di beri oleh seseorang ternyata sulit tidak mudah.


  Pemuda itu berhenti berputar dan sekelilingnya ikut berhenti membuat semua pertanyaan muncul di dalam pikirannya. Sebenarnya aku masuk ke dunia mana?--seperti itulah yang ada ada di benaknya.


Kemudian di sekeliling pemuda tersebut berubah menjadi obyek kamar tidur dan disana terdapat gadis yang tangannya tadi digenggam untuk mencari tahu masa depan.


Gadis itu menulis sesuatu di bukunya, pemuda bernama Riko tersebut mendekati gadis tersebut. Membaca sedikit apa yang di tuliskan oleh gadis tersebut belum sempat membaca. Dimensi berubah menjadi hutan yang sangat Indah seperti surga.


  Riko menoleh ke kanan ke kiri--mendongak keatas melihat matahari bersinar terang menerangi hutan. Pohon-pohon disini menjulang tinggi, banyak sekali burung bertebangan. Riko berjalan siapa tahu ia bertemu dengan seseorang, daun yang menghalangi jalannya ia singkirkan dan terus berjalan kemanapun langkahnya pergi.

__ADS_1


  Langkahnya berhenti ketika melihat seorang pemuda membawa buku keluar dari pintu penghubung yang entah itu apa, Riko sama sekali tidak tahu. Kemudian ia berganti tempat lagi kali ini lebih cepat sampai Riko bingung dan hanya beberapa saja yang ia berhasil ingat.


Lalu kembali hitam, tidak ada apapun disana. Kedua matanya kembali terbuka dan ternyata ia sudah kembali setelah masuk ke dimensi dimana ia sama sekali tidak tahu,apa yang bakal terjadi suatu saat nanti. Yang paling ia benci adalah selalu aja ada tingkat kecepatan dimensi membuat ia bingung dan gambarnya begitu cepat mungkin dua detik berganti, tidak sempat mengingat.


  Ia melepaskan genggamannya dan suara seorang gadis tiba-tiba tergiang di pendengarannya,"kau harus fokus dengan misimu itu. Cari dia sampai ketemu dan beritahu aku suatu hari nanti. Dan ingat kita bekerja sama."ucapnya suara penuh tidak kesukaan sama terdengar jelas.


  Riko bangkit berdiri dan kembali ke tempat asalnya tetapi ada seseorang yang menyeretnya ke suatu tempat. Pemuda itu ingin berteriak tetapi dengan sigap orang itu membekap mulut Riko.


"Diam!atau aku bunuh kau disini!"ucapnya mengeluarkan pisau dari balik punggungnya di hadapan Riko. 


Pemuda tersebut seketika diam menunggu apa yang diinginkan orang yang di depannya ini secara tiba-tiba menyeret seenak jidat. Untung saja tidak ada satu orang pun yang bangun dari tidurnya.


Setelah Riko diam, orang tersebut menyembunyikan pisaunya di balik punggungnya. "Kelihatannya kau memiliki kekuatan melihat masa depan ya? Sekaligus menjelajahi waktu dengan kemampuanmu."tebaknya dibalas angguk pelan Riko.


  Ia menyunggingkan senyuman miring di balik gelelapan malam. "Sepertinya kau mencari seorang gadis yang membuat semua orang mulai muda sampai tua memiliki kekuatan."tebaknya,Riko menggeleng dan orang tersebut melepaskan tangan yang menutupi mulut pemuda tersebut.


  Riko melihat orang yang didepannya ini sangat familiar. Dia adalah Yudistira yang kemarin sore menunjukkan adegan yang sangat menyeramkan menyuruh Lidya membunuhnya. Itu adalah hal gila yang pernah ia saksikan tepat di depan mata.


"Tidak. Kau salah. Aku tidak mencari gadis yang membuat semua orang memiliki kekuatan."


"Terus?"ucapnya mengeritkan kening.


Yudi terkekeh pelan dan mengalah tidak memaksa pemuda asing di depannya ini angkat bicara. Ia tadi sengaja melihat pemuda di depannya ini mendekati Lidya dan memegang tangannya sangat lama. Yakin kalau itu adalah kekuatan melihat masa depan dengan mengenggam tangan seseorang lama seperti peramal.


"Oh, sebaiknya kau tidur kembali. Sebelum pagi datang."ucap Yudi menepuk pundak pelan Riko dan berjalan menjauhinya.


Riko menatap punggung pemuda tersebut dengan kekuatan aneh,mencair. "Orang licik."gumamnya tidak suka.


Semenjak pemuda itu menunjukkan ke semua orang kekuatan yang dimilikinya. Ia sudah tidak suka dengannya apalagi setiap kalimat yang di keluarkan dari mulutnya membuat kesal saja.


-Jangan Anggap Kami Lemah-


     Keesokkan harinya semua murid baik dari Negri satu maupun SMK cemerlang bergotong royong membersihkan halaman depan dan membersihkan panti. Lidya mengambil bekas minum dan makanan yang begitu banyak di halaman depan, ia masukkan semua ke dalam tas kresek besar.


  Fitri membersihkan sampah menggunakan kekuatan larinya sangat cepat jadi ia cepat selesai mengerjakan sesuatu. Agung bagian membakar sampah dan di padamkan oleh seorang pemuda yang belum di ketahui nama pemuda tersebut terkadang ia tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Alhasil Agung menjadi basah.


"Kendalikan kekuatanmu itu! Kau membuat bajuku basah untung saja aku belum ganti."protesnya.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku belum pandai mengendalikan kekuatanku ini."ucap pemuda itu meminta maaf.


  Lidya tidak bisa menahan tawa kalau melihat mereka berdua ia terus mengambil sampai. Sebuah robot datang dan menyuruh Lidya memasukkan sampah ke dalam tong. Sampah itu ia masukkan ke dalam tong sampah dan tong tersebut berjalan menuju ke tempat Agung untuk di bakar. 


Yusuf juga ikut membersihkan halaman menggunakan kekuatannya juga,"Magic Joe!"serunya mengangkat beberapa sampah ke udara menuju ke tempat pembuangan sampah itu berakhir.


  Terlihat Agung sangat menyukai pekerjaannya sebagai pembakar sampah sesekali protes ke pemuda di sampingnya. Jay dan Lina, mereka berdua selalu bersama dan sekarang mereka membantu bibi Maya menyiapkan makanan dibantu oleh yang lain.


  Beni merapikan tempat tidur panti sama Fedri,Reza, Nando. Vin, ia duduk santai di depan pohon bersama Kevin meski mereka sudah di beritahu oleh Aska untuk membantu. Mereka berdua masih tidak mau karena akibat kekuatan negatif milik Vin. Semua murid ketakutan sedangkan Kevin, ia tidak ingin repot. Bisa dibilang mereka bandel.


  Tina sudah menyelesaikan tugasnya bersama Sarah yaitu membersihkan kamar tidur panti.


"Ini menyebalkan. Aku kira kita setelah pesta tahun baru, tidur dan langsung pulang. Tidak perlu repot-repot membersihkan panti."kesal Tina melipat kedua tangan sambil memainkan rambut panjangnya. Ia berjalan menuju teras panti di sana banyak sekali murid yang masih membersihkan sampah-sampah yang banyak itu.


  Sarah berhenti di sebelah Tina menoleh kearah temannya yang selalu menggerutu. "Aku sudah tidak sabar buat menganggu Lidya lagi."ucap Sarah dengan senyuman.


"Kayaknya kita tidak bisa menganggu Lidya lagi deh. kan, Kau ingat kan Vin waktu itu di belakang sekolah,"ucap Tina memelankan volume suaranya,"dia itu iblis bentuk manusia. Matanya merah, seluruh tubuhnya hitam, kukunya panjang nan tajam. Auranya sangat ngeri."lanjutnya kalau diingat-ingat itu adalah bagian yang tidak pernah ia lupakan seumur hidup.


"Lagian kita kan tidak memiliki kekuatan seperti mereka. Aku merasa heran saja, kenapa mereka semua mendapatkan kekuatan seperti Anggi tuh. Tiba-tiba saja memiliki kekuatan saat aku mengejeknya dia membawa buku piring terbang dan ternyata ia punya piring terbang yang tajam."tubuh Tina merasa ada rasa dingin dan bulu kuduk merinding begitupun dengan Sarah.


  Kedua matanya terbelalak jika ada aura tidak bersahabat itu tandanya ada Vin di sekitar mereka.


"Kalian berdua sedang apa disini?"ucap seseorang membuat keduanya terkejut. Gadis itu bingung melihat mereka terkejut melihatnya. Sarah dan Tina menghela nafas dan mengelus dada, syukur kalau bukan Vin.


"Kalian ini kenapa melihatku seperti melihat hantu?"tanyanya berkacak pinggang.


"Tidak ada,Hana. Serius deh."dusta Tina menggaruk kepala belakang tidak gatal.


"I-iya Han."kata Sarah terkekeh.


Hana mengerit melihat tingkah keduanya aneh. "Kalian bantu ke dapur bentar lagi makanan sudah siap. Jangan berdiam diri disini."kata Hana langsung dibalas anggukan mereka berdua dan lari menuju ke dalam panti menuju dapur.


Hana menoleh melihat tingkah mereka bertambah aneh dan berjalan menghampiri Lidya.


  Riko mengikuti Hana dari belakang dan berhenti disana pura-pura mengambil sampah.


Aku harus cepat-cepat mencari informasi yang banyak terutama Lidya sebelum aku masuk ke dimensi waktunya lagi, batinnya menatap kedua gadis itu tengah asik mengobrol.

__ADS_1


**Jangan Anggap Kami Lemah


Bersambung**....


__ADS_2