
Seorang pemuda berkacamata berlari menuju ke pengungsian, pakaian yang ia kenakan banyak yang robek sebab kilatan petir yang tidak henti-hentinya menyambar mengenai dirinya untung saja ia tidak mati tersambar petir.
Ia berbelok dan melihat sekelompok orang saling berpelukan. Banyak anak kecil yang menangis karena suara memekik dari langit. Arkan melihat Hana yang menenangkan beberapa anak kecil untuk tidak takut suara petir.
"Hana!"panggilnya membuat si empu menoleh ke Arkan, terkejut.
"Arkan,"ia bangkit berdiri menghampiri pemuda berkacamata bulat itu,"darimana saja kau! Baru situasi begini kau baru muncul?"celoteh Hana. Arkan segera menyuruh gadis berkacamata itu untuk diam ini bukan waktunya untuk ceramah.
"Ssttt. Penjelasannya nanti saja setelah peperangan ini usai. Aku tadi lihat lewat drone-drone yang mengawasi pertarungan. Banyak teman kita yang membutuhkan pertolongan di sana."jelas Arkan to the point. Hana hanya menunduk diam, ia kehabisan ide untuk menyelesaikan masalah ini.
Sebab ia hanyalah pembaca hati dan pikiran, tidak bisa melakukan apapun selain itu. Apalagi Bening, ia hanya bisa berharap saja dan belum tentu harapannya benar-benar terkabul. Beberapa teman-temannya seperti Fitri, Anggi,Vin, dan juga Vana ikut turun area.
Ini tidak seperti rencana awal Lidya lagi. Hana menatap mata Arkan penuh harap kalau ada pertolongan untuk membantu teman-temannya di sana. "Vin, sudah turun area mungkin ia bisa membantu mereka disana. Dan Vana juga."
"Ah gadis yang memiliki kekuatan Red Eyes itu! Apa dia bisa mengendalikan kekuatannya?"tanya Arkan masih ragu dengan kemampuan Vana. Kalau Vana hatinya terancam atau merasakan aura negatif yang cukup besar maka kekuatannya akan muncul. Kekuatan paling dahsyat melebihi kekuatan Vin.
"Apa Lidya disana baik-baik saja?"tanya Hana mengingat temannya satu itu. Ia sangat khawatir pada gadis tersebut, ia rela terjun ke area padahal ia sama sekali tidak memiliki kekuatan sama sekali.
"Lidya tadi terluka dan untung saja, Lina memanggil penyihir penyembuh. Ia juga mengeluarkan Ular Naga."kata Arkan.
"Benarkah begitu?"tanya Hana balik. Ia tidak menyangka kalau Lidya bisa mengeluarkan Ular Naga tapi gimana ceritanya. Arkan yang memantau dari jauh menjelaskan panjang lebar dan Hana akhirnya mengangguk paham.
"Kak Hana!"panggil seorang pemuda, itu Charlie. Raut wajahnya nampak khawatir, sedih, marah entah apa yang ia rasakan menjadi campur aduk. Charlie sedari tadi memikirkan terus Lidya tidak henti-hentinya.
"Ada apa Charlie?"tanya Hana melihat raut wajah Charlie begitu suram.
"Aku mengingat Kak Lidya. Sekarang Kak Lidya sangat marah besar sebab ia seperti kehilangan seseorang yang berharga. Auranya berbeda sekali."ucap Charlie pelan dan masih bisa di dengar oleh Arkan maupun Hana. Mereka berdua saling beradu pandang.
Charlie memang sudah lepas dari kekuatan imajinasi tetapi rasa itu seolah masih menyatu, kekuatan milik Cahya. Kekuatan Cahya masih berada di tubuh Charlie hanya satu persen. Meski hanya satu persen, Charlie bisa merasakan orang yang selalu ia pikirkan---bagaimana orang itu merasa sedih, senang atau yang lainnya. Hanya saja tubuh Charlie tidak bisa bercahaya seperti dulu.
__ADS_1
Hana mengerjapkan mata ia sedikit tidak percaya apa yang dikatakan oleh Charlie barusan. Tanpa berpikir panjang lagi Hana melihat kedepan di mana pemandangan tidak bersahabat. Sebuah petir menyambar membuat suara yang amat keras. Perisai sihir hampir pecah akibat petir-petir yang menyambar.
Suara tangisan anak kecil juga bertambah keras. Hana sudah tidak kuat menahan semua ini begitupun dengan yang lainnya. Cantika datang bersama Mama Lidya yang menangis tersedu-sedu karena anaknya tidak kunjung kesini.
"Selamatkan Lidya dan selesaikan semua ini. Saya takut kalau Lidya kenapa-napa."ucap Mama dengan suara isak, Cantika mengelus punggung Mama Lidya melihat kedua temannya itu penuh harap.
Lalu datanglah drone yang di rangkai special oleh Arkan tiba, drone tersebut bisa mengeluarkan suara dan menjelaskan apa yang terjadi di peperangan. Sebanyak 400 drone rusak lagi tentu saja Arkan kaget.
"Pertarungan semakin memanas. Lidya berhasil menyegel kekuatan semua imajinasi dan tinggal Lidya dan Keysa. Mereka bertarung dengan gesit sampai-sampai menyiptakan petir yang amat keras."
"Jadi petir-petir itu bukan dari alam melainkan kekuatan imajinasi."gumam Hana.
"Tadi ada petir warna kuning dan satunya petir biru keunguan yang hampir menyambarku. Apa itu ulah musuh?"tanya Arkan pada dronenya.
"Ya. Petir biru itu melambangkan aura kebencian, pembalasan dendam,iri dan amarah. Sedangkan petir kuning melambangkan kegigihan, kedamaian,ketulusan dan penuh Citra. Jadi petir yang kuat itu adalah petir kuning sehingga sambaran maupun ledakan dari petir kuning lebih keras dari pada petir biru."
"Terima kasih infonya. Berarti Lidya sekarang sedang berjuang dan merencanakan sesuatu untuk mengakhirinya."kata Arkan memandang Hana, Cantika, Mama Lidya dan Charlie bergantian.
Semuanya melihat pertarungan sengit antara Keysa dan Lidya. Keduanya bertarung begitu cepat seperti kilat jadi tidak bisa melihat secara jelas pertarungan keduanya.
"Matilah kau lidya!"seru Keysa penuh amarah, mata merahnya menyala, kepalan tangan yang di selimuti aura pembalasan dendaman melayang menuju ke Lidya.
Lidya segera menghalau serangan Keysa dengan perisai cahaya. Perisai cahaya itu milik Cahya. Keysa melotot kalau tinjuannya tidak mempan dan ia juga tidak bisa memecahkan perisai itu. Matanya sedikit silau dan memilih untuk turun.
Gadis itu mendongak melihat Lidya di atas langit masih mimik wajah penuh amarah. Keysa tersenyum miring berencana untuk menarik amarah Lidya.
"Tidak kusangka. Kau bisa marah juga hanya melihat salah satu temanmu menyelamatkanmu dengan mengorbankan nyawanya. Wah, aku benar-benar takjub."ucapnya nada memuji.
"Jika dia tidak datang lebih tepat mungkin kau yang mati. Dengan begitu pencapaianku sudah tercapai. Tidak perlu membunuh Pangeran tumbuhan lagi serta imajinasimu juga ikut lenyap."kata Keysa tersenyum miring mengejek.
__ADS_1
Lidya mendarat dan kedua sayap elangnya menghilang membuat Keysa sedikit takjub dengan gadis di depannya ini. "Wow, aku tidak menyangka kau bisa menghilangkan kedua sayapmu seperti serbuk peri."katanya.
"Kau tidak usah basa-basi Tomma. Kau sebentar lagi berakhir disini."ucap Lidya dingin melangkahkan kedua kakinya menuju ke Keysa. Aura yang berada di tubuh Lidya memancarkan dua aura sekaligus yaitu kegelapan dan cahaya tetapi yang terkuat sekarang kegelapan.
"Kembalilah ke tempat asalmu atau aku akan menghabisimu. Karena Guardians Of Darkness enggan untuk menerimamu di penjara kegelapan. Itu artinya..."Lidya menghentikan langkahnya menatap tajam ke Keysa,"...kau pantas di hancurkan!"
Keysa terdiam sesaat mencoba mencerna kata-kata ancaman dari mulut gadis polos ini yang biasanya di bully oleh teman-temannya, lucu sekali. Keysa sama sekali tidak takut dengan ancaman Lidya ia malah tertawa terbahak-bahak. Membuat semua imajinasi yang hanya bisa diam merasa emosi mendengar tawa meremehkan.
"Gadis itu sudah gila!"teriak Shenna ingin sekali meremukkan tubuh Keysa masuk ke dalam mesin penggiling daging.
"Ku rasa, Keysa sudah kehabisan akal. Jelas-jelas Lidya mengatakan itu dengan serius dan bukannya guyonan."komentar Melvi.
"Aku jadi ingin menghabisi gadis itu dengan api panasku!"ucap Agung yang emosinya sudah nengepul-ngepul, kedua kalinya sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari ke Keysa. Namun sayangnya kekuatanya masih tersegel dan ia juga tidak bisa keluar.
"Arkhh, kenapa kita tidak bisa lari dan berjalan. Kita hanya berdiri melihat pemandangan yang ada di sana! Ah apa yang di pikirkan oleh Lidya."protes Diana sudah muak dan ingin sekali bertarung.
"Mungkin Lidya ingin sekali berbicara dan mengetes kekuatan Keysa lebih jauh. Jadi ia sengaja menyegel kekuatan kita dan menyuruh diam di sini."komentar gadis di sampingnya datar.
Kedua gadis itu saling beradu tatap penuh amarah. Keysa mengumpulkan kekuatannya dan berlari cepat menuju ke Lidya. Gadis itu tidak tinggal diam saja, ia juga berlari ke arah Keysa sehingga menimbulkan cahaya terang menyilaukan mata.
Ketika cahaya itu meredup, mereka--para imajinasi di kejutkan oleh seorang pemuda yang keluar dari tubuh Lidya mencegah Keysa menyerang Lidya menggunakan kekuatan miliknya.
Tio terpenganga melihat apa yang ada di depan matanya sekarang.
'Apakah dia yang selama ini di bicarakan oleh Lidya dan Keysa?'
*Jangan Anggap Kami Lemah
Bersambung...
__ADS_1
Ikuti terus cerita "Jangan Anggap Kami Lemah",tekan Like, comment, dan vote. Kalau udah tunggu up selanjutnya ya. Mungkin sekarang, Jangan Anggap Kami Lemah akan up 2 chapter,setiap dua hari sekali...kalau nggak ada halangan seperti nol kuota dan sinyal yang susah... See you next time😊