Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Tiga: Dua Imajinasi di dalam Tubuh Tio


__ADS_3

"A-apa aku terbaring di ranjang rumah sakit, karena terkena racun lebah?"tanya Tio masih tidak percaya dengan pria dewasa tersebut yang sama sekali tidak ia kenal, siapa mereka berdua ini dan kenapa mereka berada disini.


Pria dewasa tersebut menghela nafas kasar harusnya ia tadi langsung ke inti saja tidak perlu bertele-tele membicarakan alasan Tio terbaring di ranjang rumah sakit. Ia menatap pemuda di depannya masih memasang nampang wajah seperti orang idiot.


Pemuda di samping pria dewasa itu, Simon tersenyum. "Kau terkena racun lebah akibat bertarung bersama monster lebah yang berada di Kota Selatan. Ketika kau lengah, monster itu menembakkan sengatan ke arahmu yang ternyata sengatannya ada racunnya."jelas pemuda berambut pirang tersenyum ke Tio.


Tio mengangguk mengerti makanya ia berada di rumah sakit karena itu sebabnya. Karena ia merasakan tidur begitu nyenyak dan tidak merasakan apapun. Kenyataannya ia terkena racun. Matanya melihat sekeliling hutan yang Indah seperti surga, dahinya berkerut.


"Jadi aku sekarang benar-benar berada di surga kalau begitu."ucapnya bodoh langsung di sahut oleh pria dewasa bernama Ren dengan tatapan tajamnya.


"Ini bukan surga, bodoh. Ini adalah alam bawa sadarmu!"ucapnya ketus. Ia memejamkan mata sejenak lalu kembali menatap Tio yang terbelalak mendengar perkataan tidak sopannya. Tidak sopan pada anak yang mengendalikan kekuatannya.


"Maafkan aku,Tio. Aku sampai ingin mengeluarkan semua amarahku."ucap Ren membuat Tio semakin bingung dan siapa mereka berdua sebenarnya.


"Kau tahu namaku? Tapi aku tidak tahu nama kalian?"tanya Tio akhirnya.


"Kami berdua adalah imajinasi yang bersemayam di tubuhmu. Jadi kau mendapatkan kekuatan berkat kami. Kenapa kami (imajinasi) memilih bersemayam ke tubuh manusia sebab kami ingin menyelamatkan dunia dan menutup pintu imajinasi kembali. Supaya tidak ada kekacauan seperti ini." Jelas Ren membuat Tio menunduk mendengarnya.


Harusnya ia tidak ceroboh, harusnya ia mengurungkan niat untuk mencari tempat itu dan menemukan pintu imajinasi. Tapi itu semua sudah terjadi dan terlambat untuk menyesali. Memang penyesalan itu datangnya belakangan bukan di awal.


Tio menarik nafas dalam-dalam menatap kedua orang yang berdiri di hadapannya yang ternyata, imajinasi yang bersemayam di dalam tubuhnya.


"Baiklah. Aku akan bertanggung jawab untuk menyelamatkan dunia. Tapi kenapa kalian menyebut Lidya juga?"tanya Tio pada mereka berdua. Ya, memang sih kalau Lidya memiliki tujuan yang berbeda dengan Tio. Katanya ia harus menyelesaikan sesuatu soal cerita.


Entah cerita apa? Sedangkan ia sendiri, Tio. Bertugas menutup kembali pintu imajinasi.


"Itu masih rahasia nanti kamu bakal tahu sendiri."jawab Simon tersenyum misteri membuat Tio menghela nafas sebal.


"Ya, ya. Aku akan bangun dari tidurku. Aku harus menyelesaikan ini cepat-cepat."kata Tio ingin berjalan ke suatu tempat tapi di hadang oleh Ren dengan pelototan.


"Nggak bisa?"


"Kenapa?"tanya Tio balik menatap pria dewasa itu yang hampir bola matanya ingin keluar dari tempatnya. Pria itu menyuruh Tio diam di sana tanpa melakukan apapun.


"Kenapa? Tubuhmu itu masih lemah? Kau harus mendapatkan tumbuhan obat dari temanmu yang berkekuatan tumbuhan agar racun yang ada di dalam tubuhmu itu hilang."ucapnya sedikit bernada tinggi. Sepertinya Ren sudah tidak bisa menahan emosi yang sudah mengepul di dalam kepalanya.

__ADS_1


Simon, adiknya hanya tersenyum dan terkekeh melihat mereka berdua. Tio melirik ke arah pemuda yang sekitar umurnya lebih muda darinya, satu tahun. Bagi Tio, sifat mereka berdua beda jauh.


Lalu Tio mengingat sesuatu dan menatap kedua orang di hadapannya bingung. Bukannya imajinasi itu bersemayam di dalam tubuh manusia hanya bisa satu imajinasi saja tapi yang ada di dalam tubuh Tio, ada dua imajinasi sekaligus. Ini membuat Tio bingung dan menggaruk kepalanya tidak gatal.


Ren yang memerhatikan tingkah laku aneh, Tio--angkat bicara. "Kenapa kau garuk kepala?"tanyanya datar seperti biasa.


"Aneh,"katanya membuat dahi Ren berkerut,"aneh karena di dalam tubuhku ada dua, sedangkan di tubuh teman-temanku hanya satu. Apakah kau tidak merasa aneh begitu?"lanjutnya dan berbalik tanya ke Ren.


"Tidak!"katanya singkat.


"Kenapa tidak aneh sih? Aku saja aneh? Kalian bisa tidak menjelaskan padaku sebelum aku bangun."ucap Tio sedikit tidak percaya dan tidak mau ambil pusing ia meminta dua imajinasi itu menjelaskan. Apa alasannya di dalam tubuhnya ada dua imajinasi sekaligus tidak seperti yang lain hanya satu imajinasi saja.


Ren malas untuk menjelaskan panjang lebar jadi ia menyuruh adiknya, Simon yang menjelaskan.


  Pada umumnya memang satu tubuh manusia hanya bisa di masuki satu imajinasi saja, tidak bisa lebih. Dan ada juga yang satu imajinasi yang memiliki dua kekuatan terpisah tapi saat masuk ke dalam tubuh manusia, kedua kekuatan itu menjadi satu. Seperti kekuatan milik Jay.


Jay memiliki kekuatan memancarkan sebuah kharisma membuat siapa saja akan jatuh hati padanya di tambah kalau ada orang yang menatap manik matanya, akan nempel terus ke Jay. Tidak heran pemuda itu selalu di kerubungi oleh gadis-gadis atau orang lain tidak bisa berbuat jahat padanya.


Kekuatan yang ada di dalam tubuh Jay sebenarnya, kekuatan Penghipnotis dan Kharisma membuat orang tunduk. Banyak orang lain yang tidak mengetahui kekuatan itu sebab terkecoh dengan kekuatan yang bergabung.


Simon, memiliki kekuatan berubah wujud jadi apapun sesuai keinginannya. Ren, memiliki kekuatan peniru dengan level sepadan dengan kekuatan yang di tirunya kadang sampai level paling tinggi. Simon memiliki kekuatan tersembunyi dan pernah di keluarkan oleh Tio.


Yaitu, kekuatan perpindahan jiwa tanpa ada orang yang tahu. Jadi saat perpindahan jiwa, Simon memindahkan jiwa orang itu terlebih dahulu ke dalam raganya setelah itu ia berpindah jiwa ke raga orang tersebut dan memiliki jangka waktu pendek.


Oleh sebab itu Tio menyuruh Lidya cepat-cepat pergi sebelum ada orang yang menyadari. Entah waktu itu menang keberuntungan Lidya atau tidak sehingga tak ada seorang pun yang tahu.


Pertanyaan umum, Kenapa Tio mendapatkan dua imajinasi sekaligus? Karena ia memiliki tujuan menutup kembali pintu imajinasi dan membutuhkan waktu cepat.


Ren melipat kedua tangannya menatap pemuda di depannya yang berusaha mencerna penjelasan Simon. "Sepertinya kita sudah terlambat menutup pintu imajinasi rapat-rapat. Jadi kami harus bekerja sama padamu."katanya.


"Bekerja sama?"ulang Tio lagi dibalas angguk Ren.


"Seperti murid SMA Negeri satu yang sudah bekerja sama dengan imajinasi yang ada di dalam tubuh mereka. Jadi penampilan mereka berubah sesuai imajinasi yang bersemayam."katanya.


"Tapi aku ada dua imajinasi?"tanya Tio.

__ADS_1


"Itu gampang. Tapi nunggu waktu tepat dan kondisimu harus pulih."kata Simon membuat Tio memiringkan sudut bibirnya.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


  Sebentar lagi malam akan tiba pemuda berambut rapih memakai anting cinta masih mencari kedua temannya. Ia sesekali beristirahat dan melihat sekeliling berharap Jay merasakan ada tanda-tanda kedatangan dua makhluk itu.


  Jay memutuskan untuk bersandar di lampu merah menatap langit oranye yang sebentar lagi berganti hitam. Setelah beberapa menit memandang langit ia merasakan sesuatu yang melewatinya seperti gerakkan bayangan hitam. Jay melihat ke kanan dan melihat seroang pemuda berlari entah kemana bersama bayangan. Kalau dilihat secara seksama bayangan tersebut milik kekuatan Vin.


Tanpa babibu Jay berlari mengejar mereka berdua menyebarang jalan. Langkah kakinya berlari sangat cepat mengejar kedua pemuda itu yang ia yakin kalau mereka adalah Vin dan Riko. Jay tidak bisa menggunakan kekuatannya menyuruh mereka berhenti sebab ia perlu mata buat menghipnotis. Mereka sudah di teriaki tapi keduanya tidak mendengar suara Jay.


Di dalam hati Jay, aku tidak bisa mengejar lari mereka. Larinya seperti atlet lari.


  Jay melihat sekeliling,banyak sekali sorotan mata yang melihatnya. Sadar kalau aura kharismanya membuat semua tertarik padanya, akhirnya ia memanfaatkan situasi ini. Jay menghipnotis beberapa orang untuk menghadang kedua pemuda itu, Vin dan Riko agar berhenti.


   Vin berlari sangat cepat ia sudah tidak tahan untuk membalas semua apa yang dilakukan oleh musuhnya sehingga membuat teman-temannya terluka. Riko juga berlari cepat dengan bantuan kekuatan Vin. Harusnya mereka tidak perlu berlari seperti ini hanya memerlukan mesin waktu atau portal waktu dari Riko.


Tetapi kekuatan Riko sudah menipis akibat ia mengembalikan takdir yang harusnya Vin mati di tangannya berubah menjadi hidup kembali dan memilih menyelamatkan dunia bersama teman-temannya. Kekuatan pengembalian waktu yang bertentangan oleh takdir, memerlukan waktu begitu lama untuk menggunakan kekuatan itu lagi.


Riko bisa menggunakan kekuatan itu lagi membutuhkan 6 bulan hampir setengah tahun. Jadi kalau ia benar-benar harus melihat teman-temannya terluka serius atau mati, Riko angkat tangan. Dan kalau kekuatan itu sudah bisa kembali. Menghidupkan orang mati yang sudah lama itu sangat mustahil jika orang itu baru mati beberapa detik atau satu menit.


Riko bisa mengembalikannya sama seperti yang terjadi pada Vin di Kota Selatan.


  Mereka berdua terus berlari tanpa ada percakapan atau basa-basi tiba-tiba saja mereka berdua di hadang banyak orang. Membuat kedua kaki mereka berdua terhenti dan melihat orang-orang sekitar, tatapan mereka seperti di kendalikan oleh seseorang atau terkena Hipnotis seseorang.


"Kenapa orang-orang ini menatap kita dengan tatapan kosong?"tanya Vin melirik sekitar tajam dan penuh kewaspadaan.


"Apakah ada musuh baru lagi?"tanyanya lagi dibalas gelengan Riko.


"Tidak! Musuh kita hanya tiga orang bukan empat atau lebih."ucap Riko melihat sekitar. Ya,mereka berdua berhasil di kepung dari sisi Kanan, belakang dan depan. Tidak mungkin mereka berdua menyerang orang-orang tidak bersalah karena terkena hipnotis.


Lalu terdengarlah suara pijakan kaki lain menerobos masuk orang-orang suruhannya untuk menghadang kedua temannya. Penglihatan Vin dan Riko terhenti ke arah pemuda tampan yang ngos-ngosan memegang lututnya.


"Kalian ini, aku ingin kalian berhenti tapi..."ucapnya mengusap keringat yang menguncur di pelipisnya, mendongak melihat Vin dan Riko bergantian,"...tapi kalian terus berlari seperti atlet lari."lanjutnya.


*Jangan anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2