Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Tiga Puluh Satu:Charlie Brown


__ADS_3

Rumah berwarna putih megah berwarna abu-abu, perkarangan rumah sedikit luas dan banyak tumbuhan yang tumbuh disana. Di bagasi ada satu mobil mewah dan tiga sepeda motor dengan tipe berbeda-beda. Di depan dekat gerbang rumah terdapat pos kecil untuk penjaga.


Rumah ini sangat megah dan di dalamnya begitu luas, barang-barang berharga ada di sana. Semua fasilitas sangat terpenuhi dan terdapat banyak pembantu disini kira-kira ada 8 pembantu. Dan ada satu pembantu yang dapat di percayai oleh majikannya. Wanita paruh baya umurnya sudah menginjak 42 tahun. Beliau adalah pembantu yang sudah lama bekerja di sini sebelum majikan kecil lahir di dunia. Beliau bernama Zulia.


  Wanita tersebut sedang membereskan barang-barang. Ia mendengar ada kerusuhan di lantai dua,suara bentakan terdengar sampai lantai dasar. Zulia bangkit berdiri dan menatap ke lantai atas yang kebetulan sekali beliau sedang membersihkan barang sekitar situ. Wajahnya menjadi khawatir mendengar bentakan Tuan Brown. Sepertinya Tuan Brown memarahi anaknya.


Di kamar ada satu pria mengenakan jas begitu rapi menatap marah anak laki-lakinya. "Ayah sudah katakan! Jangan berantem. Kamu sudah berapa kali di bilangin sama ayah! Tetap saja berantem sampai mukamu lebam begitu!"marah ayah tapi pemuda di depannya itu menatap ayah sedikit jengkel karena beliau sama sekali tidak pernah mendukung sama sekali.


"Ayah,Charlie sudah bilang. Ini gara-gara kakak kelas Charlie yang suka membully Charlie, ayah."jawab Charlie jujur sambil menatap ayahnya yang berekspresi marah sampai kedua pipi beliau memerah emosi.


Drew menghela nafas panjang memalingkan wajah ke Charlie. "Terserah kamu!kamu tetap saja tidak pernah mengaku kalau kamu di sekolah selalu saja berantem,berantem dan berantem."ucapnya lalu keluar begitu saja dari kamar Charlie.


Pemuda berambut blonde itu menatap punggung ayahnya,sedih. Beliau menutup pintu kamar kasar sehingga menimbulkan suara keras. Charlie duduk di kursi belajarnya, ia sama sekali tidak tahu apa yang di pikiran ayahnya selama ini. Arah pandang Charlie melihat ke seluruh ruangan kamar yang bisa dibilang luas, nyaman dan bersih. Memiliki kendaraan mewah, fasilitas rumah yang terpenuhi, makanan selalu mewah. Hidup Charlie memang sempurna. Namun, ia kurang kasih sayang orang tuannya.


Ayahnya sibuk dengan pekerjaan dan sering pulang malam, yang paling parah adalah beliau tidak pernah mendudukung Charlie di olahraga prestasi yaitu karate. Charlie pernah merengek meminta ayahnya untuk datang di sebuah acara karate dimana ia akan  mentarget mendali emas.


Awalnya ayah datang untuk memberikan semangat untuk Charlie saat sudah babak semi final   ayahnya mendapatkan telfon yang ia yakini dari kantor. Ayahnya terlihat tergesa-gesa dan langsung pergi meninggalkan Charlie seorang diri di sana. Saat kejadian itu Charlie merasa down dan pulang membawa mendali perak.


Jika waktu itu ia serius dan fokus, mendali emas itu akan menjadi miliknya. Masa kelam Charlie sangat menyakitkan dan hidup sempurna ini hanya duniawi saja, ia tidak mendapatkan kasih sayang.


Ibu pergi keluar negeri berurusan bisnis dan ayahnya juga sibuk dengan pekerjaannya. Semua sibuk sendiri-sendiri sampai tidak punya waktu luang untuk anak tunggalnya, Charlie.


Kedua matanya sudah membendung air mata dan detik itu juga Charlie menangis tersedu-sedu memohon agar ia mendapatkan kasih sayang keluarga dan kedua orang tuanya melihat prestasi anaknya mengikuti karate yang ia tekuni sejak kelas 5 SD.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka mendapati Bu Zulia, pembantu yang selama ini mengasuh Charlie bayi sampai sebesar ini. Bu Zulia menghampiri Tuan Charlie,"permisi Tuan Charlie."ucapnya sesopan mungkin ke anak majikannya itu.


Charlie mengusap air matanya dengan punggung kananya lalu menoleh mendapati Bu Zulia, orang yang selama ini peduli pada Charlie. Orang yang selama ini mengasuhnya waktu kecil sampai remaja. Charlie tersenyum,"ada apa?Bu?"tanya Charlie.


Wajah wanita itu begitu khawatir pada Charlie karena takut kalau di apa-apain sama Tuan Drew. "Daripada Tuan di rumah dimarahin sama Tuan Drew mending ke rumah nenek atau latihan karate."ucapnya memberi masukan ke Charlie. Pemuda itu tersenyum kecut mendengar kalimat Bu Zulia, nama karate.


Ia masih ngedown di olahraga karate dan merasa bahwa  dirinya tidak bisa diajari, hanya bisa merepotkan orang lain saja. Charlie memasang muka lesuh dan putus asa. Bu Zulia tersenyum dan menepuk bahu Charlie pelan,"Tuan, tidak perlu khawatir. Bu Zulia akan terus mendukungmu. Nanti kalau ada lomba karate, saya akan datang ke lomba itu."hibur Bu Zulia supaya Charlie tidak merasa down serta putus asa dengan kemampuannya.


Charlie tersenyum tipis dan memeluk Bu Zulia erat. "Terima kasih,Bu. Bu Zulia selalu mendukung Charlie dan tahu apa yang aku rasakan saat ini. Bu Zulia sudah seperti ibu kandungku sendiri yang perhatian banget sama Charlie dan takut kalau Charlie kenapa-napa?"ucap Charlie bahagia benget dan memeluk erat Bu Zulia.


Wanita paruh baya itu tersenyum dan membalas pelukan majikan kecilnya. Kalau ia melihat Charlie selalu teringat dengan kedua anak perempuan yang ada di rumahnya, beliau sudah lama tidak pulang ke kampung halaman untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka melepaskan pelukan erat itu.


Charlie melihat ke Bu Zulia tersenyum. "Aku mau meminta sesuatu pada Bu Zulia?"ucapnya membuat Bu Zulia penasaran, apa yang di pinta oleh Bu Zulia.


Charlie mengangkat jari telunjuknya,"pertama, aku ingin di panggil nama Charlie. Tidak ada embel-embel di depan namaku 'Tuan'. Kalau ada yang protes itu permintaan Charlie sendiri. Khusus Bu Zulia."


lalu jari tengah diangkat bertanda kedua,"Yang kedua adalah aku telah menganggap Bu Zulia sebagai ibu kandungku sendiri dan Bu Zulia juga orang paling dekat dengan Charlie."


"Yang ketiga!"seru Charlie mengangkat jari manisnya bertanda permintaan terkahir yang akan di sebut oleh Charlie,"...Ucapan terima kasih sama Bu Zulia telah merawatku sejak kecil sampai sekarang. Dan sampai tahu barang kesukaan mulai kecil sampai yang besar. Ayah dan ibuku saja tidak tahu barang kesukaanku apa saja. Dan paling yang aku inginkan dari ketiga yang aku sebut tadi adalah aku ingin rumah sederhana dan kehidupan berkecukupan."lanjut Charlie telah menyebutkan tiga permintaan dan apa yang ia inginkan sejak dulu.


Ia merasa bosan dengan kehidupan penuh harta seperti ini. Ia ingin hidup yang berkecukupan dan penuh kasih sayang orang tua, barulah itu yang disebut sempurna. Bu Zulia sudah lama mendengar keluh kesahnya Charlie, majikan kecilnya yang terus menerus berharap bisa mendapatkan kasih sayang orang tuanya. Beliau tahu persis sikap Mr.Brown dan Mrs. Brown yang gemar banget dengan karir mereka dan mereka sampai lupa kalau ada keberadaan Charlie.


"Saya mau pamit dulu. Mau masak di dapur."ucapnya sedikit menunduk lalu pergi keluar kamar Charlie. Pemuda berumur 14 tahun itu menghela nafas kasar dan ia tidak melakukan apapun dirumah hanya bersantai saja. Melirik jam sudah menunjukkan angka 3 sore, ia bergegas mengambil handuk dan berlari di kamar mandi yang ada di kamar tidurnya.

__ADS_1


Selesai membersihkan diri, ia menatap pantulan bayangan di cerminnya. Banyak sekali lebam di wajahnya karena pukulan dari kakak kelas yang selalu memalak uang penghasilan berdagang kue serta uang sakunya. Ia teringat jelas apa yang sering di dengar oleh kakak kelas tersebut, sering menganggu Charlie.


"Lihatlah Charlie, anak orang kaya itu! Dia punya banyak sekali uang tapi ia juga jualan kue keliling di dekat pasar. Kadang juga ia titipkan di kantin."kata kakak kelas satu.


"Iya. Dia juga katanya nih, pintar bela diri yaitu karate. Eh malah dia tidak ngelawan kita dan tidak jago banget karate. Aku rasa itu cuma sebuah rumor yang tidak betul hahahaha."sahut kakak kelas lain sambil tertawa mengejek.


Kalimat-kalimat itu selalu tergiang-giang di kedua telinga Charlie. Hatinya sakit dan semakin lama semakin ngedown. Ia menatap wajah di depan cermin dan mulai bermonolog mengarah pantulan dirinya.


"Mana Charlie yang dulu?Charlie yang selalu periang dan berani melawan mara bahaya di luar. Siapa yang berani melawan akan mendapatkan serangan balik. Tetapi apa yang aku lakukan?aku malah menjauh dari prestasi ku, impianku sejak kecil menjadi laki-laki tangguh, aku malah jadi pengecut. Pengecut yang pasrah dan mendapatkan luka lebam seperti ini."air mata sudah membendung.


"A-aku tidak bisa melakukan semua itu. Aku harus mulai dari awal."ucapnya semakin berputus asa menunduk ke bawah. Hatinya sudah tidak kuat menahan rasa sakit hati yang luar biasa harus mendengar amarah dari ayahnya yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Charlie.


Di mata ayah, Charlie hanyalah anak penganggu dan suka berantem sehingga mendapatkan luka lebam seperti ini. Ayahnya mengira kalau Charlie ikut karate memiliki tujuan yaitu bertengkar.


"Aku tidak suka dengan Charlie. Anak itu harus di hukum selalu saja kalau pulang dapat luka lebam, setiap hari! Membuatku kesal saja."katanya kesal ketika ingin pergi ke kantor. Charlie yang kebetulan lewat dan mendengar ucapan tidak suka dari ayahnya. Ia sangat kesal pada ayahnya yang selalu saja bilang yang tidak-tidak.


Jiwa Charlie sekarang sangat putus asa, ia tidak bisa bangkit dari jiwa yang sudah putus asa ini. Karena minimnya dukungan dari orang tuanya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh dari dalam tubuhnya,sesuatu yang begitu geli membuat Charlie tertawa kecil.


"Hehe, tubuhku kenapa?aku merasa sangat geli?"ucapnya dengan tawa kecilnya. Tubuh pemuda itu terus merasakan geli ia tidak tahu kenapa ia merasakan geli seperti ini padahal tidak ada yang menggelitik tubuhnya sama sekali.


Lalu rasa geli itu menghilang begitu saja dan Charlie menghela nafas lega akhirnya rasa geli itu menghilang juga. Ia kembali menatap ke cermin, kedua matanya membulat sempurna--terkejut.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2