
Awal yang dilihat adalah kegelapan, tidak ada benda dan tidak ada rumah. Hanya ada kegelapan. Gadis itu melihat sekeliling yang gelap setiap melangkah ia merasa takut. Takut kalau yang ada di depannya jurang begitu dalam. "Dimana ini?"tanyanya pelan. Ia memeluk dirinya sendiri dan masih melihat sekeliling. Tubuhnya merinding dan pikirannya sudah mulai negatif.
Lidya merasa ada sesuatu di belakang yang amat menyeramkan. Kedua matanya mendelik dan menoleh kebelakang cepat memastikan bahwa di belakangnya tidak ada hantu atau monster yang menyeramkan. Kini kedua kakinya yang bergetar. Memejamkan kedua mata dengan mulut bergetar meminta pertolongan.
"Ya allah, aku dimana ini? Tolong aku. Aku sangat takut."kata Lidya berdoa terus menerus dan membaca surat pendek. Jantungnya kini menjadi berdebar-debar karea hati Lidya tidak tenang berada di lorong kegelapan, ia terus memeluk dirinya sendiri mencoba melindungi diri. Ia memejamkan mata dan mengerjapkan mata berkali-kali mencoba membayangkan kalau lorong kegelapan ini menjadi tempat yang Indah.
Tempat yang sesuai dengan apa yang diingankan Lidya jika tempat tersebut benar-benar seperti apa yang diinginkan Lidya maka ia akan merasa senang dan tidak takut lagi.
Lorong kegelapan yang di pijak oleh Lidya beruba dalam satu detik dengan cahaya yang begitu terang.
Langit yang awal gelap menjadi terang benderang dengan warna biru muda dan awan putih seperti permen gula-gula yang terbang bebas di sana. Jalan berwarna hitam menjadi jalan yang mulus seperti taman. Sekeliling menjadi Indah, cuaca begitu bagus dan tidak ada polusi udara sedikit pun.
Bunga-bunga bermekaran membuat aroma harumnya tercium sampai di lubang hidung Lidya. Gadis itu menghirup aroma bunga yang menyegarkan dan hawanya pun menjadi sejuk tidak seperti tadi menyeramkan. Perlahan ia membuka kedua mata dan reaksi Lidya sangat bahagia lebih dari apapun. Melihat semua kehijauan yang ada di depannya, banyak sekali tumbuhan hijau seperti pohon yang menjulang tinggi, bunga bermekaran dan banyak sekali kupu-kupu yang hinggap di bunga Mawar merah itu.
Lidya berjalan mengelilingi hutan dengan senyuman sumringah dan wajah berseri-seri. Disini sangat tenang dan nyaman. Cocok sekali membuat sebuah cerita tentang keindahan alam yang murni sebelum polusi udara datang. Lidya duduk di batang pohon besar, bersandar untuk beristirahat tapi ia tidak ingin melewatkan semua ini. Pemandangan Indah dan udara sejuk.
"Wah indah sekali. Rasanya aku ingin datang kesini terus."gumamnya. "Hmm, apa disini ada buku ya? Fantasi gitu?"tanyanya pada diri sendiri sambil menopang dagu, berpikir.
Lalu muncul dua anak kucing yang imut berlari kearahnya. Gadis itu begitu senang sekali dengan dua anak kucing yang menghampirinya sangat menggemaskan. Ia menggendong salah satu anak kucing dan menempelkannya ke pipi. "Ih lucunya sih kamu."ucapnya memeluk salah satu anak kucing itu dan salah satu anak kucing berbulu oranye menatap wajah Lidya meminta gadis itu mengikutinya lalu kucing tersebut lari. Lidya melihat salah satu anak kucing itu lari ia melepaskan anak kucing yang dibawanya, menyusul kucing tadi dan Lidya mengikuti kedua kucing yang entah mau pergi kemana.
Berlari melewati hutan yang lebat dan banyak sekali semak-semak dan ranting-ranting berjauhan. Nafas Lidya terengah-engah memperlambatkan langkah mengikuti anak kucing itu yang terlalu cepat berlari. Lidya memegangi kedua lututnya, menatap kedepan melihat anak kucing berbulu putih dengan kedua mata biru menatap Lidya--menunggu. Seulas senyum terukir jelas di bibirnya lalu melanjutkan perjalanan.
Di sana ada banyak sekali pohon-pohon pendek dan di pohon tersebut banyak sekali buku yang bergelantungan seperti buah. Satu pohon aja udah banyak apalagi ribuan pohon. Lidya menganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya,tidak hanya pohon berbuah buku,di depan pohon-pohon itu juga disuguhkan pemandangan air terjun yang mengalir dan airnya sangat bersih.
Lidya mendekati air sungai yang bening hingga bisa melihat isi dalamnya ada banyak batu dan ikan koi. Bayangan Lidya pun terlihat jelas. "Wow ini benar-benar sangat menakjubkan. Aku ingin menulis sekarang juga."katanya duduk di tepi sungai. Salah satu pohon berjalan mendekati Lidya dan memberikan satu buku kosong dengan ranting pohonnya. Lidya terkejut ketika pohon itu berjalan dan menyodorkan sebuah buku miliknya. Ia menelan ludah dan memetik buku tersebut lalu pohon itu berjalan mundur kembali ke posisi awalnya.
Lidya masih tidak percaya melihat pohon itu dengan tatapan orang bego. Ya allah, ini sebenarnya tempat apa ini?-batin Lidya benar-benar luar dugaan. Apa ini surga atau dunia lain yang tidak pernah nampak sebelumnya. Gadis itu mengangkat kedua bahu tidak tahu, senyum tipis.
Ia mulai membuka buku yang ada di tangannya, kertas disana masih kosong melompong. Kedua mata menoleh kekanan dan kekiri mencoba untuk mencari alat tulis. Merasa tidak ada, ia sangat lemas dan hanya bisa memandangi buku kosong itu.
"Tempat yang sangat Indah sekali seperti surga. Aku ingin sekali sering-sering datang kesini. Otakku lebih fress daripada hari sebelumnya oh enaknya."kata Lidya memandang buku itu tersenyum sendiri. Sebuah keajaiban terjadi lagi, buku itu tiba-tiba ada sebuah tulisan yang sama persis apa yang di katakan oleh Lidya barusan.
__ADS_1
Dipikirnya mungkin buku ini tidak perlu menulis tangan, cukup pakai bahasa lisan saja udah muncul seperti android.
Keren...
Lidya memulai mengeluarkan ide-ide cerita yang terus mengapung di dalam pikirannya,ia tulis di buku tersebut. Air sungai dengan tenangnya mengalir dan ikan-ikan di dalamnya berenang ria tanpa ada gangguan sedikit pun. "Aku tidak mau melihat murid yang bodoh,jelek, memiliki kelemahan-kelemahan tertentu dapat cibiran dari orang lain. Terkadang ada orang yang sebenarnya tulus menjadi jahat karena orang-orang selalu mencibirnya. Ah aku merasa kasihan sama mereka."
Buku itu terus mendengar curhatan Lidya dan menulisnya sebagai catatan. "Ada juga, orang yang selalu membuatku merasa merinding jika aku di dekatnya. Entah karena auranya terlalu negatif atau aku yang berpikir negatif. Entahlah, aku sama sekali tidak tahu."
"Dan satu hal lagi, bagaimana jadinya kalau orang lemah menjadi kuat tapi identitas mereka tidak bisa dikenali oleh orang-orang lain meski sering dilihat, orang lain akan lupa dan merasa dia aneh."kata Lidya dengan seulas senyum dan kembali membaca semua perkataannya di dalam buku itu.
Tiba-tiba ada guncangan terjadi, tubuh gadis kurus itu hampir terjatuh masuk ke dalam sungai untungnya Lidya bisa mengimbangi tubuhnya. Ia berlari untuk mencari tempat perlindungan yang aman dan gempa masih mengguncang. Banyak sekali hewan-hewan mengeluarkan suara dan berlarian ikut mencari tempat perlindungan.
Lidya terjatuh dan lututnya terkena batu hingga berdarah, "aw!"ringisnya melihat darah yang banyak dilutut. Ia mencoba untuk berdiri lagi dan berlari kecil, pincang sambil membawa buku yang dibawahnya.
"Mana nih tempat tinggalnya."tanya pada diri sendiri mulai pasrah. Tak lama gempa tersebut berhenti membuat jantung Lidya yang sedaritadi berdetak kencang sekarang bernafas lega. "Uh aku selamat!"
Ia terus berjalan bersamaan ada suara seseorang yang ada di kedua telinganya. Suara itu sangat seram dan suara itu samar-samar membuat Lidya kebingungan dan lagi-lagi merinding. Dalam pikirannya apa ada hantu di dunia yang seperti surga ini?,seperti itulah pikiran Lidya.
Refleks Lidya berbalik ke belakang melihat sekeliling was-was,tidak ada apapun. Suasana yang Indah penuh ketenangan kini menjadi sangat menyengkram dan bulu kuduk berdiri semua. Aura ketakutan sudah tercium dari diri Lidya.
"Lindungi aku!"ucapnya mempererat buku yang ada digenggamannya dan memejamkan mata.
"K.. Am."ucap seseorang begitu dekat dengan Lidya tapi gadis itu tidak berani membuka mata dan menoleh disana, memastikan.
Tubuh sebelah kanannya terasa ada yang menggoyangkan dan bahu seolah ada yang memegang, menggoyang tubuh Lidya. "Ba...nu.."ucapnya masih samar-samar seperti angin.
Lidya terus membiarkannya menggoyang-goyangkan tubuh, tiada henti. Gadis itu merasa risih dan ia mencoba memberanikan diri untuk membuka mata secara perlahan. Ketika mata sudah terbuka lebar, tidak ada apa-apa dan pendengarannya pun tidak lagi mendengar suara tidak jelas itu.
Lidya masih tegang dan menoleh secara perlahan tiba-tiba ada mahkluk hitam langsung mengarah ke Lidya.
"Aaaa! "
__ADS_1
***
Gedebuk!
Suara keras terdengar dari kamar Lidya. Seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun yang memakai kerudung hitam mengejutkan kakaknya hingga jatuh dari kasur hingga menciptakan suara keras itu. Saat itu juga adiknya tertawa keras,"HAHAHA!"
Lidya yang jatuh dari kasur berusaha bangkit berdiri meski badannya kini terasa sakit akibat ulah adiknya. Ia melemparkan bantal yang tadi dipelukannya melayang ke udara mengenai wajah adiknya yang tertawa.
Bugh!
Tawa adiknya itu berhenti dan memasang wajah datar kini Lidya yang gantian tertawa dengan volume keras. "HAHAHAHA, Rasain! Kena batunya kan habis nakutin kakak."ucap Lidya penuh kebahagiaan sambil menjulurkan lidah ke adiknya.
Adik bernama Hari itu turun dari kasur memasang wajah kesal dan mendengus sebal. "Kakak nyeselin."katanya.
"Biarin, habis nyebelin banget. Ganggu kakak tidur aja."balas Lidya masa bodoh. Duduk di kasur memandang ekspresi adiknya yang kesal, ia tidak bisa menyembunyikan senyuman tipis kalau lihat ekspresi Hari sedang sebal.
"Ini mau malam! Disuruh mama mandi."ucapnya masih kesal lalu berjalan keluar kamar. Lidya mengambil handphone di meja dan yang benar saja ini sudah pukul setengah enam. Dengan langkah malas ia masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Mimpi yang sangat Indah.
Ingin sekali ia kembali masuk kedalam mimpi itu lagi.
Di sana mungkin ada yang unik terutama kedua anak kucing yang mungil.
Dan pohon aneh, yang memiliki banyak buku seperti buah. Itu sangat unik kalau di pikirkan lagi disana banyak sekali hal unik yang selama ini Lidya tidak tahu.
Gadis tersebut memandang luar jendela, ia akan menyembunyikan mimpi indah--bunga tidur. Bunga tidur indah.
*Jangan Anggap Kami lemah*
Bersambung...
__ADS_1