Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Enam Belas: Riko Datang


__ADS_3

   Dari atas,kedua mata cokelat cerahnya melihat kedua orang yang sedang melawan tetapi kedua orang itu saling jatuh bersamaan. Mereka berdua tidak mau mengalah satu sama yang lain, ini membuat pemuda itu jengkel.


Pemuda tersebut langsung menengai keduanya seraya membuat perlindungan diri dari serangan dua makhluk ini. Mereka berdua melangkah mundur sebab kekuatan orang yang tiba-tiba datang menengai mereka serta memiliki kekuatan yang kuat.


Yusuf menatap punggung seorang pemuda memakai zirah putih memakai tudung yang sama seperti zirahnya. Di sekitar tubuhnya memancarkan cahaya besar. Cahaya itu mulai meredup dan terdapat berwarna merah gelap.


Mata Yusuf terbelalak melihat pemuda itu dan tidak sengaja ia menyebutkan nama,"Newt Cahya!"ucapnya membuat Cahya menoleh sedikit ke belakang menyunggingkan senyuman,"apa kabar? Joe Sugar."sapanya dingin.


Meika melotot tidak percaya setelah pemuda berambut blonde itu menyebut nama "Newt Cahya" ia merasa tidak asing lagi dengan nama itu. Gadis itu ingin sekali menyerang tetapi dengan cepat Cahya menghalau serangan Meika dengan perisai cahayanya sehingga ia dan Yusuf tidak terluka dan membuat Lidya mengerang kesakitan.


"Siapa gadis ini?"tanya Cahya melihat gadis itu dari dalam perisai cahayanya yang terus menyerang dengan Shadows-nya. Yusuf berdiri di sampingnya berkata Meika dan menjelaskan kalau ia mengendalikan aura kegelapan. Menyebabkan manusia, hewan yang telah memasukkan oleh aura kegelapan dan menjadi jahat dan lebih agresif.


Kalau masalah bayangan itu, Yusuf sama sekali tidak mengetahui dan baru pertama kali Meika mengeluarkannya. Cahya hanya tersenyum miring, tipis.


Andai saja, disini ada Gavin, bisa mudah masalah ini, --batinnya.


Cahya yang masih berdiri dalam perisai pelindungnya akhirnya memutuskan untuk menarik pedang cahayanya memberikan sebuah cahaya dari hati Meika agar sadar. Bahwa selama ini ia memilih jalan yang salah.


Sebelum beraksi Cahya menoleh ke arah Joe(Yusuf) buat melihat menyadarkan seseorang dari kegelapan. Yusuf melihat pemuda tersebut menunjukkan aksinya menghalau dengan mudahnya serangan shadows milik Meika.


Cahya mengangkat pedangnya seraya mengucapkan,"Ray Kind!"


Mata Meika silau karena cahaya dari pemuda asing itu. Cahaya keluar dari pedang Cahya begitu besar dan menjulang tinggi ke langit. Arkan dan lainnya yang mengawasi pun terkejut melihat cahaya begitu besar di malam hari.


Tidak hanya Arkan tapi semua yang ada di sana terkejut. Lidya yang memutuskan berlari bersama Lina untuk mencari musuh utama yaitu Tomma menghentikan lari mereka dan mendongak melihat cahaya besar tersebut.


"Cahaya dari siapa itu?"


"Cahya."balas Lidya membuat Lina menoleh dengan tatapan bingung.


  Di tempat dimana semua orang sudah aman melihat cahaya itu begitu kagum. Cahya berhasil mengalahkan Meika dan gadis itu tumbang secara bersamaan cahaya besar tersebut menghilang seperti di telan bumi. Tubuh Cahya sama sekali tidak ada cahaya sedikit pun.


Yusuf segera menghampiri Cahya,"kau membunuhnya?"tanyanya. Cahya memasukkan kembali pedangnya ke sarung, menggeleng tanpa menoleh ke lawan bicaranya.


"Tidak. Aku hanya membuatnya ia pingsan dan saat ia bangun. Ia sadar."balasnya enteng.


Cahya menoleh ke arah Yusuf tersenyum manis,"sekarang. Kita cari musuh utama. Aku rasa, dia turun di peperangan ini."katanya dibalas anggukan Yusuf.


   Di sisi lain, Keysa harus melawan Tasya. Gadis kecil itu sudah berhasil menjadi monster dan senjatanya adalah bunga pemakan serangga. Monster tumbuhan Keysa tidak cukup kuat melawan gadis kecil ini. Keysa menahan kekuatan tumbuhan itu dengan pohon-pohon bertumpuk 10 tapi dengan mudahnya Tasya berhasil merobohkan semua pohon-pohon Keysa.


Tidak kusangkah ada kekuatan yang cukup kuat dari kekuatanku, sial--batinnya serta ia juga menyesal harus turun medan perang buat mencari Riko. Kalau pemuda itu berada disini maka ia akan menghentikan waktu agar gadis kecil ini kalah.

__ADS_1


Keysa terkena serangan tumbuhan Tasya membuat Keysa terpental jauh serta berguling ke tanah. Kini tubuh gadis itu penuh dengan luka, kepalanya sedikit mendongak menghiraukan rasa sakit di sekujur tubuhnya serta ia membersihkan sudut bibirnya dari darah.


Penglihatannya pun mulai mengabur karena serangan yang bisa dibilang cukup kuat. Tangan Keysa mengepal kuat, menahan seluruh emosinya. Tasya datang dengan kedua kaki tumbuhannya, sudah terlihat monster sesungguhnya. Keysa ingin bangun tapi tubuhnya tidak cukup untuk bangun.


Sial!


Tasya ingin memukul Keysa dengan tangan tumbuhan berbentuk Palu. Ia ingin memukul Keysa agar tubuh gadis tersebut penyet dan hancur. Mata Keysa terpejam. Palu itu akan menghantamnya kuat.


"Penghentian waktu!"seru seseorang seketika semuanya berhenti seperti menge-pause video. Hanya Keysa yang bisa bergerak, merasa tidak terjadi apapun.


Kedua matanya perlahan terbuka, terkejut sebab tinggal 30 cm Palu bunga yang diyakini Keysa memiliki massa seperti Palu sesungguhnya hampir mendarat di punggungnya. Perlahan gadis itu merangkak keluar dari hantaman tumbuhan palu itu. Keysa menoleh dan melihat semuanya berhenti kecuali dirinya.


"Siapa yang melakukan ini? Apa--"belum selesai Keysa bicara seseorang keluar dari balik gang sempit yang ada di situ. Keysa melotot melihat seorang pemuda yang tengah di carinya, muncul membuat senyuman terukir jelas di sudut bibirnya.


"Riko. Kau menyelamatkanku!"serunya sedikit senang ia ingin menyambut kedatangan pemuda itu dengan cepat Riko menghindari tangan Keysa.


"Kau berhutang nyawa padaku."katanya datar.


Keysa yang ingin menyambut Riko dengan pelukan, mengurungkan niatnya. Ia menoleh melihat pemuda bernama Riko yang selalu memasang wajah datar, santai tanpa ada kata senyuman. Keysa sedikit mengerucutkan bibir, Riko sama sekali tidak pernah tersenyum padanya.


"Darimana saja kau! Semenjak kau pergi ke Kota Selatan. Kau tidak muncul lagi di hadapanku. Dan akhirnya aku memutuskan buat Roro dan Meika turun area."katanya nada jengkel melipat kedua tangan di dada, menatap Riko pura-pura marah.


"Sudah kalah dan harus menjalani hukuman dari imajinasi lemah. Aku sudah tahu itu."potong Riko cepat menatap gadis di depannya tidak suka. Tapi ia sebaik mungkin membiarkan wajah datarnya yang ia tunjukkan ke Keysa.


"Kita harus mengakhiri semuanya agar kau bisa mencapai tujuanmu yang selama ini kau idamkan bukan. Jadi jangan buang-buang waktu."kata Riko ketus membuat Keysa tersenyum senang.


"Kita harus mencari Lidya. Aku yakin dia ada di sini."ucap Keysa ke Riko.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


  Tio dan lainnya berlari menuju pintu imajinasi buat keluar cepat-cepat. Mereka sudah tahu kebenaran tentang peperangan itu. Peperangan penuh pembalasan dendam. Pandu sangat khawatir dengan teman-temannya dalam hati ia selalu berdoa kalau semua teman-temannya selamat serta orang-orang yang di selamatkan juga selamat.


Suasana hati Pandu juga merasa tidak enak dan mendapatkan feeling buruk yang akan menimpa Lidya. Ia ingat saat perkataannya di rumah sakit waktu itu bahwa ia tidak akan pernah membiarkan Lidya lecet sedikit pun.


"Kalau aku lecet, memang kenapa?"tanya Lidya.


"Karena itu akan jadi urusanku!"ucapnya menarik tangan Lidya keluar dari rumah sakit.


  Serta sebelum peperangan itu terjadi ia sempat berbicara penting dengan Riko. Ya, kedua pemuda tersebut sama sekali tidak dekat dan mungkin itu akan jadi sesuatu yang diingat oleh Pandu selamanya. Benar-benar perbincangan begitu canggung di cafe serta omongannya tidak terkendalikan, meluncur begitu saja.


Tio menatap ke depan, otaknya memikirkan sesuatu untuk mengakhiri semua ini akibat ulah cerobohnya membuka pintu imajinasi. Dan siapa sangka akan menjadi kejadian buruk serta merebut nyawa orang-orang tidak bersalah.

__ADS_1


Masalah buku neneknya dan kata-kata dua Dewi penjaga itu terngiang-ngiang terutama keberadaan pangeran tumbuhan.


"Apakah keberadaan pangeran tumbuhan sudah ada di pertempuran itu?"tanya Tio pada yang lainnya.


"Tidak tahu. Semoga saja. Kata Dewi penjaga itu, pangeran tumbuhan akan muncul di peperangan tapi mereka tidak tahu. Jam berapa pokoknya saat-saat yang tepat."balas Pandu.


"Aku ingin melihat pangeran tumbuhan itu seperti apa? Terutama kekuatannya. Sampai-sampai musuh bebuyutannya bangkit dan membuat keributan."timpal Nia sudah tidak sabar melihat sebesar apa kekuatan pangeran tumbuhan.


"Kata Dewi penjaga tadi. Nanti ada pahlawan sesungguhnya dari ribuan imajinasi. Dia tidak tergolong kelompok imajinasi mana pun."kata Veno.


Mereka berlima sudah mendapatkan informasi banyak tentang apa yang terjadi di bumi serta alasan kenapa para imajinasi keluar dari pintu imajinasi. Mereka berlima di ajak oleh Dewi Penjaga itu ke batu berukuran besar tempat permohonan seseorang selama beberapa tahun silam.


Saat Tio juga ada di sana, awal-awal menemukan pintu imajinasi dan memasukinya. Tanpa sadar ada orang yang membuntutinya sehingga menjadi seperti ini. Seandainya itu tidak terjadi,


mungkin dunia manusia dan dunia imajinasi akan menjadi satu serta orang-orang yang memiliki kekuatan.


Kalau di pikir dua kali, itu sama saja akan terjadi konflik besar seperti yang terjadi ini. Malah semakin buruk, pendapat Tio.


  Sebuah pintu sudah terlihat di depan mata dengan segera mereka berlima secara bersamaan keluar dari pintu imajinasi. Ketika sudah kembali ke bumi,mereka berlima terjatuh sehingga saling menindih. Laki-laki di bawah sedangkan yang perempuan di atas.


"Aw punggungku astaga!"


"Aku nggak nyangka kalau mendarat secara bersamaan jadi gini!"ucap Tio sedikit memprotes nada tinggi.


Ketiga lainnya yang menunggu di luar pintu imajinasi terkejut.


"Akhirnya kalian datang juga! Dari tadi ngapain aja ha di dalam!"itu suara Anis. Penyihir berkaca mata bulat memprotes sembari menancapkan tongkat sihirnya ke tanah.


"Maaf kawan-kawan. Kami cari informasi kok di dalam."kata Tio berusaha bangun sembari menegakkan kembali punggungnya. Matanya melihat teman-temannya bergantian.


Lalu pemuda berambut biru itu menjelaskan kembali ke tiga temannya yang belum tahu apa yang terjadi di dalam. Semuanya mengangguk paham. Tio melihat ke depan ada kobaran api di sana meskipun jaraknya jauh berapa mill dari peperangan.


Tio bisa melihat kalau ada kobaran api disana. "Peperangan sudah terjadi?"


"Hooh. Dari tadi...bentar lagi, Fajar akan tiba."balas Anis enteng.


"APA?"mereka berlima terkejut mendengar Anis berkata begitu.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2